33. Festival

2074 Words
Sejak ngobrol sama Genta di belakang kamar mandi lantai tiga, aku jadi kepikiran sama dia. Kebayang bagaimana beratnya hidup dia yang cuma berdua sama Mamanya. Tapi Genta kayaknya gak mau diajak bahas itu lagi. Sekarang, Genta sibuk sama basket, setelah kalah di piala Wali Kota kemarin melawan sekolah Tunas Pemuda pada partai final, dia yang saat ini menjabat menjadi Kapten Tim Basket sangat berambisi menang di DBL musim depan. Lalu, karena kami sudah kelas 3, tentu saja kami akan diminta meneruskan merawat rumah warisan, juga Party yang harus diselenggarakan setiap bulan. Untungnya, Kak Adam selaku Direktur Jenderal para Alumni, ngasih duit yang lumayan. Jadi kami gak perlu cari tambahan duit. “Kita dapet tema Alam,” ucap Genta, saat ini setiap kelas 3 sedang disibukan oleh tugas Drama dari Bu Yuli. Setiap jam pelajaran Seni jadi kosong, tapi gantinya di akhir semester kami harus mementaskan sebuah Drama, sesuai dengan tema yang dipilih, kami dapat Alam. “Alam nih mau ceritain tentang pecinta lingkungan? Atau kita bikin Fabel?” tanya Muti, salah satu teman sekelasku. “Bebas, yang penting ada unsur alamnya,” jawab Genta, tadi dia sendirian, mewakili kelas kami bersama para ketua kelas lainnya kumpul di ruang kesenian bersama Bu Yuli untuk rapat penentuan tema. “Apa ya? Harus Drama Musikal kan?” tanyaku. “Iya sayang!” Genta, dia masih selalu menyelipkan panggilan sayang di setiap kesempatan kepadaku. Bikin orang bingung akan status kita berdua. Padahal, aku masih pacaran sama Kemal dan sesekali ia juga menjemputku ke sekolah. “Kalau tema Alam, terus drama musikal ya kita bikin aja fabel. Sepasang kancil, di hutan, jatuh cinta, tapi sayang, hutannya mau dirusak sama manusia, terus... emm terus apa ya? Para hewan hutan rapat buat melawan manusia,” ujar Ari mendadak mengarang cerita. “Bisa tuh, tapi musikalnya mau dimasukin di mana?” tanya Genta. “Pas kancilnya pacaran, pohon-pohon sama hewan lain jadi background nyanyi-nyanyi sama nari. Pas mau usir manusia dari hutan, lempar-lempar batu bisa pake koreografi sama lagu,” ujar Muti. “Oke, Ari sama Muti bakal jadi penulis naskah ya?” “Heh?!” Ari dan Muti berseru kaget, tapi Genta tak menghiraukan mereka. Seolah keputusannya final. “Kalau Ari sama Muti udah kelar, kita bisa langsung cari cast buat sepasang kancil-nya. Please, yang jago gambar, Andin sama yang lain, minta tenaga kalian ya buat bikin backgroud!” “Backgroud?” tanyaku. “Iya sayang, buat jadi latar ceritanya. Karena hutan ya kamu gambar aja pohon-pohon, oke cinta?” “Berapa kali berapa?” “Nanti pentasnya di aula, kalo gak salah bagian belakang aula tuh ukurannya 3 kali 8 meter deh,” “Gede juga,” “Emang gede sayang, segede cintaku padamu!” “Lo berdua jijik banget sih!” seru Ari. Cuma dia kayaknya yang berani jijik-jijik-in Genta. “Sama Ri, gue juga jijik sama Genta,” “Dih gitu banget kamu!” Akhirnya, sepanjang sisa jam pelajaran kami sekelas rapat. Perihal backgroud, kostum, lagu-lagu yang akan dinyanyikan, dan sebagainya. Genta yang otomatis menjabat sebagai sutradara mengambil keputusan dengan bijak dan baik. Saat kami mengusulkan untuk patungan membeli barang-barang seperti kain untuk background dan cat akrilik, juga untuk sewa kostum, dia berkata kalau dia yang akan mengeluarkan uang untuk semuanya. Ya pasti, dapet gratisan anak-anak ya seneng aja kan? Anak-anak fokus sama drama, aku sendiri mulai menggambar di kertas HVS polos, untungnya hari ini aku bawa cryaon, jadi bisa sekalian diwarnain. Membuat suasana hutan seasri mungkin, ditambah hiasan langit yang bagus, kuberikan gambaranku pada Genta. “Nih Gen,” “Eh bagus nih, tapi kok tengahnya kosong sih bep?” “Kan nanti pemain utamanya di tengah dong? Biar fokus makanya cuma semak-semak aja,” “Pinter banget nih istri gue!” “Jijik Gen!” seruku kesal, tapi ia terlihat tidak peduli. “Gengs, ini yaa, Andin udah bikin contoh gambarnya. Tapi dia pasti kesusahan kalau gambar langsung di kain yang ukurannya besar, jadi gue mau Panji sama Daniel bantuin Andin di backgroud ya? Nanti gue bantu juga,” ujar Genta tegas, sementara dua orang yang tadi disebutkan namanya langsung mengangguk. Sepanjang sisa jam pelajaran kami semua asik membahas rencana drama, hanya satu point penting, menunggu naskah yang disiapkan Ari dan Muti. Asik mendengar anak-anak saling memberi masukan, ponselku bergetar. Ketika kubuka ternyata ada pesan masuk. Kemal❤: Sore aku jemput ya? Kita ke Festival See you Aku tersenyum membaca itu, lalu membalas pesan Kemal. Me: Oke sayang See you Pesan langsung terkirim, namun tidak dibalas olehnya. Aku jadi gak fokus ikutin obrolan anak kelas. Pikiran sudah sibuk nanti mau jalan-jalan ke mana sama Kemal. Soalnya, setiap tempat tuh kalau didatengin sama dia pasti jadi lebih seru. Ketika bel tanda jam pelajaran berakhir berbunyi, aku langsung merapikan buku-bukuku dan juga alat tulis, memasukkan semuanya ke dalam tas. “Mau pulang bareng hari?” Genta kayanya gak pernah bosen nanya hal itu setiap hari. Padahal tiap hari juga aku tolak permintaannya. “Gak usah, aku dijemput Kemal, wlee!” seruku meledeknya. Genta hanya tersenyum kecil. Ia lalu berbalik, menggendong tasnya dan berjalan keluar kelas. Aku juga melakukan hal yang sama, keluar kelas, berjalan menuju warung depan sekolah tempat Kemal menunggu. Belum sampai geebang, eh aku sudah melihatnya, duduk di tangga Aula, sedang mengobrol dengan salah satu adik kelas. “Hay!” sapaku, ia mendongkak dan tersenyum. “Udah ya? Santai aja, lo masih kelas dua, bagus sih persiapan dari sekarang, tapi nanti kan dibimbing juga sama guru BK!” ujar Kemal ke adik kelas ini. “Oke Bang, makasi ya!” Kemal mengangguk, ia lalu berdiri, mengulurkan tangannya padaku, kemudian aku meraihnya dan kami jalan berbarengan ke arah parkiran. “Kenapa tuh tadi?” tanyaku ketika motor Kemal sudah melaju. “Adek kelas, nanya persiapannya apa aja kalau mau masuk kampus aku,” jawab Kemal. “Waah? Dia baru kelas dua kan? Aku aja yang kelas tiga masih santai, hehehe!” kalau aku sih itungannya terlalu santai ini. Bu Anna dan Bu Linda, guru BK mewajibkan kami (anak kelas tiga) minimal satu bulan 2 kali berkonsultasi soal rencana masa depan, termasuk kampus. Dan, karena aku anaknya males, aku baru satu kali konsultasi ke ruang BK. “Iya makanya aku bilang gitu sama dia. Jangan terlalu ambis aja sih sebenernya, soalnya ngeri,” “Ngeri kenapa?” “Angkatan aku sama Adam, ada cewek namanya Santi, pinter banget, dia kira dia bakal masuk kampus impiannya lewat jalur undangan, eh ternyata gagal, akhirnya dia ikut tes nasional, eh gagal juga, sampe ikut tes mandiri, sama loh... gagal juga!” “Kok bisa? Katanya pinter?” “Gak ngerti ya, mungkin karena terlalu menyepelekan, atau mungkin karena terlalu belajar soal-soal yang rumit, padahal pas tes, ya... gimana ya? Soalnya susah, cuma itungannya masih dasar lah,” jelas Kemal. “Ohh gitu, yaudah aku mau minta ditutorin kamu aja ya?” “Boleeeh!” sahutnya membuatku tersenyum. Aku yang sedari tadi fokus ngobrol sama Kemal, gak lihat jalan, tapi kayaknya ini sih arah ke rumah aku, bukan ke kampusnya. Gimana sih? “Ini pulang? Tadi katanya mau liat festival?” tanyaku. “Kamu ke festival mau pake seragam sekolah, sayaang?” “Oh iyaa, ganti baju dulu ya? Heheh yaudah nanti kamu nunggu agak lama ya? Aku sekalian mau mandi,” “Okee!” seru Kemal. Sekian menit di jalan, akhirnya kami sampai di rumahku. Motor Kemal sudah terparkir di halaman lalu kami berdua masuk. Kemal menunggu di ruang tamu sementara aku masuk ke kamar untuk membersihkan diri dan berganti baju. Gak lama-lama tentu saja, aku tahu semua orang di dunia tuh paling males kalau disuruh menunggu. Sehabis mandi, aku langsung berganti. Karena tahu bakal nongkrong di kampus, aku pake baju ala-ala mahasiswa gitu. Pakai tank-top warma hitam yang dilapisi kemeja flanel yang gak dikancing, lalu pakai celana jeans hitam juga, biar senada. Setelah itu, aku memgambil tas ransel kecil milikku, memasukan dompet, powerbank dan payung kecil, karena biasanya suka hujan tanpa diduga-duga. Selesai, aku keluar dari kamar, mampir ke dapur buat ambil sepatu converse yang akan melengkapi dandananku. Di ruang tamu, ternyata Kemal ditemani oleh Mama. “Maaf ya lama,” kataku. “Parah kamu Dek, Kemal dibikin nunggu lama, ini kalau Mama gak ada nih, bisa jadi oncom si Kemal,” “Hee? Kok oncom?” “Iya, jamuran!” “Naon ceunah, gak lucu,” kataku, tapi Mama dan Kemal tertawa kecil. “Yuk? Mau berangkat sekarang?” tanya Kemal. “Iya hayu!” sahutku. “Gak mau tunggu Adam? Tadi Adam bilang sama Mama kalau dia otw balik,” “Ah Kak Adam mah gak asik, Ma. Udah ya, Andin berangkat sama Kemal!” aku mengajak Kemal berdiri. Lalu, kami salim, mencium punggung tangan Mama dan keluar rumah. Aku sebenernya udah tahu sih soal Kak Adam. Dia saat ini sedang menyusun skripsi dan memutuskan untuk mengerjakan tugas akhirnya di rumah. Gak di kampus. Katanya biar otaknya jernih. Kak Adam bahkan sudah gak ngekost lagi di Bandung, dia mau bolak-balik aja kalau emang harus ke kampus atau nginep di kostan temennya. Gitu sih dia bilangnya. Kebayang kan rumah bakal serusuh apa kalau Kak Adam balik? Tiga tahun lebih loh, aku berasa anak tunggal tanpa Kak Adam. Hehehe! “Tumben diem aja?” tanya Kemal saat motornya berhenti karena lampu merah. “Kepikiran Kak Adam, pasti dia bakal gangguin kita,” kataku. “Adam gak gitu, kok,” “Eh iya, Kak Adam udah skripsian, kamu gimana?” “Hehehe, jangan nyamain aku sama Adam dong,” katanya dengan nada pesimis. “Eh? Emang kenapa?” “Jurusan aku, lulus cepet aja tuh biasanya 5 tahun, sayang. Belum lagi kalau ambil proyek, makin lama,” “Ohhh gitu, semangat ya kamu!” kataku sambil mengelus-elus perutnya yang saat ini sedang kupeluk. Dari kaca spion kiri, kulihat Kemal mengangguk. Ketika lampu lalu lintas berubah warna, motor pun kembali berjalan. Menuju Kampus Kemal yang jaraknya sudah lumayan dekat. Kali ini, Kemal parkir di basement. Mungkin karena langit sudah mendung, jadi dia gak mau motornya kebasahan. Setelah itu, ia mengajakku menuju lift yang ada di sudut. “Festival apaan sih ini?” tanyaku saat kami dibawa naik oleh box besi ini. “Festival jajanan bango!” jawabnya, aku tahu dia asal. “Seriusan!” “Festival Panen Petani, acaranya anak Fakultas Pertanian, kolaborasi sama petani lokal buat jualan sayur segar atau olahan, terus ada gigs-nya juga,” kali ini jawabnya bener. “Wihh asik tuh? Terus acaranya di mana? Kok kita naik sih?” “Roof-top dong, biar keren! Dan begitu pintu lift terbuka, kami langsung disambut keramaian yang menyenangkan. Roof-top ini sudah disulap seperti pasar modern. Bagian atas dihiasi bendera segitiga khas festival, juga lampu tumblr yang menyala meskipun langit masih lumayan terang. Dan stand-stand penjualnya, bagus banget, dibikin kaya dari jerami dan tumpukan kayu bekas yang terlihat sangat estetik. Lalu, di tengah-tengah, sebuah panggung mini berukuran bulat tersedia untuk para guest star yang menghibur pengunjung dan penjual. “Seru banget ini, Yaaang!” kataku masih takjub dengan suasana festival ini. Di beberapa sudut ada ornamen orang-orangan sawah yang mempercantik dekorasi. “Ayok? Kamu mau jajan apa?” tanya Kemal. “Kamu tahu gak? Kamu tuh traktir aku mulu, sekarang aku ya yang traktir kamu?” “Oke deeh!” Aku dan Kemal menyambangi stand-stand yang menjual makanan olahan. Mulai dari Teh Rossela, pudding jagung, dan kebab jamur, semua kami beli, dan sumpah sih, makanannya enak-enak banget. Kaya gini ya, kalau ada tiap hari mah aku jadi vegetarian. Soalnya enak-enak, sehat pula karena mereka menjamin kalau tanamannya dirawat secara organik. Super cool! Puas icip-icip jajanan, Kemal menarikku ke pinggir, menempel di dinding tapi pandangan kami tertuju ke panggung mini. “Kamu sadar gak? Dari tadi lagunya enak-enak tahu,” bisik Kemal pelan, aku hanya mengangguk. Jujur sih, tadi aku terlalu fokus sama makanan, jadi gak dengerin penyanyinya. Langit mulai berganti warna. Lampu-lampu tumblr yang sudah menyala sedari tadi akhirnya memainkan peranannya dalam menerangi tempat ini. Terasa juga kalau roof-top makin ramai. Karena sesak aku jadi berdiri membelakangi Kemal, lalu terasa ia memelukku dari belakang sementara kami menikmati hiburan lagu yang dinyanyikan oleh bintang tamu. “Sampe beres ya? Guest star utamanya Nosstress, aku pengin nonton mereka,” bisik Kemal di telingaku, membuatku sedikit merinding. “Okeh!” hanya itu jawabku. Asli sih, ini suasananya oke banget. Kalau gak sadar ini di tempat umum, kayaknya aku udah bakal berbalik lalu mencium bibir Kemal dalam-dalam. Serius, suasana romantis ini sepertinya terlalu manis jika dilewatkan begitu saja. Dohhh. Ini otakku kenapa ya? -tbc-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD