"Kenapa kau berwajah murung seperti itu?" Pertanyaan Josh membuyarkan lamunan Aaron setelah menghabiskan suapan terakhir makan siang mereka di kantin Rumah sakit. "Apa Kate belum pulang juga?"
Aaron mengusap bibir dengan tisu. "Belum. Aku sudah menghubungi Nancy dan Suzy tapi tak Ada satupun yang mengetahui keberadaannya." Suara Aaron tak bersemangat, terdengar cemas dan kecewa. "Baru saja kami bertemu setelah tiga bulan lamanya dia pergi dan kini dia--"
"Katakanlah yang sebenarnya, Aaron." Potong Josh cepat. "Sudah saatnya kau katakan sebuah kebenaran. Sampai kapan kau menutupi sehingga membuatnya menjadi salah paham? Apa kau ingin tragedi Lisa terulang lagi?"
"Jangan bawa Lisa dalam hal ini, Josh." Aaron menolak dan menatap Josh serius. "Ini masalahku dengan Kate. Dan tak ada hubungannya dengan Lisa."
"Tentu ada hubungannya, Aaron." Josh menolak argumen Aaron. "Kau sudah bercinta dengan Kate Dan wanita itu jatuh cinta padamu, apalagi yang kau tunggu selain kau katakan sebuah kebenaran? Apa kau menginginkan dia jatuh cinta pada orang lain lalu melupakanmu?"
Aaron terdiam sebentar. "Aku menunggu waktu yang tepat." Membela diri.
Josh menggeleng dan menghela nafas kecewa, mengingat kebodohan dan keegoisan Aaron yang pernah ia lakukan pada Lisa. "Inilah waktunya. Sebaiknya jangan kau tunda." Ia memohon dengan wajah memelas dan penuh harap. "Aku mohon padamu, jangan kau tunda lagi. Ini demi kebahagian kalian."
Mendengar permohonan Josh, sepertinya Aaron harus menyerah dan menuruti ucapannya.
Kali ini Aaron harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin dan mengatakan sebuah kebenaran pada Kate, agar tak ada lagi kesalahpahaman, agar tak terulang tragedi lagi.
"Baiklah, Josh. Kau lebih mengetahui keadaanku dan aku akan mengatakan semua pada Kate jika dia sudah pulang nanti. Sekarang.." Aaron bangkit. "Aku membutuhkan bantuanmu."
Josh juga bangkit. "Baiklah, kuharap dia wanita yang tepat untukmu, Kawan." Berdiri disamping Aaron lalu berjalan beriringan. "Omong-omong apa perlu ku bantu mencarikan Kate untukmu?"
"Tidak perlu, Josh. Aku yakin dia pasti pulang."
❤❤❤
Kate melirik telepon di meja kecil samping sofa. Pikirannya terlintas pada Nancy yang sudah pasti mengkhawatirkanmu karena pertengkaran kemarin. Tapi mengingat Nancy yang selalu membandingkan dengan Lisa membuatnya berpikir dua kali. Ia butuh waktu dan privasi sekarang, setidaknya menanti waktu yang tepat untuk kembali pulang.
Lalu bagaimana dengan Aaron ? Hati dan pikirannya dipenuhi pria tampan yang sudah resmi menikahinya walau Aaron tak pernah mencintai, hanya menganggap istri pengganti. Tapi rasa kerinduannya melebihi perasaan kecewa pada Aaron, meskipun belum siap untuk bertemu.
Kate meraih telepon dan jari jemarinya cekatan menekan angka demi angka yang tak lama terdengar nada sambung.
Jantungnya berdetak kencang di setiap dering nada sambung itu berbunyi. Ketika mendengar kata hallo dari suara Aaron, Kate hanya terdiam agar kata rindu itu tak terungkap. Cukuplah ia pendam dalam hati.
"Hallo?" Sekali lagi Aaron menyapa. "Kate? Kau kah itu?" Tebak Aaron, tak sabar mendengar suara lawan bicaranya yang sama sekali tak menyahut. "Bicaralah Kate, aku tahu itu kau. Kumohon.."
"Aku pergi, Aaron. Untuk melupakanmu walau setiap detik aku merindukanmu. Selamat tinggal.." Ucapan Kate hanya tertahan di dalam hati sambil menggigit bibir bawah dan memastikan kalimat itu tak meluncur dari bibirnya.
'Tut tut tut tut'
Kate menutup telepon setelah mendengar namanya disebut dan Aaron memohon penuh harap yang seketika membuat air matanya mengalir. Perasaannya semakin tak karuan. Satu sisi ingin kembali lalu mengatakan aku mencintaimu, Aaron, tapi sisi lain ingin membiarkan rasa cinta itu hilang dan membuka hati pada pria lain. Walau tak tahu dengan cara apa untuk melupakan Aaron, pria pertama yang ia cintai.
Aaron melihat layar handphone lalu menghubungi nomor tadi. Nadanya tersambung tapi tak diangkat. Ia yakin penelpon tadi adalah Kate, walau nomor itu asing. Setidaknya Aaron mendapat petunjuk agar bisa melacak pemilik nomor itu tentu saja dengan bantuan Bob, kawannya yang bekerja di perusahaan telekomunikasi.
❤❤❤
Seminggu lamanya Kate menghilang bagai ditelan bumi, tak ada petunjuk yang Aaron dapatkan untuk mencari Kate. Bob tak bisa memberikan informasi mengenai nomor asing yang menghubunginya seminggu yang lalu atau disinyalir Kate, karena sudah tak lagi bekerja di perusahaan telekomunikasi.
Walau Bob tak bisa memberi informasi, tak mengurungkan niat Aaron untuk mencari Kate. Segala cara akan ia lakukan untuk menemukannya dan yakin Kate masih berada di kota yang sama. London.
Kate mengusap bibirnya dengan tisu sambil menatap Kendrick yang duduk di depannya dengan senyum mengembang. "Terima kasih kau sudah membawaku makan malam di tempat mewah ini, Ken." Senyum Kate mengembang karena Kendrick sudah memanjakannya seperti wanita yang sering ia tonton di film. Makan malam di restoran mewah, mengenakan gaun cantik dan duduk bersama pria tampan yang menjadi penyelamat hidupnya. Pria yang membuatnya nyaman.
Kendrick mengangguk pelan melihat penampilan Kate yang makin cantik dengan balutan midi dress potongan leher v yang memperlihatkan sebagian buah dadanya yang montok dan mulus. Baginya, Kate wanita paling cantik di tempat itu sekarang. Walau riasannya natural look, dan tanpa perhiasan sama sekali.
Bukan Kendrick tak ingin membelikan perhiasan yang akan menghiasi kulitnya yang berwarna kuning zaitun, tapi Kate menolak dengan alasan 'Kau bukan suamiku, Ken. Tapi penyelamat dari perbuatanku yang konyol'. Dan Kendrick tahu diri dengan status Kate yang sudah bersuami, walau ia mengakui sudah jatuh cinta sejak awal berjumpa.
Kendrick tak berharap banyak, asalkan Kate masih satu atap dan hidup bersama sebagai teman, sudah membuatnya bahagia. Tapi sebagai lelaki normal, terkadang hasrat liarnya berontak. Melihat Kate sarapan hanya mengenakan tanktop tanpa bra dan celana pendek, membuatnya ingin membawa Kate ke ranjang dan melakukan apa yang biasa pria normal lakukan. Sayangnya, Kendrick harus menahan dengan cara mempercepat jam keberangkatannya ke kantor, untuk menghindari hal yang tak ia inginkan. Karena tujuan Kendrick hanya satu. Selalu bersama Kate.
"Aku hanya menepati janjiku seminggu yang lalu, Kate." Kendrick menjawab kebahagian yang terpancar dari kedua bola mata Kate yang indah. "Maaf aku baru mengajakmu sekarang. Apa kau menyukai makanannya?"
Kate mengangguk dan tersenyum lebar menatap pria yang paling menawan di matanya saat ini. Kedua bola matanya yang berwarna biru menggambarkan kelembutan Kendrick sebagai pria sejati begitu juga dengan bulu halus di sekitar rahang dan kumis yang makin memperlihatkan kesan pria yang kuat dan macho.
Tak Ada kata lain yang cocok untuk Kendrick selain sempurna. Sebagai pria dan teman.
"Aku menyukainya, Ken. Tapi tak bisa menandingi masakanmu yang selalu lezat dan cocok lidahku," puji Kate.
Kendrick mengangkat kedua alis. "Oh ya? Berarti tiap malam kita akan makan malam di apartemen seperti ini." Menunjuk pada setelan kemeja dan celana yang ia pakai. Setelan formal yang biasa pria pakai saat berada di sebuah restoran mewah. Hanya saja ia tak menambahkan jas dan dasi kupu-kupu.
"Kau berlebihan, Ken." Kate tertawa. "Aku lebih nyaman kita memakai kaos dan celana pendek atau makan sambil mengangkat sebelah kaki di kursi." Memberi alasan yang ia sukai. Bersikap apa adanya dan tak harus anggun seperti yang ia lakukan sekarang.
"Aku juga menyukainya, Kate." Timpal Kendrick, tak berbeda dengan Kate. "Apa lagi kau mengangkat dan menguncir rambutmu ke atas saat kau makan. Kau makin terlihat seksi," pujinya yang menyukai penampilan Kate seperti itu. Memakai kaos, celana pendek, rambut yang terikat ke atas dan tentu saja tanpa hiasan diwajah. Moment itulah kecantikan Kate yang sesungguhnya. Kate yang cantik apa adanya.
Wajah Kate merona Kendrick memuji penampilannya ketika di rumah. Mendengar kata seksi terlontar dari mulut seorang pria tampan, pandai dan mapan, seakan mendapatkan sebuah award. Yang ia tahu selama hidup bersama, Kendrick bicara apa adanya. Pria itu selalu jujur dan bicara dari hati, bukan sekedar rayuan yang kebanyakkan pria lain ucapkan untuk mendapat perhatian dari wanita incarannya. Itu sebabnya Kate merasa nyaman, bersama penyelamatnya.
"Apa kau sedang memuji atau merayuku?" Tebak Kate, hanya sekedar gurauan.
Kendrick menggeleng menepis tebakan Kate. "Tidak keduanya. Aku hanya mengungkapkan apa yang kulihat, ku nilai dan kurasakan." Memberi alasan dan berhasil membuat Kate mengangguk menyerah.
"Aku percaya itu, Ken. Kau terlalu serius menanggapi ucapanku." Kate mengakhiri kalimatnya dengan tawa.
Setelah merasa jemu dan melihat pengunjung semakin ramai berdatangan baik dari kalangan artis, pejabat atau kaum urban seperti dirinya, akhirnya
perbincangan dan makan malam di restoran itupun harus mereka diakhiri.
Kendrick ingin membawa Kate keliling kota menikmati pemandangan London di malam hari, tapi Kate menolak. Selain udara London yang semakin dingin, Kate takut orang mengenalnya dan mengetahui keberadaannya sekarang. Bagi Kate, sementara ini ia ingin hidup bukan sebagai Kate Johnson yang penuh tekanan hidup tapi Kate yang mempunyai kebebasan. Takkan ada lagi yang membandingkannya dengan Lisa baik itu Aaron ataupun Nancy.
Kate memasuki mobil dan duduk disamping kemudi setelah Kendrick membukakan pintu lalu menutup dan bergegas duduk disampingnya.
"Kenapa? Kau kedinginan?" Baru saja Kendrick akan melajukan mobilnya, terkejut melihat Kate menggosok sambil meniupkan kedua tangannya.
Kate mengangguk dan terlihat kecewa sudah melupakan sesuatu. "Ya. Aku lupa membawa coat tadi. Kupikir udara takkan sedingin ini tapi--"
"Pakailah ini," Kendrick memberi jaket kulit setelah meraihnya dari jok belakang.
Kate menerima dan langsung mengenakan. "Terima kasih, Ken. Aku merasa hangat sekarang," ujarnya dengan senyum mengembang.
Kendrick tak membalas senyum dan ucapan terima kasih Kate. Entah kenapa melihat belahan d**a Kate yang menyembul dari midi dress motif bunga itu membuat darahnya berdesir kencang lagi. Apalagi udara London semakin dingin membangkitkan hasrat liar yang selalu ia tahan selama berdekatan dengan Kate. Tapi ia sadar, takkan pernah bisa melewati batas hubungan pertemanan mereka dan merusaknya hanya karena sebuah sentuhan, yang tentu saja lebih dari sentuhan biasa. Setidaknya sebuah kuluman hangat ingin ia rasakan walau itu tak mungkin.
"Ken?" panggilan Kate membuyarkan lamunan m***m Kendrick.
"Eh?" Kendrick terkejut dan sekaligus berteriak dalam hati. Oh tidak kau bangun di saat waktu tidak tepat ! Ia menyalahkan penisnya yang menegang hanya karena memikirkan Kate saat ini. Dan wanita itu mengerutkan dahi.
"Ada apa? Kau melamun?" Kate tertawa kecil karena ia tahu apa yang ada di pikiran Kendrick sekarang setelah tak sengaja pandangannya mengarah ke arah celana Kendrick yang terlihat sesak.
"Ya." Kendrick menyetujui ucapan Kate, ia menyalakan mobil. "Maksudku, aku tak sabar untuk segera tiba di apartemen. Aku ingin kita minum kopi lalu--"
"Melakukan ini?" Kate meraih wajah Kendrick dan mendekatkan bibir lalu menciumnya lembut.
Mata Kendrick spontan terpejam merasakan bibir hangat Kate mendarat di bibirnya sekarang. Sebuah ciuman yang sudah lama tak ia rasakan dari bibir wanita. Tapi Kate melakukannya !
Wanita itu tahu apa yang ada di pikiran kotornya sekarang dan..ia mendapatkan dari yang ia inginkan.
Sebuah ciuman.
Kendrick membuka mata dan melihat Kate tersenyum penuh makna. Tatapannya terlihat bahagia.
"Kau melakukannya, Kate." Suara Kendrick terdengar pelan diantara nafasnya yang mulai melaju cepat dengan tatapan penuh hasrat. "Dan aku menginginkannya lagi." Kali ini Kendrick memulai dan Kate membalas walau tubuhnya terdorong hingga membentur ke jendela mobil.
Mereka saling membalas dengan bibir saling menarik dan nafas yang perlahan melaju cepat.
Kendrick mulai hilang kendali. Ciumannya tak lagi mengarah pada bibir seksi Kate yang sejak lama ingin ia rasakan tapi naluri prianya menuntun bibirnya mengarah pada leher jenjang Kate hingga membuat wanita itu mengerang walau dalam keadaan tersadar.
"Hentikan, Ken.." Kate meminta pelan walau ia mendongak memberi ruang lehernya untuk Kendrick ciumi.
Udara dingin membuat Kate ingin hilang kendali dan melupakan Aaron malam ini, tapi mengingat statusnya masih bersuami, ia menahan.
Sadarlah, Ken! Kate hanya terbawa suasana dan dia kesepian. Kendrick menghentikan ciuman. Ia menempelkan dahinya di dahi Kate sambil berusaha menormalkan deru nafasnya yang perlahan melambat normal dengan kedua tangan berada di sisi leher Kate. "Maafkan aku, Kate. Aku kehilangan kendali, seharusnya aku tak--"
"Sttt.." Kate menempelkan jari telunjuk di tengah bibir Kendrick dan memundurkan wajahnya. "Ini bukan salahmu, Ken. Aku yang menginginkannya. Aku menyukaimu tapi aku--"
"Mencintai Aaron." Kendrick menebak dan Kate mengangguk. "Aku tahu itu dan tak peduli tentang perasaanmu padaku, asalkan.." Meraih kedua tangan Kate lalu menciumnya dengan tatapan memohon. "Tetaplah bersamaku. Aku menerimamu apa adanya, Kate. Walaupun kau tak mencintaiku."
Kate tersanjung sekaligus tak setuju. Menurutnya Kendrick pantas mendapatkan wanita yang lebih sempurna darinya. Jika saja ia tak menikahi Aaron, mungkin ia bisa bersama Kendrick selamanya sebagai kekasih atau suami istri. Tapi takdir tak seperti inginnya. Ia hanya berteman dan sudah merusak hubungan itu hanya karena sebuah ciuman. Bukan karena terbawa suasana tapi mencoba membuka hati, agar melupakan Aaron. Walau sulit.
"Terima kasih sudah mencintaiku, Ken." Kate memeluk Kendrick. "Tapi.." Melepaskan pelukan lalu kedua tangannya merengkuh wajah Kendrick. "Aku tak terbawa suasana, ciuman itu..aku memang menginginkannya."
Ucapan Kate terputus dan matanya terpejam merasakan kuluman Kendrick lagi. Dan itu yang terakhir.
Setelah melepaskan ciuman, Kendrick menatapnya terdiam. Seribu kali menciumi Kate takkan memuaskan hasratnya untuk memiliki Kate utuh. Cintanya tulus, setulus ia melompat dari jembatan Waterloo untuk menyelamatkan Kate dari kematian. Tapi pria yang bernama Aaron menghalangi langkah panjangnya untuk memiliki Kate. Wanita itu sudah bersuami dan mencintai suaminya.
Bukan dirinya.
❤❤❤
"Kau sudah merasa hangat sekarang?" Kendrick duduk di sofa dan mengapit erat tubuh Kate dari belakang yang hanya mengenakan sweater marun dan celana pendek. Dan tentu saja tanpa bra.
Kate memegang kedua tangan Kendrick yang melingkar di perutnya mengangguk lalu menoleh. "Ya. Karena tubuhmu hangat, Ken." Tak hanya hangat, Kate juga merasakan aroma parfum Kendrick melekat di tubuhnya sekarang.
Kate merengkuh wajah Kendrick untuk kesekian kalinya setelah mereka tiba di apartemen. Dan tentu saja berakhir dengan ciuman. Entah itu Kate atau Kendrick yang memulai.
Mereka tak berbeda dengan sepasang kekasih, hanya saja tak bisa saling memiliki. Tak ada komitmen. Saat ini mereka hanya menikmati quality time dan bahagia. Karena mereka tahu, suatu saat pasti akan berpisah.
Sepertinya perpisahan itu terlalu cepat tiba seperti kedatangan tamu tak di undang.
Suara telepon berdering dari samping mereka.
Satu deringan...dua deringan, mereka tak mengubris dan terus melanjutkan ciuman. Tapi tepat di deringan ketiga, Kate menghela nafas kecewa dan menghentikan ciuman Kendrick yang perlahan mengarah ke lehernya.
"Biar aku saja yang mengangkatnya. Aku rasa orang ini sangat membutuhkanmu," ucap Kate sambil meraih telepon yang berada di meja kecil samping sofa.
"Hallo.." Kate menyapa pelan sang penelpon dan tak lama matanya melotot mendengar suara pria dibalik telepon itu membalas sapanya dengan nada memohon.
"Siapa?" Kendrick penasaran melihat Kate hanya mematung dengan tangan menggenggam telepon sementara suara penelpon itu terus memanggil namanya.
Air mata Kate mengembang menatap Kendrick yang menanti jawaban. "Di--dia--" Kate gelagapan dan tak terasa air matanya mengalir untuk mengucap sebuah nama.
"Dia Aaron."