Bab 5

1203 Words
"Hanya karena cinta, dia buta akan segalanya. Jahat banget, sih. Orang cantik, tapi tak secantik hatinya," gumamku. "Iya," jawab Sisca. "Berarti, kamu meninggal nggak di rumahmu, dong. Itu rumah dia, kan?" tanyaku. "Entahlah, yang aku tahu. Akhirnya tubuhku ditemukan di kolam renang. Seingatku wanita itu bilang jika dia lengah kala menjaga kami." Sisca bingung sebab apa yang dikatakan tak sama dengan penglihatanku. "Kok aneh, sih. Selama dalam penglihatan, nggak mungkin salah. Apa kamu lupa?" tanyaku. "Sumpah, setelah itu, aku nggak inget apa-apa, lagi. Adikku terkulai lemah dan aku pun nggak sadarkan diri. Mungkin aku saat itu sudah meninggal," jawab Sisca lagi. "Oh, ya sudahlah. Pusing juga aku nanti. Ini gambar kalian." Aku menyerahkan lukisan itu ke mereka. Namun, saat itu juga bertepatan dengan Tante Dinar masuk ke dalam kamarku. Tiba-tiba, dia menjerit ketakutan kala melihat lukisan yang terbang. "Aaaaaa," teriak Tante Dinar. Sontak hal itu, membuat Sisca menjatuhkan lukisannya ke lantai. "Tante, apaan, sih. Teriak-teriak mulu," tegurku. Mama dan Nenekku pun datang kala mendengar teriakan Tante Dinar yang menggelegar. "Kenapa, Din?" tanya Mamaku. Terlihat wajah Mama yang letih, masih mampu mengkhawatirkan adiknya. "Hehe, itu si Rara, Kak. Dia sama teman hantunya ngagetin." Tante Dinar menyeringai kala mengatakan itu semua. "Kamu ada-ada aja, deh. Sudahlah, kaya baru tahu keponakanmu aja kamu, tuh," tegur Nenek. "Hehehe, maaf, Bu." Tante Dinar meminta maaf kepada Nenek. Sedangkan aku, hanya mengejeknya dengan menjulurkan sedikit lidahku. Tante Dinar yang gemes kala melihatku, hanya melihatku sembari cemberut. "Kamu, tuh," gumamnya. "Tante," panggilku. Tante Dinar yang hendak pergi, sontak menoleh ke arahku lagi. "Apaan?" "Tante, mau ngapain tadi? Masa iya, masa ke kamarku nggak ada gunanya?" desakku. "Oh, iya. Ada yang mau Tante tanyakan. Tapi, jangan di sinilah, Ra. Aku takut," ujar Tante Dinar. "Heleh, di rumah ini, atau di mana pun hantunya banyak. Ngapain juga takut, toh memang kita hidup berdampingan," jawabku dengan entengnya. Terkadang aku tak pernah berpikir, jika orang memiliki batas ketakutan masing-masing. "Ayolah, kita keluar," rengek Tante Dinar lagi. Aku menghela napas dengan terpaksa mengikuti krmauan Tante Dinar. Ketika melihat aku beranjak dari tempat duduk, akhirnya dia pun berjalan menuju kursi yang berada di ujung lantai atas rumah kami ini. "Sini, duduk," ajak Tante Dinar. Aku pun segera duduk seperti kemauannya. Lalu, setelah aku berada di sampingnya, dia menyerahkan ponselnya kepadaku. "Ponselnya diberikan ke aku?" tanyaku. "Heleh, enak aja. Kamu buka galeriku. Ingat yang kemarin aku izin ke Nenek mau ke pantai. Lihat deh, dua fotoku seperti ada siluet hitam di belakang kami. Itu apa, ya?" tanya Tante Dinar tampak serius. Aku belum melihatnya, tetapi asal menjawab, "Orang yang jalannya cepat kali. Terus pa hubungannya sama aku coba." "Ayolah, Ra. Lihat dulu," pinta Tante Dinar sedikit memohon. Aku memicingkan mataku ke arah Tante Dinar, lalu beralih ke ponselnya. Aku melakukan sesuai perintahnya untuk melihat gambarnya yang saat berada di pantai dengan teman-temannya kemarin. "Yang mana?" tanyaku untuk memastikan. Tante Dinar membuka lima foto, yang mana kelima foto itu dengan baground yang sama dan bahkan memiliki senggang waktu hanya satu menit setiap fotonya. Terlihat ketiga foto pertama biasa-biasa saja, tetapi dua foto berakhir seperti ada siluet hitam yamg memegang bahu Tante Dewi. "Ini kah?" tanyaku. "Iya, itu kira-kira apa? Foto sebelumnya nggak adakan?" tanya Tante Dinar tampak penasaran. "Aku juga nggak tahu, Tante." Aku menatap Tante Dinar dengan lekat. "Bahaya nggak, sih? Soalnya si Dewi bilang, rasa pundak berat saat pulang dari pantsi itu. Aku takut dia kenapa-napa, loh. Bia bantu nggak sih, Ra?" tanya Tante Dinar. "Memang sih, Tante. Kalau ada makhluk yang ngikut, orang awam biasanya ngerasa berat atau pun pegal-pegal gitu. Perbanyak sholawat dan baca doa aja, Tante. Sholatnya jangan sampai lupa." Aku mencoba mengingatkan. Jikalau pun ada yang mengikuti, aku pun tak bisa berbuat apa-apa. Hanya sanggup mengingatkan tanpa bisa membantu mengusirnya. Tante Dinar meraih ponselnya, dia menatapnya dengan sorot mata yang tajam. Terlihat dari raut wajahnya penuh dengan pertanyaan. "Hei, kalian bahas apaan, sih?" tanya Mama yang tiba-tiba datang sembari membawa cemilan. "Itu, Kak. Aku tanya ke Rara, soalnya tadi baru ngeh saat lihat foto Dewi. Dia tadi telepon aku, katanya pundaknya masih terasa berat sejak pulang dari pantai itu. Nah, dia lihat katanya salah satu foto kita ada seperti siluet gitu yang pegang pundaknya. Lihat ini, Kak." Tante Dina menyerahkan ponselnya. Mama meraihnya, lalu duduk di dekat kami. Terlihat beliau melihat seksama ke gambar itu. "Eh, Din. Gambar yang akhir kaya ngerasa siluet itu semakin besar daeri sebelumnya nggak, sih? Lihat, deh." Mama menunjukkan ke kami. Aku dan Tante Dinar sonta mendekat dan membandingkannya. Memang benar, siluet itu terlihat semakin besar dan bahkan seolah-olah tangan yang mencengkeram dan memiliki jari yang panjang di sana. "Pasti kalian kalau keluar kebiasaan bercanda yang keterlaluan ini. Ada yang nggak beres," ujar mama. "Terus, aku harus bagaimana, Kak?" tanya Dinar. Bukannya menjawab, malah mama menatap ke arahku. "Apa? Aku capek, Ma?" aku mencoba menolaknya, walaupun mama belum mengatakan apapun. "Rara, mibta bantu ada makhluk apa. Kasihan Tante Dewi," pinta Mama. "Nggak mau, Ma. Mama itu hamil, tuh. Aku nggak mau bawa balak(musibah) buat adikku." Aku tetap kekeh menolaknya. Tante Dinar menghela napas panjang. "Ya sudahlah, biar nanti dia cari tahu ke orang pintar aja. Kasihan dia, kalau ada yang ganggu. Apa lagi, bentar lagi dia mau nikah," ujar Tante Dinar. "Siapa suruh keluar. Kata Mama, pamali itu. Tanyakan aja," pintaku. Tante Dinar memicingkan matanya ke arahku. "Dua bulan lagi, kan? Mending jangan jauh-jauh kalau main. Kata orang dulu, calon pengantin ada aromanya sendiri. Keluar untuk kerja, nggak masalah. Kalau untuk main-main, Kakak sarankan untuk dikurangin aja, Din. Kebaikan untuk dirinya sendiri juga," nasehat mama. "Aroma calon pengantin?" tanya Tante Dinar tampak penasaran. "Aku nggak paham juga, cuma mitos. Tapi banyak yang percaya, sih. Mending dipatuhi aja, yang namanya orang nggak tahu. Nggak cuma satu orang yang benci kita kan, nggak mau suudzon. Mungkin, ada seseorang atau bahkan beberapa orang yang tak menyukainya. Jadi bisa melakukan apapun. Pasti, yang namanya orang akan mengait-ngaitkan itu dengan mitos yang banyak dipercaya orang." Mama terlihat serius kaa mengatakan itu. "Iya juga, sih," jawab Tante Dinar mencoba mempercayai apa yang dikatakan oleh Mama. Kemudian setelah itu, terlihat mama beranjak dari tempat duduknya. Sedangkan aku dan Tante Dinar masih duduk di sini. "Mama turun dulu, ya. Pengen istirahat." Mama melangkahkan kakinya, tetapi baru beberapa langkah beliau kembali berhemti dan menoleh. "Rara, mumpung masih jam segini, buat tidur sana. Biarkan Tante Dinar sendirian, siapa tahu ditemani satu temanmu." "Nahkan, kebiasaan. Gitu terus, sampai bosan," gumam Tante Dinar tampak kesal. "Jangan ganggu keponakanmu istirahat dengan hal-hal aneh, Din. Urusin Alva sana, bilangin suruh cari kerja yang bener," sindir Mama. Lagi-lagi Tante Dinar hanya diam dan saat ini maah tampak cemberut. ☆☆☆ Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. Lina Agustin
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD