"Heh, Bocil. Lu pikir nikah semudah bikin kopi? Enak banget kalau ngomong kayak nggak punya beban, maen nikah-nikah aja."
"Karna untuk menyelamatkan nama baik aku cuma dengan menikah."
"Iya gue tau, tapi ...."
"Tapi apa? Keberatan? Om mau lari dari tanggung jawab?" tanya Elea dengan mata berkaca-kaca.
"Ya nggak gitu juga, nanti dulu. Sabar."
"Nanti nunggu apa lagi? Nunggu aku hamil?'
"Dari tadi ngomongnya hamil melulu. Mana bisa hamil cuma sekali berhubungan? Orang yang nikah bertahun-tahun aja banyak yang susah hamil. Masa ini baru sekali udah hamil aja."
"Kenapa nggak mungkin? Banyak yang begitu nikah dan langsung hamil. Emangnya Om bisa jamin kalau aku nggak bakal hamil?"
Dengan cepat Beni membenarkan ucapan Elea. "Nah, bener tuh. Udah lu tinggal nikahin dia apa susahnya sih?"
"Eh, Bonsai," seru Arga seraya mengeplak kepala Beni.
"Anjir, gue dibilang bonsai. Badan gue tinggi kayak gini lu kata bonsai." protes Beni.
"Berisik, lu! Dengerin gue. Dia punya orang tua, gue punya apa buat nemuin orang tua dia? Modal tanggung jawab doang? Kalau ditanya kerjaan, apa yang mesti gue jawab? Mau ngempanin anaknya pake apa? Pelet ikan?" sarkas Arga.
"Aku nggak punya orang tua, Om. Aku hidup sebatang kara."
Mendengar pernyataan Elea yang cukup mengejutkan, mereka diam untuk beberapa saat, saling memandang satu sama lain, lalu Arga bertanya, "Lu nggak punya orang tua?"
Elea menganggukkan kepalanya. "Iya."
"Saudara?" tanyanya lagi.
"Nggak ada. Kan aku bilang aku hidup sebatang kara. Jadi, ya nggak punya siapa-siapa."
Arga juga Beni bengong setelah mengetahui kalau gadis yang ada di depannya itu miliki kehidupan yang kelam. Penasaran dengan tempat asalnya, Arga pun kembali mengajukan pertanyaan. "Terus selama ini lu tinggal di mana? Gimana caranya lu bisa langsung ada di kamar gue?"
Belum sempat menjawab, ponsel milik Beni yang bunyinya seperti suara tikus itu berdering. Dia mengambil benda pipih berwarna hitam itu dari dalam saku, wajahnya langsung berbinar setelah mengetahui siapa orang yang menghubungi dirinya.
"Siapa?" tanya Arga penasaran ketika ia melihat wajah Beni berbinar.
"Ladang duit kita, Ga," jawab Beni.
"Apaan?"
"Ngobrol di luar deh. Nggak enak didengerin bocil."
Arga mengangguk. "Oke."
Saat melangkah hendak keluar, Elea berkata, "Enak aja bocil. Usia aku 20 tahun tau."
"Lu juga ngapain manggil gue om, padahal gue bukan om lu." Setelah berkata demikian Arga juga Beni pun pergi.
Apa yang bisa Elea lakukan sekarang? Dia hanya bisa melihat ke sekeliling rumah Arga yang di dalamnya tidak terlalu banyak barang. Hanya ada kursi tamu dari bahan kayu, satu meja di ujung dinding sebagai pembatas antara ruang tengah dengan dapur, yang mana di atas meja tersebut hanya ada satu televisi berukurang empat belas inchi.
"Walaupun rumah ini kecil, nggak tau kenapa aku ngerasa nyaman dari pada di istana terkutuk itu," monolog Elea di dalam hati.
Dia berjalan menuju meja hendak menghidupkan televisi, tetapi sayang televisi tersebut dalam keadaan mati.
"Ini rongsokan atau apa benda antik, sih?"
Beralih ke sisi sebelah kanan meja. Di sana terdapat satu foto dengan ukuran sedang, yang mana di dalam foto itu terdiri dari dua perempuan dan satu laki-laki berdiri di tengahnya.
"Siapa mereka?"
Saat ingin mengambil foto tersebut, Arga pun masuk.
"Jangan sentuh foto itu!"
Elea mengurungkan niatnya, lalu menoleh ke arah sumber suara. "Kenapa?"
"Nggak usah banyak nanya. Kalau gue bilang jangan, ya jangan." Elea diam, Arga melanjutkan ucapannya. "Gue mau pergi sama Beni. Lu jangan keluar rumah sebelum gue pulang. Paham!"
"Iya, Om."
"Kunci pintu dari dalem! Gue bakal pulang larut malem." Elea masih diam, lalu Arga pun melangkah hendak pergi. Namun, dengan gerakan cepat Elea menahannya. "Apa?" tanya Arga.
"Boleh aku nonton televisi? Aku bingung mau ngapain."
Arga melihat ke arah televisi yang saat ini dalam keadaan mati, lalu menjawab, "Nggak ada set top boxnya. Jadi nggak bisa nonton TV."
"Pantesan mati," gumam Elea dengan suara pelan.
"Udah lu ngapain kek, tidur seharian juga boleh. Atau nggak lu beresin rumah gue. Nggak nyaman kan lu liat rumah berantakan kayak gini?"
Tanpa menjawab, pandangan Elea kembali berkeliling melihat sekitar, yang mana terdapat beberapa puntung rokok di setiap sudut rumah, di dekat jendela, juga botol minuman di atas meja tamu sebanyak dua botol. Kebiasaan yang sangat buruk, pantas Elea menemukan Arga dalam keadaan mabuk bahkan sampai tidak sadarkan diri.
Melihat Elea bengong, Arga kembali bicara. "Udah, kalau lu nggak mau beresin rumah, nggak apa-apa. Gue udah terbiasa sama rumah berantakan," ucap Arga sambil berlalu pergi. Namun, saat berada di depan pintu, Arga menoleh ke belakang. "Oh iya, kalau lu mau kabur juga boleh. Rumah gue kayak kandang tikus, banyak kuman." Setelahnya ia pun menutup pintu, lalu menghampiri Beni yang sudah menunggunya di dalam mobil.
Elea berlari ke arah jendela, melihat mobil mewah itu mulai keluar dari garasi, lalu pergi dengan kecepatan tinggi. "Hidup di kontrakan, katanya miskin, kok punya mobil sih?" Monolog Elea heran. Dia duduk di kursi kayu, memperhatikan sekelilingnya, bingung akan memulai dari mana untuk merapikan ruangan, karena ruangan tersebut sangat berantakan.
***
Di sebuah hotel mewah. Arga bersama Beni, juga seorang pria bernama Toni, masuk ke dalam kamar hotel, bertemu dengan seorang wanita cantik yang mana saat ini sedang menunggunya di depan meja rias, mengoleskan lipstik berwarna merah pada bibirnya yang tipis. Dia adalah Cassandra, seorang wanita cantik yang meminta Toni mencarikan pacar bayaran untuk ia perkanalan ke keluarganya.
Begitu melihat kedatangan mereka bertiga dari pantulan cermin, Cassandra menyapa ramah. "Hai."
"Siang, Nona." Toni merespon dengan sedikit membungkukkan tubuhnya, sedangkan Arga dengan Beni hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Jadi mereka yang lu bilang kemaren?" tanya Cassandra kepada Toni sambil berdiri. Ia meletakkan lipstiknya di atas meja, lalu menatap satu-persatu wajah dua lelaki yang ada di depannya.
"Iya, Non. Anda bebas pilih yang mana yang mau Anda jadikan pacar bayaran."
Tanpa berpikir panjang, Cassandra menunjuk ke arah Arga. "Dia."
Dari perawakannya memang Arga terlihat lebih gagah, lebih tampan, lebih berkarisma dari pada Beni. Toni sudah menduganya sejak awal, kalau kliennya akan memilih Arga. Setelah Cassandra menjatuhkan pilihan, Toni pun bertanya kepada Arga. "Gimana? Lu siap?"
"Nggak ada alasan untuk bilang nggak siap, selama bayaran lancar dan gue minta separuh harga taruh di muka."
Permintaan Arga langsung mendapatkan protes dari Toni dengan suara pelan. "Jangan gila dong, lu. Itu kan nggak ada di perjanjian kita."
"Diem!" tegas Arga.
Siapa yang akan menyangka wanita itu langsung mengabulkan permintaan Arga. Dia mengeluarkan amplop dari dalam tas, lalu melempar amplop tersebut ke atas ranjang.
"Bukan setengah harga, gue bayar semuanya."
Mereka bertiga menatap tidak percaya ke arah amplop tersebut, lalu ketiganya saling melempar senyum penuh arti. Dengan gerakan cepat Toni mengambil amplop itu.
"Pesta lagi kita."
"Pasti," balas Beni.
"Gimana? Kalian siap?" tanya Cassandra.
Arga menjawab tanpa ragu. "Oke. Kapan?"
"Sekarang."
Setelah menyepakati beberapa hal, akhinya mereka berempat pun pergi meninggalkan hotel, menuju suatu tempat hendak menemui seseorang demi melancarkan sebuah misi sebagai pacar bayaran Cassandra. Wanita kaya raya tetapi memiliki sifat yang licik.
Tidak ada pekerjaan yang tidak beres. Semua berjalan dengan lancar selama berada di tangan Arga Aditama. Wanita itu merasa sangat puas, dia memberikan dua tip kepada Arga. Satu ia terima, karena tip yang pertama berupa amplop berisi sejumlah uang dan tip kedua yang ia tolak, saat wanita itu ingin mencium bibirnya. Tidak, Arga tidak melakukan kontak fisik dari setiap misi yang ia kerjakan. Selesai dengan satu pekerjaan, Arga bersama Beni pun pulang.
"Gue rasa tuh cewek suka sama lu, Ga," ucap Beni. Saat ini mereka masih dalam perjalanan pulang. Beni duduk di jok samping kemudi, sedangkan Arga mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Dia harus suka sama gue, biar kalau ada kerjaan lagi, kita yang dipanggil," jawab Arga tanpa mengalihkan fokusnya pada padatnya jalan raya ibu kota yang tidak pernah sepi walau sampai dini hari.
"Bener juga lu. Tapi, sialnya gue masa cuma jadi supir pribadi kalian sih?" gerutu Beni.
"Eh, biar lu cuma berperan sebagai supir pribadi, bayaran lu juga gede. Jauh sama pendapatan di bengkel."
"Jauh banget."
Asik mengobrol, tiba-tiba ponsel Beni bergetar. Ia mengambil benda pipih itu dari dalam saku celana, melihat nama Leo pada layar ponselnya. "Leo, Ga."
"Mau ngapain dia?"
"Nggak tau, gue buka dulu deh pesannya."
Beni membuka pesan dari Leo yang berisi, "Cewek di rumah sohib lu boleh juga, boleh kali gue ajak dia main."
"Sial," pekik Beni.
"Ada apaan?" tanya Arga penasaran.
"Buruan balik, Ga. Si Bocil dalam bahaya."
"Emangnya kenapa?"
Beni menunjukkan isi pesan dari Leo, tanpa berpikir panjang Arga langsung tancap gas lebih kencang lagi. Ingin rasanya tidak perduli, tetapi ketika ingat gadis itu hidup sebatang kara, Arga merasa kasihan mengingatnya.