Ketika aku sampai di sekolah, aku mendengar rumor-rumor tidak sedap. Bukan, ini bukan soal Genta yang bikin masalah. Kali ini lebih parah.
Gosip beredar, soal seluruh Tim Basket yang masih berada di rumah sakit dan final pertandingan Piala Wali Kota harus ditunda dulu. Lalu, aku juga dengar kalau beberapa anak ada yang hilang. Pagi ini, Septi mengabsen semua anak kelas untuk dilaporkan siapa saja yang hilang, dan tahu siapa yang gak ada? Mia!
Mia gak masuk hari ini. Novi bilang dia sudah menelepon ke rumahnya Mia namun kata orang tuanya, Mia gak pulang dari kemarin. Sumpah, masalah ini makin serius aja ternyata.
Ketika bel tanda masuk kelas berbunyi, tidak ada guru yang datang, semua murid di kelasku pun saling membahas kejadian ini. Aku sendiri keluar dari kelas, melihat kelas lain yang ternyata keadaannya sama, tanpa guru.
Aku pun turun ke lantai satu, semua kondisi kelas sama semua, jadi aku berjalan ke arah ruang guru. Dari koridor aku bisa mendengar nada-nada kecemasan para guru. Mungkin hilangnya beberapa siswa membuat mereka takut.
“Gus, pada kenapa sih?” tanyaku, kuputuskan mampir ke koperasi, membeli satu kotak s**u cokelat.
“Pak Andi babak belur kemarin, terus Pak Mulya tadi pagi pas berangkat dicegat orang, sekarang ada di rumah sakit. Guru-guru takut, gak cuma siswa yang diincer tapi mereka juga,” Agus si raja gosip sekolah pun langsung memberitahu apa yang aku butuhkan.
Gila juga yaaa.
“Terus gimana?” tanyaku.
“Ya itu pada lagi mogok kerja, mangkanye elu di sini,”
“Ya enak dong kaga belajar,”
“Elu enak, lha kepala sekolah? Puyeng!”
Aku nyengir mendengar itu, lalu menyuruh Agus geser supaya aku bisa duduk bersamanya di kursi kayu panjang tempatnya menjaga koperasi.
Sekian menit nongkrong sama Agus di koperasi, eh ternyata bel pergantian pelajaran sudah berbunyi, aku langsung melirik ke arah ruang guru, tidak ada satu pun dari mereka yang keluar.
Wadaw.
“Beneran pada mogok ya Gus?”
“Ya masa lu kira becandaan?”
“Udah ah, gue balik ke kelas,” kataku lalu bangkit meninggalkan Agus.
“Eh kampret bayar dulu itu!” seru Agus, aku langsung berbalik, nyengir karena lupa. Jadi kuberikan Agus selembar uang lima ribu dan ia pun menerimanya.
Aku kembali berjalan, kali ini mau lewat tangga yang lebih jauh, tangga yang ada di depan ruang kepala sekolah, sekalian liat situasi di sana bagaimana.
Ketika aku akan naik tangga, aku terhenti karena melihat Kak Adam dan Kemal keluar dari ruang Kepala Sekolah.
“Kak Adam!” panggilku, ia langsung menoleh dan tersenyum. Senyum yang sama juga mengembang di pipi Kemal. Kuhampiri mereka berdua.
“Kakak kapan balik? Udah di sini aja?”
“Semalem nih kunyuk laporan sama gue soal ribut di lapangan kemaren, langsung berangkat gue, nginep kostan dia,” jawab Kak Adam sambil sedikit menyikut Kemal.
“Terus gimana?”
“Semua anak basket masih perawatan di Rumah Sakit, Pak Andi sama Pak Mulya juga. Buat siswa lain, ada 3 orang yang ilang, temen lu juga ilang tuh, Dek!”
