******************* Cahaya fajar yang keemasan dan tipis menyusup melalui celah gorden tebal berwarna navy di kamar tidur utama Arga, melukis pola garis-garis lembut di lantai kayu gelap dan permadani beludru. Udara pagi terasa dingin, kontras tajam dengan kehangatan semalam, namun terasa menusuk alih-alih menenangkan ketika menerpa wajah Ziyan. Sebuah lenguhan pelan, nyaris seperti erangan tertahan, keluar dari celah bibirnya yang sedikit terbuka dan kering. Ziyan mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia merasakan kepalanya berdenyut tajam dan berat, membuatnya meringis. "Aarghh..." Ia memaksa dirinya merubah posisi menjadi duduk, memijat kedua pelipisnya yang terasa dipukul-pukul. Mungkin ini adalah efek sisa dari tiga gelas anggur yang ia teguk semalam. Entah bagaimana, jumlah yang se

