"Nye, mau pulang?"
Anye menghentikan langkahnya, dia baru selesai ekstrakulikuler bulu tangkis dan hendak pulang. Namun, tiba-tiba Adimas yang juga baru selesai dengan ekstrakurikuler yang sama dengannya, melajukan motornya pelan di samping Anye yang berjalan diatas trotoar.
Anye mengangguk, dia menghentikan langkahnya. "Iya, mau pulang. Kenapa?" tanya Anye, dia mencoba bersikap biasa saja meskipun sejujurnya jantungnya tengah berdetak tak karuan.
Adimas tersenyum lebar. "Ayo, naik!" ajak Adimas, dia melirik tempat kosong di belakangnya. "Gue antar."
Anye terkejut mendengarnya, namun dia mencoba menyembunyikan hal tersebut. "Eh, enggak, enggak, gak usah." tolak Anye, dia menggeleng.
"Gakpapa, Nye. Udah sore juga ini, mana mendung lagi. Kan, sekalian juga gue pulangnya lewat rumah lo. Udah, ah, ayo buruan. Nanti—"
"Gak usah, Dim. Gue—"
"Buruan..."
Anye menggeleng, dia tetap saja menolaknya yang membuat Adimas berdecak, kemudian memarkirkan motornya dan turun dari moto, lalu langsung menarik lengan Anye untuk naik ke motornya.
"Ih, gak mau, Dim!" tolak Anye sambil mencoba melepaskan tangan Adimas yang menariknya.
"Buruan, Anye!"
"Dim, gue—"
"Buruan, ah, Nye! Kita diliatin itu!"
Benar apa yang diucapkan Adimas, mereka jadi pusat perhatian. Mau tak mau Anye pun mengiyakannya. Dia bersedia pulang diantar Adimas atas paksaan lelaki itu.
"Turunin didepan aja, Dim. Gak usah masuk ke perumahan." ucap Anye, dia sedikit mencondongkan tubuhnya agar Adimas mendengar yang dia ucapkan.
"Kenapa?"
"Ya, kenapa harus sampai ke perumahan juga? Udah, turunin didepan aja."
"Ya, kan siapa tahu gue mau ditawarin masuk gitu. Seret ini, Nye, lupa belum minum."
"Yaudah, belok kanan didepan, ada minimarket, beli disitu."
"Maksud gue tuh—"
"Stop!"
Adimas menghentikan motornya saat mereka sudah berbelok dan ada minimarket yang dimaksud Anye. Perempuan itu turun lebih dulu membuat Adimas mau tak mau juga ikut turun. Padahal kan bukan itu maksudnya tadi. Dia hanya ingin berkunjung ke rumah Anye untuk pertama kalinya setelah sekian lama berteman, namun belum pernah sekalipun mampir ke rumah Anye.
"Mau minum apa, Dim?" tanya Anye, mereka sudah berdiri dihadapan jejeran minuman yang terpajang didalam showcase.
"Teh aja boleh,"
"Oke."
Anye mengambil dua botol minuman teh, dia menatap Adimas sekarang. "Mau beli apa lagi?" tanya Anye, dia menaikkan kedua alisnya.
"Udah, itu aja."
"Yaudah, yuk!" Anye berjalan lebih dulu. "Gue yang bayarin, ya, Dim. Gak boleh ditolak, ini sebagai ucapan terimakasih gue karena lo udah mau anterin gue."
"Yaudah."
Anye sudah membayar minuman mereka, kemudian hendak keluar dari minimarket tersebut. Namun, baru saja mereka keluar hujan deras sudah mengguyur.
"Hujan, Nye."
"Tahu."
"Terus, gimana?"
"Gak bawa jas hujan?"
"Enggak."
"Yaudah, nungguin reda aja. Yuk, masuk lagi! Nunggu didalam." ucap Anye sambil berjalan masuk kembali ke minimarket, disini disediakan tempat duduk untuk pengunjung, dia duduk disana dengan Adimas yang sudah duduk disampingnya.
Adimas melirik jam di pergelangan tangannya, "Masih lama, Nye magribnya juga. Semoga aja hujannya reda sebelum magrib." ucap Adimas, menatap Anye disampingnya yang menatap lekat hujan deras didepan mereka.
"Iya, biasanya hujan emang reda kalau mau jam salat tuh. Bentar lagi juga reda kok."
Adimas mengangguk, "Gue minum, ya, Nye minumannya." ucap Adimas sambil membuka tutup botol minuman nya yang masih tersegel. Anye mengangguk, ikut membuka minumannya juga.
"Lapar, gak sih, Nye?"
"Gak terlalu sih. Kenapa? Mau makan sesuatu?"
Adimas mengedarkan pandangannya, "Beli makanan kali, ya, Nye?"
"Beli mie, yuk!"
"Ayo!"
Mereka beranjak kembali, berjalan ke deretan mie instan. Mengambil mie instan cup dua porsi, pilus dan kerupuk, tak lupa sosis mini isi 4 potong dalam satu bungkus. Mereka membayar belanjaan tersebut, lalu mulai menyeduh mienya dan setelah selesai kembali ke tempat semula.
"Enak banget. Hujan-hujan, dingin, makan mie, mie kuah lagi, beuh... Rasa mienya jadi berkali-kali lipat enaknya."
Anye terkekeh, dari tadi Adimas tak henti bicara.
"Berkat lo gue jadi makan mie, Nye."
Anye menoleh, menaikkan sebelah alisnya.
"Kadang gak pengen makan mie, gak berselera. Tapi, karena lo yang ngajak, jadinya gue iyain deh. Udah lama juga gak makan mie dan bener aja, enak banget rasanya."
Anye mengulum senyumnya, "Bisa aja."
Mereka kembali menikmati makanannya, kali ini Adimas tak terlalu banyak bicara, namun netranya tak henti menatap Anye. Tanpa polesan make-up, wajah lelah, mata sayu dan bibir sedikit memerah karena pedas juga panas dari mie yang tengah dinikmati, Anye terlihat cantik luar biasa.
"Nye,"
Anye berdehem saja, dia menyeruput kuah mie pedasnya.
"Lo lagi dekat sama cowok?"
Anye memutar kepalanya menghadap Adimas, mengerutkan keningnya. "Hah?"
"Pacaran, yuk, Nye!"
***
Anye yang sudah bukan lagi anak SMA, tengah menatap intens laptop dihadapannya. Kehidupan setelah masa SMA memang adalah kehidupan yang nyata, kerasnya kehidupan benar-benar terasa. Dipaksa harus tumbuh dewasa oleh keadaan membuatnya tak terlalu kaget dengan kehidupan orang dewasa.
"Jangan lupa, ya, Nye. Jam 5 udah selesai."
Bekerja di perusahaan dengan status anak magang yang masih tengah melanjutkan pendidikan di bangku perkuliahan, ditekan oleh para senior perusahaan dan tuntutan pekerjaan, kehidupan dewasa memanglah melelahkan. Namun, hal tersebut tak sebanding dengan rasa bahagia saat bisa berbagi atas usaha sendiri.
Tapi, ada satu hal lagi yang menjadi alasan sekaligus vitamin untuk semangat menjalankan kehidupan orang dewasa ini , yaitu seseorang. Memang bukan pacar, namun orang spesial. Meskipun orang spesial itu berada di kota yang berbeda. Tapi, namanya orang spesial, ya, tetap spesial kan? Meskipun jarak memisahkan mereka.
Adimas's calling...
Ponsel Anye berdering membuatnya dengan cepat mengangkat panggilan tersebut, "Hallo, Mas."
"Hallo, Nye. Sibuk, gak?"
"Enggak kok. Kenapa, Mas?"
"Gue mau kasih tahu lo sesuatu."
Anye tersenyum, dia senang saat tahu menjadi orang yang diberitahukan segala sesuatunya dari orang ini. Dia merasa dianggap, merasa keberadaannya berarti sebab dia selalu jadi orang pertama yang tahu tentang orang ini.
"Apa?"
"Gue sih yakin, lo juga bakalan senang dengarnya."
"Apa sih, Mas?"
"Siap-siap, ya..."
"Iya... Buruan sih, keburu ada atasan nih."
"Gue jadian sama Kanaya."
Deg. Seketika panggilan di putusnya begitu saja.
***
"Lo udah dapat, Nye?"
Anye mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Nadin, "Dapat apa? Datang bulan?" tanya Anye.
"Bukan itu, Nye."
"Terus?"
"Ini."
Nadin menunjukkan apa yang dia maksudkan dan respon yang ditunjukkan Anye sesuai prediksinya.
"Nye,"
Anye tak berekspresi, namun matanya tak bisa berbohong jika ada rasa sakit yang dia rasakan. Senyuman yang ditunjukkan Anye pun terlihat jelas jika itu senyuman palsu.
"Nye?"
"Selamat deh, semoga mereka berbahagia."
***
The Weeding of
Adimas Rahardja
Putra pertama Bapak Rudi Rahardja dan Ibu Martha Putri Rahardja
&
Kanaya Sukmawati Nasution
Putri Pertama Bapak Danta Nasution dan Ibu Mutie Sukmawati Nasution