Chapter 5

2737 Words
Hari Minggu mungkin menjadi hari yang paling Kyuhyun nantikan. Selain karena tak ada kegiatan sekolah, di hari itu seluruh penghuni Rumah Harapan akan berkumpul. Jungsoo yang merupakan orang tersibuk dan hampir tak pernah terdeteksi keberadaannya, memilih hari Minggu sebagai hari liburnya. Heechul yang selalu terlihat menyibukkan diri, akan benar-benar meluangkan waktunya di hari tersebut. Sementara, saudaranya yang lain yang masih menuntut ilmu, menggunakan akhir pekan sebagai waktu untuk membebaskan pikiran. Hari Minggu selalu membawa rasa yang menyenangkan. Mereka semua akan berkumpul, melakukan hal yang tak penting, atau bahkan tak melakukan apapun. Kyuhyun akan senang melihat adik-adiknya bermain di lapangan. Ia juga menikmati berisiknya lorong akibat kakak-kakaknya yang berjalan mondar-mandir di sana. Dan memperhatikan eomma yang tetap tak mau bersantai adalah satu dari banyak hal yang akan ia lakukan di hari ini. Tapi, ada satu kegiatan yang tak boleh ia lewatkan. Jalan-jalan. Ia sedang bersiap-siap—memasukkan dua botol air minum, lembaran peta kota Seoul, dan juga PSP ke dalam ranselnya. Tak lupa ia menyelipkan beberapa lembar uang, walaupun ia sepenuhnya yakin tak akan menggunakannya. Ia tak sendiri. Akan ada Heechul bersamanya. Ya, Heechul. Kakaknya yang menyebalkan itu akan menemaninya jalan-jalan. Inilah yang ia maksud dengan Heechul yang 'benar-benar meluangkan waktunya'. Mereka akan menghabiskan akhir pekan bersama. Hanya berdua karena tak ada orang lain yang berniat untuk ikut. Ada Jungsoo, sebenarnya, yang dengan senang hati menggantikan Heechul. Tapi, ia menolak. Ia tak tega membuat Jungsoo lelah di hari liburnya. "Jadi, kau lebih suka menyiksaku, ya?" respon Heechul ketika mendengar alasannya membiarkan hyung-nya itu bersamanya. Ia tahu Heechul tak serius dengan ucapannya tersebut. Heechul-lah yang pertama kali mengajukan ide ini—tentang jalan-jalan menjelajahi kota Seoul. Dan Heechul tak pernah sekali pun absen menemaninya. Bahkan, terkadang hyung-nya itu telah siap mendahului dirinya, meski di lain waktu ia harus mengetuk keras pintu kamarnya untuk membangunkan Heechul. Ia ingat betul penolakan eomma, sebagian besar hyung-nya, termasuk Jungsoo saat Heechul mengemukakan idenya. Ia terlalu lemah kala itu. Baru setahun sejak ia berada di Rumah Harapan dan tubuhnya tidak pernah benar-benar pulih dari kejadian itu. Ia senang. Terbayang bagaimana akhirnya ia terbebas dari penjara nyamannya. Oh, menghabiskan satu tahun hidupnya di tempat yang sama seperti berada di penjara, walau senyaman apapun tempat itu. Tentu, dulu ia tak berpikir demikian. Kyu kecil hanya iri melihat teman-temannya bebas bermain di luar sana dan ingin merasakan pengalaman yang sama. "Kau siap?" Suara Heechul memasuki indra pendengarannya. Kyuhyun menoleh. Didapatinya sang kakak sedang berdiri di ambang pintu kamarnya. Sebuah kotak bekal berada di tangannya yang pasti berasal dari Jungsoo. Kakaknya yang satu itu hampir selalu membuatkannya bekal untuk dibawanya jalan-jalan. Ia tersenyum kecil. Ini seperti piknik saja. "Sandwich," ujar Heechul, menyodorkan kotak kuning itu padanya. Kyuhyun yang memang sudah berada di hadapan Heechul langsung mengambil dan memasukkannya ke dalam ranselnya. "Jungsoo Hyung di mana?" "Sedang keluar dengan eomma dan Sungmin," jawab Heechul. Matanya lekat menatap Kyuhyun. Ia masih melihat binar bahagia itu, seperti sembilan tahun yang lalu ketika mereka melakukannya untuk pertama kali. Dulu, adiknya sangat senang mendengar rencananya hingga ia harus bersabar saat Kyu berkali-kali memastikan agar ia tak melanggar janjinya. Setengah sebal, namun lucu juga bila melihat ekspresi Kyu kecil yang tak sabaran itu. Hanya mengingatnya pun masih memberikan efek yang sama. Sudut-sudut bibirnya akan tertarik kala membayangkan wajah Kyu kecil yang menggemaskan. Alasan sebenarnya mengapa Heechul membawa Kyuhyun jalan-jalan adalah untuk melatih tubuhnya. Setelah terbaring selama beberapa bulan dan tak bisa bergerak bebas setelahnya, tentu, akan membuat perubahan pada fisik adiknya. Ia tahu tubuh Kyuhyun lemah dan sepenuhnya sadar tak boleh membuat adiknya itu kelelahan. Tapi, bila tubuhnya tak dilatih untuk bergerak, mungkin Kyuhyun tak bisa bebas melakukan keinginannya dan akan selalu bergantung pada orang lain. Ia tak suka membayangkannya. Ia ingin Kyuhyun bisa bebas melakukan apa saja, walaupun keterbatasan itu tetap ada. Setidaknya, ketergantungannya pada orang lain bisa sedikit ia hilangkan. Ia senang Kyuhyun menanggapi usulnya dengan antusias. Hanya saja, ia tak menyangka Kyuhyun akan menikmatinya hingga sekarang. Dan ia pun mau tak mau harus menemaninya karena janjinya untuk menjaga Kyuhyun. Ia tentu tak ingin mendapat kabar adiknya yang pingsan akibat kelelahan tanpa ada seseorang bersamanya. Kyuhyun melewati Heechul dan berjalan mendahuluinya. Sebuah senyum terulas di bibir lelaki muda itu. Sudah ia bilang, bukan, Kyuhyun bersemangat melakukannya. Saking bersemangatnya sampai-sampai adiknya tak pernah mempermasalahkan keberadaan dirinya. . . Tempat terakhir yang mereka kunjungi ada di wilayah Myeongdong. Maka, tempat itulah yang menjadi awal penjelajahan mereka. Namun terlebih dahulu, mereka harus naik bus ke sana. Butuh waktu dua puluh menit—lebih jika jalanan padat—barulah setelah itu petualangan mereka dimulai. Tapi, ini hari Minggu. Jalan tidak akan seramai hari-hari lainnya karena siapa yang mau menghabiskan hari libur dengan berkeliaran di kota Seoul. Terlebih, ini masih pagi. Jarum jam masih menunjukkan angka tujuh saat dua kakak beradik itu meninggalkan Rumah Harapan. Kawasan Myeongdong termasuk berada di jantung kota Seoul. Daerah ini, layaknya pusat kota lainnya, akan ramai saat siang dan semakin ramai seiring malam menjelang. Puluhan toko berjejer rapi di kanan-kiri jalan. Tentu, masih tutup di pagi ini, kecuali beberapa minimarket atau apotek yang buka 24 jam. Atau jika lapar, lapak-lapak penjual makanan sudah bertebaran di sana. Sebagian besar menyediakan menu sarapan, lainnya menjual jajanan atau street food. Kyuhyun tidak pernah melewatkan makan paginya. Eomma dan kakaknya memastikan hal itu, terutama Jungsoo yang memberikan ceramah panjang mengenai pentingnya sarapan kala ia bandel tidak ingin memakannya. Kalau dipikir-pikir, dirinya waktu kecil tak ada bedanya dengan anak-anak lain. Atau justru, di masa lalu ia mengikuti jejak teman-temannya yang sulit diatur. Entahlah. "Kau ingat, dulu aku sering membelikanmu mandu." Tiba-tiba Heechul bersuara. Matanya menatap lurus ke depan. "Aku membelinya di sana," lanjutnya. Kyuhyun mengikuti arah pandang kakaknya. Ada sebuah kedai makan kecil di sana. Ia melihat sekilas menu yang terpampang di luar. Memang ada mandu dalam menu yang mereka jual. Dan ya, ingatannya kembali ke masa-masa itu. Sebagai catatan, mandu itu bukan hanya untuknya, tapi juga penghuni Rumah Harapan lain. Sampai sekarang pun, Heechul masih melakukannya. Seminggu lalu, contohnya, dan di bulan-bulan sebelumnya. "Di sana tempatku bermain musik dengan Hangeng..." ujar Heechul sedikit menggantung nada bicaranya. Ia menunjuk sebuah bangunan di ujung jalan, yang lagi-lagi membuat adiknya melihat ke arah yang ia maksud. "...waktu kuliah dulu," tambahnya. Tidak banyak yang berubah dari kafe itu. Catnya masih sama—warm beige dengan aksen cokelat kayu di beberapa tempat. Dinding-dinding kacanya lebih mendominasi, sebenarnya, meski sekarang tertutup tirai tanda bahwa tempat itu masih tutup. Bila tidak, ia akan dapat melihat jelas apa yang ada di baliknya. Ah, tanpa melihat pun ia sudah tahu. Deretan meja dan kursi ada di sana, ditambah sebuah panggung kecil di salah satu sudutnya. Panggung itulah yang menjadi saksi perjuangannya di sana. Tidak. Kafe itulah yang membantunya berjuang saat itu karena ia juga bekerja sebagai pelayan di sana. "Dulu kau kuliah di Dongguk, kan, Hyung?" Kyuhyun bertanya dengan lipatan peta di tangannya. "Ke sana, yuk, Hyung." "Kenapa? Apa kau tertarik kuliah di sana?" Kyuhyun mengendikkan bahunya. "Siapa tahu aku benar-benar akan kuliah di sana." Seketika itu pandangan Heechul berubah. Ia menatap tajam remaja jangkung itu. "Tahun depan." Terselip nada tegas dalam suaranya. "Eh?" "Tanyakan lagi tahun depan, Kyu. Aku janji akan mengajakmu ke sana dan kampus-kampus lainnya di Seoul. Seluruh Korea kalau perlu." Nada bicara Heechul melunak. Kyuhyun tak bisa menyembunyikan keterkejutan sekaligus kebingungan yang menderanya. Otaknya tak bisa memproses alasan logis kakaknya berkata demikian. "Kenapa?" "Aku ingin kau menikmati masa SMA-mu." Oke. Kyuhyun bukan orang yang pandai bermain kata. Jika itu angka, maka ia adalah ahlinya. Tapi, Heechul tidak sama seperti dirinya. Heechul tahu betul bagaimana membingungkannya dengan kalimat barusan. Menikmati masa SMA? Jarang sekali ada orang mengatakannya. "Sebagian besar teman-temanku sudah tahu akan melanjutkan ke mana. Aku dengar orangtua mereka bahkan sudah mendaftarkan les tambahan," komentarnya, menyebutkan beberapa fakta yang ia tahu. Sebulan berada di kelas 1 – 6 ternyata mampu membuat Kyuhyun beradaptasi dengan baik. Lihatlah bagaimana ia bisa mengetahui hal tersebut bila ia tak bisa membaur dengan mereka. "Kau mau? Aku bisa memasukkanmu ke sana." Kyuhyun menatap Heechul, tak percaya. "Les tambahan? Tidak. Tidak. Kau tahu sendiri, kan, hyung, aku tidak cocok berada di sana," tolaknya cepat. Harusnya Heechul tahu ketidaksukaannya akan tempat itu. Berada di sekolah sudah cukup menguras energinya. Ia tak mau menambah lelah tubuhnya dengan menambah beban kerja otaknya. Heechul terkekeh. Oh, ia tahu betul maksud Kyuhyun. Adiknya bukan orang yang suka menghabiskan waktu dengan belajar, apalagi di antara banyak orang. Kyuhyun lebih suka menyendiri dan menjawab keingintahuannya sendiri. Otak remaja itu memang lebih encer sehingga tak perlu waktu lama baginya untuk mempelajari sesuatu. "Karena itulah..." Heechul mengambil jeda dalam kalimatnya. "Aku tidak bisa memperlakukanmu seperti mereka. Kau berbeda. Kau hidup di lingkungan yang berbeda. Aku pun berbeda dari mereka. Dan beginilah caraku memperlakukanmu." Senyum itu masih ada di wajahnya. "Aku ingin kau menikmati hidupmu dan menemukan mimpimu sendiri," lanjutnya. Ya. Ia ingin membiarkan Kyuhyun dan adik-adiknya yang lain bebas mengekspresikan dirinya. Ia tidak ingin membatasi mereka dengan menentukan jalan yang mereka ambil. Ia hanya akan mengarahkan, selebihnya merupakan keputusan mereka sendiri. Ia yakin mereka akan tahu ke arah mana mereka harus berjalan. Langkah Kyuhyun terhenti. Dipandanginya punggung Heechul yang perlahan menjauh darinya. Heechul terlihat berbeda. "Hyung, kau mirip seperti Jungsoo hyung." Heechul berbalik dan dengan langkah pasti ia berjalan ke arah Kyuhyun. Ia menghela nafas pelan sebelum tangannya terjulur dan tuk! Sebuah jitakan sukses mendarat di kepala Kyuhyun. "Aku sudah dewasa, Kyu. Jadi, aku juga berhak memberi nasehat seperti itu padamu," ujarnya sambil berkacak pinggang. Kyuhyun mengelus bagian kepalanya yang ternyata lumayan sakit. Bibirnya refleks mengerucut akibat jitakan tersebut. "Aku tahu," gerutunya. . . Jarum jam telah melewati angka sepuluh saat Kibum menginjakkan kakinya di stasiun Daejeon. Ia baru saja keluar dari kereta yang mengantarkannya ke salah satu kota metropolitan ini. Tak terlalu jauh. Hanya butuh dua jam perjalanan kereta dari Seoul. Bisa lebih cepat jika menggunakan kereta ekspress. Namun dengan budget terbatas, tentu ia lebih memilih opsi yang lebih ramah bagi kantongnya. Kibum berjalan keluar dari peron. Ia membetulkan letak kacamatanya sambil berpikir arah mana yang harus ia tuju. Jika mengikuti tujuan awalnya, ia akan pergi ke pinggiran kota dan menuntaskan rasa ingin tahunya. Tetapi, pergi ke sana sama saja seperti berjalan dalam kegelapan karena ia tak cukup yakin dengan hasil yang akan didapatnya. Dan keberaniannya belum benar-benar terkumpul untuk bertemu mereka. Maka, ia memutuskan pergi ke pusat kota dan mengelilingi tempat tersebut. Kota Daejeon tak kalah menarik dengan Seoul, meski tak sepadat ibukota Korea Selatan itu. Apalagi di hari Minggu, hari di mana sebagian besar orang menggunakannya sebagai waktu bersantai. Mungkin dengan mengunjungi spot-spot menarik di kota ini, entah sendiri, bersama teman, atau keluarga. Ia bisa melihat raut wajah mereka yang santai dan menikmati aktivitas yang mereka lakukan. Terakhir kali Kibum berada di Daejeon adalah sepuluh tahun lalu sebelum ibunya membawanya pergi. Ia tak begitu tahu perubahan yang terjadi selama ia meninggalkannya. Ingatannya buram. Ia bahkan sangsi pernah mengunjungi beberapa tempat di kawasan ini karena tak ada memori tentangnya. Atau mungkin ia melupakannya? Ingatannya hanya berputar-putar di lingkungan tempatnya tinggal. Kaki Kibum berjalan menapaki area salah satu kampus terkenal di Korea, KAIST. Ia memang berniat untuk berjalan-jalan di daerah ini, walaupun tak bisa memasukinya. Tidak ada kegiatan perkuliahan di hari Minggu sehingga pintu gerbang pun tertutup. Ia harus puas dengan hanya berjalan di sekitarnya dan mengambil waktu makan siangnya di sebuah kedai makan tak jauh dari kampus itu. Tempat ini hanya sebuah kedai makan sederhana yang menjual jjajangmyeon dalam menu makanan mereka. Mie saus hitam itu merupakan makanan kesukaan Kyuhyun-nya. Ingatan akan hal itu sangat jelas di benaknya. Sejelas memorinya tentang betapa lahap Kyuhyun menyantap jjajangmyeon-nya. Tak diragukan lagi, saus hitam akan memenuhi wajahnya dan membuatnya terlihat semakin menggemaskan. Dan ia hanya bisa geleng-geleng melihat cara makan adiknya yang belepotan. Seulas senyum Kibum sunggingkan, namun seketika berubah menjadi ringisan kala ia sadar semua itu hanya bagian dari masa lalunya. Tidak ada Kyuhyun dalam hidupnya sekarang. Adiknya menghilang seperti dirinya yang lenyap dari kehidupan mereka. Ia pergi setelah sepuluh menit menghabiskan makanannya dalam diam. Ia kembali melanjutkan perjalanannya. Sekali lagi, ia menatap gedung-gedung bertingkat di KAIST. Tak sedikit teman-temannya yang berkeinginan untuk masuk ke sana, kecuali dirinya karena tak ada hukum dalam jurusan yang mereka tawarkan. Mungkin Kyuhyun bisa masuk ke sana—mengacu pada Kyuhyun teman sekelas Henry. Ia dengar remaja itu jago dalam matematika dan akan bagus baginya jika memperlajarinya lebih lanjut di sana. Kibum menaiki bus yang membawanya ke sisi timur kota Daejeon. Refleks, kepalanya menoleh saat bus yang ditumpanginya melewati jalan di depan universitas Woosong. Orang itu dulu bekerja di sana sebagai salah satu dosen jurusan bisnis. Ya, dulu. Ia sudah memeriksa daftar dosen dan tak menemukan nama orang itu di sana. Mungkinkah mereka pindah? Jika ya, maka perjalan Kibum hari ini akan berakhir sia-sia. "Kibum... Kau Kibum, kan?" Sebuah suara memasuki indera pendengaran Kibum. Langkahnya terhenti. Ia berbalik dan mendapati seorang wanita sedang berjalan ke arahnya. Pastilah wanita itu yang memanggilnya. Tak ada orang lain lagi yang menatap intens dirinya. "Ternyata benar. Kau Kibum," ujarnya lagi setelah sampai tepat di hadapan remaja muda itu. Kibum memandang wanita tersebut dan mencari ingatan tentangnya. Wanita yang menurut tebakannya berada di awal usia 40—hampir seumuran dengan ibunya—tersenyum padanya. Wajahnya memang tidak asing. "Kau tidak ingat? Aku ibu Seunghoon yang tinggal di depan rumahmu dulu." Kibum ingat sekarang. Wanita itu adalah ibu dari teman sepermainan Kyuhyun dan memang tinggal di seberang rumahnya. Keluarga mereka dulu cukup dekat mengingat perbedaan usia yang tidak terlalu jauh. Ibu Seunghoon sering berkunjung ke rumahnya, begitu pula sebaliknya. Keluarga mereka bahkan sering berkumpul bersama di akhir pekan. "Ah, ne." Spontan, ia menunjukkan sopan santunnya. Ibu Seunghoon kembali tersenyum. Ia mensejajari langkah Kibum. "Bagaimana kabar kalian selama ini?" "Baik. Bagaimana dengan kabar Seunghoon?" "Tentu saja baik. Dia belum lama memasuki masa SMA-nya. Seperti adikmu," jawab ibu Seunghoon mengingatkan Kibum pada fakta bahwa Seunghoon dan Kyuhyun seumuran. "Oh ya, ada apa kemari? Apa kau ingin menemui ayahmu?" Tebakan ibu Seunghoon tepat karena memang itulah tujuan Kibum datang ke kota ini. lebih spesifik, ia ingin bertemu Kyuhyun. Ia begitu merindukan adiknya itu. "Ne." "Kau belum tahu? Keluarga ayahmu sudah tidak tinggal di sana lagi. Kudengar mereka pindah ke Busan." Kibum tak mampu menyembunyikan rasa terkejutnya mendengar kalimat barusan. Meski sudah diantisipasi olehnya karena tak menemukan nama orang itu dalam daftar dosen di tempat seharusnya orang itu bekerja, tapi mendengarnya secara langsung ternyata masih menimbulkan efek yang sama. Terlebih, mereka pindah ke Busan? "Sejak kapan?" "Setahun setelah kalian pindah," ujar ibu Seunghoon. "Kurasa kalian sudah tidak saling memberi kabar sejak perpisahan itu," lanjutnya. Lagi-lagi Kibum berkata, "Ne." Semua itu benar. Ia dan ibunya tidak butuh kabar dari orang itu. Mereka bahkan pergi meninggalkan Korea untuk memastikan hal tersebut. "Harusnya kau ajak Kyuhyun bersamamu. Melihatmu sekarang ini, dia pasti juga sudah besar sekarang." Dan Kibum hanya bisa mengerjap tak percaya mendengarnya. "Sepertinya sedang ada tamu di rumah. Maaf tidak bisa mengajakmu mampir ke rumah." Mereka kini berada tepat di depan gerbang rumah Seunghoon. Gerbang itu tak tertutup sempurna. Terdapat celah yang mungkin dibuat oleh pemilik mobil yang terparkir dekat darinya. Mereka bisa mendengar kegaduhan dari dalam rumah dan mungkin suara-suara yang asing bagi ibu Seunghoon. "Gwaenchana. Terimakasih, Ahjumma." "Lain kali kalau berkunjung, mampirlah ke sini." Ibu Seunghoon memberikan senyum terakhirnya sebelum mereka berpisah. Kibum menatap kepergian ibu Seunghoon dengan perasaan tak karuan. Meski wajahnya sedatar seperti biasa ia tunjukkan, namun hatinya kalut. Ucapan ibu Seunghoon telah berhasil mengacaukan ketenangannya. Ia beralih memperhatikan bangunan di seberang rumah wanita tadi. Tak banyak yang berubah dari rumah itu. Struktur bangunannya masih sama. Hanya catnya yang berbeda. Dinding-dinding itu berwarna abu-abu muda, tidak lagi didominasi warna putih seperti dalam memorinya. Halaman rumah itu tidak terlalu luas, tetapi cukup membuatnya senang bisa berlari-larian di sana. Bila kurang puas, ada taman tak jauh dari sini. Kyuhyun sering mengajaknya bermain di sana karena area bermain anak sengaja didirikan di tempat itu. Adiknya paling suka bermain perosotan. Sementara dirinya lebih memilih bermain ayunan sembari mengawasi Kyuhyun beraktivitas. Harusnya kau ajak Kyuhyun bersamamu. Kalimat tersebut terus terngiang dalam pikirannya. Apa maksud ibu Seunghoon mengatakannya? Jelas ia sudah bilang jika ia tak pernah berhubungan lagi dengan keluarga ayahnya. Itu termasuk Kyuhyun karena adiknya tinggal bersama mereka. Atau tidak? Ibu Seunghoon pasti mengira Kyuhyun hidup bersamanya. Wanita itu tak mungkin berkata demikian tanpa alasan. Namun kenyataannya, adiknya tidak tinggal bersamanya. Lalu, dimana Kyuhyun-nya berada? Banyak pertanyaan yang sebenarnya ingin ia ajukan pada tetangganya itu. Tapi, ia ragu. Ia juga takut jawaban yang diperolehnya nanti justru membuat semua pikiran buruknya menjadi kenyataan. Kyuhyun-nya menghilang dan tak ada yang tahu keberadaannya. Tiba-tiba ia teringat pada Kyuhyun lain yang dikenalnya. Sebulan telah berlalu sejak pertemuan pertama mereka. Kalau boleh jujur, ia tak pernah bisa menghilangkan ketertarikannya pada remaja itu. Dan dengan kejadian ini, hati kecilnya kembali ingin berteriak: mungkinkah dia Kyuhyun-nya? Lalu, kata itu terulang di benaknya. Bum hyung. Sebuah panggilan yang selalu Kyuhyun-nya layangkan untuknya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD