Lose You To Love Me

2374 Words
Aaron menggeleng tak setuju dengan ucapan Kate yang bersamaan dengan tangannya yang mendorongnya pelan. "Maaf aku harus pergi." Pamit Kate lagi sembari membalikkan tubuh lalu meraih koper dan bersiap melangkah tapi Aaron menarik tangannya lagi. "Kumohon jangan pergi, Kate. Aku membutuhkanmu." Pinta Aaron lagi dengan wajah memelas. "Tidak, Aaron." Kate menggeleng lalu menoleh menatapnya lekat. "Bukan aku yang kau butuhkan. Tapi Lisa. Dan kau…" Kate menepis tangan Aaron. "Takkan bisa mencintaiku. Takkan pernah bisa." Untuk kedua kalinya Kate menolak lalu berlari kecil menarik koper menuju pintu keberangkatan meninggalkan Aaron yang terdiam penuh dengan rasa penyesalan. Kate melangkah tanpa menoleh kebelakang melihat Aaron untuk terakhir kalinya. Ia tak sanggup melihat Aaron yang hanya akan membuat hatinya ragu dan iba. Tapi hatinya tak bisa berbohong. Ia menangis meninggalkan pria yang membuatnya jatuh cinta dan merasakan sebuah rasa untuk pertama kali. Pria yang ada di pikiran dan hatinya sekarang. Dan pria yang ia harapkan membalas cinta dan membuatnya bahagia layaknya pasangan lain, walau itu tak mungkin lagi... Aaron menghela nafas kecewa melihat tubuh Kate menghilang memasuki ruangan keberangkatan. Berkali-kali ia mengutuk dirinya sendiri dan berharap Kate memaafkan. Tapi ia sadar satu hal. Privasi. Ia memberi Kate privasi dan waktu untuk menenangkan hati dan pikirannya, karena tahu wanita itu mencintainya.  Kate jatuh cinta padanya. Seminggu kemudian Bali, Indonesia Kate menutup panggilan setelah Nancy berhasil memarahi dan mengumpat karena pergi meninggalkannya tanpa pamit. Wanita paruh baya itu berulang kali mengatakan jika Aaron terus menanyai kabar dan keadaannya. Bahkan pria itu sudah menjemput semua pakaian milik Kate yang tertinggal di rumah Nancy lalu membawanya ke apartemen. Tapi Kate tak perduli. Ia tak ingin kembali selama Lisa masih melekat di hati dan pikiran Aaron, kecuali pria itu sudah melupakan dan memulai hubungan  dari nol lagi walau status mereka masih suami istri. Seminggu Kate meninggalkan London, seminggu juga Aaron tak menghubunginya baik menelepon ataupun berkirim pesan.  Harusnya Kate bersorak gembira karena Aaron tak mengusiknya dengan sebuah kalimat 'kembalilah padaku' atau 'aku membutuhkanmu', tapi yang terjadi tidak seperti itu. Pandangan Kate tak jauh dari handphone dan tangannya bergegas setiap kali ada panggilan masuk dan pesan.  Masih mengharapkan Aaron? Tentu saja. Sikap bisa membohongi Aaron dan Nancy tapi tidak dengan hatinya sendiri. Setiap malam ia pandangi foto pernikahan mereka di selingi sebuah doa agar bahagia seperti pasangan suami istri sesungguhnya tapi harapannya tipis, selama di hati Aaron hanya ada Lisa.  Bukan dirinya. ❤❤❤ Waktu terus bergulir, tak terasa sudah tiga bulan Kate berada di Bali terpisah dari kedua orangtuanya dan Aaron. Selama tiga bulan itu juga Aaron sama sekali tak pernah menghubungi, baik melalui panggilan atau pesan. Kate paham Aaron tak mencintainya seperti yang ia lakukan pada Lisa. Tapi selama statusnya sebagai istri, ingin melihat perjuangan Aaron seperti saat di bandara. Mengejar dan memohon lagi. Sayangnya itu dulu, tidak sekarang. Yang terpikir di benak Kate saat ini hanya kekecewaan dan sejuta pertanyaan mengenai keadaan Aaron.  Setelah berhasil menjadi stalker di akun i********: yang mengfollow Aaron, sudah dua bulan ini pria tampan itu tidak memposting apapun. Ia menghilang tanpa kabar hingga suatu saat Kate mendapat pesan dari seseorang. Semacam surat kaleng, memakai akun palsu yang isinya, 'Kembalilah ke London. Aaron membutuhkanmu.' Sebuah pesan singkat tapi cukup membuat hati Kate tersentuh membaca nama Aaron disana bahkan membutuhkannya, walaupun ia sedikit meragukan jika Aaron sungguh-sungguh membutuhkannya. Beberapa hari kemudian Nancy menghubunginya dengan isak tangis seperti saat memberitahu keadaan Lisa dulu. Nancy meminta Kate untuk kembali pulang ke London karena keadaan Steve menjadi parah dan terpaksa harus di rawat di sebuah rumah sakit. Kate tak dapat menolak karena menyangkut dengan orang yang ia cintai. Sekali lagi ia harus mengambil keputusan untuk kembali ke London segera mungkin. London, Marie Hospital Langkah kaki Kate terhenti tepat didepan sebuah ruangan kamar Rumah sakit. Beberapa kerabat terdekat dari Steve berkumpul disana begitu juga dengan Aaron yang menatapnya dingin. Seperti orang asing. Aaron tak berubah, sama seperti dulu yang tampan mengenakan pakaian model apapun. Seperti hari ini yang mengenakan kaos dilapisi jaket jeans dan celana panjang senada dengan warna jaketnya. Walau sekarang terlihat lebih ramping dibandingkan 3 bulan yang lalu. Erika, adik dari Steve, yang mempunyai bentuk tubuh sedikit pendek dan gemuk darinya, menyambutnya dengan pelukan. "Akhirnya kau pulang, Kate." Ia memeluk erat Kate sambil menepuk punggungnya pelan. "Kami semua merindukanmu," ucapnya menahan tangis. Kate melepaskan pelukan. "Maafkan aku sudah pergi tanpa pamit," ucapnya pelan. Tak lama pandangan Kate tertuju pada Aaron yang berjalan mendekati pintu lalu membukanya. "Masuklah. Dia sudah menunggumu." Pinta Aaron pada Kate. Erika mengangguk setuju lalu menepuk pelan bahu Kate. "Masuklah. Beberapa hari ini Steve selalu memanggil namamu," pintanya juga. "Baiklah. Aku kedalam dulu." Kate menjawab lalu masuk kedalam ruangan bersama Aaron. Nancy bangkit dari kursi setelah mendengar suara pintu terbuka lalu menyerbu Kate dengan pelukan lalu menangis. "Anak nakal. Kau sudah mengkhawatirkan kami semua, Kate. Setiap hari ayahmu selalu menanyakanmu. Lihatlah.."Nancy melepaskan pelukan menoleh kebelakang menatap Steve terbaring lemah dengan beberapa selang dan bantuan pernafasan menempel di tubuhnya yang kurus dan pucat. "Saat ia tertidur pun selalu memanggilmu, Kate." Nancy terisak melihat Steve. Kate menangis sekaligus merasa bersalah. Tak terpikir olehnya jika keadaan Steve makin buruk setelah kepergiannya ke Bali dibandingkan kematian Lisa. Ia mengakui kedekatan bersama Steve dibandingkan Nancy yang lebih menyayangi Lisa dibandingkan dirinya. Tapi ia sama sekali tak berniat membuat Steve menjadi seperti ini, membuatnya terbaring hingga penyakit jantungnya kambuh. Kate mendekati Steve lalu duduk sambil menggenggam tangannya yang dingin. "Aku pulang, Dad. Aku merindukanmu.." Suara Kate lirih dan air matanya menetes. Kate tersentak melihat Steve membuka matanya pelan dan memanggil namanya. "Kate.." panggilnya pelan. "Dad?!" Kate menyahut mendekatkan wajah pada Steve. "Aaron..mana Aaron?" Tanya Steve, suaranya bergetar. Kate menoleh kebelakang melihat Aaron berdiri tak jauh. "Kemarilah. Dad, menanyakanmu," pintanya. Aaron mendekat dan berdiri disamping Kate.  Steve bicara lagi. "Kau..harus.."  Aaron mendekatkan telinganya, suara Steve terlalu pelan.  "Bahagiakan dia.." pinta Steve. "Kate.. anak yang baik. Aku yakin kau.." Suara Steve mengecil seakan tercekat. "Dad?!" Kate memanggilnya cemas melihat monitor detak jantung itu berbunyi kencang. Ia mengeratkan genggaman tangan Steve yang makin terasa dingin. Pandangan Steve beralih ke arah Kate. "Ba--bahagialah, Kate.." pinta Steve lagi dengan suara lemah memejamkan mata sambil mengambil nafas pelan. Kate mengangguk. "Tentu, Dad. Kami akan bahagia. Cepatlah sembuh. Kumohon..." ia membalas dengan air mata menetes.  Nancy menangis lalu memanggil namanya. Khawatir Steve tak membuka mata lagi. "Honey.." panggilnya dengan tatapan nanar. "Dad?" Kate memanggilnya dan mengusap tangan Steve yang dingin sedingin es begitu juga detak jantung Steve yang semakin cepat. Aaron berlari keluar ruangan lalu memanggil dokter yang tak lama bergegas masuk bersama dua perawat. 'Tiiit' Sebuah garis lurus berjalan di monitor itu dan mengeluarkan suara yang memekakkan telinga.  Suara tangis dan teriakan pecah dari mulut Kate dan Nancy yang spontan memanggil Steve. Terlebih lagi melihat dokter menggeleng lalu mengeluarkan sebuah kalimat. "Waktu kematian jam 9.10 pm," ucap dokter lalu dua perawat tadi mencabut semua selang atau kabel yang menempel di tubuh Steve. Kate dan Nancy berpelukan dan menangis kencang melepas kematian Steve, begitu juga Aaron yang mengusap pipinya yang basah. ❤❤❤ Kate meneguk habis wine untuk ketiga kalinya di meja kerja Steve walau dress hitam itu masih melekat di tubuhnya setelah menghadiri pemakaman Steve beberapa jam yang lalu. Berulangkali Kate memanggil Steve sembari menangis dan menyesal sudah meninggalkan ayahnya selama tiga bulan ini. Ia tak menyangka jika kepergiannya berujung harus kehilangan ayah yang sangat mencintainya.  Terlalu banyak memori saat masa kecil yang ia habiskan bersama Steve, tapi kini ia menjadi anak yatim. Steve sudah pergi meninggalkannya dan kini Kate menyisakan sebuah penyesalan seumur hidup. "Kate." Panggil Aaron masuk kedalam ruangan lalu menggeleng melihat Kate duduk bersandar dikursi Steve yang besar dan botol wine tersisa setengah. "Kau sudah minum banyak." Ia mencegah Kate menuang wine ke dalam gelas, mengambil botol itu lalu menaruhnya jauh dari jangkauan Kate. "Jangan melarangku, Aaron." Protes Kate, bangkit bermaksud mengambil botol wine tapi Aaron memeluknya. Kepala Kate mendongak dalam dekapan Aaron yang hangat. Sudah lama sekali ia tak merasakan pelukan yang penuh kedamaian itu dari tubuh Aaron, pria yang selama ini masih ia cintai. Masih tersimpan dihati walau merasa cintanya bertepuk sebelah tangan. "Mengapa kau tak pernah menghubungiku?" Tanya Kate penasaran.  "Karena kau butuh privasi." Balas Aaron lalu memandang Kate yang tersenyum lalu tertawa.  Kate mabuk.  "Ya, kau benar. Aku butuh privasi agar kau.." Kate memegang kedua pipi Aaron. "Merindukanku." Ia tertawa melihat Aaron terdiam.  "Aku memang merindukanmu." Aaron menjawab serius. Tawa Kate memudar lalu menggeleng. "Tidak. Kau bohong." Ia menolak ucapan Aaron dan tak percaya. "Kau tak pernah merindukanku ataupun mencintaiku, Aaron." Kate mendorong pelan Aaron hingga terlepas dari pelukan lalu bicara lagi. "Di pikiranmu hanya Lisa. Bukan aku. Jadi..berhenti kau mengatakan merindukanku. Karena aku.." Tubuh Kate sempoyongan dan dengan cepat Aaron menangkap lalu memeluknya lagi. "Aku sungguh-sungguh, Kate." Ucap Aaron melihat Kate tak sadarkan diri. Ia menggeleng dan mengeluh. "Kau peminum payah, Kate," keluhnya lalu menggendong Kate ala bride style dan membawanya ke kamar. Aaron menjatuhkan tubuh Kate di atas ranjang. Memandang wajahnya sambil tersenyum di bibir ranjang. Satu jam lamanya ia melakukan hal yang sama. Memandang Kate yang tertidur. ❤❤❤ Kate membuka mata pelan dan terheran melihat Aaron duduk disamping ranjang, terlebih lagi mereka beradu pandang. Aaron menyelipkan rambut Kate kebelakang telinga. "Kenapa?" Ia tersenyum lembut melihat Kate terdiam dengan air mata yang mengembang di sudut matanya. "Aku merindukanmu." Suara Kate bergetar dan air matanya menetes memandang Aaron dengan sejuta harap. Ia tak sedang mabuk sekarang tapi kalimat itu gambaran perasaan yang ia rasakan selama 3 bulan tanpa Aaron. Aaron tertawa kecil. "Aku tahu itu, Kate. Aku--" Ucapannya terhenti dan kedua matanya terpejam seperti menahan sakit. Kate menggenggam Aaron lalu bangkit dan duduk. "Kau baik-baik saja?" tanyanya cemas melihat wajah Aaron memucat. Aaron mengangguk. "Ya. Aku keluar dulu sebentar," pamitnya lalu bangkit dan bergegas meninggalkan Kate yang penasaran. "Aaron." Panggil Kate, terheran melihat Aaron keluar dari kamar dengan tergesa-gesa. Aaron menutup pintu lalu sebelah tangan bersandar di dinding dan tangan lainnya memegang punggung dengan wajah tertunduk yang dibasahi bulir-bulir keringat. "Kumohon.. kumohon jangan sekarang.."  ❤❤❤ Setengah jam Kate menanti, Aaron tak kunjung datang. Pikirannya bercabang dan menjadi menduga-duga hal yang tidak-tidak. "Apa dia marah karena aku mengatakan aku merindukannya? Atau dia--" Kate menoleh ke arah pintu yang terbuka dan melihat Nancy masuk dengan wajah sendu. Kedua matanya bengkak, tak ada riasan di wajah cantiknya walau usianya sudah memasuki 50 tahun yang biasa ia lakukan.  "Dimana Aaron, Mom? Apa dia sudah pulang?" tanyanya pada Nancy yang mendekat lalu berdiri di samping ranjang. Nancy mengangguk. "Ya," jawabnya menatap Kate tajam. Kate tersenyum kecut melihat Nancy melihatnya seperti seorang jaksa yang menatapnya penuh dengan dakwaan, bersiap memberinya tuntutan. "Berhentilah kau bersikap seperti anak kecil, Kate." Ucap Nancy yang seketika membuat dahi Kate mengerut. "Apa maksudmu, Mom?" Kate menggeleng. "Aku tak mengerti."  Nancy masih menatapnya tajam. "Kau selalu melarikan diri dari masalah tanpa memikirkan orang yang ada disekitarmu." Tuduh Nancy. "Mom!" Kate tak terima. Ia bangkit lalu berdiri didepan Nancy yang menyilangkan tangan di depan d**a. "Apa kau menyalahkan kematian Dad karena aku? Apa itu maksudmu?!" Tebak Kate kesal. Nancy menghela nafas kesal. "Selama kau pergi, ayahmu selalu menanyakanmu padaku. Ia juga kesal kau sudah meninggalkan Aaron dan kami. Kau tidak pernah dewasa, Kate. Tidak seperti Lisa yang.." "Stop!" Kate mengembangkan kesepuluh jari di depan d**a. "Aku tak ingin kau membandingkan aku dengan Lisa, Mom. Kami berbeda. Dan aku tak suka kau membandingkan kami." Pinta Kate kesal yang lagi-lagi dibandingkan dengan Lisa seperti yang Aaron lakukan. "Ok, aku takkan membandingkanmu dengan Lisa tapi sampai