Mencari informasi

1034 Words
Matahari mulai menampakkan dirinya walau masih malu-malu, kejora menggeliat tubuhnya yang terasa kaku dan ia melihat sekelilingnya nampak kamar mewah dengan lemari besar berjejer di sampingnya, ia bangun lalu berjalan ke kamar mandi. Ia memutar kran sehingga airnya menyala lalu mencuci wajahnya, ia tidak tahu kalau bathub untuk mandi. "Kenapa bak mandinya besar sekali," tanya Kejora pada diri sendiri. Bik Asih yang masuk ke dalam kamar tersebut mendengar suara gemericik air lalu berjalan ke kamar mandi dan kaget melihat bathub yang sudah penuh dengan air. "Neng cuci mukanya bukan di sini!" Kata Bik Asih mematikan kran air. "Kenapa, bukannya ini bak Mandi?" tanya Kejora dengan polosnya Bahkan ia belum sadar di mana ia berada sekarang. "Bukan neng, kalau mau cuci muka di sini!" Bik Asih menunjukkan wastafel yang tidak jauh dari bathtub, kejora melihat sekeliling dan baru tersadar di saat ia melihat kalau dia ada di rumah yang bagai di istana. "Kenapa saya ada di sini, Apakah ini surga?" tanya Kejora menatap ruang kamar mandi yang sangat mewah. Bik Asih yang mendengarnya tersenyum lalu menggelengkan kepala. "Bukan, Neng berada di rumah tuan Rega. Ayo, sekarang kita keluar untuk sarapan," kata Bik Asih mengajak Kejora keluar dari kamar tamu. Sementara, Oma dan Rega sudah berada di meja makan. "Duduklah, Nak," pinta Oma tersenyum ke arah Kejora. Kejora bingung menatap Oma yang berada di sampingnya lalu menatap ke arah Rega. "Bukankah tuan yang menolong saya tadi malam?" tanya kejora baru teringat dengan lelaki yang ada di depannya, Rega yang berada di depannya menatap tajam ke arah Kejora lalu menatap mata bening itu. "Iya, Dia adalah cucu saya dan namanya Rega," kata Oma tersenyum menatap kejora. Sementara Rega mengalihkan pandangan ke arah lain agar ia tidak terus berharap kalau gadis yang ada di depannya adalah Bintang, wanita yang begitu sangat dirindukan. "Makanlah, kamu butuh banyak makan agar kamu kembali sehat," kata Oma memberikan nasi goreng untuk Kejora. Sedangkan kejora hanya mengangguk lalu makan dengan lahap seperti orang belum makan satu minggu membuat Rega mendelik melihat cara makan kejora yang memakai tangan. Oma hanya tersenyum dan berharap kejora bisa membuat Rega kembali seperti dulu. Menjadi lelaki yang ramah bukan lelaki yang dingin. Selesai makan, kejora membawa piring kotor ke dapur dan mencucinya. "Biar Bibik saja, Neng," Kata Bik Asih tidak enak pada kejora sebagai tamu. "Biar aku saja, lagian tidak berat kok Bik," kata Kejora tersenyum sembari mencuci piring kotor bekas. Dari jauh Rega menatap indah wajah Kejora dengan bulu mata lentik dan bibir tipis menambah keelokan paras Kejora. Tak ingin larut dalam pikiran tak menentu, Rega bergegas berangkat ke kantor dengan mobil BMW miliknya. Ia terus mengendarai mobilnya dengan kecepatan agar cepat sampai di kantor. Sesampai di kantor, Rega langsung turun setelah memarkirkan mobilnya dan berjalan masuk menaiki lift untuk menuju ruangannya. "Maaf Pak, Nona Amara sudah menunggu bapak dari tadi," kata Lisa yang bekerja sebagai sekretaris dari Rega. Rega mendecak kesal mendengar Amara datang ke kantornya padahal ia tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa. Buat apa Mak lampir kesini! Bikin mood berantakan saja. Gumam Rega berjalan menuju ruangannya, di dalam ruangan terlihat lah seseorang perempuan cantik, rambutnya tergerai panjang sebahu memakai high heels dengan baju kurang bahan sedang memandang Poto