"Ke mana tujuanmu?" tanya Regan sembari memegang setir. Ia menolehkan kepalanya ke arah Aura yang duduk di sisinya. "Saya hendak mengunjungi rumah teman lama saya," sahut Aura tanpa menoleh dan tetap fokus memandang keluar jendela. "Okay. Kamu tinggal menunjukkan jalannya." Aura tidak membalas perkataan Regan. Sebenarnya, ia sedang berusaha menyembunyikan wajahnya yang memanas akibat bisikan di telinganya yang diucapkan oleh pria itu. Masih diingatnya dengan jelas saat Regan selesai mengucapkannya. Ada jeda beberapa saat sebelum akhirnya Aura menginjak kaki atasannya hingga Regan memekik kesakitan. Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas. Memang sedikit menjauh dari balai, tapi udara yang sejuk membuat Regan merasakan sejuknya udara kota Batu di

