Tawaran tak terduga

720 Words
Alya berjalan keluar dari gedung kantornya dengan langkah gontai. Matanya panas, tetapi ia menahan air matanya agar tidak jatuh di depan orang-orang. Setelah dua tahun bekerja keras, ia justru dikeluarkan dengan cara seperti ini. Fitnah. Dan pelakunya pasti ada di dalam kantor. Ia menduga kuat Dina terlibat, tetapi tanpa bukti, ia tak bisa melakukan apa-apa. Di halte bus, Alya duduk termenung, menatap ponselnya yang sepi. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Nama Raka, sepupunya, muncul di layar. “Halo,” jawab Alya lemah. “Alya, apa kabar?" tanyanya "hmm, baik" mendengar jawaban Alya terdengar lesu, Raka bertanya lagi,"Kedengaran gak semangat, lagi ada masalah di kantor?" "bukan masalah lagi, tapi udah di pecat” "hah?" terdengar suara Raka terkejut disana,"Tapi kamu gakpapa, kan?” Alya menghela napas. “Nangis sih dikit," "Yang sabar ya, btw Kamu ada rencana apa sekarang?” Alya terdiam. Ia bahkan belum sempat memikirkan langkah selanjutnya. “Aku nggak tahu, Ka. Aku belum kepikiran apa-apa.” Raka di seberang telepon terdengar ragu sejenak sebelum akhirnya berkata, “Alya, aku punya tawaran buat kamu. Kedengarannya mendadak sih, tapi… kamu mau gak, kerja di Korea?" Alya mengernyit. “Korea?” “Iya. Kebetulan Bosku di sini lagi cari asisten pribadi. Aku kerja di bagian HRD, jadi aku bisa bantu kamu apply.” Alya terdiam. Pergi ke Korea? Itu bukan keputusan kecil. “Seriusan?” “Iya, serius. Bosku butuh asisten secepatnya. Dan gajinya juga lumayan gede.” Alya menggigit bibir. Ini kesempatan besar, tetapi juga berarti meninggalkan segalanya di Indonesia. “Kamu pikirin dulu lah,” kata Raka. “Tapi kalo kamu tertarik, aku bisa bantu prosesnya.” *** Malam itu, Alya tak bisa tidur. Ia menimbang-nimbang pilihan di hadapannya. Tetap di Jakarta dan berusaha membersihkan namanya, atau mengambil kesempatan baru di Korea dan memulai semuanya dari awal? Alya dilema, antara masa lalu yang penuh dengan ketidakadilan dan masa depan yang penuh ketidakpastian. Di Jakarta, ada rasa kehilangan dan kekecewaan yang mendalam setelah dipecat karena fitnah, namun di sisi lain, ada peluang baru di Korea yang seakan memberi secercah harapan. Ia teringat akan kata-kata sepupunya tentang lowongan asisten pribadi yang bisa memberinya kehidupan yang lebih baik, namun itu berarti meninggalkan semua yang dikenal, dan lebih dari itu, meninggalkan kenangan yang berat. "Apa yang harus aku pilih?" pikirnya dalam hati, sambil memandangi langit malam yang gelap, seolah mencari jawaban dari bintang-bintang yang bersinar samar. Di satu sisi, berjuang untuk membuktikan dirinya benar terasa seperti jalan yang panjang dan penuh rintangan, sementara memulai dari awal di negeri yang asing menawarkan kebebasan, meski penuh ketidakpastian. **** Keesokan harinya, Alya terbangun dengan perasaan campur aduk. Pagi itu terasa berbeda, seolah ada sesuatu yang baru yang menanti di depan mata. Setelah mandi dan menyelesaikan sarapan sederhana, ia duduk di depan meja, menatap layar ponselnya yang tergeletak di atas meja kayu. Alya tahu, ini saatnya untuk membuat keputusan. Setelah malam penuh berpikir, hatinya sudah lebih mantap. Meskipun ragu, ia merasa ada dorongan kuat untuk melangkah maju, meninggalkan kenyamanan yang lama dan membuka lembaran baru di Korea Selatan. Tangan Alya sedikit gemetar saat ia membuka kontak Raka. Beberapa detik berlalu sebelum ia benar-benar menekan tombol panggil. Ia menunggu, sambil mencoba menenangkan dirinya. Suara dering telepon memenuhi ruangan, seiring pikirannya yang berlarian. “Ini pilihan besar,” bisiknya pelan pada diri sendiri. Setelah dua dering, akhirnya terdengar suara Raka di ujung sana. “Halo?” suara Raka terdengar ceria, seperti biasa. Alya menelan ludah, lalu berkata dengan mantap, “Ka, lowongan kerja yang kata kamu kemarin masih ada" "masih, kenapa? kamu tertarik ya?" Tanya Raka memastikan Alya tersenyum tipis. “Iya, aku udah pikir-pikir lagi. Aku mau coba, Ka.” Raka tertawa kecil, terdengar lega. “Bagus! Aku yakin kamu pasti bisa sukses disini. Gak ada salahnya nyoba, kan?” Alya menarik napas dalam, merasa sedikit lega dengan dukungan Raka. “Iya... aku rasa ini kesempatan yang harus aku ambil. Makasih udah ngasih semangat, Ka.” “Tenang aja, ya. Aku percaya kamu bakalan sukses di Korea, kalo aku aja bisa kayak sekarang kenapa kamu enggak,” kata Raka, seakan memberi keyakinan lebih pada keputusan yang baru saja diambil Alya. "Soal tempat tinggal nanti aku yang urus, aku cari dekat apartemenku biar kalo ada apa-apa gampang nyari aku" "Siap, Ka” Alya mengangguk sembari tersenyum meski Raka tidak bisa melihatnya. "Korea Selatan, aku datang."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD