Pantai, satu kata yang dapat membuat seseorang langsung berfikir akan keindahan dan keunikannya, Tak jarang bila wekeend banyak sebagian orang yang sekedar jalan jalan kepantai atau ingin melihat keindahan ciptaan sang hyang (tuhan). Tuhan memang maha besar apapun yang akan dikehendaki pasti akan terjadi, dan tidak ada yang bisa melawan kehendaknya.
Siang ini farel mengajak zeline berkunjung kepantai yang tidak terlalu jauh dari hotel yang mereka inap, hitung hitung mungkin saja mood zeline dan beban fikirannya bisa sedikit hilang. Awalnya gadis itu menolak ajakan sahabat kecilnya, alasannya karna capek. Tapi dengan seribu jurus bujukan farel akhirnya zeline dengan terpaksa menuruti keinginan pria itu.
“Zeline” panggil farel pada gadis yang berjongkok dibawah.
Zeline yang sedang asik menulis nama dipasir terpaksa menghentikan aktivitasnya, “ya?.”
“Naik itu yuk” ajak farel, pria itu menunjuk beberapa orang yang sedang menaiki banana boat.
Zeline mengikuti arah tunjuk tangan farel ia mendelik tak percaya, dirinya saja tidak bisa berenang mana berani naik wahana yang menegangkan seperti itu.
“aku tidak mau” tolaknya.
Farel tersenyum kecut, padahal momen seperti ini yang ia inginkan. Apalagi sudah lama dirinya tidak naik wahana seperti itu, “pliiss aman kok” ucapnya memelas.
Zeline menggeleng menegaskan bahwa ia tidak mau. Farel merubah posisinya berjongkok disamping gadis yang sedang asik menulis dipasir, "zeline yang cantik baik hati dan tidak sombong" panggil farel dengan suara yang dibuat selembut mungkin.
"Jangan coba coba merayuku farel" ujar zeline memperingati farel yang terus berusaha merayunya.
Wajah farel berubah masam, ia bingung harus merayu bagaimana lagi. Baru saja coba merayunya sudah mendapat peringatan seperti itu.
Zeline bisa melihat perubahan mimik wajah sahabat kecilnya itu dari sudut matanya, mungkin farel tidak ingat bahwa dirinya tidak bisa berenang fikirnya.
"Apa kamu lupa bahwa aku tidak bisa berenang?" Tanya zeline.
Farel mengeryitkan dahi, ahh benar sepertinya ia melupakan hal tersebut bahwa zeline tidak bisa berenang.
"Maaf" lirihnya.
Gadis itu menghela nafas lalu membuang tongkat kayu yang sedari tadi ia gunakan untuk mengukir namanya dipasir. "Apa kamu sangat menginginkannya?" Tanya zeline lagi.
Farel mengangguk antusias seperti anak kecil yang menginginkan sebuah permen. Zeline terkekeh, ternyata pria yang saat ini bersama dirinya bisa bersikap layaknya seperti bocah.
"Aku benar benar takut rel" ujarnya was was.
"Tenang saja, nanti sebelum naik pakai jaket pelampung jadi tidak akan tenggelam. Kalaupun pada saat nanti kamu jatuh pasti segera ditolong oleh petugasnya" jelas farel.
Zeline mencoba menimbang nimbang ajakan farel, disatu sisi ia takut tenggelam disatu sisinya lagi ia juga kasihan dengan farel. Pria itu sangat menginginkan bermain wahana tersebut, sayang juga kan sudah liburan jauh di lampung namun tidak ada kesan apa apa.
"Ummm baiklah, tapi dengan satu syarat" ucapnya dengan menaik turunkan kedua alisnya.
"Apa?"
"Nanti belikan pizza dan ice cream untukku" tawar zeline.
Farel tersenyum lebar lalu berkata, " tidak masalah."
"Lets go baby" ajak farel lalu menarik tangan zeline.
Zeline berdiri kaku dipinggir pantai, beberapa kali ia meneguk saliva. Hati dan otaknya sangat tidak sinkron, fikirannya ingin naik sedangkan hatinya ingin putar balik pulang saja.
"Mbak pakai jaket pelampung ini dulu" ucap petugas pemandu, ia menyodorkan pelampung untuk zeline.
"Eh i-iya makasih" dengan gugup zeline mengambil jaket pelampung tersebut, lalu memakainya.
Zeline menengok pria yang berdiri disampingnya, senyum sumringah sejak dirinya menyetujui ajakan farel tak pernah hilang dari wajahnya.
"Untung sahabat, kalau bukan ntahlah jadi apa ntar" gumanya lalu ia beralih melihat kedepan.
Gadis itu mulai naik diatas banana boat yang terisi 5 orang dan 2 pemandu, zeline memilih duduk ditengah tengah sedangkan farel duduk dibelakangnya. Ia mencoba mengatur nafasnya dan degupan jantungnya, ini benar benar sangat menyiksanya.
Ia penjamkan matanya, berdoa dalam hati sampai suara pemandu berhasil membuatnya membuka mata.
"Oke, are you ready?" Seru pemandu.
"Yess, i'am ready" sorak semua penumpang kecuali zeline.
Prahu mesin yang bertugas menarik banana boat mulai berjalan pelan, semakin lama semakin menambah kecepatan. Semua berteriak, tak terkecuali zeline. Gadis itu benar benar berteriak sangat kecang.
"Aaaaaaaaa aku takut jatuh tolong"
"Aku tidak ingin mati muda"
"Tolongg tuhan, aaaaaaaa hukum saja orang yang membuat permainan seperti ini "
Zeline terus meracau, ia menumpahkan semua rasa gugupnya. Prahu mesin terus berjalan dengan cepat tanpa ampun.
"Wooyyy berhentii aku sumpahin nih mau?" Ancam gadis itu.
Sedangkan farel yang mendengar ucapan zeline tertawa, gadis itu benar benar penakut.
Sementara zeline tak kuat lagi menahan keseimbangan tubuhnya, ia terombang ambing kekanan dan kekiri.
"Sial aku akan jatuh" batinnya kesal.
Dan
Byurrr
Zeline jatuh kebawah, namun tidak tenggelam melainkan mengapung. Tapi tetap saja gadis itu bergerak panik yang membuatnya banyak kemasukan air,"to-tolong aku".
Dengan segera prahu tersebut menghampiri gadis itu, petugas segera menolongnya agar naik keatas prahu lagi. "Mbak coba tenang jangan panik" ujar petugas tersebut.
Zeline terbatuk, kepalanya terasa sangat pusing. Hidungnya keluar darah, zeline mimisan. Tangannya mengusap darah itu dan tak lama pandangannya buram, hanya sekilas ia mendengar samar samar seseorang berteriak memanggil namanya.
*
*
*
Zeline duduk termenung disebuah tempat, ia berfikir ini bukan taman. Jika sebuah taman pasti ramai sekali dan banyak anak kecil bermain, tapi ini sangat sunyi sekali. Zeline memang tak begitu suka keramaian, ia selalu memilih tempat yang tak begitu bising.
Ia menangkap bunga matahari sedang tersenyum sangat indah kepadanya, sudut bibirnya tertarik. Gadis itu berjalan mendekati bunga tersebut dan memetiknya.
"Kamu sangat cantik sekali" ucapnya memuji keindahan bunga matahari.
Ia mencium bunga tersebut, harum yang ia rasa. Walaupun tak banyak orang menyukai bunga matahari namun zeline sangat menyukainya.
Banyak sekali fakta unik tentang bunga matahari salah satunya, Bunga matahari yang masih muda sangat senang melacak sinar matahari, bunga matahari muda akan mengikuti arah sinar matahari terbit hingga terbenam dan mengulang siklus tersebut sampai dewasa. Sedangkan bunga matahari yang memasuki tahap dewasa akan berhenti melacak sinar matahari dan hanya menghadap ke timur. Karena posisi tersebut memungkinkan bunga lebih sering terpapar matahari.
Oleh sebab itu zeline sangat mengagumi keunikannya, sinar terang dari sang matahari semakin akan membuat bunga tersebut mekar sangat cantik.
Tiba tiba seseorang menepuk pundaknya dan berkata, “aku datang, apa kamu menyukai bunga tersebut?.”
Ia hanya melirik dan berdehem sebagai jawaban. “siapa kamu?” tanya zeline sambil memainkan bunga yang ada ditangannya.
Pria itu tersenyum, dengan lancang ia menyelipkan anak rambut zeline. “Takdir” jawabnya, lalu langkahnya semakin mundur dan menjauh dari zeline, gadis itu terlihat kebingungan maksut ucapan pria aneh disampingnya tadi.
Saat baru sadar pria disebelahnya sudah menghilang, zeline clingukan mencari pria tersebut, “kemana dia?” ucapnya setelah tak mendapati keberadaan orang yang dicarinya.
“Zeline maafkan aku, aku tidak akan memaksamu bermain diair lagi” gadis yang baru tersadar dari pingsannya terheran melihat temannya menangis dengan berjongkok dibawah kemudian mengenggam tangannya.
“Farel sudahlah jangan berlebihan, aku tidak apa apa shhh” zeline meringis kesakitan, kepalanya sangat sakit saat ia merubah posisinya menjadi duduk. Ia menyandarkan punggungnya disandarann tempat pendopo kayu yang tersedia dipantai.
“Maafkan aku, aku menyesal zeline” sesalnya.
Zeline mengangguk, “sekarang jam berapa?” tanya zeline.
Farel merubah posisinya menjadi duduk disamping gadis tersebut “pukul lima” jawabnya, “kenapa?” ia menengok kesamping mata mereka bertemu.
Zeline mendelik “apa? Mengapa kamu tak membangunkanku” protesnya.
Tanpa menunggu jawaban dari sahabatnya, zeline berlari menuju tepi pantai melupakan rasa sakit dikepalanya demi menunggu sunset yang selama ini ia idamkan, farel menggaruk kepalanya ia bahkan bingung. Bagaimana bisa dirinya membangunkan gadis itu, sedangkan zeline sejak tadi hilang kesadarannya.
Gadis yang mengenakan hotpants dan kemeja lengan pendek bermotif daun kelapa sejak tadi berjalan menyusuri tepi pantai, sekalian sambil menunggu keindahan terbenamnya matahari atau disebut sunset. Sesekali gadis itu menedang kecil pasir pantai, dan angin pantai berhembus kencang, membiarkan rambut zeline terbang bebas.
Zeline sangat mengangumi keindahan pantai yang saat ini ia pijak, pantai ini cukup terkenal dilampung selatan. Yaitu Pantai Klara, ombaknya terkenal sangat tenang sehingga tak perlu takut bila berenang dipantai tersebut.
“Sambil nunggu, enaknya ngapain dulu ya sekarang” tanyanya pada diri sendiri.
Lama ia berfikir sampai akhirnya ide muncul dibenaknya, gadis itu mengeluarkan ponsel ditas slempangnya yang ia bawa. Lalu mencari fitur camera, ia menghadap membelakangi pantai, kemudian tersenyum dan menunjukkan giginya yang rapi.
Cekrek.
Satu foto berhasil ia dapat, jarinya menekan gambar kotak dibawah. Ia melihat hasil fotonya “wahh bagus juga ya” pujinya.
“Coba sekali lagi” gadis itu kembali bergaya dan mengambil gambar dirinya lalu ia lihat hasilnya, gadis itu sangat puas dengan hasilnya.
“Lagi deh lagi” ucapnya bersemangat.
Tidak kecewa dengan liburannya kali ini, farel benar benar membawanya ketempat yang cocok untuknya.
“Zeline” panggil seseorang saat zeline masih asik berfoto ria.
“Nih minum dulu” farel menyodorkan buah kelapa muda.
Zeline mengambilnya dan tersenyum, “trimakasih” ucapnya.
Mereka berdua duduk dengan santai sambil menyeruput es kelapa muda yang tadi sempat ia beli, tubuh zeline terasa lebih segar daripada sebelumnya. Sejak tadi senyum merekah betah berlama lama diwajahnya ayunya, apalagi degupan jantungnya berpacu lebih cepat, tak sabar menuggu kehadiran sunset.
“Eh farel, sejak kapan sampai dilampung?” sapa seseorang dibelakang mereka, farel menoleh mendapati seorang pria berdiri tegak dibelakangnya.
“Wehh broo apa kabar lu?” farel menjawab dengan semangat, ia menjabat tangan pria tersebut.
Pria itu membalas dengan senyum tipis dan ikut duduk disamping farel, “baik. Lu kapan nyampek sini?”
“Tadi pagi” jawabnya.
“Sama siapa?” tanya pria itu lagi.
“Sama cewek nih” farel menoleh kesamping kanannya, ia menyenggol lengan gadis itu.
Zeline terusik karna ulah farel lalu menoleh dengan malas, memang sejak tadi dirinya hanya fokus pada ponselnya daripada melihat siapa pria yang tengah bercanda dengan sahabat kecilnya.
“Kenalin nih zel, temen rumahku dulu” farel mengenalkan pria disampingnya, duduknya sedikit ia geser kebelakang agar zeline bisa melihat pria yang baru saja ia temui.
Kedua mata zeline melihat sosok tersebut, ia tertegun. Mata itu, mata yang pernah membuatnya membeku. Mata yang pernah mengintimidasinya, disaat ia fokus dengan tatapannya tanpa sadar sunset yang ia nantikan tlah tiba, bersamaan dengan pria yang didepannya mengulurkan tangan dengan kaku kepadanya.
"Ka-kamu?" Tunjuknya tak percaya.