Cinta bukan diingat, tapi dirasakan. Meski otak kehilangan kepingan-kepingan rekamannya, tapi hati akan tetap dalam keadaan yang sama. Getaran cinta akan tetap terasa saat orang yang membuat getaran berirama itu berada di dekat kita.
Kakek memeluk cucu kesayangannya dengan sangat erat seakan enggan untuk melepaskannya. Di bahu Hana, pria itu menangis seakan tak tertahankan. Ia cukup terkejut dan menolak kenyataan yang harus diterimanya. Kenyataan bahwa cucunya telah melupakan semuanya. Bahkan ia tak ingat pada sang kakek yang selama ini berada dalam hidupnya.
“Hana, ini kakek kamu sayang, ini kakek,” lirih kakek dengan suara serak. “Kamu harus tau kalau kakek yang selama ini ngerawat kamu dan...,"
"Kakek," suara itu menghentikan kakek untuk berucap lagi. Gadis itu lantas melepaskan pelukan kakeknya, wajahnya masih belum mengerti apa-apa. Tapi setidaknya, Hana harus percaya.
"Iya kakek. Kakek gak usah nangis kaya gitu. Kalau kakek bilang aku ini cucu kakek, mana mungkin aku gak percaya."
Kedua pria yang juga berada di sana hanya saling memandang satu sama lain beberapa saat. Memperhatikan anak dan cucu di hadapan mereka. Ini pasti ujian berat untuk kakek. Tangan kakek menyentuh pipi Hana dengan segala kasih sayangnya. Dulu dia boleh kehilangan anak dan menantunya, tapi sekarang, ia tidak akan mengizinkan Tuhan untuk mengambil cucunya. Beliau sangat berharap, dialah yang akan meninggalkan Hana lebih dulu, jangan Hana yang meninggalkannya duluan. Ia masih sangat bersyukur, cucunya hanya melupakannya saja, sekarang tinggal menunggu waktu, kapan Hana akan bisa mengingat kembali.
Kakek langsung memeluk Hana kembali. Isak tangisnya kembali hadir. Mungkin ini tangisan bahagianya, akhirnya cucunya itu bangun dari koma. Sekarang tak perlu ada yang dikhawatirkan lagi. Mereka masih mempunyai kesempatan untuk hidup bersama lagi.
Pengacara Kim tersenyum manis, tapi pria di sebelahnya terlihat tak seperti biasanya. Dia terlihat begitu susah payah menahan batuk di mulutnya. Entah ia hanya tidak ingin bersuara atau ada hal yang lainnya. Mungkin sekarang tenggorokannya terasa begitu geli.
***
Dimas tiba di rumahnya, dia tampak pucat. Dia menggebrak pintu kencang hingga suara pantulan pintu dengan dinding terdengar menggema keras.
Tiba-tiba dia tersenyum miring, melihat pemandangan yang sangat membuatnya muak!
Tampak seorang perempuan setengah baya baru saja berdiri dan berbalik menghadap ke Dimas. Gayanya begitu elegan dan rapi. Tangannya menjinjing tas bermotif emas. Waah dia sudah terlihat sebagai seorang artis papan atas. Pria itu bertepuk tangan seolah menyambut kedatandan wanita tidak tahu malu itu. Langkahnya mendekati wanita itu sambil memandangnya dari bawah sampai atas, tampak kagum.
"Nyari siapa, mbak?" tanya Dimas padanya bak orang lain yang sama sekali tidak kenal. Wanita itu melebarkan matanya menahan emosi.
"Dimas!" panggil Kak Rere yang juga berada di sana.
"Kak, buat apa si bawa wanita ini ke sini? Apa gak ada orang lain lagi? Kenapa harus dia?" tangannya terangkat menunjuk wajah yang ternyata adalah ibu kandungnya sendiri.
"Masih peduli? Kenapa baru dateng? Hm? Masih inget kalau punya dua orang anak?"
Kak Rere menggeram dalam hatinya. Bisa-bisanya adiknya berkata seperti itu di depan orang tuanya sendiri. Dia segera melangkahkan kakinya mendekati Dimas.
'PLAK!'
Satu tamparan pun mendarat di pipi Dimas hingga pria itu memalingkan wajah dengan kasar.
"Jaga mulut kamu!"
Dimas sedikit meringis. Tapi akhirnya dia kembali mendongkakkan kepalanya. Memegang pipinya yang mulai memerah. Tawaan kembali muncul dalam goresan wajahnya. Membuat kedua wanita didepannya merasa aneh.
"Kak, kamu masih belain dia?" tanya Dimas tidak habis pikir.
"Kakak bukan belain Mamah, tapi kamu yang harus jaga sikap. Jaga sikap sama orang yang lebih tua, jangan ngomong seenaknya."
Anaknya ini sangat membuatnya marah dan emosi. Dia begitu tidak menghargai dan menganggapnya orang tua.
"Apa? Orang tua? Apa ada orang tua yang nelantarin anaknya? Apa ada orang tua yang gak peduli sama anaknya? Serigala pun sayang sama anaknya sendiri, tapi kenapa manusia ada yang kejam kaya gitu?" pria itu menggeleng sejenak. Menoleh pada Mamanya yang sangat ia benci beberapa saat. Setelah itu dia bergegas pergi ke kamarnya. Wanita paruh baya itu sama sekali tidak membuka mulutnya, bungkam tanpa kata. Dia sudah sangat dibuat rendah oleh putranya sendiri. Wanita itu menghembuskan napas setelah sedari tadi menahannya.
"Maafin Dimas, mah. Mungkin dia masih kaget. Tiba-tiba mamah baru dateng lagi ke sini, wajar kalau dia marah kaya gitu. Dia masih labil, ya gitulah sikap Dimas, aku gak bisa nyalahin siapa-siapa atas sifatnya itu," Kak Rere mengalihkan pandangannya pada arah pintu kamar adiknya.
"Mama dateng ke sini atas keinginan kamu. Tapi kenapa anak itu malah caci maki mamah kaya gitu?Ya jelas lah mamah gak terima. Pokoknya kamu bilang ya sama dia, jangan belagu! Selama ini mama yang selalu biayain keperluan dia. Harusnya anak itu bersyukur!"
Wanita itu tampaknya telah berada di ujung kemarahannya. Masih belum terima dengan picingan mata menantang dari putra bungsunya.
Kak Rere menundukkan kepala merasa bersalah. Ucapan Dimas memang benar adanya, tapi tak seharusnya pula dia bersikap yang tidak-tidak di depan mamanya. Dia harus bisa menahan rasa bencinya, jika bukan karena sang mama, mungkin keduanya tidak akan bisa hidup serba kecukupan. Toh, kak Rere pun belum bisa menghasilkan uang yang banyak dari pekerjaannya. Hanya mamalah harapan kak Rere satu-satunya. Hanya kepada wanita itu dia meminta bantuan.
Dimas duduk di balik pintu dengan menyandarkan punggung dan kepalanya di sana. Kedua matanya memandang langit-langit yang remang. Dia bergelap di dalam kamar. Sesungguhnya, dia senang ibu kandungnya datang, tapi apa daya, rasa benci yang berkepanjangan menutupi rasa keinginannya untuk memeluknya sebentar saja. Wanita itu sudah terlalu menyakiti perasaannya sejak dulu. Apa maksud dari kedatangannnya?Apa dia ingin pamer tentang kehidupan mewahnya atau rasa rindunya pada anak-anaknya? Tidak mungkin. Mustahil jika wanita itu merindukan anaknya yang sudah ditelantarkan.
***
Hari ini adalah hari yang paling menyenangkan. Hari di mana Hana bisa pulang dari rumah sakit. Keadaannya sudah membaik, itu sebabnya dokter sudah bisa mempersilahkan pasiennya untuk bisa pulang. Tapi, seperti sebelummya dikatakan, meski kondosi fisiknya sudah pulih, tapi tetap saja, ingatannya belum sembuh. Entah sampai kapan Hana akan hidup dalam ketidaktahuannya itu. Sekarang gadis itu bisa merasakan kembali indahnya dunia, indahnya hembusan angin yang menerpa tubuhnya. Hangatnya sinar mentari. Dia sangat bahagia. Untung Tuhan mau memberinya kesempatan untuk menikmati semua kepunyaan sang pemilik bumi ini yang begitu indah.
Organnya masih begitu kaku hingga ia harus memakai kursi rodanya. Seorang pria mendorong kursi roda Hana menuju teras. Hana memandangi setiap sudut bangunan di depannya. Rumah bercat putih nan megah ini adalah rumahnya? Hana merasa kagum. Seperti apakah dia dulu saat menikmati hari-hatinya di sini? Pasti sangat menyenangkan!
Sekarang mereka tiba di depan pintu utama. Dimas berpindah posisi, kini dia berjongkok di depan Hana. Mereka saling beradu pandang dan melemparkan senyum.
"Kita udah sampai!" Kata Dimas antusias.
"Jadi ini rumah aku?" tanya Hana kembali mengedarkan pandangan-nya.
Dimas mengangguk seolah menjawab pertanyaan Hana. Gadis itu kembali tersenyum dan menyimpan kembali iris hitamnya pada wajah pria yang tengah berjongkok ini.
"Dimas," ucapnya pelan tanpa menghilangkan seulas senyum di bibirnya.
Mereka saling berpegangan tangan erat.
"Kamu pernah bilang, kalau kita ini sepasang kekasih. Apa kamu bisa buktiin itu?" pertanyaan itu lolos meluncur dari mulut Hana.
"Ooh jadi kamu gak percaya?"
"Gimana aku gak percaya, kalau setiap ada di deket kamu rasanya nyaman. Kalau emang iya aku ini pacar kamu, berarti aku perempuan yang paling beruntung."
"Kenapa?"
"Karena waktu aku koma panjang, buktinya kamu masih setia nungguin aku. Mungkin pria lain pada kabur karena mereka gak tahan nunggu perempuannya yang cuma bisa berbaring di atas ranjang rumah sakit," Hana kembali menghiasi wajahnya dengan senyuman. Dia mengatakan itu sesuai dengan faktanya. Merasa senang, saat dia bangun ternyata orang terkasih masih menemaninya.
"Mana mungkin aku berpaling? Aku cuma cinta sama kamu. Jadi kenapa aku kabur kalau masih ada harapan untuk kamu hidup?" Dimas membalas senyuman Hana tanpa rasa ragu. Tapi pria itu sedikit merasa bersalah saat gadis di depannya mengatakan bahwa dirinya adalah cowok setia. Apa? Setia? Dimas masih belum percaya itu.
Hana mengetuk-ngetukkan jari kemarinya ke kakinya. Seolah tengah menunggu sesuatu.
"Ayo dong, Ren."
"Apa?"
"Buktiin kalau kita ini emang sepasang kekasih," jawab Hana yang sudah tak sabar.
Dimas sedikit mengangkat tubuhnya, dia mendaratkan bibirnya di kening Hana, kontan gadis itu tertegun. Ia merasakan indahnya kecupan lembut di keningnya dan sentuhan kedua tangan Dimas di pipinya. Perlahan, lagi lagi senyuman terpancar di paras cantik Hana. Kecupan ini terasa begitu sempurna. Dimas kembali berjongkok tanpa melepaskan pandangannya dari Hana, "Sekarangkamu percaya, kan?" tanyanya lembut.
Gadis yang sudah merona itu tidak bisa menjawab apa-apa. Dia masih berlarut dalam kebahagiaan kecil yang tadi dialaminya. Hana pun merengkuh Dimas ke dalam pelukannya. Dimas membalas pelukan Hana sambil mengelus-elus rambutnya yang wangi akan shampo yang begitu harum. Membuat alat pernapasannya nyaman.
"Aku cinta kamu. Makasih, Ren.Udah setia nunggu dan tetap cinta aku walau dalam keadaan amnesia. Makasih," Hana berucap bangga dalam pelukannya. Bahkan pelukan itu semakin mengerat indah. Dimas sedikit tersenyum.
Cinta bukan diingat, tapi dirasakan. Meski otak kehilangan kepingan-kepingan rekamannya, tapi hati tetap akan sama. Getaran cinta di hati akan tetap terasa saat orang yang membuat getaran itu berada di dekat kita.
***