Chapter 3

1499 Words
Memilih itu tidak sulit tapi bertahan pada sebuah pilihan itulah yang sulit - Choice -xXx- Pagi ini adalah pelajaran Pak Ridwan sudah pasti fisika. Alfa tidak menyukai fisika, ia hanya menyukainya jika ia sedang bersama Malda karena semua soal di kerjakan oleh Malda dan Alfa tinggal menyalin jawabannya. "Hel, ini gimana caranya?" tanya Alfa pada Rachel yang sedang menulis di sebelahnya. Lalu Rachel menengok ke buku yang di sodorkan padanya, "lo tanya gue? Mana gue tahu, lihat nih!" pitah Rachel yang menunjuk pada selembar kertas di depannya. "Apaan tuh? Wildan? Lo suka sama Wildan si cowok sedeng itu? Yang bener aja, hel" ucap Alfa sambil bergidik jijik lalu terkekeh melihat raut wajah Rachel yang berubah dalam hitungan detik. "Kok lo gitu sih sama calon tunangan gue? Iih lo mah gitu, fa" jawab Rachel yang membuat Alfa tertawa dan tanpa sadar, Pak Ridwan sedang menatapnya dari balik kaca mata miliknya. "ALFA!! RACHEL!! Apa yang kalian sedang bicarakan?! Sekarang, cepat ke depan dan kerjakan soal ini?!" suara bariton itu membuat seluruh perhatian siswa di kelas tertuju pada Alfa dan Rachel. Alfa dan Rachel beranjak dari kursi kemudian berjalan ke depan kelas sambil menatap Ardi yang terus menyemangati Alfa sejak tadi. Kemana dia? -xXx- Alfa selalu saja menjadi korban saat pelajaran Pak Ridwan, ia tak tahu mengapa Pak Ridwan sebegitu kejamnya padanya. Kantin saat ini cukup sepi karena kebanyakan siswa membawa bekal termasuk, Rachel. Jadi Alfa harus ke kantin sendirian. "Bu mun, es tehnya satu sama nasi goreng pake telor ceplok ya," ucap Alfa pada Bu Muniah a.k.a penjaga salah satu stand di kantin. "Siap neng," ucap Bu Mun, Alfa langsung duduk di salah satu tempat duduk yang kosong. Dari jauh pandangan Alfa, ia melihat sesorang yang ia ingat, Dapo. Dapo adalah salah satu teman SMP Alfa. Tak lama pesanan Alfa sudah jadi dan dengan cepat Alfa melahapnya. "Hai fa!" sapa Dapo yang berdiri di depan Alfa sambil tersenyum manis. "Hai, dap!" sapa Alfa sambil tersenyum kikuk, lalu meminum es teh di depannya. "Gue boleh duduk sini?" tanya Dapo sambil menunjuk tempat duduk di depan Alfa. "Boleh, lagian kenapa ijin dulu, langsung duduk aja lah gak ada yang mau nilang kok," ucap Alfa sambil kembali memakan nasi gorengnya. Kemudian, Dapo segera duduk di depan Alfa. Dapo hanya melihat Alfa sejak tadi, Alfa mulai agak sedikit risih dan kemudian ia mengangkat kepalanya dan membuat Dapo mengangkat kedua alisnya dan dijawab gelengan oleh Alfa. "Dap, lo gue cari kemana-mana eh ternyata lagi pdkt disini!" tegur seseorang dari belakang Dapo yang berjalan menuju meja. "Eh elo wil, kemaren tuh udah lo putusin semua?" tanya Dapo dan secara sepontan Alfa yang mendengarkan seketika tersedak ketika mendengar kata 'putusin semua'. "Lo kenapa fa?" tanya Dapo khawatir, dan diajawab gelengan oleh Alfa. "Cie yang perhatian," ejek Wldan yang sudah duduk di samping Alfa. "Ada ada aja lo," kata Dapo kemudian menatap Alfa yang sedang menatap Wildan dengan jijik. "Udah gue putusin sesuai ucapan gue yang kemarin," ucap Wildan sambil mengambil alih es teh di depan Alfa kemudian meminumnya sampai habis. "Woy, lo minum es teh gue sampe habis b**o! Dan itu juga kan bekas gue dodol!" umpat Alfa kemudian menatap Wildan dengan tatapan membunuh. "Santai aja kali fa, gua kan cuma ngabisin satu gelas doang, tapi lo ikhlas kan?" tanya Wildan pada Alfa dengan wajah tanpa dosanya. "Ya, ikhlas gak ikhlas," jawab Alfa sambil menatap miris nasi gorengnya yang hanya tersisa sedikit. Alfa sudah tak berserela untuk melanjutkan makan, ia sudah tidak ingin di samping seorang Wildan untuk saat ini. "Gue duluan ya, dap" ucap Alfa yang hanya diangguki oleh Dapo, ia pun langsung beranjak dari kursi dan pergi meninggalkan Wildan dan Dapo yang sedang menatapnya. "Lo sih wil, lagian makanan orang langsung lo embat aja, marah kan dia," ucap Dapo sambil menatap temannya itu, Wildan hanya tersenyum sambil mengendikkan bahunya. You lose baby -xXx- "Panggilan untuk seluruh ketua kelas dan sekretaris kelas sepuluh dan sebelas harap berkumpul di aula sekarang juga." Otak Alfa sekarang tak bisa berfikir, rasanya sudah hampir mati dan tak bernyawa, ia tak ingin menjadi sekretaris yang mendampingi Wildan. Alfa harus sedikit bersabar, hanya kurang satu tahun ia bisa berpisah dengan Wildan selamanya. "Fa! Bengong aja lu, ayo, ada panggilan" ajak Wildan pada Alfa yang masih duduk manis di tempatnya. "Oh iya," jawab Alfa lesu lalu dengan lunglai ia beranjak dari kursinya lalu ijin pada guru yang mengajar dan pergi melesat ke aula bersama Wildan. Setelah berbaris dengan rapi, Bu Carloz tiba sambil membawa setumpuk kertas HVS yang bertuliskan sesuatu diatasnya. "Saya akan mengumumkan bahwa besok lusa akan ada pekan pameran kerajinan saya harap kelas kelian akan menampilkan sesuatu yang berbeda dari yang lain. Semua persyaratan ada di kertas ini, kalian mengerti?" tanya Bu Carloz pada seluruhnya. "Mengerti!" jawab seluruh siswa kompak kecuali Wildan yang dari tadi hanya memperhatikan Alfa yang berdiri di sampingnya tanpa bergeming hanya bernafas. Kemudian Bu Carloz membagikan lembaran persyaratan yang harus di penuhi pada pekan pameran kerajinan besok lusa. Syarat Pekan Pameran Kerajinan : •> Bahan yang digunakan adalah bahan alami seperti : rotan, bambu, akar wangi dan lain-lain. •> Kerajinan dengan tema bebas. •> Dilarang keras plagiat kepada kelas yang lain. •> Setiap kelas wajib menampilkan minimal dua karya dan maksimal tujuh karya. •> Tidak boleh membeli di toko tertentu, jadi wajib membuat sendiri kalau ketahuan membeli di toko atau tempat lain akan di diskualifikasi. •> Selambat lambatnya di kumpulkan pagi sebelum acara pameran di mulai, jika tidak mengumpulkan akan di anggap gugur atau di diskualifikasi. -xXx- "Wil, lo punya ide gak buat pameran kerajinan?" tanya Alfa sambil melihat beberapa model kerajinan yang ada di internet. "Gue gak mau pikirin, lo aja yang mikir," ucap Wildan enteng lalu kembali mengetik pesan di ponselnya. "Enak aja lo, emang gue babu lo seenak jidat lo aja gue yang ngerjain semuanya," protes Alfa sampai dahinya berlipat-lipat. "Sekarang mau lo apa?" tanya Wildan sambil menatap manik mata milik Alfa. "Cariin ide lah biar kita bisa ngerjain secepatnya," ucap Alfa lalu mengalihkan pandangannya. "Lo aja lah yang mikir, gue ngikut aja, kalo misal lo butuh duit ngomong aja sama gue," ucap Wildan lalu meninggalkan Alfa duduk sendiri. Alfa hanya mendengus kesal saat Wildan berlaku seenaknya sendiri seperti itu, ia mencoba mencari refrensi di internet namu gagal, waktu mengerjakan hanya hari ini dan besok itu pun kalau benar-benar di kerjakan. Satu tepukan mendarat di pundak Alfa, dan Alfa pun segera menoleh. "Oh lo, di? Ada apa?" tanya Alfa pada Ardi yang tengah berdiri di sampingnya. "Ada yang bisa gue bantu?" tanya Ardi lalu duduk di samping Alfa. Alfa melihat sesuatu yang aneh dari diri Ardi semenjak ia sekelas dengannya. -xXx- Sore ini Alfa ada acara untuk mengunjungi salah satu panti asuhan tempat ia pernah singgah walau hanya untuk beberapa hari. Sepeda motor Alfa mulai berjalan menyusuri jalan setapak yang bisa di golongkan jalan kecil yang mampu di lewati satu sepeda motor ukuran sedang. Kemudian Alfa mematikan mesin motornya saat telah tiba di tempat yang selama satu minggu ini ia rindukan. Panti Asuhan Griya Asih. Alfa membuka pintu lalu langsung disambut oleh anak anak kecil yang menghuni panti ini. "Kakak! Kenapa kok lama gak kesini?" tanya Navara Yeranda a.k.a siswi kelas dua SMP yang sering sharing ke Alfa. "Maaf ya kakak lagi ada tugas jadi telat datengnya, ngomong-ngomong dimana Bu Nisa?" tanya Alfa. "Di dapur kak lagi buat bolu pisang" jawab salah satu anak. Kemudian Alfa segera melangkahkan kaki ke dapur dan mendapati Bu Nisa a.k.a pengurus panti. "Lagi ngapain bu?" tanya Alfa sambil sesekali mencomot topping dari kue bolu. "Lagi buatin anak-anak kue, katanya pada rindu masakan ibu" jawab Bu Nisa sambil tersenyum ke arah Alfa. "Oh gitu bu, sini Alfa bantuin biar cepet mateng" ucap Alfa sambil mengambil adonan kue. -xXx- "Halo! Ada apa yang?" sapa Wildan dari balik ponselnya. "Kamu bisa ke rumah aku gak soalnya aku alone, yang" jawab Naura dari balik ponselnya. Ia sedang sendiri karena kedua orang tuanya baru saja pergi mengurusi bisnis di Austria. "Okay yang, aku kesana ya" ucap Wildan kemudian memutuskan sambungan. Ia melangkahkan kaki mengambil jaket hitamnya lalu kunci mobil yang tergeletak di meja kecil dekat lemari kemudian melesat pergi keluar. "Mau kemana kamu Wildan!" suara bariton itu membuat Wildan memutar bola matanya malas dan menghentikan langkah kakinya untuk kembali berjalan. "Mau keluar, kenapa?!" jawab Wildan tanpa menatap lawan bicaranya. Ia sudah geram akan sandiwara yang payah ini. "Kamu itu kerjaannya cuman habisi uang, gak pernah kamu itu banggain orang tua, kamu itu bisanya cuma minta!" tegas Herland Thaufan a.k.a ayah Wildan. "Papa itu gak pernah perhatian, lihat mama! mama itu jadi korban papa, papa macam apa?!" ucap Wildan sambil menunjuk-nunjuk ayahnya. Emosinya memuncak dan siap untuk meluap kepada seseorang di depannya itu. "Wildan! Jaga ucapan kamu, mau jadi apa kamu kalo cara bicaramu saja seperti anak kecil!" tegas Herland sambil menatap anak semata wayangnya itu dengan tatapan membunuh. "Fine, kalo papa masih jahat sama mama, Wildan bakal bawa mama pergi dari rumah ini!" ucap Wildan tak kalah tegas, lalu ia pergi melesat ke luar rumah, kemudian melesat pergi mnggunakan mobil BMW hitam miliknya. -xXx-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD