7. Pertemuan keluarga Kembali

1158 Words
Atha menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Pikirannya melayang saat di cafe tadi. Dari matanya Queen bersungguh-sungguh mengatakan itu, tidak ada kebohongan sekecil pun yang terpancar. Atha ingin percaya tapi, sebagian dirinya berkata bahwa hal itu tidak mungkin terjadi mengingat Vania yang begitu terbuka padanya. "Dah lah gak usah di pikirin mending lanjut nyepam." Atha merogoh saku celananya dan mulai menyepam Queen lewat DM i********:. Seperti menanyakan sudah makan atau belum, sudah pulang ke apartemen atau belum, dan hal lain apa pun yang bisa di diucapkan lewat pesan sekalipun itu tidak penting. Atha tidak peduli seberapa kali pun Queen memblokir akun Instagramnya Atha akan buat i********: baru dan kembali menyepam pesan. Terhitung sudah empat akun i********: miliknya terblokir dan ini akun ke lima. Atha berharap semoga Queen tidak memblokir akun Instagramnya kali ini. Yah, semoga saja. *** Berlainan dengan Atha yang senyum-senyum sendiri mengetik pesan kepadanya, Queen sendiri sedang mengepalkan tangannya dan menahan emosi yang ingin keluar dari tadi. "Queen ucapan kamu waktu itu cuman kebohongan belaka, buktinya Atha menerima ini." Ibu Queen berkata begitu semangat, perempuan paruh baya tersebut tidak menyadari adanya emosi dari sang anak. "Kata bundanya Atha menerima perjodohan ini," Queen mengerutkan keningnya mendegar hal tersebut, "berarti gak ada alasannya kamu nolak perjodohan ini." "Maaf?" tanya Queen tidak mengerti apa maksud dari tidak bisa menolak perjodohan ini toh dia juga yang menjalankannya nanti bukan mereka yang mengusulkan atau bukan mereka yang mengadakan percobaan ini. "Ibu hanya ingin yang terbaik untuk kamu nak, umurmu udah hampir kepala tiga dan kamu belum menikah lagi, seharusnya–" "Seharusnya saya sudah mempunyai anak dan anda menjadi nenek. Begitu?" Queen memotong cepat ucapan sang Ibu dan memandang perempuan itu kosong. "Apa alasan itu membuat anda dan suami melakukan ini?" "Queen bukan itu maksud Ibu." Ibu Queen memandang anaknya dengan sendu. Matanya begitu banyak penyesalan untuk Queen. "Lalu apa? Ingin yang terbaik? Apa tidak ada cara lain?" Ibu Queen menggeleng, baginya inilah yang terbaik agar Queen bisa kembali seperti dulu. Dia hanya ingin anaknya merasakan kebahagian seperti dulu dan tidak sadar bahwa caranya salah. Queen menagangguk kecil benar kata Atha ia tidak bisa keluar dari sini, dari perjodohan konyol yang mengatasnamakan kebaikan akan dirinya dan bodohnya penolakan yang pernah dilakukan Atha dengannya hanya mereka berdua yang tahu. Ah situasi ini lagi. Batin Queen yang kembali merasakan kondisi di mana dia tidak bisa keluar atas keadaan yang tidak dia inginkan. Bedanya dulu dia memilih untuk menetap sampai akhirnya dia di usir, sekarang saat dia ingin keluar tidak bisa. Sama sekali tidak bisa karena semua pintu ditutup. "Cobalah untuk buka hati kamu, perlahan saja yah?" pinta Ibu. "Gak akan pernah bisa." "Belum sayang, bukan gak bisa." Queen menutup matanya dan menghela napas. Dia berdiri dari duduknya dan Kemabli ke kursi kerjanya. Pandangan mata Queen fokus ke layar monitor tapi mulut berkata dengan artin mengusir sang ibu. "Saya berjanji akan menjadi anak baik jika itu mau anda asal, anda keluar dari ruangan saya sekarang." Ibu Queen langsung berdiri mendengar itu, belia sama sekali tidak sakit hati mendengarnya. "Kamu selalu menjadi anak baik dan penurut bagi kami Queen." Dan setelahnya wanita berpakaian glamor itu pergi meninggalkan ruangan sang anak. Queen menyenderkan punggungnya dengan kasar pada punggung kursi. "Masuk!" Ujar Queen dengan tegas saat mendegar suara ketukan pintu sesaat setelah sang ibu pergi. "Rapat di mulai 15 menit dari sekarang, Bu." Ujar Asisten Queen sambil membawa tablet jadwal. "Hem, siapkan semua." Jawab Queen tanpa mengubah posisinya. "Baik, Bu." Setelah itu asisten Queen kembali ke ruangannya yang berada tepat di hadapan ruangan Queen ketika merasa sudah tidak ada yang dibicarakan lagi. *** Hari ini sepertinya sungguh menguji suasana hati Queen. perempuan itu kini tengah menatap malas ke arah pemuda yang sudah berdiri di pintu apartemennya seperti pagi tadi. Apa yang dilakukan oleh pemuda ini beberapa hari terakhir benar-benar mengganggu dirinya dan lagi pula biasanya pemuda tersebut menunggu di saat pagi bukan malam seperti ini. "Assalamu'alaikum, Bu Queen, gimana harinya? Pesan saya kok gak di bales sih Bu." Atha langsung menyambut Queen dengan senyuman hangat nya seperti biasa meskipun tak pernah direspon baik oleh wanita di hadapannya. Benar saja, bukannya menjawab Queen malah bertanya kembali. "Ngapain?" "Ketemu Ibu lah, jemput maksudnya kita mau bahas soal perjodohan kembali." Jawab Atha yang mengetahui maksud dari pertanyaan Queen. Queen tertawa dalam hati. Harini ini menjadi hari paling di benci olehnya. "Athaya, saya masih punya berkas di mana Vania berada apa kamu tidak tertarik?" Ayolah mau! Mau saja agar perjodohan ini batal! Lanjut Queen dalam hati. Dia sudah susah payah menyuruh para bawahannya untuk bisa menemukan keberadaan Vania, ketika berhasil tidak mungkin dia membuangnya begitu saja. Atha menggeleng tegas. "Saya gak tertarik, lagian saya gak percaya juga. Ibu sama saya juga lamaan saya kenal Vania." "Gak butuh siapa yang duluan kenal atau tidak kalau salah satunya berhasil menemukan orang yang di cari, jadi kamu bisa buktiin sendiri." "Hadeuh si Ibu nih, sudah yah nanti aja kita di tunggu loh sama semua." "Semua?" Atha mengangguk. "Semuanya, yuk! Kan malam ini kita pertemuan keluarga lagi, bunda pengen semuanya dipercepet." "Tapi saya gak." Balas Queen dengan cepat yang mengetahui maksudnya Atha. "Apa saya bilang Ibu tuh gak bisa keluar dari sini." Atha tersenyum bangga, akhirnya pengejarannya terhadap Queen terselesaikan dan tugasnya mendapatkan hati Queen akan lebih mudah jika mereka serumah nanti. Ah, bundanya memang terbaik! Yah, kamu benar. Queen pasrah ketika tangannya di tarik. Dia berharap agar tubuhnya masih tetap wangi, untung saja tidak ada pekerjaan yang mengharuskan dia keluar lapangan seperti dua bulan lalu. "Maaf, Bu." Ujar Atha yang langsung melepas genggaman tangan mereka saat sudah sampai di lift. Jujur saja dia ingin sekali menyentuh kulit tangan mulus itu lagi tapi, dia harus tahan. Nanti setelah mereka menikah Atha yakin akan lebih sering memegangnya atau bahkan lebih. Jadi, untuk sekarang Atha harus tahan. Kalau tidak Queen mungkin akan kabur dan membatalkan perjodohan ini secara sepihak. Andai Atha tahu bahwa Queen tak bisa melakukan itu, pasti dia senang mendengarnya. *** "Jadi kalian udah setuju sama perjodohan ini?!" Ibu Ara bertanya dengan nada antusias. Wanita paruh baya itu tersenyum senang mendengar perjodohan ini akan berlanjut. "Abang gue udah sold out." kekeh Radit yang mendapatkan pelototan dari Atha. Yah, tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai di sebuah restoran mewah untuk kembali. Queen yang posisinya duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya pun hanya terdiam dengan wajah datar seakan ini hanya pembahasan biasa yang tidak istimewa sama sekali. "Queen kamu gimana sayang, menurut kamu lamaran dulu atau langsung nikah aja?" "Ara," tegur sang suami yang membuat ibu Ara terkekeh. Ia sudah tidak sabar memiliki menantu sebehat Queen dan semandiri perempuan itu. "Gak papa, A lagian yah lebih cepet lebih baik yah 'kan Mbak?" Ujar Bunda pada suaminya lalu bertanya pada Ibu Queen yang tersenyum simpul mendengarnya. "Iya, betul lebih cepat lebih baik." Dan setelah itu lanjutlah obrolan orang tua membahas tanggal lamaran dan acara nikahan nanti. Meninggalkan para anak dengan kecanggungan masing-masing, ah tidak, karena di sini hanya Radit yang canggung sementara Atha sibuk menyepam pesan pada Queen.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD