39. Diterima

1660 Words
Aku sudah kembali ke Bogor, sudah kembali ke kehidupanku sebagai siswa kelas 3 di Sekolah Menengah Atas Pemuda Pertiwi. Selain disibukan oleh tugas dan project drama kelas, ternyata ada hal lain yang menjadi bahan pikiran kami semua satu angkatan. Bukan, bukan bagaimana masuk perguruan tinggi impian. Bukan pula soal ujian akhir. Tapi menjadi tuan rumah pesta bulanan yang makin hari, kami dituntut buat bikin pesta yang bagus. Gak jelas banget para Alumni mendadak mau dateng. Hemmm! Emang sih, sumbangan duit dari mereka jadi lebih banyak. Tapi, kalau ada alumni, sia-sia sudah pangkat kita sebagai senior. Balik lagi aja jadi kacung. Sedih lah. Genta mengajak aku dan Ari ke rapat gabungan kelas 3, kami membahas budget, tema, dan konsumsi. Bukan, konsumsi di sini bukan soal nasi kotak. Tapi soal camilan dan 'minuman' yang akan kami suguhkan. Dari kelas 12 IPA 6, aku melihat Mia ikut hadir juga. Dia masih sinis sama aku. Dan gak tau kenapa, aku mendadak mau perang gitu sama dia. Jengkel deh aku, dijudesin kaya gitu terus. Salah aku sama dia tuh apa? Eh? Kenapa aku marah-marah? Apakah ini sudah dekat jadwal menstruasiku? Tapi, aku emang kesel banget sih sama Mia. Well, kalau dipikir-pikir, saat punya pacar se-oke Kemal, aku gak butuh yang namanya temen. Soalnya Kemal bisa jadi apa aja buat aku. Jadi pasangan, udah pasti. Jadi sahabat yang ngasih saran ini-itu, jadi tutor yang ngajarin aku, terus jadi kakak yang jagain aku. Kemal tuh paket komplit. Bengong sepanjang rapat, aku tersentak ketika Ari dan Genta mengajakku pulang. Ya, rapat ini kan gak bisa dilakukan di jam belajar, jadi kami rapat sepulang sekolah. “Bareng gak Din?” tanya Genta seperti biasa. “Mending kamu ajak Ari aja tuh balik bareng,” “Lha? Kenapa jadi gue?” tanya Ari yang sudah berjalan tiga langkah di depan kami. “Ya kali-kali gitu,” sahutku. “Dih ogah gue,” ujar Ari. “Ya sama, gue juga ogah, orang gue ngajakmya Andin kok,” ucap Genta. “Yaudah gak usah, kan gak mau,” kataku. Turun dari tangga, mataku langsung menangkap sosok Kemal yang ada di Plaza. Senyumku langsung mengembang, sedikit berlari ke arahnya. “Kok gak bilang mau jemput?” tanyaku. “Liat HP makanya, Neng,” jawabnya santai. Aku tersenyum, emang sedari tadi ponselku kudiamkan sih, lagi males, gak tau kenapa. “Yok, balik?” ajaknya, aku langsung mengangguk. Di parkiran, ternyata masih ada Genta, sedang mengobrol dengan anak IPS yang tadi rapat bareng kami. Tak mempedulikan dia, aku dan Kemal langsung berlalu begitu saja. “Aku hari ini kenapa yaa?” kataku tiba-tiba ketika motor sedang berjalan. “Heh? Kenapa gimana maksudnya?” tanya Kemal. “Iya, tadi pas liat Mia bawaannya pengin marah, terus pas belajar yaa, aku marahin Ari tau gara-gara dia nyontek, padahal biasanya aku gak begitu, dia mau nyontek ya nyontek aja,” “Gak tahu kamu, PMS apa?” “Aku juga kepikiran gitu, kayaknya sih,” “Kalo gitu aku kudu siapin stok cokelat yang banyak nih,” ucap Kemal. “Heu? Buat apa?” “Iya, buat menjaga mood kamu, salah-salah entar aku disembur lagi,” “Sembur, emang aku Mbah Dukun apa?” kataku sedikit mencubit pinggangnya pelan. “Bukan sih, kamu bukan Mbah Dukun, tapi Kaiju!” “Lebih paraahhhh!” seruku sambil nyengir, kulihat dari kaca spion kalau Kemal juga tersenyum. Aku memperat pelukanku, menempelkan pipiku di punggungnya. Duh, sayang banget aku tuh sama Kemal. “Hari ini di rumah kamu aja ya?” “Heu? Iya, lagian emang mau kemana?” tanyaku. “Engga, maksudnya malem ini kamu belajar ya? Buat persiapan masuk PTN!” “Oh iya, siap sayaang!” Kan, Kemal tuh paket lengkap. Gak perlu tuh aku les-les-an, sama dia aja. Cara ngajarnya dia juga enak, terus kalo rumah sepi, misal aku pinter bisa kerjain soal dari dia, aku suka dikasih bonus cium, heheheh. Enak lah pokoknya. Begitu sampai rumah, Kak Adam langsung memonopoli Kemal, aku sendiri masuk ke kamar untuk mandi dan berganti baju. Mengambil buku pelajaranku, aku keluar kamar, ke ruang tamu lebih tepatnya dan terlihat Kemal dan Kak Adam asik mengobrol. “Kak, pergi sana lu jauh-jauh, gue mau belajar!” “Jih? Berani ngusir gue lu?” tanya Adam. “Iya, sana pergi, atau mau gue aduin Mama lo gangguin gue?” “Hemm, bilang aja lu berdua mau pacaran berkedok belajar,” ujar Kak Adam, tapi dia akhirnya berdiri, meninggalkan ruang tamu, aku tertawa menang. “Belajar apa kita hari ini?” aku siap, duduk di karpet dan Kemal pun turun dari sofa, duduk di sampingku. Kemal nih yaa, biar dikata dulu anak IPS tapi ternyata Fisika-nya jago, sumpah. Itung-itungan dia juga keren. Kemal membuka buku matematika, ia menanyakan sudah sejauh apa materi yang diajarkan oleh guruku, lalu, ia pun memberitahu aku cara-cara singkat mengerjakan semua soal tersebut. “Anjir, gampang banget dong ya?” seruku, terkejut karena caranya Kemal gampang banget. “Iyaa, coba kamu kerjain, nanti kalo bener aku kasih cokelat,” “Daper cokelat dari mana kamu?” “Tadi sama Adam ke depan, beli rokok, jadi sekalian deh,” “Okeh, 5 soal aja ya kaya biasa?” kataku, Kemal mengangguk dua kali. Aku pun mengerjakan 5 soal yang diberikan Kemal dengan metode baru yang dia ajarkan, lebih gampang, lebih cepet dan singkat, jadi gak harus yang bikin full buku tulis. Baru sampe soal ke-4, Kak Adam datang, memeluk toples besar berisi kerupuk udang. “Kata Mama makan dulu, ayok!” ajaknya. “Yaudah, nanti lanjut aja itu,” ujar Kemal. Aku mengangguk. Kami bertiga pun menuju ruang makan. Papa dan Mama sudah menunggu jadi langsung saja kami makan. Acara makan malam ini sama seperti makan malam hari-hari lainnya. Papa yang cerita soal kerjaannya, Kak Adam yang mengeluh jadwal sidangnya dia belum keluar. Lalu selalu terselip pertanyaan dari Mama atau Papa tentang keseharian Kemal. Mama dan Papa tahu Kemal pacarku, dan menurutku mereka menerima Kemal dengan baik dan terbuka. Mereka mungkin tahu, Kemal emang baik banget. Tapi... kadang aku sedih. Karena di keluarganya Kemal, aku tidak diterima sehangat ini. Ya, Kemal sudah mengajakku bertemu keluarganya. Dan aku merasa mereka dingin padaku. Apalagi Ibu-nya, kaya nganggep aku anak kecil yang menyusahkan anaknya. Well, aku sih nangkepnya gitu saat Ibu-nya bilang ”Oh masih SMA? Ya ampun, Bob, kamu repot banget dong?” di rumahnya, Kemal dipanggil Bobby tentu saja, nama yang sebenarnya. Saat itu, ya aku cuma senyum, bingung mau respon apaan. Sejak saat itu, tiap kali Kemal mau ngajak aku ke rumahnya, aku pasti beralasan, gak ngerti deh, takut aku ke sana. Nanti paling ya, pas aku udah lulus SMA, biar gak dianggep anak kecil lagi. “Andin kenapa bengong?” pertanyaan Papa tersebut menghancurkan lamunanku. “Lagi menghayati makan Pa, capcay bikinan Mama enak,” “Dek? Ini sapo tahu!” koreksi Kak Adam. “Hemm, itu lah pokoknya, sayurannya mirip,” “Mama dulu ngidam apa sih pas hamil Andin? Kelakuannya ihh!” seru Kak Adam dengan nada becanda, tapi entah kenapa itu malah memancing emosiku, sehingga refleks aku membanting sendokku. “Kenapa sih Kak? Ke aku tuh kok kaya yang jijik banget gitu?!” seruku. “Andin?” tegur Papa. “Apa? Papa mau belain Kak Adam? Yaudah sana! Belain aja dia!” Aku memundurkan kursi, lalu pergi, berjalan ke luar rumah dengan emosi yang campur aduk. Keluar pagar, aku berjalan menuju taman komplek, pengin menenangkan perasaanku yang gak tau kenapa amburadul banget. Di taman, aku duduk di kursi yang bawahnya ada per gitu. Menarik napas panjang berulang-ulang kali. Kemudian, aku melihat sorot lampu dari motor mendekat, berhenti di ujung taman. Dari perawakannya yang tinggi sih jelas itu Kak Adam. Kenapa dia sih? Kenapa gak Kemal aja yang nyusulin aku? “Dek?” Kak Adam menghampiriku, duduk di kursi per yang ada di depanku. Aku diam, tak menyahutinya, bahkan tidak menatap matanya. Sebel banget aku, sumpah. Biarin dibilang drama, abis dia akhir-akhir ini selalu ledekin dan kata-katain aku mulu. Gak kaya dulu, yang asik. “Maaf ya Dek!” ujar Kak Adam, namun lagi, aku mengabaikannya. Masih memalingkan wajahku darinya. “Maaf ya kalo omongan gue bikin lo sakit hati, gak ada maksud sumpah. Becanda doang gitu,” Kubiarkan dia, aku juga masih mengatur emosi dan perasaanku. Bingung kenapa tiba-tiba begini. “Dek? Maaf yaa,” Kak Adam kini berdiri, mendekat ke arahku dan berlutut dekat kakiku. “Jangan marah-marah, kasian tau Papa sama Mama kaget lo pergi begitu,” katanya, ia sedikit memeluk kakiku, mungkin biar kursi ini gak goyang-goyang. “Dek? Ayolah, ngobrol!” pintanya, “Gue gak tahu, Kak,” kataku akhirnya. “Kenapa? Gak tahu apa?” “Ya gak tau aja, akhir-akhir ini perasaan lagi gak karuan, sumpah,” Kak Adam berdiri, memelukku dam aku pun memeluk pinggangnya sambil duduk. “Kak?” “Hemm?” “Lo kenapa gak mau bilang ke gue kalau lo pacaran sama Mia?” kuberanikan diri bertanya, mulai capek juga nunggu Kak Adam yang cerita. Pelukan ini terlerai, Kak Adam kembali berlutut di dekatku. Kutatap wajahnya namun tak bisa diprediksi, ia terlihat bingung. “Lo tahu?” tanyanya. “Genta sama Ari cerita ke gue,” Kak Adam diam, ia terlihat seperti berfikir sebelum bicara. Mungkin sedang mencari kalimat yang tepat untuk diucapkan. “Gimana ya? Mia gak mau lo tahu soal hubungan ini,” “Kenapa?” “Gue juga gak ngerti. Malah kapan hari dia nyuruh gue ngekost aja, biar gak serumah sama lo,” “Dih?” “Gak ngerti gue dek, bingung harus gimana. Tapi... gue sayang sama Mia,” “Salah gue apa sampe dia segitunya?” tanyaku. Kak Adam hanya mengangkat bahu. Ia terlihat kalut. “Gak bener itu Kak, masa iya dia nyuruh lo buat jauh sama adek sendiri?” Kak Adam diam. Bikin aku tambah sebel, dia kan laki ya? Gak tegas gitu, hih. Lagian, Mia kok bocah banget? Bisa-bisanya nguruh hal yang gak masuk akal. Gak ngerti aku. Bener kan apa yang aku bilang. Dunia ini membingungkan. -tbc-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD