Bab 1. Sekamar

1291 Words
“Melati Sukma.” Nama samaran di aplikasi laknat itu terdengar di telinga gadis yang duduk di bibir ranjang. Tangannya memilin ujung pakaian dengan raut muka ketakutan. Dengan ragu gadis itu menoleh. Ia berharap lelaki yang baru saja masuk ke kamarnya bukanlah lelaki berandal berwajah mengerikan. “Danisa Hardiyanti,” ucap lirih pria yang kini menatapnya tajam. “Pak Devan …?" Danisa membulatkan mata dengan sempurna. Ia tak pernah menyangka, kalau p****************g yang akan ia temani adalah dosennya sendiri. Dosen menyebalkan yang menjadi musuh bebuyutan selama ini. “Kamu …." Mereka serempak saling menunjuk satu sama lain. Di detik berikutnya mereka saling tertawa lepas. “Jadi, Bapak pemilik akun yang menyewa Nisa?” Danisa masih tak percaya dengan apa yang ia lihat. Pria bertubuh tinggi tegap dengan rambut hitam nan rapi berada di kamarnya. “Kamu … wanita panggilan itu?” pria yang akrab dipanggil Devan itu pun tersenyum, lalu ia kembali berkata, “Saya bisa melaporkan kamu ke kampus atas masalah ini. Kamu bisa di DO.” Danisa yang tadinya ketakutan, kini tertawa senang ketika tahu dosennyalah yang datang. “Bapak mau melaporkan Nisa? Yakin? Nama bapak yang akan dipertaruhkan. Seorang Devan Atmaja yang terkenal sebagai dosen killer ternyata seorang lelaki pengguna aplikasi laknat. Apalagi, Bapak sampai menyewa wanita yang ternyata mahasiswinya sendiri,” ucap Danisa tanpa gentar. “Oh, jangan-jangan, ini juga yang jadi alasan Bapak gak nikah-nikah. Bapak itu suka jajan di luar!" “Danisa, jaga ucapanmu!” “Kenapa, Pak? Tapi, benar apa yang Nisa bilang, kan?" “Saya hanya sekali ini pakai aplikasi itu, itu juga karena –.” "Yakin, Pak, sekali? Sekali yang ketahuan.” Gadis itu pun tertawa puas karena merasa senang bisa meledek dosen yang sudah dianggapnya sebagai musuh. Namun, posisinya sebagai mahasiswi membuat Danisa tidak punya pilihan selain menuruti keinginan Devan. Ya, mereka akhirnya sepakat untuk saling menyembunyikan aib masing-masing dan Danisa harus menemani Devan selama satu hari penuh. *** Satu jam berlalu di mana Danisa menatap kertas jawaban dengan malas. Ia diminta oleh dosennya untuk mengevaluasi kertas itu. Mencocokkan dengan kunci jawaban yang sudah disediakan. Sedangkan Devan kini tengah rebahan di kasur dengan kedua tangan yang diangkat. “Kenapa jadi tugas seperti ini? Menyebalkan." Danisa tampak kesal. “Kenapa? Kamu nggak terima? Kamu–” Belum juga Devan menyelesaikan kalimatnya, ponsel milik lelaki berkemeja garis itu berbunyi. Dilihatnya, nama yang tertera di sana, lalu pria itu menoleh ke arah Danisa. “Tugas kedua untuk kamu. Kamu harus berpura-pura menjadi kekasih saya!" “Apa, Pak?” Tanpa mengindahkan keterkejutan Danisa. Pria itu justru langsung menjawab panggilan tersebut. Wajah Danisa pun merengut. Namun, ketika kamera dari video call itu mengarah ke arahnya, ia seketika merubah ekspresi wajahnya dengan tersenyum. Meskipun dalam keadaan terpaksa, gadis itu nyatanya sukses memainkan perannya dengan baik. “Siapa nama kamu, Sayang?” tanya seorang wanita paruh baya dari sebrang sana. “Danisa, Tante.” “Jangan panggil saya tante! Mulai sekarang, panggil saya mama.” “Baik, Tan. Eh, Ma.” “Selain cantik, kamu juga lucu sekali, Sayang. Pantas saja Devan begitu mencintai kamu dan menolak semua wanita yang Mama jodohkan.” Danisa meringis. Ia bingung mau menjawab apa dan memilih diam dengan senyum canggungnya. “Bagaimana, Ma? Devan gak bohong, kan? Devan memang punya wanita yang sedang Devan perjuangkan.” Pria itu mengalungkan lengannya ke bahu Danisa. Di menit berikutnya, ia membelai rambut gadis cantik tersebut. Mereka benar-benar menjalankan perannya dengan begitu baik. “Iya. Tapi, kalian nikahnya kapan? Mama gak enak kalau tiba-tiba batalin pernikahan itu secara sepihak tanpa alasan yang kuat. Tanggal pernikahanmu dan anak teman papa itu sudah ditentukan.” “Apa, Ma?” “Iya, Van. Hari pernikahan kalian itu sudah ditentukan." Devan terkejut. Dengan cepat, ia memutar otaknya. Berpikir apa lagi yang harus ia katakan agar sang ibu mau membatalkan perjodohan itu. “Ma, Danisa itu sedang mengandung. Nggak mungkin Devan tinggalin dia begitu saja.” Devan menolehkan kamera ke arah Danisa hingga membuat gadis cantik itu terkejut setengah mati. “Apa, Pak? Hamil …?" Untungnya Devan dengan cekatan mengakhiri panggilan itu hingga ibunya yang bernama Tiara tidak sempat mendengar. “Bapak gila, ya? Masa bohong sampai bilang Nisa hamil,” protes gadis berambut panjang itu. Netranya menatap ke tubuh sempurna dosennya dengan tatapan tajam. “Sudah, tidak usah kamu pikirkan! Lagi pula tugasmu cuma hari ini, kan? Selebihnya itu akan menjadi urusan saya. Dan, setelah pernikahan itu digagalkan, saya akan bilang sama mama saya kalau kamu keguguran.” Danisa pun terkekeh mendengar jawaban Devan, membuat pria di depannya itu kebingungan. “Kenapa senyum-senyum?” “Bapak itu aneh, ya! Jadi, bujang gak laku-laku, tapi malah sok nolak dijodohin. Jangan-jangan Bapak dijodohin itu karena gak ada yang naksir sama Bapak ya? Udah galak, jelek, kaku kaya kanebo kering.” “Saya gak minta kamu untuk menilai saya!" Danisa tersenyum. “Bapak gak terima kritikan, ya? Pantas saja jadi kayak gitu.” “Kayak gitu bagaimana?” “Ku tak laku-laku,” ucap Danisa dengan nada lagu yang dinyanyikan oleh grup band Wali. “Danisa.” *** “Mau ke mana sih, Ma? Nisa malas, tahu. Nisa capek, mau di rumah aja,” protes gadis manja itu kepada ibunya. “Mama pernah cerita, kan, kalau kamu itu sudah dijodohkan?” “Danisa nolak, Ma. Ini tuh jaman milenial, bukan jaman Siti Nurbaya.” Danisa terlihat memeluk guling, pura-pura terpejam meskipun sebenarnya, ia belum mengantuk. “Maka dari itu, Sayang. Papa mau ngajak kita ketemu sama temannya untuk membatalkan perjodohan itu. Papa masih berharap kamu bisa sungguh-sungguh menyelesaikan study kamu dengan baik dan tidak ingin kamu menikah dulu.” “Untuk kali ini, aku setuju sama papa." Dengan rasa enggan, Danisa menuruti keinginan orang tuanya. Ia pun menyiapkan diri untuk bertemu dengan sahabat papanya itu. Ya, keluarga mereka memang harus melakukan itu agar hubungan baik keduanya tetap terjaga meskipun tidak menjadi besan. *** “Ma, Nisa ke kamar kecil dulu,” ucap gadis itu saat baru saja masuk ke dalam restoran, tempat di mana ia akan bertemu dengan keluarga dari pria yang sempat akan dijodohkan dengannya. Sejujurnya, Danisa merasa malas jika nantinya menghabiskan banyak waktu di sana. “Mama temani, ya?" “Nggak usah, Ma. Danisa itu udah gede. Gak kayak bayi yang mesti ditemani mulu," jawab gadis ber-make up natural itu “Catet, Ma! Anak kita sudah gede." Karta – papa Danisa sengaja menggoda anaknya. Tak tertarik dengan pembahasan itu. Danisa mengayunkan langkah kakinya menuju kamar kecil. Ia begitu sering datang ke resto tersebut. Tempat langganan Danisa dan keluarganya. Jadi, ia paham sekali dengan tata ruang di tempat itu. Bahkan meja yang sering mereka tempati pun selalu sama. Di ruangan VIP yang tak banyak orang punya akses untuk masuk. Cukup lama Danisa berada di kamar kecil hingga akhirnya ia kembali melangkahkan kaki menuju ruangan VIP di mana orang tuanya berada. Gadis itu tampak berjalan sambil memainkan ponsel di tangannya. Dipegangnya gagang pintu dan diputar benda tersebut. Setelah masuk, semua orang dalam ruangan menatap ke arahnya. “Danisa,” ucap seorang wanita paruh baya, menatap gadis tersebut dengan senyuman. Danisa merasa tidak asing dengan wanita itu, tetapi pikirannya belum berhasil mengingat sepenuhnya. Beberapa detik kemudian, akhirnya ia tersadar saat kedua matanya beralih melihat sosok pria yang duduk tepat di sebelah wanita itu ternyata adalah orang yang sangat dikenalnya. “Ya Tuhan, jadi itu mamanya pak Devan?” batin Danisa menatap dengan penuh keterkejutan. “Bu Tiara kenal sama Danisa anak saya?” tanya mama Danisa bingung. “Iya, itu pacar anak saya, Devan. Itulah alasan kenapa kami ingin membatalkan perjodohan dengan putrimu karena Danisa sedang hamil.” “Apa … hamil?” Kania bukan hanya terkejut. Jantungnya sampai berdetak tak karuan saat mendengar perkataan itu. Orang tua mana yang tidak kaget saat mendengar jika putrinya sedang hamil, padahal belum menikah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD