• Part 2 - Trouble About Something •

1438 Words
Kedua matanya perlahan terbuka. Semilir udara dingin melewati tubuhnya menyisakan selimut tak kasat mata yang memiliki suhu di bawah dua puluh lima derajat celcius. Tangannya bergerak meraih bed cover yang terlipat rapi di sana. Ia berusaha untuk memejamkan matanya kembali namun gagal. Mata ini tak mau menutup untuk sementara waktu. Diliriknya jendela yang setengah tertutup oleh gorden, di luar sedang hujan deras pantas saja suhu kamarnya menurun.  Tangannya meraih sebuah benda pipih persegi yang tergeletak di atas nakas. Ia membuka aplikasi i********: miliknya. Terlintas nama Zidan seketika di otaknya. Tangannya pun segera mengetik nama Zidan. Muncul beberapa akun yang tertera disana. Namun satu nama menyita perhatiannya. Ia pun segera membuka akun itu. Hanya tertera gambar gembok disana. Diprivate. Menyebalkan. Itu akan membuat Shania harus mengikuti Zidan jika ingin melihat postingan si pangeran kulkas itu.  Shania pun akhirnya memencet tombol follow lalu beberapa menit kemudian ada pemberitahuan dari akunnya. Ternyata sudah diacc tanpa difolback. "Udah dingin, pelit." Gerutu Shania. Ia pun segera mengirim dm untuk meminta folback. Bukannya apa hanya saja Shania hanya ingin followers dan yang ia follow itu jumlahnya seimbang tidak ada yang paling tinggi dan rendah. Sambil menunggu folback dari Zidan, Shania mulai menjelajahi akun milik Zidan. Cowok itu memang sepertinya tidak suka selfie, akun itu hanya dipenuhi siluet Zidan dan hanya beberapa foto yang menampakkan wajahnya. Shania membuka salah satu foto Zidan. Jika dilihat lebih lama, wajah Zidan memang tampan, membuat Shania selalu gagal fokus dengan mata hitam legam dan bibir merah muda yang sangat menggoda iman itu. Ia pun membaca caption yang tertera di sana. Zidandirga_Thf Life is a game "Kak Zidan gak begitu buruk juga," gumamnya setelah membaca caption itu lalu menscroll beberapa foto yang belum lama ini Zidan posting. Seketika bayangannya melayang saat ia dibonceng Zidan tadi pagi. Kakak kelasnya itu memang asli cuek, secuek cueknya bebek. Namun, segera dihapuskannya bayangan itu dengan menggelengkan kepalanya berulang-ulang. Kemudian sebuah balasan ia terima dari Zidan. Zidandirga_Thf  Folback  Y  Kenal gue kan?  Y  Bisa gak jawabannya agak panjang? Berasa penganggu-__-  Iya  Ya udah maaf ganggu kak  Y  Shania mendengus dengan kesal saraya menenggelamkan kepalanya pada bed cover tebal yang menyelimutinya. Ia meletakkan ponselnya di atas nakas. Zidan tidak menyenangkan. Itulah kalimat yang masih berkutat di kepalanya. Hatinya bagaikan terbungkus es dengan ketebalan seribu meter.  "Kalo cowok dingin gitu, siapa yang mau ya? Ah! Kok malah mikirin gituan sih, mending tidur ae lah."  -xXx- "YA AMPUN KAK ZIDAN GANTENG BANGET!"  Shania melirik gadis berambut sebahu yang kini sedang menghadang Zidan diparkiran. Apa gravitasinya lebih besar daripada bumi? Yang pasti itu bisa membuat teman seangkatannya tergila-gila hingga seperti itu.  Lalu Shania pun meneruskan langkahnya menghindari fans fanatik Zidan, ia tidak ingin matanya terkontaminasi nanti. Seperti biasa setiap hari selasa ia harus melakukan kegiatan rutin yang dinamakan piket. Ritual membosankan yang entah bagaimana bisa tercipta. "Lian, Edo kemana sih, kok gak pernah piket?" tanya Shania pada Lian yang sedang sibuk menata buku-buku di lemari.  "Edo bandel, mana mau piket, kerjaannya aja nongkrong mulu di kantin," cibir Lian yang memang tak suka akan keberadaan makhluk bernama Edo yang sangat merugikan masyarakat kelas. Karena Edo, kelas ini sering dicap sebagai kelas anak-anak nakal, padahal ya belum tentu. Edo memang anak berandalan sekolah yang suka cari sensasi. Jadi siapapun yang dekat dengan Edo harus siap menanggung malapetaka nya. "Kalo gitu gue cari Edo dulu ya, nanti kalo Akhdan sama Amel udah datang suruh mereka piket yang bersih jangan sampe kabur, oke?" ucap Shania pada Lian. Gadis itu hanya mengacungkan jempolnya sebagai jawaban.  Shania pun segera meninggalkan kelas dan pergi untuk memburu manusia bernama Edo itu. Sebenarnya ia tidak ingin merepotkan diri dengan mencari Edo ke kantin, tapi karena dia bagian koordinator piket kelas mau tidak mau ia harus melakukan hal merepotkan ini.  Shania melirik jam dinding yang terpasang di tembok koridor, sepuluh menit lagi bel masuk. Dengan segera ia mempercepat langkahnya. Dan apa yang ia harapkan memang ada di sana. Sekumpulan manusia yang berperan sebagai predator tengah berbicang-bincang entah menyusun strategi atau semacamnya, tak lupa ditemani sepiring gorengan Mak Cin. Tapi tunggu, Zidan.  Kak Zidan ngapain sama gengnya Edo? Atau ... batinnya mengambang, tak ia lanjutkan karena sebuah tangan menepuk pundaknya pelan. Shania pun membalikkan badannya. Ia melihat Agam dengan jarak kurang dari tiga puluh sentimeter. Jantungnya sudah berkeliaran kemana-mana sekarang.  "Lo ngapain disini?" tanya Agam dengan lembut. Shania mengerjapkan matanya berulang-ualang, mencoba membuktikan ini benar atau tidak. Nikmat mana yang engkau dustakan batin Shania. Baginya Agam itu bagaikan malaikat yang penuh dengan kehangatan, sementara Zidan adalah iblis dingin yang tidak punya perasaan. Sangat bertolakbelakang. "Mau cari Edo, Kak. Dia belum piket jadi aku samperin kesini," jawab Shania seraya tersenyum kecil. Agam memang jauh lebih baik ketimbang Zidan, meski nyatanya Zidan lebih tampan dari pada Agam.  "Oh gue kira mau nyari Zidan, biar diboncengin lagi," ujarnya lalu mereka berdua terkekeh kecil. Dan ia pun berani jamin pipinya sudah berwarna merah padam sekarang, setelah melihat lesung pipi Agam secara lebih dekat. Agam pun tampak menikmati detik-detik tak sengaja dengan Shania. Lalu sebuah tepukan menyadarkan Shania. Itu Zidan, dengan wajah datarnya.  "Udah masuk." ucapnya.  "Hah?"  Bukannya menjelaskan Zidan hanya membuang muka lalu pergi meninggalkan Shania di sana sendirian. Gadis itu mengedarkan pandangannya, kantin sudah sepi. Dan yang pasti itu tadi hanyalah khayalan belaka. Harinya memang tak pernah bisa semanis gulali yang selalu terasa manis walau dikecap dikeadaan apapun dan kapanpun. Sungguh disayangkan jika itu hanya mimpi, padahal ia tadi sudah menyiapkan mental untuk menjadi calon pacarnya Agam.  -xXx-  Kring... kring...  Bel pulang sudah berbunyi. Yang akan Zidan lakukan adalah main game, makan dan melakukan sesuatu di rumah. Itu saja. Hari-harinya memang selalu mebosankan, tidak pernah ada yang istimewa dan diistimewakan. Lalu seorang gadis berpakaian cukup ketat dengan rok span dan rambut berwarna cokelat tak sengaja jatuh tepat di depannya. Zidan tahu, itu tipuan. Dan Zidan tak mudah ditipu. Penipu yang ditipu akan lebih sakit daripada orang yang ditipu. Cowok itu menyenggol lengan Athlan yang berdiri di sampingnya kemudian membisikkan sesuatu. Beberapa detik kemudian Athlan terkekeh kecil dan akhirnya mengangguk. Zidan memang memiliki otak tengil yang tidak bisa diabaikan sakitnya. "Ya ampun Fel, sini gue bantu," ucap Athlan seraya membantu Fella untuk bangun. Gadis itu memperlihatkan wajah betenya. Jelas bete, karena yang ia harapkan tidak sesuai ekspektasi. Tapi bukan Fella namanya jika tidak punya plan B untuk ini.  "Aw kaki gue sakit, kayaknya keseleo deh," ucapnya dengan wajah yang tampak meyakinkan. Ratu drama memang pandai memainkan suasana.  "Mau gue anterin?" tawar Edo yang berdiri tak jauh dari Athlan dan Zidan. Fella pun langsung menggeleng dengan spontan. Mau apa jadinya jika ia diantarkan oleh Edo, si otak m***m.  "Kalo gue bareng Zidan boleh gak? Rumah kita 'kan searah."  "Gak ada tebengan."  Athlan dan Agam serempak tertawa kecil supaya Fella tidak sakit hati karena ditolak habis-habisan oleh Zidan. Edo pun segera berlari menyambar pergelangan tangan Fella lalu mengajaknya pergi. Cowok itu tampak sumringah mendapat teman pulang hari ini, namun sebaliknya Fella tampak jengkel dengan perlakuan Edo.  "Gue tahu sekarang, yang buruk akan dapet yang buruk juga," itu suara Athlan Teguh. Mungkin sudah sekitar tiga minggu yang lalu Athlan memiliki julukan seperti itu, karena belum lama ini ia putus dengan kekasihnya. Dan otaknya agak sedikit bergeser dari pada yang dulu, mungkin selisih tiga puluh derajat. "Eh gue duluan ya, nyokap udah nunggu di rumah," pamit Agam yang sudah janji untuk mengantarkan mamanya pergi ke salon hari ini. Sedangkan Athlan juga baru saja pulang karena saudaranya baru datang dari Lombok.  Tersisa Zidan. Bukannya tak ingin pulang, tapi hari ini ia memang tidak ingin pulang cepat, mungkin agak sedikit ngaret. Menghirup udara sore di sekolah membuatnya ingin sedikit lebih lama di sini. Lalu seorang gadis muncul di depannya dari arah koridor kelas sepuluh.  Dari perawakan gadis itu, sepertinya Zidan tahu siapa itu. Shania. Adik kelas yang membuatnya hampir menjadi sasaran bully Athlan dan Agam beberapa hari lalu. Gadis itu juga sudah mengubah imagenya di mata adik kelasnya yang lain. Sekarang, yang terpenting gadis itu tidak mengusik kehidupannya lagi. Aman terkendali. Lalu segerombolan murid ekskul basket menghampiri Shania. Zidan melihat dengan jelas jika gadis itu tengah ketakutan setengah mati ketika melihat wajah para pentolan sekolah yang terkenal suka 'mengganggu' itu menghadangnya  "Hidup lo penuh masalah." Ucapnya seraya masih melihat ke arah yang sama. Ia tidak ingin ikut campur tentang masalah yang menyangkut gadis itu. Tapi ia juga tidak ingin melihat wanita diperlakukan seperti itu. Mengapa harus ada pilihan seperti ini?  Cowok itu pun seberusaha mungkin untuk mengabaikan masalah itu dan mengambil jalan pintas menuju parkiran. Ia tak akan peduli tentang apapun yang menyangkut Shania mulai sekarang. Itu salah satu aturan dihidupnya mulai saat ini, karena ia tahu jika masalah yang akan dibawa gadis itu mampu mengubah seluruh hidupnya nanti.  -xXx- 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD