"Maaf, ya, sayang... Permen kapasnya gak ada." Anye mengusap lembut Anya yang ada di pangkuannya, mereka baru saja menjemput Anya sepulang kerja. Dirinya langsung menatap Adimas yang tiba-tiba saja berucap. "Bohong." Anye sontak saja melemparkan tatapan tajamnya, dia sengaja berbohong bukan karena apa, hanya saja menurutnya permen kapas itu kurang baik untuk anak seusia Anya, meskipun enak rasanya. "Bohong?" Anya mengerutkan keningnya, dia menatap Anye kini. "Ibu, bohong?" tanya Anya, dia mengerucutkan bibirnya. "Hah? Ibu bohong? Enggak, ibu gak bohong." jawab Anye, dia menggeleng kemudian menatap Adimas yang tengah melirik kearah mereka, kondisi jalanan macet seperti biasanya. "Iya, kan, ayah?" tanya Anye, dia tersenyum penuh arti pada Adimas. Adimas terkekeh. "Ayah?" ulang