kapan kau menjadi pecundang yang melarikan diri dari masalahmu? Pergi meninggalkan Aaron tapi tak memikirkan ayahmu yang selalu membanggakanmu setiap hari. Kau--" Air mata Nancy menetes dan suaranya bergetar. "Hanya memikirkan dirimu sendiri, Kate." Air mata Kate menetes mendengar ucapan Nancy yang membuat hatinya teriris. Ia menunjuk dadanya sendiri. "Aku pergi karena Aaron tak pernah mencintaiku, Mom. Dan dia sama sepertimu yang selalu membandingkanku dengan Lisa. Aku.." Ia menggeleng dan air matanya  menetes. "Tak ada alasan untuk bersama dengan orang yang tak bisa mencintaiku dan selalu membandingkan dengan Lisa. Sepertimu, Mom!" Kate beranjak meninggalkan Nancy yang menangis sambil berlari keluar kamar. Ia mengusap pipinya yang basah sambil bergumam. "Tak ada orang yang mencintaimu, Kate. Mereka mencintai Lisa! Aaron dan Mom mencintai Lisa.." Kate keluar dari rumah sambil berlari kecil dengan air mata yang terus menetes. Ia menuju trotoar lalu menghentikan taksi yang melintas. Kate meminta pada supir untuk mengantarnya pada sebuah tempat dan memastikan sesuatu. ❤❤❤ Kate menekan enam digit kombinasi dan tak lama pintu apartemen itu terbuka. Ia melihat Aaron berdiri di balkon menghadap kedepan dan tak mengetahui kedatangannya. Aaron menempelkan handphone di telinga sambil memandangi pemandangan senja dengan udara dingin menyelimuti London. Ia sedang melakukan panggilan bersama temannya yang tak Kate ketahui. "Aku memang merindukan dia tapi Lisa masih melekat di hatiku. Dia memang berbeda dan takkan bisa hilang dari hatiku, Josh." Aaron membalikkan tubuh. "Aku--" Ia terkejut melihat Kate sudah berdiri di belakangnya dengan tangan terkepal dan menangis. Aaron mematikan panggilan dan menaruh handphone di saku. Ia mendekati Kate tapi wanita itu mundur perlahan. "Sejak kapan kau datang, Kate? Mengapa kau tak memberitahuku jika kau datang?" Ia meraih tangan Kate tapi Kate menepisnya. "Lisa memang berbeda, Aaron. Dia cantik, pintar dan sempurna tidak sepertiku. Aku.." Kate mengusap air matanya.  "Kau salah paham, Kate." Ucap Aaron. Kate menggeleng. "Tidak, Aaron. Kalian memang mencintai Lisa dan takkan pernah bisa mencintaiku. Bahkan ibuku yang sudah melahirkanku pun hanya memenangi Lisa. Apa aku sehina itu, Aaron? Apa kalian tak bisa mencintaiku sebagai Kate?" "Kate, dengarkan aku dulu," pinta Aaron meraih tangannya lagi tapi hal yang sama Kate lakukan. "Tidak!" Kate menggeleng. "Sebaiknya aku menghilang selamanya dari kalian.." Kate terisak. "Selamat tinggal, Aaron.." Kate berbalik lalu berlari menuju pintu. "Kate!" Aaron memanggil tapi handphonenya berdering. Josh menelponnya lagi. "Maaf, Josh. Aku ada urusan yang perlu aku--" "Ini gawat, Aaron." potong Josh cepat. "Kau harus segera menemui dr. Mark. Kumohon ini demi kebaikanmu." Pinta Josh memohon. Pandangan Aaron tertuju pada pintu apartemennya yang baru saja tertutup. Kate sudah menghilang dari pandangannya. Aaron menghela nafas berat lalu mengangguk. "Baiklah." ❤❤❤ Rambut panjang Kate berkibar sementara sesekali pandangannya ke bawah, memandangi air sungai Thames yang tenang dari jembatan Waterloo, tempat ia berdiri sekarang. Tempat yang tepat untuk menghilangkan semua beban hidupnya dan pergi meninggalkan orang yang ia cintai dengan satu cara. Bunuh diri. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD