**************** Arga masih berdiri kaku di ambang pintu, mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Alih-alih marah atau tersinggung, ada sebongkah rasa bersalah yang menusuk, menenggelamkan setiap emosi lainnya. Ia menyadari sepenuhnya kebenaran yang getir di balik setiap kata-kata dingin yang dilontarkan oleh Ziyan. Dipandanginya punggung Ziyan yang terasa begitu jauh dan asing, sebuah punggung yang kini memancarkan penolakan mutlak. Setelah beberapa saat, Arga berbalik, memilih menuruti keinginan Ziyan untuk meninggalkannya sendirian. Sikap Ziyan barusan memang meremukkan harga dirinya sebagai seorang suami, tetapi Arga bahkan tak menemukan setitik pun amarah di hatinya. Ia sadar betul, Ziyan yang menjadi sedingin dan terluka hingga membencinya, adalah buah dari ke

