"Kenapa kamu bisa berada di Indonesia?" tanya Regan dengan suara sedingin es.
Namun perempuan di hadapannya bukanlah perempuan yang akan ketakutan lalu berlari meninggalkan Regan. Karena ia tahu seberapa hangat dan lembutnya Regan dulu sebelum dia meninggalkan Regan demi karirnya sebagai seorang pelukis.
Kimberly tersenyum, senyum yang selalu disukai Regan. Baik dulu atau pun saat ini. "Sudah kukatakan jika aku merindukanmu. Makanya aku menyusulmu ke sini."
Bukannya tersentuh, sebaliknya Regan mendengus. Meremehkan kata-kata yang baru saja keluar dari bibir yang dulu selalu kecup itu.
"Aku tidak percaya."
"Aku tahu kamu akan berkata seperti itu." Kim tersenyum menggoda. "Well, jujur aku sempat terkejur ketika mendengar kabar yang mengatakan kamu akan pulang ke Indonesia. Padahal dulu kamu pernah berkata kalau kamu tidak akan pernah pulang ke Indonesia."
"Dari mana kamu tahu aku berada di sini?" tanya Regan tidak memedulikan ucapan Kimberly. "Ah, sepertinya kamu memaksa Phillip," lanjutnya sinis.
Tanpa diduga, Kimberly tertawa. "Kamu begitu mengenalku dengan baik, Regan. Aku harus memaksa dan mengancam Phillip supaya dia memberitahukanku di mana kamu sekarang. Apakah John tidak tahu seberapa besar rasa rinduku padamu setelah dua tahun tidak bertemu?"
Rahang Regan mengeras. Mungkin jika pulang ke Italia, ia akan menonjok wajah John sampai giginya tanggal. Padahal Regan sudah memperingatkan John untuk tidak memberitahu Kimberly jika suatu hari perempuan itu datang menanyakan keberadaannya. Bahkan belum genap sebulan dia di sini, perempuan ini sekarang telah berada di hadapannya.
"Apa maumu?" tanya Regan dingin. Ia tidak ingin, hatinya yang telah membeku ini kembali mencair dengan mudahnya.
"Aku tidak tahu jika kamu sekarang sedingin ini."
"Kamu tahu dengan pasti penyebabnya!" timpal Regan dengan suara sedikit meninggi. Emosinya mulai terpancing.
"Aku tahu, makanya aku datang untuk minta maaf." Kimberly memasang raut wajah yang dulu sering ia gunakan saat membujuk Regan supaya tidak marah. Dan usahanya selama ini selalu berhasil. "Regan, maafkan aku karena telah meninggalkanmu."
Tubuh Regan menegang mendengar kata maaf yang terlontar dari bibir Kimberly.
"Jika kamu sudah selesai, lebih baik kamu pulang. Masih ada banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan," kata Regan dingin.
"Aku minta maaf," ucap Kimberly sekali lagi.
"Aku terima maaf kamu. Sekarang kamu bisa keluar."
"Regan!" seru Kimberly. "Please..."
Tapi bukannya menjawab, Regan berjalan menuju pintu dan membuka lebar pintu ruangannya. Ia ingin Kimberly keluar dari dari ruangannya secepatnya. Karena ia tahu, hatinya akan mengkhianatinya sebentar lagi jika wanita ini tetap berada di dekatnya.
Dengan ekpresi wajah sendu dan kecewa, Kimberly bangkit berdiri dan melangkahkan kakinya. Namun, langkahnya berhenti ketika ia berdiri tepat di hadapan Regan. Ia tersenyum getir.
"Aku akan kembali lagi nanti, karena aku percaya di dalam sini," Kimberly menunjuk d**a Regan yang kokoh. "Masih ada cinta buat aku," lanjutnya lalu melangkah anggun. Meninggalkan Regan yang masih mematung di tempatnya.
***
Briana mendengar cerita yang keluar dari bibir sahabatnya dengan seksama. Fidell yang sedang berada dalam pangkuan ibunya memandang Aura dengan kagum melalui mata bulatnya.
"Gue nggak habis pikir, kalau mau mesra-mesraan ya jangan di kantor dong. Masih untung cuma gue yang mergokin mereka. Kalau karyawan lain? Bisa jadi gosip seluruh kantor besok," cerocos Aura sembari mengunyah keripik kentang di dalam mulutnya.
Briana berdecak, "Lo marah-marah begini karena cemburu?"
Aura menghentikan kegiatan mengunyahnya dan mendelikkan matanya.
"Lo pasti bercanda." Aura menatap si tampan Fidell dengan suara seperti anak kecil. "Ibumu ini memang paling ahli dalam mengkhayal."
"Gue bertanya. Bukan menebak."
"Tapi pertanyaan lo itu nggak masuk akal. Bagaimana gue bisa cemburu? Sedangkan gue nggak punya perasaan sama dia. Salah, gue nggak akan jatuh cinta sama dia. That is impossible one hundred percent!"
Briana tersenyum kecil. "Hati-hati dengan kata-kata lo. Masih ingat dengan taruhan kita?"
"Tentu saja. Dan gue yakin, gue akan memenangkan taruhan ini," sahut Aura yakin. Namun entah mengapa Briana hanya dapat tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
"Lihat tantemu sayang," katanya pada Fidell. "Sepertinya sebentar lagi kita akan mengadakan pesta pernikahan dan kamu akan memiliki sepupu baru."
"Briana!" teriak Aura. "Jangan mengajarkan anakmu yang tidak-tidak!"
Bukannya marah atau menangis melihat teriakan Aura, si kecil Fidell malahan tertawa melihat tingkah laku Aura. Seakan semuanya itu sangatlah lucu di matanya. Ia tertawa sambil menggerakkan tangan dan kakinya yang akhirnya membuat Aura mau tak mau ikut tertawa melihatnya.
***
Untuk beberapa hari ini, semua berjalan normal. Wanita itu pun tak datang lagi. Tidak tahu apa yang sudah dilakukan bos-nya itu sampai-sampai wanita cantik seperti itu tak datang lagi.
"Ra," sebuah suara membuat Aura tersadar dari lamunannya sendiri. "Gue butuh tanda tangan si bos. "
"Masuk aja San," sahut Aura.
"Umm...Ra, bisa nggak gue titip laporan ini sama lo? Kakak gue mau ngelahirin. Jadi gue harus ke rumah sakit sekarang. Soalnya suaminya lagi dinas ke luar kota," kata Santi yang berasal dari bagian produksi.
Aura tampak menimbang-nimbang sebelum akhirnya mengangguk setuju.
"Thank you ya, Ra. Nanti kalau udah selesai gue balik ke kantor kok. Terus gue ambil."
"Okay. Take your time, San. Gue doain proses lahirannya sukses."
"Sekali lagi thank you, Ra," ucap Santi lalu berlalu dari situ.
Aura menatap map yang berisi laporan yang membutuhkan bubuhan tanda tangan Regan. Menarik nafas panjang sebelum akhirnya ia bangkit dan mengetuk pintu ruangan atasannya.
"Masuk," sahut suara serak di dalam sana.
Aura mengerutkan dahinya. Mengapa suara atasannya tampak berbeda? Sejak pagi tadi, ia belum sempat berbicara dengan atasannya itu. Bahkan saat Regan datang tadi pagi, pria itu hanya berlalu tanpa membalas ucapan selamat pagi dari Aura.
Pintu terbuka dan Aura dapat melihat atasannya sedang duduk menatap berkas yang berada dalam genggamannya. Sekali-dua kali Regan terbatuk.
Aura berjalan menghampiri meja Regan lalu menyodorkan sebuah map yang dititipkan oleh Santi.
Kedua alis Regan menyatu, memandang map tersebut dan wajah Aura bergantian. Sebelum akhirnya meraih map tersebut.
Setelah membaca sebagian isi map tersebut, Regan memandang wajah Aura. Ia dapat melihat ekpresi marah di wajah atasannya. Please jangan marah lagi, dalam hati Aura terus merapalkan doa itu.
"Siapa yang mengirimkan map ini kepadamu?" selidiknya.
"Santi bagian produk, Pak."
"Sejak kapan kamu jadi bawahan dia?" tanya Regan sinis.
Aura membasahi bibirnya. Dan entah mengapa tindakan wanita itu membuat pandangan Regan terfokus pada bibir yang tampak merah dan basah. Damn! Regan mulai merasa dirinya sudah tidak waras. Dengan cepat ia mengalihkan pandangan matanya.
"Bukan begitu pak. Santi bagian produk sedang ada urusan kecil yang harus ia selesaikan. Jadi ia meminta bantuan saya untuk..."
Brak! Aura terkejut saat Regan membanting map tersebut ke atas mejanya.
"Saya tidak butuh penjelasan kamu! Kamu itu sekretaris saya yang berarti hanya menerima perintah dari saya. Bukan dari orang lain! Mengerti!?"
"Baik pak," sahut Aura cepat. Ia mengigit bibir bawahnya. Menahan rasa terkejutnya.
Regan mengusap wajahnya, lalu mengibaskan tangannya. Sebagai tanda jika Aura sudah diperbolehkan keluar dari ruangannya. Dengan cepat Aura keluar dari ruangan atasannya. Dan saat ia berbalik, perlahan ia mengangkat sebelah tangannya. Menghapus air mata yang sekarang telah mengalir dipipinya. Ini hanyalah kesalahan kecil tapi memberikan efek yang besar di dalam hatinya. Jika seperti ini caranya, masih sanggupkah ia bertahan untuk tetap bekerja dengan Regan Tristan?
Tapi ketika pikiran itu berkelibat di dalam kepalanya, sebuah suara sesuatu yang jatuh membuat Aura membalikkan tubuhnya dan ia mendapati Regan yang sedang berada di lantai dalam keadaan tak sadarkan diri.
Dengan tergopoh-gopoh Aura mendekati Regan sembari meneriakkan nama pria itu.
***