Episode 6

1245 Words
"Gue gak nyangka kalau ternyata perempuan yang mau Mama jodohin sama gue, itu lo, Nye." Anye mendongak, matanya saling beradu tatap dengan Adimas yang duduk di hadapannya. "Lo aja gak nyangka, apalagi gue, Dim." balas Anye, sungguh dia benar-benar terkejut saat melihat kedatangan Adimas. Pasalnya, keluarga mereka itu memesan ruangan VIP untuk pertemuan ini, jadi tak mungkin sembarang orang bisa masuk jika bukan yang bersangkutan. "Lo beneran gak punya cowok, Nye?" tanya Adimas pelan, dia mencoba memastikan kembali. "Emang menurut lo, gue ada muka-muka cewek yang punya pacar gitu?" Anye memicingkan matanya, dia menunjuk wajahnya sendiri. "Lagian, kalau gue punya cowok, kakak gue gak mungkin jodohin gue sama cowok lain, termasuk lo, Dim." Adimas tersenyum tipis, "Ya, emang kelihatan kayak gak mungkin aja kalau lo belum punya cowok." "Menghina itu mah!" Adimas terkekeh, mereka terkekeh. "Lo sendiri, kenapa bisa-bisanya dijodohin? Maksud gue tuh, masa iya sih, lo gak punya pasangan sekarang. At least cewek yang dekat sama lo gitu." "Ya, pertanyaan lo itu sama kayak pertanyaan gue tadi." jawab Adimas, tiba-tiba sendu menghampiri. "Lagipula, sebenarnya gue belum mau menikah lagi setelah kepergian Kanaya." Seketika, perasaan sakit akibat tertolak, penolakan yang tidak dikatakan secara langsung memang, namun tersirat lewat ucapan yang terlontar itu, kembali Anye rasakan. "Mama udah sering banget jodohin gue sana-sini, dia maunya gue menikah lagi karena katanya gue masih terlalu muda untuk sendiri, ditambah ada Anya yang masih kecil dan jelas banget masih butuh sosok ibu." ucap Adimas, "Karena katanya, seorang ibu mungkin bisa juga jadi sosok ayah. Tapi, seorang ayah belum tentu bisa jadi sosok ibu. Dan, gue membenarkan itu semua." jelas Adimas, dia tersenyum miris. Anye diam, tak memberikan respons, namun tengah menyerap maksud ucapan Adimas. Adimas menatap Anye, dia tersenyum miris. "Sekarang lo jadi ngerti kan, tujuan nyokap gue cari istri buat gue tuh bukan sekedar, ya... bukan sekedar cuma sebagai istri gue, tapi juga ibu buat anak gue, Anya." ucap Adimas, dia semakin menatap lekat Anye yang masih diam. "Dan, gue gak mau lo menyesal, Nye. Dan, gue juga yakin, pasti lo gak tahu kan kalau cowok yang dijodohin sama lo ini seorang duda, duda anak satu." Anye menggeleng, teh Syilla memang tak mengatakan itu, namun dia juga yakin tak mungkin jika teh Syilla tahu. Kpun misalnya tahu, kakaknya itu tak akan melanjutkan perjodohan ini. "Jadi, gue harap lo pikirin lagi aja, Nye sebelum ambil keputusan ini." Anye mendongak kini, dia membalas menatap Adimas. "Lo sendiri gimana? Kalau ternyata lo kekeh dijodohin sama gue?" tanya Anye, dia tersenyum tipis. "Okay, in general, gimana kalau orang tua lo tetap mau jodohin lo sama siapapun. Apa pilihan lo?" Adimas mengedikkan bahunya, "Ya, mau gimana lagi. Kayaknya gue emang harus terima dan gue kalau disuruh pilih, ya, gue bakalan pilih lo, Nye. At least, gue udah kenal lo lebih dulu, gue tahu gimana diri lo dan gue tahu kalau lo tuh tulus sama Anya, anak kecil gak bohong soal dia yang mau langsung akrab sama lo, sedangkan kalian baru ketemu dua kali. Tapi,..." Anye menunggu kelanjutan ucapan Adimas. "... Kayak gue bilang tadi. Gue gak mau buat lo kecewa, Nye." *** "Lo, kenapa, Nye?" Sejak pagi tadi, Nadin perhatikan jika Anye terlalu banyak melamun seakan tengah ada permasalahan berat yang tengah di hadapi perempuan itu. Anye menggeleng saja, dia melanjutkan makan siangnya tanpa berniat menjawab pertanyaan Nadin. Mereka berada di tempat makan yang tak jauh dari kantor. Mereka datang kesini sebab sedang merasakan bosan dengan menu yang ada di kantin kantor. Nadin mencebik, dia mengerucutkan bibirnya. "Ih, gitu deh. Gue aja kalau ada masalah, ceritanya sama lo. Masa lo enggak sih. Ih... Iya, sih tahu kalau gue gak bisa kasih solusi, tapi, ya, seenggaknya lo cerita kek sama gue. Biar enakan gitu perasaan lo." Anye menggeleng lagi, "Gakpapa, Nad. Gue gakpapa kok." "Ih..." Anye mengabaikan pertanyaan Nadin, dia memilih mengalihkan pembicaraan saja. "Terus, gimana, Nad nanti? Udah dibicarain kapan tanggal nikahnya?" tanya Anye, dia membahas tentang Nadin kini, itu lebih baik. Nadin menggeleng, namun kemudian mengangguk, lalu dia mendesah pelan. "Benny sama keluarganya dan keluarga gue, maunya kita langsung nikah aja. Toh, kata mereka gue sama Benny tuh udah kenal lama, jadi buat apa dinanti-nanti lagi, jadinya langsung nikah deh." Anye mengangguk, "Gue sih setuju, benar, buat apa ditunda kalau niatnya udah baik dan udah siap, jadi, ya mending langsung aja lah. Lagian, lo kan awalnya pengen banget langsung nikah, Din, kok sekarang kayak berubah pikiran, kayak ragu gitu." "Gak berubah pikiran, Nye. Gue tetap mau nikah kok sama Benny, cuma, ya, gak dalam waktu dekat ini. Tapi, gimana lagi? Udah fix nya langsung nikah." jawab Nadin. "Yaudah, gakpapa lah. Mungkin itu udah yang terbaik." Nadin mengangguk saja, dia melirik jam di pergelangan tangannya. "Balik kantor, yuk! Lo udah selesai kan makannya?" tanya Nadin, dia melirik piring Anye yang sudah tinggal sisa makanan yang tidak dimakan. Anye mengangguk, "Udah. Cuci tangan dulu bentar." ucap Anye sambil beranjak berdiri menuju wastafel, setelahnya dia kembali menghampiri Nadin. "Ayo!" Mereka pun meninggalkan restoran tersebut untuk kembali menuju kantor dengan berjalan kaki yang hanya memakan waktu 5 menit saja. Nasin melirik Anye, "Ice cream dulu gak sih, Nye?" tawar Nadin saat mereka melewati kedai ice cream, dirinya tersenyum lebar. Anye mengangguk. "Soal dessert gue gak bisa tolak." jawab Anye yang membuatnya langsung ditarik menuju kedai ice cream tersebut. "Mau apa?" "Cokelat matcha, di cone." Anye mengangguk, segera menuju tempat memesan dan menyebutkan pesanan mereka. "Mas, mau chocolate matcha satu di cone sama cookies and cream satu di cup. Udah itu aja mas, makasih." Setelah pesannya disebutkan kembali dan dia membayar pesanannya tersebut, tak lama pesanannya selesai. Anye segera menghampiri Nadin yang tengah berkutat dengan ponselnya. Namun, langkahnya terhenti saat seseorang memanggilnya. "Tante baik!" Anye menoleh bingung, namun tersenyum saat matanya bertemu dengan mata cantik seorang gadis kecil yang kini berlari menghampirinya. "Anya, kamu disini sama siapa, sayang? Nenek?" tanya Anye, dia berjongkok untuk menyejajarkan tubuhnya dengan Anya. Anya menggeleng, "Sama mbak." jawab Anya yang bertepatan dengan berdirinya seorang perempuan muda dengan setelan khas seorang baby sitter, tersenyum pada Anye yang dibalas senyuman pula olehnya. "Mbak kenalin, ini tante baik. Tante kenalin, ini mbak aku." "Suti, mbak." "Anye." "Nye, itu siapa?" Anye menoleh saat Nadin menghampirinya, mengerutkan kening bingung melihat anak kecil yang tiba-tiba menghampiri Anye sebelumnya. "Anya kenalin, ini teman tante, namanya tante Nadin." ucap Anye. "Tante?" Nadin mengerutkan keningnya. Anye mengangguk. "Tante Nadin, apa tante baik juga?" tanya Anya polos, kedua alisnya naik. Anye mengangguk, "Iya, sayang. Tante Nadin juga tante baik." "Oh, oke." jawab Anya acuh, dia hanya menatap Anya penuh kagum, tak lupa bibirnya tersenyum lebar. "Hm... Sayang, tante pergi dulu, ya. Udah mau masuk kerja lagi tantenya. Nih, ice cream untuk kamu." ucap Anye sambil menyerahkan cup ice cream miliknya. "Wow, thank you, tante. Tante kerja dimana?" "Di sana." "Oh, oke. Nanti aku main, ya, ke sana." Anye terkekeh, dia mengangguk saja. "Yaudah, tante pergi dulu, ya. Bye, girl. Permisi, ya, mbak." "Bye, tante." Anye langsung menarik Nadin, mereka kembali melanjutkan langkahnya menuju kantor. Namun, sepanjang jalan Nadin masih terus mempertanyakan siapa gadis kecil yang menyapa Anye tadi. "Siapa sih, Nye? Saudara lo?" "Dia anak Dimas." "What?" pekik Nadin, ice cream ditangannya hampir jatuh kalau saja Anye tidak sigap menahannya. Nadin menatap Anye dengan mata terbelalak, "Kok bisa sih, Nye lo dekat banget sama anak Dimas?" "Panjang ceritanya. Nanti aja, ya. Buruan ah kita balik ke kantor, gue belum salat juga ini." "Fix, lo harus cerita ini mah! Gak mau tahu!" "Iya, iya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD