Aku menutup pintu rumah dengan kebingungan. Kenapa mas Iqbal mengatakan itu? Dan di saat ini, aku yang ingin berusaha melupakannya. Aku berjalan dengan perasaan tak menentu dan hampa. Bahkan panggilan Mama pun tak aku hiraukan. Aku memasuki kamarku dan mengambil duduk di sisi ranjnag. Aku terjebak.... Aku menyesal telah meninggalkanmu, dan aku ingin sekali memperbaiki segalanya. Kalau ada kesempatan.... A-apa maksud dari semua kata-katanya itu. Dan kenapa? “Nduk,” sentuhan lembut itu membuyarkan lamunanku. “Mama.” “Siapa pria tadi? Dia memiliki sesuatu denganmu, bukankah begitu?” tanya Mama membuatku menatapnya lekat-lekat. “Mama ini bilang apa sih? Kan tadi sudah jelas kala

