“Dari mana saja kau? Aku menyuruhmu untuk mengerjakan laporan medis tapi tidak kunjung selesai juga?” Justin meneriaki Dita begitu wanita itu muncul di meja resepsionis. Dita dengan panik mencari keberadaan Aminah. Wanita itu sudah berjanji untuk melakukan tugasnya.
“Dok, tadi saya menjenguk pasien. Jadi….”
“Halah, alasan. Kau ini sama seperti suamimu, tidak berguna sama-sekali. Jika kau tidak bisa bekerja dengan baik, maka jangan berada di rumah sakit ini.”
Justin membenci Firdaus.
Awalnya dia tidak sebenci itu pada Dita. Namun karena mengetahui wanita itu adalah istri rivalnya, dia jadi membencinya juga. Semua orang yang berhubungan dengan Firdaus, dia membenci mereka.
“Maaf dok, saya akan segera menyelesaikannya.”
“Tidak usah. Kamu itu tidak bisa diandalkan memang.” Justin pergi melengos begitu saja.
Dita mengepalkan tangannya, segera duduk di kursi dan mulai mengetik lagi. Sosok yang sejak tadi dia cari baru saja menampakkan wujudnya setelah 15 menit berlalu. Sekarang hanya ada mereka berdua di meja perawat.
“Aminah, kenapa kamu melakukan ini padaku?” tangan Dita berhenti mengetik, menatap Aminah dengan tatapan terluka.
“Apa ya? Kok kamu ngeliatin saya kayak gitu?”
Tanpa ada perasaan bersalah, Aminah malah balik bertanya.
“Tadi dokter Justin datang dan marah karena laporan medisnya belum juga selesai. Padahal kau tinggal melanjutkan sedikit lagi.”
Aminah menaikkan bahunya. “Kamu kok baperan banget sih? Kayak gak biasa aja kena marah sama dokter Justrin. Lagian saya itu cuman pergi bentar ke kantin buat beli jajan, sejak tadi siang saya belum makan loh. Apa kamu mau saya sakit gara-gara kerjaan kamu?”
Dengan kesal Aminah membanting ponselnya. Lalu sibuk dengan komputernya. Sama-sekali tidak ada perasaan bersalah.
Dita menarik nafas dalam, membuangnya dengan tenang. Dia tidak bisa marah, apalagi ini di rumah sakit. Dia tidak mau membuat nama suaminya jadi jelek. Apalagi tidak semua yang tahu bahwa dia adalah istri Firdaus. Perut Dita sejak tadi sudah berbunyi. Dia juga belum sempat makan karena banyak kerjaan yang harus segera diselesaikan.
Untungnya Ratna tidak lama datang. Meletakkan satu kotak makanan di atas mejanya.
“Ini, kamu makan dulu, jangan kerja mulu.”ujar Ratna, menarik kursi Dita agar menjauh dari komputer.
“Mbakk…makasih loh.”
“No problem. Maaf ya, tadi mbak gak sempat belain kamu dari si kucing garong. Ada pasien kecelakaan soalnya. Gak usah dimasukin hati, sekarang isi perut dulu.”
Aminah merasa bahwa yang diejek adalah dia. Namun karena itu adalah Ratna, dia tidak berani mengatakan apapun. Ratna itu mulutnya lantam, apalagi kalau seseorang melakukan kesalahan. Aminah sudah beberapa kali kena semprot. Jadi lebih baik dia menjauh dari malapetaka.
***
Firdaus tengah berkutat dengan layar di hadapannya. Laporan rumah sakit akhir-akhir ini membludak. Banyak jadwal operasi yang harus dia lakukan dalam waktu dekat. Lain lagi dengan masalah keluarganya. Pintunya yang terbuka tanpa ada ketukan membuatnya mengalihkan perhatian.
Sosok wanita dengan balutan tube dress berjalan ke arahnya.
“Kau terlihat lelah, padahal kita belum melakukannya hari ini.” Lady tersenyum, tangannya menyentuh bahu Firdaus. Memijatnya dengan pelan sampai lelaki di depannya itu rileks.
“Banyak pekerjaan yang menumpuk akhir-akhir ini. Jadi…maaf bila mengabaikanmu.”
Firdaus menarik nafas dalam. Pijatan di bahunya mampu membuat pikirannya jauh lebih baik. Dia menarik Lady, wanita itu sudah jatuh di pangkuannya.
Jika dibandingkan dengan istrinya, Lady jauh lebih modis. Tidak pernah keluar tanpa make-up. Bahkan ketika dia menghabiskan malam bersamanya, gadis itu tetap memperhatikan penampilan. Model pakaiannya juga tidak pernah ketinggalan zaman. Selalu di beli dari brand-brand terkenal.