yang terpanjang di dinding ruangan Rega. "Buat apa kamu ke sini?" tanya Rega berdiri menatap Amara dengan tajam, bahkan ia begitu muak melihat Amara yang terus mendekatinya. "Rega, Aku sudah lama menunggu kamu lhoe," kata Amara berjalan berlenggak lenggok di depan Rega untuk menarik simpatinya. Bukannya membuat Rega tertarik tapi membuat ia semakin jengah dengan sikap Amara. "Rega, kapan kita akan bertunangan. Aku sudah lama sekali menunggu moment ini Rega," Rajuk Amara bergelayut manja di lengan Rega membuat Rega begitu muak bahkan ingin sekali ia melempar Amara ke dasar laut. Kalau bukan karena orang tuanya berteman tidak mungkin Rega Sudi bertemu dengan Mak Lampir itu. "Sudah berapa kali aku harus bilang padamu kalau aku tidak akan pernah bertunangan dengan mu Amara," bentak Rega menyentak tangan Amara dengan kasar agar terlepas dari lengannya, Amara merasa sakit dengan ucapan Rega. "Sampai kapan kamu melupakannya, Rega. Bintang itu sudah mati dan kamu itu jodoh ku bukan perempuan itu," kata Amara menahan amarah. Mendengar Amara menghina Bintang, Rega menggepalkan tangannya lalu berjalan ke arah Amara dengan tatapan nyalang. Amara yang merasa tersudut terus berjalan ke belakang sehingga tubuhnya mendekap di dinding. "Jangan pernah kamu menghinanya karena ia tidak pernah tergantikan, Apalagi kamu sangat jauh beda dengan Bintang. Asal kamu tahu, kamu bukanlah tipe saya dan sekarang kamu keluar dari ruangan ini," teriak Rega menunjukkan pintu keluar, Amara menelan ludah dengan susah. Ia tidak menyangka kalau Rega belum bisa melupakan Bintang. Rega berjalan ke arah fotonya bersama dengan Bintang dengan cincin tunangan yang di sematkan di jemari mereka berdua. "Bintang, apa benar kamu sudah meninggal. Kalau benar lalu siapa wanita yang ada di rumah ku," kata Rega lirih menyeka airmata yang keluar di sudut matanya. Ia ingin sekali menghapus bayangan-bayangan Bintang tapi tidak bisa, Apalagi sekarang setiap hari ia melihat Bintang pada sosok kejora. Entah kenapa, hatinya berkata kalau Bintang masih hidup dan berharap suatu saat kalau Bintang akan kembali padanya. Ia kembali berjalan ke kursi kebesarannya untuk menandatangani beberapa berkas dan sebentar lagi ia akan meeting dengan kliennya. Rega seorang pengusaha termuda di dalam dunia bisnis, ia memulai menjajaki kehidupan berbisnis di saat ia berumur 25 tahun hingga sampai menginjak kepala tiga puluh, ia belum juga menambatkan hatinya pada seorang perempuan setelah kehilangan Bintang. "Juna, gantikan saya untuk meeting dengan klien kita dari PT. Cahaya Abadi, bilang saja saya tidak bisa ikut meeting bersama," kata Rega setelah menghubungi asisten sekaligus sahabat yang sudah di percayakan oleh Rega. Drrtt...Drrttt... Deru suara ponsel membuyarkan lamunan Rega, ia mengambil gawai yang berada di atas meja kerjanya. "Bagaimana, apa sudah kamu dapatkan informasinya?" tanya Rega dengan seseorang di seberang sana. "Baiklah, terus cari informasi tentangnya tapi ingat jangan sampai gegabah," kata Rega memperingatkan anak buahnya dalam mencari tentang jati diri Kejora, ia begitu penasaran karena wajahnya sangat mirip sekali dengan kekasihnya. Selesai berbicara, Rega langsung mematikan gawainya. Ia menatap foto Bintang di atas mejanya, wajah yang begitu mempesona membuat ia sulit membuka hati pada wanita lain karena hatinya sudah terpatri di hati Bintang. Akankah Kejora adalah Bintang yang selama ini yang di cari oleh Rega.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD