Kedatangan di Korea

1032 Words
Setibanya di Bandara Internasional Incheon, Korea Selatan, Alya merasa seolah-olah dunia seketika berubah. Dari hiruk-pikuk Jakarta yang bising, kini ia berada di tempat yang jauh lebih tenang dan teratur. Suara pengumuman dalam bahasa Korea yang terdengar asing di telinganya semakin mempertegas kenyataan bahwa ia kini berada di negeri yang sangat berbeda. Raka, sepupunya sudah menunggunya di luar. Raka membawa papan nama bertuliskan Alya dengan huruf besar yang cukup mencolok. Setelah melewati proses imigrasi dan pengambilan bagasi, Alya akhirnya berlari menuju sepupunya. Raka tersenyum lebar begitu melihatnya. “Alya, Welcome to South Korea!” katanya dengan antusias. “Gimana, lelah nggak?” Alya mengangguk pelan. “Sedikit.Tapi terbayarkanlah, gak nyangka banget bisa nginjekin kaki di Korea.” Raka terkekeh kecil. “Kamu harus nyoba keliling Seoul dulu sih" "ih boleh dong," "Et, tapi untuk hari ini kamu istirahat dulu, kan baru aja nyampe. Ayo, kita liat apartemen kamu” Alya hanya mengangguk. Perjalanan panjang ini telah mempersiapkan hatinya untuk menghadapi kenyataan baru yang menantinya. *** Raka membawa Alya ke sebuah apartemen sederhana namun nyaman di kawasan Gangnam. Bangunan apartemen itu tidak terlalu tinggi, dengan desain minimalis yang terlihat bersih dan rapi. Meski jauh dari kata mewah, suasananya terasa tenang dan homey, membuat Alya sedikit lebih tenang setelah perjalanan panjangnya. Begitu masuk ke dalam unitnya, Alya langsung disambut aroma kayu dari lantai dan furnitur sederhana yang tertata rapi. Ruang tamunya tidak luas, tapi cukup nyaman dengan sofa empuk dan rak buku kecil di sudut. Dapur mungilnya menyatu dengan ruang utama, menghadirkan kesan praktis dan fungsional. Namun, yang paling menarik perhatian Alya adalah balkon kecil yang bisa diakses melalui pintu geser kaca di ruang tamu. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi cukup untuk menjadi tempat bersantai. Di sana, ada kursi mini yang ditempatkan di dekat pagar balkon, memungkinkan seseorang duduk sambil menikmati pemandangan langit Seoul yang bertabur cahaya. Beberapa tanaman hias dalam pot kecil diletakkan di sudut, menambah kesan asri dan menenangkan. Alya tersenyum kecil. Tempat ini terasa pas untuknya, cukup tersembunyi, nyaman, dan memberi ruang untuk sekadar menarik napas setelah hari yang panjang. Sepertinya, di sinilah ia akan menghabiskan waktu saat ingin sendiri. "Keren, Ka. Apartemen ini nyaman banget," gumam Alya sambil menjatuhkan tubuhnya ke sofa. "Aku kira bakal lebih sempit." Raka tertawa kecil dan ikut duduk di sandaran sofa. "Ya, ini nggak terlalu besar juga sih. tapi cukup buat hidup nyaman. Dan yang paling penting, apartemenku ada di sebelah, jadi kalau butuh sesuatu, tinggal ketok pintu" Alya menoleh dengan senyum tipis. "Berarti kalau aku bosan, aku boleh main ke apartemen kamu?" "Haha boleh dong. Btw, isi kontrak kerja kemarin kamu udah baca semua, kan?" tanya Raka tiba-tiba, menatap Alya dengan alis terangkat. Alya terdiam sejenak, mencoba mengingat-ingat. "Ehm... kontraknya panjang banget. Aku cuma baca sekilas, terus langsung tanda tangan aja. Kenapa, emangnya?" Raka terperanjat, nyaris tak percaya dengan apa yang baru didengarnya. "Lah, Ya! Kamu nekat banget! Gimana kalau isinya jebakan atau bukan kontrak kerja biasa?" "Aku pikir isinya cuma tentang aturan jadi asisten pribadi. Ya kayak ngurus jadwal, ambil kopi, begitu-begitu aja," Alya menjawab sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Sekarang dia malah jadi penasaran. "Emangnya isinya tentang apa?" Raka menahan tawa, mencoba untuk tidak terlihat terlalu geli. "Yah, jadi asisten pribadi yang ini tuh beda, Ya. Bukan kayak di perusahaan yang duduk manis di depan komputer. Kamu bakal ngurusin segala keperluan bosmu, bahkan ngikutin dia kemana pun pergi." Alya membelalakkan mata. "Maksudnya... aku harus jadi kayak bayangan dia gitu?" "Kurang lebih begitu," jawab Raka santai. “ihh ogah" "Dan kamu tahu nggak, kamu bakal kerja buat siapa?" Alya menggeleng. "Aku nggak tahu lah. Aku kira kan kerja buat perusahaan atau kantor gitu." Raka akhirnya tak bisa menahan tawanya. "Kamu bakal kerja buat keluarga Kang. Tepatnya, ngurusin putra sulung mereka." Alya semakin bingung. "Keluarga Kang?" beonya Raka menyandarkan tubuhnya ke sofa, menikmati setiap detik kepanikan yang mulai muncul di wajah Alya. "Keluarga Kang itu bukan keluarga biasa. Nyonya Seo Jihyun, perempuan berkelas dengan bisnis makanannya yang terkenal ada di mana-mana. Suaminya, Kang dongsik, pengusaha besar yang bisnisnya udah kayak gurita, ngejalar ke segala sektor." Dia menatap Alya sekilas sebelum melanjutkan, kali ini dengan nada lebih dramatis. "Mereka punya lima anak, dan semuanya...percaya deh, bukan orang-orang yang gampang dihadapin. Anak sulungnya? Orangnya perfeksionis, dingin, nggak banyak omong. Banyak yang bilang, kalau kerja di bawah dia harus siap mental, soalnya salah dikit aja bisa kena semprot." Raka menunggu reaksi Alya sebelum lanjut. "Anak kedua lebih kalem, sih. Dia dokter, sibuk banget sampai jarang ada di Rumah. Tapi tetap aja, tekanan dari keluarganya gila-gilaan." Dia mengangkat alis, menyeringai kecil. "Terus ada anak ketiga. dia Idol. keren kan? Tapi katanya dia tuh paling nggak bisa diprediksi. Sering bikin masalah dan... yah, kau tahu sendiri dunia entertainment kayak gimana." Raka berpura-pura berpikir sebelum menambahkan, "Yang keempat dan kelima kembar. Yang cowok masih SMA, tapi katanya udah banyak belajar bisnis dari ayahnya. Yang cewek? Mulai masuk dunia hiburan juga. Dan tahu sendiri kan, kalau anak-anak orang kaya dari keluarga berpengaruh itu pasti punya standar tinggi buat segala hal..." Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya nyaris berbisik. "Dan tahu nggak, siapa bos barumu?" Alya mengerutkan kening, penasaran. "Siapa?" Raka menahan tawa, mempermainkan ekspresinya seolah ingin menggantungkan jawaban. Dengan ekspresi penuh arti, ia menjawab, "Kang Jaewon." Alya masih belum sepenuhnya menangkap maksudnya. "Itu siapa di keluarga Kang?" Raka menyeringai, menatapnya penuh arti. "Anak sulung." Mata Alya melebar. "Hah? Serius?" "Iya, yang perfeksionis, dingin, dan sering bikin asistennya nangis" "Ih gak mauuuuu" Alya meringis Raka tertawa terbahak-bahak. "Yap. Selamat, Ya, bos barumu adalah orang paling ditakuti di keluarga Kang." Mau pulang aja, ih! Nggak mau kerja sama orang kejam!" Alya meratap dramatis dengan ekspresi putus asa. Melihat ekspresi Alya, Raka tertawa lagi. "Yang sabar ya. Kalau aku sih lebih beruntung, bosku nggak sedingin itu." Alya menoleh dengan wajah penuh harap. "Siapa bosmu?" Raka menyandarkan tubuhnya ke sofa, lalu berkata dengan senyum puas, "Ibunya Jaewon. Nyonya Seo Jihyun." Alya langsung mencelos. "Jadi... kamu kerja sama ibunya, dan aku kerja sama anaknya?" Raka mengangguk santai. "Iya, jadi kita bakalan sering ketemu di Rumah keluarga Kang" Alya menatap Raka dengan ekspresi campur aduk antara kaget dan geli. "Sumpah, mau pulang ke Indo hari ini juga" Raka tertawa lepas. "Selamat bekerja di Keluarga Kang, ya”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD