Mengusik Hati

1185 Words
Mobil mewah berwarna hitam melaju dengan kecepatan sedang, menyusuri kota Jakarta sambil menengok ke kanan dan kiri, berharap bisa menemukan Elea yang kemungkinan besar sedang tidur di pinggi jalan, atau mungkin tidur di depan ruko-ruko yang sudah tutup. Setelah menyusuri jalan selama lima belas menit, ia seperti melihat sosok Elea dari kejauhan. Bajunya yang memiliki perpaduan warna baby pink dengan hitam, terlihat cukup mencolok di bawah sinar lampu jalan tepat ada di atasnya. "Itu kayaknya dia deh," ucap Arga seraya mencondongkan tubuhnya ke depan, mempertajam penglihatan ke arah kursi yang ada di taman. Setelah mobil melaju semakin dekat, sosok itu semakin terlihat jelas dan tebakannya benar, seseorang yang sedang berbaring di atas bangku taman itu adalah Elea. "Akhirnya ketemu juga." Arga menghembuskan nafas lega. Arga menepikan mobilnya di bahu jalan, lalu keluar dari mobil, berjalan menghampiri gadis itu. Gadis yang baru tiga hari ia kenal, tetapi berhasil membuat Arga mengkhawatirkan keadaannya. Arga tidak berhenti mengutuk dirinya sendiri, kenapa bisa sampai sejauh ini terhadap orang yang baru ia kenal? Gadis kecil yang sejauh ini hanya menyusahkan dirinya. "Hei, bangun!" ucap Arga sambil mengguncang bahunya pelan, tetapi gadis itu tidak memberikan respon. Entah tidur terlalu pulas, atau terjadi sesuatu kepadanya. Karena tidak juga bangun, Arga berjongkok, menepuk-nepuk pipi Elea dan terkejut saat mengetahui kalau saat ini gadis kecil itu sedang mengalami demam. Tanpa berpikir panjang, Arga menggendong Elea, membawanya masuk ke dalam mobil, lalu ia pun segera membawa gadis kecilnya pulang. Hal pertama yang dia lakukan adalah menghubungi Beni untuk dimintai pertolongan. "Lu di mana?" "Di alam lain?" jawabnya khas mengantuk. "Bangun! Pergi ke apotik depan rumah lu, beli obat penurun demam!" titah Arga dengan Panik. "Buat siapa?" "Elea, gue nemuin dia di pinggir jalan dan sekarang keadaannya lagi sakit." Beni langsung bangkit dari tidurnya. "Serius?" "Iya buruan! Gue tunggu di rumah." "Oke, oke." Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, hingga akhirnya setelah beberapa menit, mereka pun sampai di kontrakan. Beni yang memang sudah lebih dulu sampai di kontrakan, membukakan pintu utama, lalu Arga membawa Elea masuk dengan tergesa-gesa, membaringkan tubuh mungil itu di atas tempat tidur. "Lu ketemu dia di mana?" tanya Beni yang saat ini berdiri di ujung ranjang, memperhatikan Arga yang saat ini sedang membantu Elea duduk, karena harus minum obat. "Taman belakang kampus Ratih," jawabnya singkat. "Mana sini obatnya!" pinta Arga seraya mengulurkan tangan. Beni menyerahkan satu butir obat penurun demam kepada Arga, juga satu gelas air minum. "Elea, bangunlah!" Arga membangunkan Elea sambil menepuk lembut pipinya. Mata gadis itu mulai terbuka, tersenyum saat melihat wajah Arga, "Om Arga?" "Iya, ini gue, Lea. Bangunlah! Lu harus minum obat." "Maafin aku, Om. Aku udah ganti sabun sama shampo nya." "Iya gue tau, Lea. Nggak usah bahas sabun sama shampo. Sekarang lu minum obat, ya." Saat ini kesadaran Elea berada di angka tiga puluh persen. Dia mengigau, karena demam terlalu tinggi kisaran di angka empat puluh derajat celsius. Berhasil membantu Elea minum obat, ia pun membaringkan kembali tubuh mungil itu di atas ranjangnya, lalu menyelimutinya. "Jangan diselimutin, Ga. Biarin aja kayak gitu." "Dia menggigil, Ben." "Tutup aja kakinya, badannya nggak usah." "Lu yakin?" "Iya. Biar panasnya keluar." Melihat Elea sudah tenang, Arga juga Beni pun keluar dari kamar. "Gue pikir lu nggak jadi nyariin tuh anak," ucap Beni setelah mereka berada di ruang tengah. "Siapa yang nyari? Kebetulan aja gue lewat jalan itu." Arga gengsi jika harus mengakuinya. Diam-diam Beni menjulurkan lidah. "Terserah lu deh. Ya udah gue pulang, ya. Semoga aja Elea nggak kenapa-kenapa." "Iya, thanks, ya." "Udah, santai." Setelahnya Beni pun pergi, Arga kembali ke dalam kamar untuk mematikan lampu. Begitu lampu dimatikan, Elea bicara, "Jangan dimatiin, Om. Aku takut gelap." Kembali lampu dinyalakan, lalu ia memegang handle pintu hendak menutup. Tetapi, belum sempat pintu tertutup sempurna, Elea memanggilnya lagi. "Om Arga." "Iya, Lea." "Boleh aku minta tolong!" "Apa?" "Aku menggigil." Arga kembali masuk ke dalam, duduk di tepian ranjang seraya menggenggam erat tangan Elea. "Kamu udah minum obat, sebentar lagi demamnya pasti turun. Sabar sebentar, ya." Seketika gaya bicaranya berubah menjadi lembut. "Tapi dingin banget. Kamu punya AC?" "Ngaco kamu." Sudut bibir Arga membentuk simpul sempurna, begitupun dengan Elea yang sama-sama ikut tersenyum. "Aku butuh sesuatu yang hangat," lirih Elea dengan mata sedikit terbuka. "Aku ambil air minum anget, ya." Elea menggelangkan kepalanya. "Nggak." "Terus?" Sambil menarik tangannya, Elea mencoba untuk bangun hendak duduk, lalu memeluk Arga. "Tetaplah seperti ini. Aku merasa lebih baik." Saat ini posisinya sangat tidak nyaman. Agar mendapatkan posisi yang sama-sama nyaman, Arga pun ikut naik ke atas ranjang, duduk selonjor sambil bersandar pada kepala ranjang, lalu meletakan tubuh Elea di atas bahunya. "Apa ini lebih baik?" Elea menganggukkan kepalanya tanpa berkata. Tidak lama setelah itu ia pun tidur pulas dalam pelukan Arga yang begitu hangat dan sangat nyaman. *** Pagi hari. Arga membuka mata setelah mendengar suara keras di dalam mimpi, lalu bangun dan langsung duduk mencari keberadaan Elea yang sudah tidak ada di sebelahnya. Khawatir Gadis itu pergi lagi, Arga beringsut turun dari atas ranjang, lalu keluar dari kamar. Namun, saat pintu kamar dibuka, dia terkejut mendapati Elea sedang memunguti pecahan gelas di lantai. "Kenapa, Lea?" tanya Arga masih berdiri di ambang pintu. "Maaf, Om. Aku nggak sengaja." Karena takut dimarahi lagi oleh Arga, Elea buru-buru mengambil serpihan itu dengan tangannya langsung. "Jangan pake tangan! Nanti kamu luka!" cegah Arga Seraya meraih tangan Elea, lalu menariknya untuk berdiri. "Tapi itu ...." Belum selesai satu kalimat diucapkan, Arga menyambar dengan memberikan perintah. "Ambilin serokan sampah di dapur!" "Serokan sampah itu yang...." Elea tidak bisa meneruskan ucapannya, karena tidak tahu apa itu serokan sampah. "Kamu nggak tau serokan sampah?" Tanpa menjawab Elea menurunkan pandangannya penuh ketakutan, takut Arga marah lagi. Karena tidak ingin memperpanjang urusan, akhirnya Arga yang pergi ke dapur mengambil serokan sampah untuk membersihkan pecahan gelas. Setelah berhasil dibersihkan, serpihan tersebut ia masukkan ke dalam kantong kresek berukuran kecil, lalu membuangnya ke dalam tong sampah yang ada di dapur, lalu kembali ke ruang tengah. "Kamu udah sembuh?" tanya Arga sambil menyisir rambut yang sedikit gondrong dengan jarinya, berjalan menuju kursi. Bukannya menjawab pertanyaan, Elea malah mengucapakan permohonan maaf. "Maafin aku ya, Om. Gelasnya jadi berkurang. Sumpah demi apa pun aku nggak sengaja. Tadi pas jalan, kaki aku kepentok meja, padahal aku udah pegang ...." Dengan cepat Arga memangkas kalimat Elea. "Aku nggak nanyain gelas, Elea. Yang aku tanya itu keadaan kamu." "Oh, aku pikir ...." "Sejahat itu ya aku sama lu?" "Nggak, akunya aja yang cengeng." "Aku minta maaf, ya." Elea diam, Arga melanjutkan bicaranya. "Kalau mulut aku nggak jahat, kamu nggak bakal pergi. Sekali lagi aku minta maaf. Sebagi permohonan maaf, habis ini kita pergi ke car free day. Kamu mau?" Ingin tahu sebahagia apa Elea pagi ini. Jika tidak malu, mungkin ia sudah melompat kegirangan sambil bersorak 'hore' atau mungkin berlari ke arah Arga untuk mencium kedua pipinya. Tapi, hal itu urung dia lakukan, karena mustahil. Elea mengekspresikan rasa bahagianya hanya dengan tersenyum lebar, sambil mengangguk penuh semangat. "Aku mau siap-siap dulu. Om jangan ke mana-mana, ya!" "Iya, aku tunggu di sini." Elea sangat, sangat bahagia pagi ini. Selain Arga akan mengajaknya jalan-jalan, tutur katanya menjadi lebih lembut, tidak marah lagi saat ia melakukan kesalahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD