4. Warehouse

1439 Words
"Tuhan menciptakan hati untuk merasa, logika untuk meluruskannya. Namun, terkadang hati dan logika tidak sejalan." ??? Echa bergegas turun dari kamarnya, mencari keberadaan papa tercintanya yang menghilang pagi-pagi begini. "Non, nggak sarapan?" tanya Mbok Inem, pembantu di rumah keluarga Bennedict saat Echa melewati ruang makan begitu saja. Padahal, biasanya makan adalah hal nomor satu bagi Echa. "Nggak, Mbok. Echa lagi buru-buru. Papa mana, ya?" Echa menatap Mbok Inem penuh tanda tanya. "Lagi ngopi di depan." Echa menepuk jidatnya, kenapa dia tidak mencari papanya di halaman rumah? Pasalnya, akhir-akhir ini papanya sering menikmati kopi hangat di halaman rumah bersama Pak Tejo, satpam di rumah Echa. Echa bergegas keluar rumah, karena sebentar lagi dia akan benar-benar terlambat. "Papa, Echa mau berangkat sekolah. Anterin Echa, yuk. Echa bentar lagi telat." Echa menarik paksa tangan Ben untuk berdiri. "Nggak mau, salah siapa bangun kesiangan, hukuman tanggung sendiri jangan bawa-bawa Papa." Ben terlihat santai saja melihat putri satu-satunya itu kesal, sangat kesal. "Anterin, Pa ...." Echa merengek, dia sudah sangat sebal dengan sikap cuek papanya. "Biasanya aja sama Pak Ali, ngapain ngajak-ngajak Papa?" Ben menyerutup kopinya, membuat Echa bertambah kesal. Echa kembali menarik tangan papanya, menciumnya, dan menekuk mukanya selecek-leceknya. "Bye!" Echa menghentakkan kakinya keras ke lantai, lalu pergi dari hadapan Ben yang terkekeh geli melihat tingkah Echa. "Nggak kasian, Pak? Non Echa sampai sebel begitu." Pak Tejo menatap majikannya itu bingung. "Biar dia mandiri. Dia sudah biasa saya manjakan. Saya tahu dia sudah bisa menjaga diri sendiri dengan jurus-jurusnya, tapi tidak dengan sifap kekanak-kanakannya." Ben kembali menyerutup kopinya perlahan, menikmati rasa manis yang saling bergantian dengan rasa pahit. "Hidup itu kayak kopi ini, karena ke depannya nggak mungkin selalu manis, pasti juga akan banyak rasa pahitnya," tambah Ben, yang membuat Pak Tejo terkagum. Dia memang hafal betul bagaimana majikannya ini, dia memiliki sikap wibawa dan penyayang yang luar biasa. ??? "Echa!!" teriak Miss Glen dari arah belakang. Echa sudah berhasil menerobos gerbang sekolah karena satpamnya tertidur. Echa mengendap-ngendap masuk, tetapi ternyata ketahuan, lagi, untuk yang sekian kalinya. Echa sudah empat kali terlambat masuk sekolah. Walau cuma empat kali, Miss Glen sudah sangat hafal padanya. "Mau ke mana kamu?" Echa balik badan, tak berani menatap mata tajam guru killer-nya yang seksi itu. "Mau ke kelas, Miss ...." "Ke kelas? Ikut saya!" Miss Glen menarik paksa lengan Echa sampai gudang sekolah. "Kamu bersihin gudang ini." Brukk Suara barang jatuh dari dalam membuat Miss Glen mengeram kesal. "Raga!! Yang bener bersihinnya!!" Raga? Miss Glen menarik Echa masuk, membuat gadis itu bergidik karena harus membersihkan gudang bersama Raga. "Echa bersihin toilet aja, Miss," negonya. Echa menatap Miss Glen dengan raut wajah melas. Gadis itu sampai mengantupkan tangan di depan d**a, memohon. Sangat memohon. "Nggak ada! Bersihin gudang sama Raga! Karena kalian berdua telat!" Miss Glen lalu beranjak dari gudang yang terlihat suram itu dan meninggalkan Raga dan Echa berdua di sana. "Miss!!" Echa menggembungkan pipi sebal. "Lo bersihin semuanya! Gue mau tidur." Raga melangkah menuju sebuah kursi guru yang usang dengan santai tanpa melihat tatapan keberatan Echa. Lalu, dia dengan kurang ajarnya memposisikan badannya senyaman mungkin, memejamkan mata elangnya, dan tertidur. Dia sudah menyuruh-nyuruh Echa seenak udelnya. "Ish, dasar! Bisanya cuma ngatur!" omel Echa yang terdengar jelas oleh Raga. "Tidur aja terus! Nggak usah bangun sekalian! Aman hidup Echa!" Senyuman di bibir Raga terbit. Entah kenapa dia merasa lucu mendengar omelan-omelan Echa. Dia membayangkan dalam pejaman matanya, kedua pipi gadis itu menggembung dengan kerutan di dahi. Persis ikan kembung. Echa mulai menata barang-barang yang masih bisa dipakai dengan rapi, memisahkan yang sudah terlihat usang. Dia sedikit takut dengan gudang yang penerangannya redup itu, tetapi dia berusaha mengusir perasaan takut itu jauh-jauh. Lagipula, dia tidak sendirian. Echa menoleh ke arah Raga yang sudah tertidur pulas. Matanya memicik, menelusuri setiap sudut wajah urakan itu dengan matanya. Ganteng, sih. Lumayan juga. Tapi sayang, galak. Echa mengusir pujian itu jauh-jauh. Nggak mungkin dia muji Raga. Ganteng dari mananya coba? Cit Cit Cit Echa bergidik ngeri. Dia menatap sekitar awas. Suara hewan pengerat itu mengusik pikirannya. Baru saja hendak beranjak, hewan itu melintasinya. Bukan hanya satu, tetapi sekitar empat, berbondong-bondong melewatinya. "Kyaaaa!!" Echa berteriak histeris. Dengan keadaan genting seperti itu, tanpa pikir panjang Echa berlari ke pelukan Raga. Dia membenamkan kepalanya ke d**a lekaki itu. Memastikan kakinya aman di bawah sana, dia menindihi kaki Raga dengan kakinya. Gadis itu menghirup perlahan aroma tubuh Raga yang menenangkan. Semakin lama, debaran jantungnya yang menggila berangsur membaik seperti semula. Nyaman. Raga tertegun, mendapati gadis yang sedang memeluknya ketakutan. Awalnya, dia menikmati kehangatan itu. Namun, saat kakinya diinjak dengan tidak berperi kemanusiaan, dia langsung menjauhkan diri. "Apaan, sih, lo?! Jauh-jauh dari gue! Jijik gue sama lo!" Raga mendorong kasar tubuh Echa. Dia berdiri, menatap tajam Echa. "Echa takut. Tadi ada tikus banyak banget! Kamu nggak peduli sama Echa?!" Echa yang biasanya tak bisa berkata-kata karena takut pada Raga, sekarang langsung mengomeli Raga yang tidak bisa diajak kompromi. "Enggak! Siapa lo? Kenapa gue harus peduli? Ogah banget gue peduli sama cewek kerempeng kayak lo!" Raga menatap berang pada Echa, sedangkan Echa mengepalkan tangannya kuat-kuat mencoba menahan emosinya untuk menghajar laki-laki tak tahu diri di hadapannya ini. Saat Echa balik badan untuk meninggalkan Raga, tikus itu muncul lagi, membuat Echa kembali berlari mencari perlindungan. Kali ini bukan ke arah Raga lagi, melainkan menaiki sebuah meja. Sebuah meja yang sebelah kakinya rapuh dan terlihat akan patah. "Hus! Hus! Hus! Jauh-jauh! Jangan deket-deket Echa!!" Deg Raga menelan ludah kasar. Dia.... "Raga tolong aku!! Hus!! Hus! Jauh-jauh! Jangan deket-deket Aren! Hus!" Lamunan Raga buyar saat mendengar teriakan Echa yang terjatuh dari atas meja. "Raga!! Tolong!!" Raga menangkap tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Dia menahan tubuh Echa yang hampir jatuh dengan kedua lengannya. Mata keduanya bertemu pada satu titik. Mereka terdiam, menyelami tatapan satu sama lain. Echa maupun Raga menahan napas. Raga yang tidak sengaja menginjak tali sepatunya membuat mereka jatuh bersamaan. Dan jadilah, tubuh besar Raga menindihi tubuh mungil Echa. Napas keduanya tercekat. Wajah mereka sangatlah dekat. Mungkin, hanya berjarak sekilan. Napas meraroma mint milik Raga berhembus di wajah Echa. Echa menerawang. "Mata kamu...." Menatap mata Raga lekat, sedangkan yang ditatap jantungnya dag-dig-dug sir. Dia baru pertama kali menatap mata elang itu lekat, dan menyadari bahwa mata itu mirip mata seseorang. Tapi siapa? "Lo berat banget!!" Raga berdiri, membuang muka. Dia tak mau berlama-lama memandang gadis itu. Wajah Echa merona. Namun, saat mendengar kata berat. "Apa Raga bilang?! Tadi bilang Echa kerempeng! Sekarang berat! Kapan, sih, Raga ngomong sesuatu yang positif dari Echa?!" Echa kini telah berdiri, menatap Raga penuh amarah. Raga tak menggubris omongan Echa. Dia berjalan menuju singgasananya dan kembali ke posisi awal, tidur nyenyak. Echa mendengus kesal. "Dasar Kakek Lampir!" "Dasar tukang ngerepotin," balas Raga tak mau kalah. "Lihat aja pembalasan Echa." Echa melengos. Menata lagi barang-barang di sekitarnya. Raga tersenyum miring. Kita lihat aja nanti. ??? Setelah gudang bersih, Echa meninggalkan Raga yang tertidur pulas di sana. Biarin dia tidur sama tikus! Kalau perlu sampai besok! Dia melangkah gontai. Pundaknya pegal sekali. Cacing di perutnya meronta-ronta minta dikasihani. Terlalu asyik menatap lantai, dia tak memperhatikan jalannya. Hingga... Bukk Echa mengumpati dirinya sendiri yang hampir tiap hari menabrak orang. "Maaf, Echa nggak sengaja." Echa mendongak dan mendapati Pangeran Esnya datang. Jiwa tersenyum hangat pada Echa. Lagi-lagi, hati Echa meleleh. Haduhhhh. Sabar, ya, jantung, hati, paru-paru, tenggorokan.... "Lo kayaknya harus diajarin cara jalan, deh. Masa setiap hari nabrak orang." Jiwa terkekeh geli. Echa tersenyum kikuk. "Maaf." "Nggak usah minta maaf. Untung lo cuma nabrak gue. Coba kalau lo nabrak Pak Agus yang gendut itu. Gue pastiin lo mental jauh." Jiwa tertawa. "Nggak dingin, tuh," gumam Echa sambil mengamati garis tawa Jiwa. Jiwa mengulum senyum. "Nggak dingin karena ada mataharinya," goda Jiwa sambil menaik turunkan alisnya. Tak bisa dielakkan, pipi Echa merona. Jiwa terlalu berbahaya untuk kondisi organ dalam dan perasaannya. "Idih yang blushing.... Santai aja kali. Baru tahap pertama aja grogi gitu, apa lagi tahap selanjutnya." Jiwa tersenyum simpul. "Ha?" Echa yang tak paham dengan omongan Jiwa melongo. "Nggak usah dipikiran." Jiwa mengibaskan tangannya di depan wajah. "Gue ke kelas dulu. Dadah, Putri." Jiwa melambaikan tangannya pada Echa dan berjalan menjauh. Sedikit ragu, Echa membalas lambaian tangan Jiwa dan tersenyum lebar. "Pai-pai, pai-pai!" Echa tersenyum senang. "Sialan," umpat seseorang di balik tembok yang sejak tadi mengintip interaksi Jiwa dan Echa. Senyuman Echa mengembang tak henti-hentinya. Sepanjang jalan, banyak orang menatapnya aneh. Banyak juga yang menggodanya saat Echa berjalan melewati mereka dengan tingkah anehnya. "Piwpiw, cantik .... Sendirian aja?" "Tahu, nih. Mesam-mesem sendirian. Sini Kakak temenin." "Priwit." "Aelah, kacang." Echa tak acuh. Yang dia pikirkan hanya satu, Jiwa. Beda banget, ya, kakak sama adik. Pangeran Es sama Kakek Lampir. Echa bergidik ngeri. Jiwa jelas jauh lebih baik daripada Raga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD