Ya Allah, apa ini mimpi? Kalau benar ini mimpi, bisakah aku memandang wajahnya? Haramkah jika di dalam mimpi aku memandangnya. Aku menekan jari tanganku dengan kuku jempol dan rasanya sakit. Ini berarti semua ini bukanlah mimpi. Dia,, dia sungguh berada di hadapanku saat ini. Aku mendengar deheman kecil darinya, sepertinya dia sudah tersadar dari keterpakuannya. Aku masih menundukkan kepalaku dan tidak tau harus bagaimana dan bersikap apa. Sungguh, sungguh jantung ini berdetak sangat cepat hingga membuat seluruh syaraf di tubuhku melemas. “Apa kabar?” suaranya masih sama seperti dulu. Selalu tegas dan berwibawa. Sekian lama aku menahan rindu, menekan rasa rindu yang semakin menyakiti hati hanya ingin mendengar suaranya. “Baik.”