“Iya Kak, Mia gak ada di kelas,” kataku, sedih tentu saja karena bagaimana pun juga, Mia itu sahabatku. Kami memang sudah lama tak bicara, tak berteman sebagaimana mestinya, namun aku tetap menyayanginya.
“Dah tenang, hari ini gue mau langsung ke sekolah Pemuda Persada kok, sama nyuruh beberapa orang buat patroli di jalan, biar aman. Lo balik kalo gak ikut gue ya sama Kemal ya Dek? Pake jaket!”
Aku mengangguk. Tadi pagi Kemal memang menjemputku ke rumah, nyuruh pake jaket biar seragambya tertutupi, tapi tadi pagi dia gak bilang kalau Kak Adam pulang.
“Siap Kak!”
“Aku sama Adam mau ke sana dulu, kalo kita lama kamu tunggu ya? Jangan naik Bus, atau ini buat jaga-jaga,” Kemal melepas jaket-nya lalu diberikan kepadaku, “pakai ini yaa? Pas nunggu juga, inget jangan pulang sendiri,”
Lagi, aku mengangguk.
“Yaudah Dek, sana masuk kelas, gue sama Kemal mau berangkat.”
“Kaluan berdua doang?” tanyaku mendadak khawatir.
“Emm sama si Orion kampret sih, dia kan koordinator supporter, biar valid testimoni kita,” jawab Kak Adam.
“Yaudah Kak, hati-hati!” aku refleks langsung memeluk Kak Adam, takut juga kalau memang terjadi apa-apa.
“Apa? Lu mau peluk si Kemal juga?” ledek Kak Adam ketika aku melepas pelukan darinya dan menatap Kemal.
“Hehehe gak mau depan elu, bye Kak hati-hati!” seruku lalu berbalik, naik ke lantai dua sambil membawa jaket yang tadi Kemal berikan.
Di kelas, aku kepikiran semuanya. Tentang keadaan tim basket dan guru yang di rumah sakit. Tentang Mia dan dua siswa lainnya yang hilang. Dan yang paling utama, ngeri nih, Kak Adam sama Kemal ke Sekolah Harapan Persada dan mereka cuma berdua.
Aku sebelumnya gak tahu apa-apa soal Sekolah Harapan Persada ataupun Sekolah Tunas Pemuda. Tapi semalam, aku cari tahu dong soal dua sekolah itu di internet dan di sosial media, ternyata mereka itu dua sekolah khusus laki-laki yang memang sering bersitegang.
Sialnya, Tunas Pemuda kali ini meyeret kami dalam masalah mereka yang sudah turun temurun.
Mungkin, hari ini Kak Adam ke Harapan Persada untuk jelasin semuanya, kalau yang neriakin yel-yel ejekan kemarin itu Tunas Pemuda, bukan sekolah Pemud Pertiwi. Semoga saja perwakilan Harapan Persada mengerti kondisinya. Amin.
Anak-anak di kelas mendadak ribut, Ari tiba-tiba masuk kelas dengan kondisi wajah penuh luka memar. Astaga, aku lupa, Ari kan juga anak basket ya? Dan kemarin dia emang sempet main walaupun ada di tim cadamgan.
Makin kaget lah aku ketika Ari berjalan ke arahku dan duduk di sampingku.
“Ri? Lo kenapa ke sekolah sih? Bukannya istirahat?” tanyaku dengan nada prihatin, kasian gitu ih, udah luka-luka begini masih dateng ke sekolah. Toh guru-guru lagi mogok ngajar kok.
“Din, Genta kondisinya paling parah dari semuanya,” ucap Ari, terlihat ia kesakitan ketika sedang berbicara sehingga perlu memgambil napas panjang.
“Ri, kalo sakit gak usah ngomong dulu, udah diem aja dulu lo!” seruku kesal, sumpah ih, kenapa maksa sekolah sih ni anak?
“Gak, gue gak apa-apa kok. Genta, Din, dia paling parah karena pas di lapangan dia doang yang ngelawan jadi dia dikeroyok 5 orang sekaligus,”
“What? Itu anak kenapa sok jago melulu sih?”
“Dia pengin ketemu elu, Din, ini Mamanya Genta yang nyuruh gue ke sini, kata Mamanya, si Genta manggil lo terus,”
“Lha apa hubungannya sama gue?”
“Ya gak tahu, tapi ya mintanya begitu Mamanya Genta, ‘Ari, kamu sekelas kan sama Andin? Tolong ajakin Andin ke sini dong, jengukin Genta!’ ya mana bisa gue nolak permintaan orang tua begitu, ya kan? Abisan juga, Mamanya Genta cantik sih,” pengin banget aku nyikut Ari, tapi liat keadaan dia kaya gini jadi gak tega.
Doh, aku bingung, gimana ya bilang ke Kemal kalau aku mau jenguk Genta ke rumah sakit? Aku gak mau Kemal mikir yang macem-macem. Terus kalau aku gak dateng ke rumah sakit? Kesannya aku jahat banget sama Genta.
Aduh, serba salah aja terus.
Kubuka ponselku, ternyata ada satu pesan dari Kemal, ia juga melampirkan foto sebuah ruangan di sekolah Harapan Persada, ada logo sekolah itu menempel di dinding.
Me:
Gimana mereka?
Gak ribut kan?
Kamu kapan balik sini?
Kukirimkan pesan tersebut namun tidak terbaca. Mungkin mereka lagi sibuk ngobrol kali ya?
Doh, semoga Kak Adam bisa menyelesaikan ini dengan baik.
“Gimana, Din?” tanya Ari, membuatku menarik napas panjag.
“Gue usahain, sore ini atau gak malem, gue jengukin Genta,” kataku memgambil keputusan. Yaudah lah ya, dateng doang ini. Niatnya juga baik, jengukin orang sakit.
“Oke Din, Rumah Sakit Paramadina yaaa, dia di VVIP, dipindah sama Mamanya, lantai paling atas, lift-nya misah, lo tanya aja resepsionis ya?”
Aku mengangguk.
Dalam hati, aku bingung, mana aku udah bilang iya, kalo nanti Kemal gak izinin gimana ya? Atau Kemal cemburu gitu? Mana sebelumnya kan Genta nyamperin dia, mukulin Kemal. Dohhh. Gimana ini?
Seharian ini, di sekolah kami gak belajar sama sekali, guru-guru mogok sampai akhirnya, satu jam terakhir menuju bel pulang, halo-halo dari speaker di sudut ruang kelas berbunyi.
“Selamat sore Sekolah Pemuda Pertiwi yang saya cintai!” aku hapal suaranya, Kak Adam.
“Kepada Ibu Elly, Ibu Kepala Sekolah yang saya hormati, kepada guru-guru dan seluruh staf yang saya hormati dan hargai, juga kepada adik-adik sekalian, maaf menggangu waktu kalian,” sumpah ya, ini Kak Adam mau pidato apa gimana? Formal banget gaya bicaranya.
“Saya tahu, saat ini kita semua sedang tegang akibat tragedi yang terjadi kemarin di lapangan indoor Gor Padjadjaran saat pertandingan basket melawan Sekolah Harapan Persada, seperti yang kita tahu, seluruh anggota tim basket kita berada di rumah sakit, mendapat perawatan yang baik, juga dengan Pak Andi dan Pak Mulya,”
Kak Adam terdengar mengambil jeda sebentar sebelum melanjutkan pidatonya.
“Sore ini, saya sampaikan kalau keadaan semua anggota tim basket baik-baik saja, besok atau lusa, mereka akan pulih kembali sama hal-nya dengan Pak Guru kesayangan kita semua. Lalu untuk Mia, Okta dan David yang sebelumnya hilang, mereka sudah kembali, mereka sehat dan dalam keadaan baik, saya sudah mengantar mereka ke rumah masing-masing,”
Aku lega mendengar itu. Tahu kalau Mia baik-baik saja dan sudah pulang, itu amat sangat menenangkanku.
“Lalu, perihal masalah dengan Sekolah Harapan Persada, sudah diselesaikan secara kekeluargaan. Mereka berjanji tidak akan menyerang murid ataupun guru-guru sekolah ini lagi. Dan mereka akan menyelesaikan kasus mereka dengan Sekolah Tunas Pemuda sendiri, kita tidak terlibat dalam hal itu,”
Syukurlah, berarti Kak Adam berhasil mendamaikan dua sekolah ini. Kacau juga soalnya kalau musuhan sama sekolah yang seperti itu.
“Untuk pertandingan final basket piala Wali Kota, akan diselenggarakan minggu depan, namun berkaca dengan apa yang terjadi kemarin, hanya supporter sekolah masing-masing yang boleh hadir, tidak ada penonton luar yang boleh masuk gedung, pertandingan akan dilaksanakam secara tertutup untuk masing-masing sekolah. Sekian yang dapat saya sampaikan, terima kasih atas perhatiannya, selamat sore!”
Seluruh siswa di kelasku lega mendengar itu, di sampingku Ari bahkan menarik napas lega keras sekali.
“Kenapa lu?” tanyaku.
“Keren Kakak lu, biasanya berdamai sama Harapan Persada tuh susah banget, liat aja noh Tunas Pemuda, dari dulu ampe sekarang ributttt mulu, Tunas Pemuda nyari aliansi kaga dapet terus, dikira sekolah kita mau kali ya gabung dia buat lawan Harapan Persada,”
“Ogah ya?” tanyaku, lalu Ari mengangguk.
Tak lama setelah Kak Adam pidato, bel tanda pelajaran berakhir berbunyi, aku langasung melewati Ari, menghambur ke luar kelas mencari Kak Adam. Kemal juga sih pastinya.
Menuruni anak tangga dengan semangat, aku berjalan cepat menuju warung depan, tempat tongkrongan yang biasa Kak Adam nunggu aku kalau mau jemput. Begitu keluar gerbang, benar saja aku melihat Kak Adam, Kemal bersama Orion dan Ricco sedang bercengkrama bersama, duduk-duduk sambil merokok.
Wah, akur tuh Kak Adam sama Ricco dan Orion, ehhehee.
“Kak!” seruku.
“Mau balik lu?” tanya Kak Adam, Kemal langsung bergeser, menarik aku untuk duduk di antara ia dan Kak Adam.
“Mau, tapi balik sama Kemal aja ya?” aku melirik ke arah Kemal dan ia mengangguk.
“Kacau nih, bestfriend gue direbut adek gue sendiri,” keluh Kak Adam, tapi nada suaranya becanda.
“Santai lah, Dam. Gue anter dulu elu ke Halte, hahaha!”
Lha iya bener, Kak Adam kan baru balik ya? Belum ke rumah juga, jadi dia pasti gak bawa motor atau mobil.
“Tenang Bang, gue aja yang anter, sampe rumah, sampe cuci kaki cuci tangan kalau perlu,” sahut Orion, nada suaranya asik, gak kaya waktu marah-marah dulu.
“Nah yaudah Kak Adam sama Kak Orion, Kem yuk kita pergi?” ajakku.
“Kok manggilnya Kem sih? Kaga sayang?” ledek Kak Adam.
Aseli ya, gini nih kalo pacaran terus ada Kak Adam, abis diledekin mulu.
“Dah gak usah di dengerin, ayok Din!” ajak Kemal, aku mengangguk lalu Kemal menarik tanganku, kami menuju motormya yang terparkir persis di depan warung.
Dah nih, bisa berdua sama Kemal, semoga lancar deh aku izinnya. Izin mau jengung Genta.
Huhuhuhu!
****
Tbc~