Tangan Firdaus menyisihkan jaket dokter Lady, sehingga dengan jelas dia menikmati bahu mulus Lady yang bebas. Model baju itu sedikit nakal. Firdaus senang, namun terkadang kesal. Karena selain dirinya, banyak dokter lelaki lain yang membicarakan tubuh semok nan berisi Lady.
“Kau tau?” Firdaus memejamkan mata saat tangan Lady menyentuh wajahnya, dan bergerak di atasnya.
“Hmm? Ada apa?” Lady nyengir. Menikmati Firdaus yang sedang merintih minta diberi kepuasan.
“s**t. Tanganmu, Lady. Kita sedang di kantor dan bagaimana jika ada orang yang masuk? Kita bisa ketahuan dan ini tidak baik bagi kita berdua.”
Mood Lady langsung turun. Dia menarik wajah Firdaus dan menciumnya brutal. Tidak lama, karena dia langsung bangkit berdiri dan berbaring di sofa.
Firdaus merasa bersalah. Tapi dia tidak mau citranya jelek di rumah sakit. Apalagi statusnya sudah memiliki istri yang satu tempat kerja dengannya. Salah satu yang Firdaus pikirkan adalah Dita.
“Kapan kau akan menceraikan istri bulukmu itu? Apa kau akan melupakan janjimu?” Lady menatap Firdaus yang berjalan ke arah kulkas. Mengambil 2 botol soda dan meletakkannya di atas meja. “Aku mau alkohol, Fir.”
“Hey babe dengar, kita ini sedang bekerja dan minum alkohol bukan waktu yang tepat. Kau juga ada operasi 1 jam lagi kan?”
“Ck.” Decak Lady dan kembali berbaring. Tubuhnya sedikit lemas karena tidak mendapat sentuhan dari Firdaus.
Lady cantik. Kaya. Memiliki semuanya. Hal yang tidak dia sesali dalam hidupnya adalah jatuh cinta pada suami orang lain. Lady berusaha keras mengenyahkan perasaanya, namun itu sulit karena setiap hari pasti akan bertemu. Dia menjadi gila sehingga sampai sekarang berhubungan dengan Firdaus.
Sebenarnya mereka fifty fifty. Dengan relasi yang dia punya, Firdaus juga mendapatkan keuntungan. Jika bukan karena rekomendasi Lady, mustahil Firdaus bisa menjadi dokter kepala saat ini. Selain itu, beberapa bulan lagi dia akan dipromosikan menjadi direktur bagian pelayanan. Gajinya tidak main-main.
Itulah yang tidak bisa Firdaus dapatkan dari istrinya.
“Kau masih tidak memberitahu kapan akan menceraikan istrimu, Fir.”
“Lady. Aku pasti akan cerai dengan Dita. Tapi tidak dalam waktu dekat ini. Lagian aku masih tidak ada alasan kenapa harus menceraikannya. Aku kasihan melihatnya seperti itu.”
“Belas kasihan tidak akan mengubah apapun, Fir. Kau ingatkan, aku memegang peranan penting dalam promosi jabatanmu? Kita juga sudah lama saling berhubungan. Lagian apa yang masih kau lihat dari Dita? Sudah menikah bertahun-tahun toh juga kalian tidak punya anak.”
Helaan nafas terdengar. Firdaus juga sama seperti lelaki pada umumnya. Dimana setelah menikah, dia menginginkan hadirnya seorang anak. Sudah 5 tahun berlalu tapi sosok itu tak kunjung muncul. Itulah yang menjadi alasan Firdaus tidak mengumbar pernikahannya dengan Dita.
“Lalu, apa kau mau mengandung anakku nantinya?”
“Jelas saja, aku ini subur dan asal kau tahu. Mungkin aku sudah mengandung anakmu.” Lady berkata hati-hati di kalimat terakhir
Uhuk.
Firdaus tersendak minumannya. Dia menatap Lady dengan tatapan bertanya. Selama berhubungan badan dengan Lady, dia selalu menggunakan pengaman. Takut kejadian ini akan terjadi.
“Apa maksudmu?”
Lady menghela nafas. Badannya akhir-akhir ini memang terasa lemas, jadi dia pergi memeriksa diri. Dan kabarnya, dia sedang mengandung janin. Awalnya Lady syok dan terus memukul perutnya. Dia tidak suka anak kecil, dan tidak ingin menjadi jelek karena hamil. Selain itu, dia juga tidak yakin itu milik siapa. Selain dengan Firdaus, Lady juga memiliki kekasih.
Namun mengingat bahwa dia mencintai Firdaus, dia mengurungkan tindakannya.
“Aku sedang hamil. Menurutmu, bayi ini milik siapa?”
“Tunggu dulu, kau serius kan?” Firdaus berpindah tempat, dan menyentuh perut rata Lady dengan wajah senang dan juga tidak percaya. “Kau tidak pernah berhubungan dengan pacarmu kan?”
“Apa menurutmu aku bercanda? Jadi segera ceraikan istrimu yang mandul itu, karena jelas dialah yang bermasalah.”
“Ya Tuhan, aku tidak percaya kau hamil babe. Aku senang sekali. Tapi kau yakinkan ini anakku? Karena seingatku, selama kita berhubungan badan, aku selalu menggunakan pengaman.”
“Apa kau lupa malam dimana kau mabuk dan meniduriku? Kau sama-sekali tidak mengenakan pengaman, aku juga lupa minum obat.”
“Oh Tuhan, aku senang sekali.”
Firdaus memeluk Lady senang. Dia menatap satu lembar hasil USG yang baru saja diberikan oleh Lady.
Wanita itu tersenyum lebar. Meskipun dengan kebohongan, tapi dia harus melakukannya. Jika melihat Firdaus masih memperhatikan istrinya, itu membuat hatinya sakit. Jadi…ini lah jalan yang dipilih oleh Lady.
“Dalam waktu dekat ini, kau harus menceraikan istrimu. Aku tidak peduli apapun alasanmu.”
Beberapa menit Firdaus cukup senang dengan kabar itu. Hal itu menjadi bukti bahwa bukan dirinya yang mandul, tapi Dita. Namun meski demikian, Firdaus tidak enak hati jika harus menceraikan Dita. Wanita itu selalu menurut padanya selama ini.
Lady sedang berbaring di pangkuannya.
“Tapi kau yakinkan itu bayiku, Lady?”
“Ck. Kenapa kau malah bertindak seolah ini bukan milikmu, Fir? Apa kau pikir aku akan berbohong. Sekarang katakan, apa kau tidak mencintaiku?”
“Bukan begitu, hanya saja, aku tidak mungkin mengatakan pada Dita bahwa kau hamil sebagai alasan untuk menceraikannya. Sama saja mengatakan bahwa aku telah selingkuh selama ini dari dia.”
Wajah Lady kembali ditekuk.
“Lalu kau mau apa? Butuh bantuanku? Dia jelas wanita cacat yang tidak bisa mengerti perasaan lelaki. Jelas sekali bahwa kau memang tidak ingin menceraikannya. Kabar kehamilanku saja tidak cukup membuatmu untuk pisah darinya. Kalau begitu aku akan pergi dulu, kau butuh waktu untuk berpikir sendiri.
“Lady…tunggu, aku…”
“Tidak perlu membela dirimu.” Lady keluar dengan perasaan jengkel. Bertepatan dengan saat dia membuka pintu, sosok yang menjadi topik pembicaraan mereka juga berada di sana.
Firdaus sedikit panik melihat Dita menatapnya dan Lady dengan tatapan bingung. Apa dia mendengar pembicaraan tadi?
“Dasar, menjauh dari jalanku.”seru Lady dan pergi begitu saja. Tidak menanggapi keberadaan Dita sama sekali. Juga tidak peduli apakah wanita itu mendengar ucapan mereka tadi atau tidak.
“Mas, ada apa dengan dokter Lady? Kenapa dia terlihat habis marah?” tanya Dita. “Kau tidak memarahinya kan, dokter Lady baik loh mas.”
Firdaus muak. Wajah Dita bahkan tidak ada menarik-menariknya saat ini. Pakaiannya kuno, dan itu sepertinya sudah dari 2 tahun lalu. Kualitas Lady memang jauh lebih tinggi dari istrinya ini. Pandangan Firdaus jatuh pada kotak di tangan Dita.
“Kenapa kau kemari? Ada urusan apa?”
Suara ketus dan dingin itu cukup membuat Dita terkejut. Dia tidak menyangka suaminya akan bertindak seperti itu padanya. Mengesampingkan rasa sedihnya, Dita tersenyum lebar dan menunjukkan kotak berisi bekal di tangannya.
“Kamu belum makan kan? Aku beli kotak bekal buat kamu, ini sehat.”
Sebelum menerima kota itu, Firdaus menatap sekeliling lebih dulu. Memastikan tidak ada yang menatap mereka berdua. Segera dia menarik tangan Dita ke dalam ruangannya.
“Dita. Apa kau ingin menghancurkan karirku? Sudah berulang kali aku katakan padamu untuk tidak membocorkan hubungan kita. Beberapa bulan lagi aku akan naik jabatan, apa kau tidak sadar tindakanmu ini cukup membuatku terancam?”
Dita tidak mengerti apa hubungannya memberi bekal dengan terancamnya posisi Firdaus. Dia juga tahu peraturan rumah sakit. Bahkan teman-teman perawatnya yang menikah dengan dokter cenderung pamer. Apalagi ketika di kantin. Perhatian satu sama lainnya membuktikan bahwa dimana saja, asal memang masih cinta akan tetap begitu.
Selain itu, tanpa diberitahu pun bagian administrasi kan meminta status Firdaus sebelum diterima bekerja disini. Bahkan suaminya juga mendapat tunjangan dari status mereka. Jadi untuk apa malu mengakui bahwa Dita adalah istrinya?
Perasaan Dita mulai sedikit aneh. Dia merasa bahwa suaminya tidak lagi sama-seperti dulu.
“Tapi kamu belum makan, mas. Dimakan dulu ya, dimana aku harus menyajikannya?” ujar Dita masih keukeuh dan berpura-pura tidak mendengar penolakan Firdaus.
Segera dia berjalan ke arah meja, dan meletakkan box makanan itu di sana. Namun pandangan Dita jatuh pada foto lembar yang sepertinya hasil USG ada di atas meja.
Firdaus panik, dia berjalan cepat, mendorong tubuh Dita dan lekas mengambil gambar itu.
Jujur Dita tidak mengerti. Dia terjatuh ke lantai, kepalanya sedikit terbentur. Dia menatap Firdaus terluka. “Mas, apa-apaan ini? Kamu mendorongku hanya karena foto itu saja? Memangnya itu milik siapa?”
“Ini milik temanku. Aku rasa kau tahu batasan yang telah kita setujui di sini. Sekarang keluarlah dari ruanganku. Aku muak melihat wajahmu yang pucat itu. tidak bisakah kau memperhatikan penampilan dan tidak selalu menunduk ketika berjalan? Itu menunjukkan bahwa kau itu tidak profesional dalam bidang apapun.”
Bibir Dita bergetar.
“Mas? Dulu yang bilang aku cantik tanpa make-up kamu kan. Kenapa sekarang malah berubah? Aku…aku bisa merias diri jika membuatmu muak dengan tampilanku yang begini.” Dita menundukkan wajahnya sambil meremas tangannya. Sedetik kemudian air matanya sudah menetes.
“Tidak perlu, sekarang aku hanya butuh kau keluar dari ruanganku. Ada banyak hal yang harus aku kerjakan daripada makan makanan sampah seperti ini. Nanti sore kau pulanglah lebih dulu, tidak usah menungguku.”
“Mas….”
“APA KAU TIDAK MENDENGARKU?”
Dita terhentak. Lekas bangkit dengan kaki gemetar. Keluar dari ruangan Firdaus dengan kepala sedikit pusing. Baru kali ini suaminya itu membentaknya, padahal hanya karena masalah sepele saja. Perasaan Dita semakin sesak, dia tidak mengerti kenapa orang bisa berubah dalam waktu secepat itu.
Tangan Dita meremas kertas di tangannya dengan kuat. Menahan diri agar tidak menangis. Sebentar lagi dia harus menemui salah satu dokter dari rumah sakit mitra mereka. Dita menundukkan kepalanya, sampai tidak sadar ada seseorang di depannya.
Bruk.
“Ma…maaf, sir. Saya…saya…”
“Anindita? Iya kan…kamu Anindita bukan?”
Beberapa menit mengamati sosok di depannya, Dita tidak juga mendapat klue. Sepertinya dia tidak pernah bertemu juga. Tampilannya santai, dibalut dengan sweater putih dan jeans. Ingin mengatakan seperti remaja, namun tidak juga. Wajahnya sudah cukup matang.
“Astagah, kau pasti tidak mengingatku lagi. Sudah 5 tahun juga berlalu. Aku Charlie.”
Sayangnya Dita tidak kunjung mengingat siapa itu Charlie. Banyak laki-laki yang namanya Charlie, apalagi pasien-pasiennya.
“Masih tidak ingat?” Charlie menggaruk bagian belakang kepalanya. Dan gelengan wanita di depannya membuatnya berdehem untuk menghilangkan rasa gugup.
“Oh iya, sir. Saya harus pergi, maaf karena telah menabrak anda tadi. Oh iya, saya memang Anindita, panggil Dita saja.”
Senyum Charlie terbit. Wanita itu tidak berubah sejak terakhir kali mereka berjumpa.