Kali ini Zidan memanfaatkan hari-hari skorsnya dengan bermain game. Bukan sesuatu yang buruk untuknya, lagi pula dengan menjaga kestabilan kedudukannya di ranking sepuluh besar akan memudahkannya untuk melakukan apapun. Kelas duabelas adalah akhir dan awal kehidupannya. Mungkin ia akan menciptakan sebuah game nanti daripada melanjutkan perusahaan papanya yang terlihat membosankan. "Zidan, sini sebentar mama mau ngomong nih." teriak Alfa dari lantai bawah. Zidan masih diam ditempatnya karena ia tidak bisa mendengar apa yang mamanya itu katakan. Kedua bola matanya terfokus pada layar dan kedua telinganya telah ditutup dengan headset jadi suara apapun tidak akan bisa ia dengar. "Zidan, kamu denger mama ngomong gak sih?!" Alfa mulai kesal karena anak laki-lakinya itu tidak menggubrisnya sama

