Amierra tengah membaca sebuah buku di taman belakang rumahnya. Tadi pagi Djavier harus berangkat ke Serang Banten karena ada pekerjaan mendadak. Seketika rasa haus menyerangnya dan ia beranjak untuk mengisi gelas miliknya yang tampak sudah kosong. Ia beranjak dengan sedikit kepayahan karena usia kandungannya sudah 9 bulan. Ia berjalan dengan mengusap perutnya yang buncit menuju dapur. Tetapi baru sampai pintu pembatas ia menjerit kesakita seraya memegang perutnya. Dania yang berada di sana bersama Bunda dan Ibu Mertuanya segera berlari menghampiri Amierra yang menjerit kesakitan. Mereka sangat cemas dan khawatir apalagi melihat cairan bening mengalir dari sela kaki Amierra. “Perutku,” ringisnya. “Amran, siapkan mobil,” teriak Bunda. Amran yang tengah asyik meno

