Malam telah berlalu, matahari mulai terlihat ketika Bara membuka tirai. Dia menguap lebar sembari merenggangkan kedua tangan, punggungnya terasa kaku dan sakit. Waktu telah menunjukkan pukul enam pagi, Bara baru dapat tertidur ketika jarum pendek menunjuk ke angka tiga. Kehadiran Hanna berhasil memporak-porandakan ketenangannya, semalaman Bara dibuat tidak dapat memejamkan waktu walau sedetik pun. Karena wajah Hanna akan muncul begitu dia melakukannya, entah kesalahan apa yang telah dirinya perbuat. Debaran jantungnya kembali menggila, saat pikiran tentang Hanna muncul begitu saja. Belum selesai dengan urusan pekerjaan, kini perempuan itu ikut andil membuat Bara pusing. Dering ponsel mengalihkan perhatian Bara, dia menoleh ke arah meja dengan ponsel yang terus berdering itu. Tidak bias

