**************** Aula dansa megah dengan lantunan musik yang lembut, kontras dengan ketegangan mencekik di sudut tersembunyi.Di tengah semua kemewahan itu, tiga sosok berdiri: Ziyan, anggun dalam balutan gaunnya; Bastian, dengan senyum predator yang mematikan; dan Arga, suaminya, yang memancarkan aura kemarahan tertahan. Suara mereka sedikit teredam, namun intensitas emosi mereka terasa seperti gelombang panas. Ziyan dan Bastian terdiam, memandang Arga. Pria itu, dalang kekacauan emosional mereka, kini berdiri di sana, rahangnya mengeras. Arga bahkan mencondongkan tubuhnya, menekan Bastian, seolah menegaskan bahwa dialah pemilik Ziyan. Bastian tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya, melainkan hanya seringai dingin. Ia menoleh perlahan ke arah Ziyan. "Ah,

