Lampu merah pada panel brankas itu terus berkedip, disusul dengan dengung deteksi ilegal—sebuah suara yang mengonfirmasi kegagalannya secara biologis.
“Ampun!” Rose berlutut panik. “Jangan hukum saya!”, “Saya mohon, beri kesempatan! Saya tidak akan mengulanginya lagi.”
Rose mencengkeram pakaian sosok itu dengan gemetar. Lalu mendongak menatap wajah sosok di hadapannya. Namun, kepanikannya mendadak berubah menjadi kemarahan yang meluap.
“Noa!”
Rose melepaskan ujung pakaian Noa yang sempat ia cengkeram. Ia berdiri, merapikan jubah tidurnya dengan tangan yang masih sedikit bergetar. Rose menarik napas dalam, membusungkan dadanya, dan memasang kembali topeng keangkuhan yang menjadi kekuatannya selama beberapa tahun terakhir.
“Kau pikir sepotong video dan bunyi alarm ini cukup untuk menjatuhkanku?” Rose terkekeh sengau. “Kau hanya perawat rendahan, Noa. Kau tidak punya wewenang, tidak punya nama, dan tidak punya sejarah di rumah ini. Kau pikir Ibu mertuaku benar-benar mempercayaimu? Kau hanyalah alat baginya untuk memancingku. Dan aku tidak akan membiarkan sampah sepertimu mencuci otak keluargaku lebih jauh.”
Noa tetap diam. Ia hanya memutar ponselnya di tangan, menunjukkan layar yang masih merekam wajah Rose dalam resolusi tinggi. Seringai dingin masih tersembunyi di balik masker hitam Noa.
“Nyonya St. John tidak suka pencuri,” bisik Noa. “Terutama pencuri yang mencoba mengambil apa yang bukan haknya di tengah malam.”
“Hak?” Rose melangkah maju, memangkas jarak hingga napasnya yang memburu terasa di hadapan Noa. “Aku adalah Rose St. John. Segala sesuatu di rumah ini adalah milikku. Termasuk isi brankas itu. Jika aku ingin membukanya sekarang, itu adalah urusanku sebagai pemilik rumah, bukan urusan asisten medis sepertimu!”
Tiba-tiba, derap ganda langkah kaki lain terdengar dari arah koridor. Pintu paviliun didorong terbuka lebar oleh dua petugas keamanan berseragam gelap, disusul oleh Jace yang masuk dengan wajah tanpa ekspresi.
Terakhir, Eleanor muncul. Ia tidak lagi menggunakan tongkatnya sesering sebelumnya, langkahnya begitu mantap dan penuh aura penghakiman.
“Eleanor? Jace?” Wajah Rose berubah drastis menjadi sosok korban yang ketakutan. Ia berlari kecil ke arah Jace, mencoba meraih lengannya. “Syukurlah kalian datang! Perawat ini... dia mencoba membobol brankas Ibu! Aku mendengarnya masuk secara sembunyi-sembunyi dan aku mencoba menghentikannya, tapi dia justru mengancamku dengan alat perekam ini!”
Jace tidak menepis tangan Rose, tapi ia juga tidak merangkulnya. Ia menatap panel brankas yang masih berkedip merah, lalu beralih ke arah Noa yang berdiri tenang di sudut ruangan.
“Noa, apa yang terjadi?” tanya Jace dingin.
“Saya menerima notifikasi upaya akses ilegal di ponsel saya, Tuan Jace. Sebagai perawat yang diberi kepercayaan oleh Nyonya Besar untuk menjaga area ini, saya segera datang untuk memeriksa,” jawab Noa. Ia menyerahkan ponselnya kepada Eleanor tanpa ragu.
Eleanor mengambil ponsel itu, melihat rekaman video yang durasinya hanya beberapa menit. Ia tidak bicara. Ia hanya menatap layar itu dengan tatapannya yang dingin, lalu beralih menatap menantunya.
“Kau bilang kau mencoba menghentikannya, Rose?” tanya Eleanor dengan nada yang menguliti.
“Iya, Ibu. Dia sangat nekat. Aku khawatir dia mencari dokumen wasiat yang Ibu sebutkan tadi malam,” Rose berbicara dengan sangat meyakinkan, matanya berkaca-kaca seolah-olah ia benar-benar peduli pada keselamatan aset Eleanor.
Eleanor memberikan ponsel itu kepada salah satu detektif berpakaian trench coat yang berdiri di belakangnya. “Ambil data log dari mesin pemindai itu sekarang. Aku ingin tahu sidik jari siapa yang terakhir kali menyentuh kaca itu. Dan periksa apakah ada residu silikon atau cairan kimia di permukaannya.”
Wajah Rose membeku. Ia lupa bahwa teknologi tidak hanya merekam gambar, tapi juga meninggalkan jejak fisik. Ia melirik tangannya yang tadi ia lumuri silikon tipis. Namun, sebelum ia sempat bereaksi, Jace sudah lebih dulu memegang tangannya.
Jace tidak menatap luka iris di jari Rose dengan rasa iba. Ia justru memutar tangan istrinya, memperlihatkan sisa-sisa lapisan transparan yang mulai mengelupas akibat gesekan tadi. Jace menatap Rose dengan tatapan yang sangat dalam—tatapan yang mengatakan bahwa ia tahu Rose sedang berbohong, namun ia sedang memutuskan apakah kebohongan itu masih berguna baginya.
“Istriku sangat rajin menjaga keamanan rumah ini, bukan begitu, Ibu?” Jace bicara tiba-tiba.
Eleanor menoleh ke arah anaknya. “Rajin atau terlalu terobsesi, Jace?”
“Apapun itu,” Jace menarik tangan Rose dan membawanya menjauh dari brankas. “Kejadian malam ini cukup melelahkan. Biarkan detektif yang bekerja. Rose, ikut aku kembali ke kamar. Kau butuh istirahat agar tidak melakukan hal konyol lagi besok pagi.”
Rose merasa jantungnya hampir meledak karena lega, namun ia juga merasa ngeri. Jace baru saja memberinya perlindungan di depan Eleanor, namun perlindungan itu terasa seperti utang nyawa yang sangat besar. Ia melirik Noa untuk terakhir kalinya sebelum keluar dari paviliun. Noa masih berdiri di sana, membisu, namun tatapannya seolah sedang mencatat setiap langkah pelarian Rose.
“Dan Noa,” Eleanor memanggil saat pintu hampir ditutup. “Ganti kode aksesnya malam ini. Mulai besok, siapa pun yang mendekati area paviliun ini tanpa izin tertulis dariku, anggap mereka sebagai penyusup yang harus segera diserahkan ke polisi. Termasuk penghuni rumah ini.”
Di dalam kamar utama, Jace melepaskan tangan Rose dengan sentakan kasar begitu pintu tertutup. Ia berjalan menuju balkon, menyalakan sebatang rokok, dan menatap kegelapan taman.
“Kau bodoh, Rose!” ucap Jace dingin. Sangat berbeda dengan pembelaannya di paviliun tadi. “Kau hampir merusak segalanya demi amplop merah yang bahkan belum tentu isinya seperti yang kau bayangkan.”
“Aku takut, Jace! Ibu lebih mempercayai perawat itu daripada aku!” Rose mendekat, mencoba merengkuh pinggang Jace dari belakang.
Jace tidak berbalik. “Eleanor tidak mempercayainya. Ibu hanya sedang bermain dengan kita. Dan kau baru saja masuk ke dalam jebakannya dengan sangat mudah. Jika sekali lagi kau melakukan tindakan nekat tanpa seizinku, aku tidak akan menjamin Eleanor tetap membiarkanmu memakai nama St. John di depan publik.”
Rose terdiam, ia menyadari bahwa Jace sedang memegang kendali penuh atas hidupnya. Ia adalah boneka yang talinya ditarik oleh Jace dan dipantau oleh Eleanor. Namun, ia tidak akan menyerah karena ia masih memiliki kartu as yang Sloan simpan.
Keesokan paginya.
Rose sudah rapi dengan gaun sutra berwarna merah menyala, warna yang ia pilih untuk menegaskan keberadaannya yang masih berkuasa.
Ia menuruni tangga, melihat para pelayan sedang sibuk membersihkan ruangan demi ruangan. Tatapannya segera terkunci pada sosok Noa yang sedang membantu Eleanor menata bunga di meja sudut.
Rose mempercepat langkahnya. Suara ketukan sepatu hak tingginya sengaja ia buat lebih keras, menuntut perhatian semua orang di ruangan itu. Ia harus melakukan ini. Ia harus menunjukkan bahwa insiden semalam di paviliun tidak mengubah statusnya sebagai Nyonya besar.
“Noa!” teriak Rose. Suaranya melengking, memotong keheningan pagi dengan kasar.
Noa berhenti menata bunga. Ia memutar tubuhnya perlahan dan membungkuk singkat, tetap mempertahankan ketenangannya yang dingin. Eleanor tidak menoleh, ia terus memotong batang bunga lili dengan gunting peraknya seolah-olah menantu perempuannya itu hanyalah angin lalu.
“Iya, Nyonya?”
“Ambilkan tasku di meja makan sekarang! Dan bersihkan cermin di kamar riasku lagi. Aku menemukan setitik debu di sana pagi ini. Apa agensimu tidak mengajarimu cara bekerja yang benar?” Rose berdiri tepat di depan Noa, melipat tangannya di d**a dengan angkuh.
Beberapa pelayan lain mencuri pandang, mereka merasakan ketegangan yang tidak wajar. Rose sengaja membesarkan suaranya agar seluruh staf mendengar bahwa perawat kesayangan Eleanor tetaplah seorang pelayan di bawah kakinya.
“Saya akan segera melakukannya, Nyonya,” Noa menundukkan kepala sedalam mungkin.
“Jangan hanya bicara! Bergeraklah!” Rose menyentak bahu Noa saat ia berjalan melewati perawat itu.
Noa terhuyung sedikit, namun tangannya di balik saku seragamnya justru sedang menekan tombol kirim di ponsel rahasianya. Ia baru saja mengirimkan rekaman suara histeris Rose di paviliun semalam kepada Sloan. Ia tahu Sloan, yang kini sedang terpojok, akan menggunakan rekaman itu sebagai alat pemeras baru terhadap Rose.
Satu jam kemudian, Jace keluar dari ruang kerjanya. Ia melihat Rose sedang memberikan instruksi kasar pada koki dapur. Jace tidak menegurnya. Ia justru mendekati Rose dan melingkarkan lengannya di pinggang wanita itu dengan mesra.
“Kau terlihat sangat bersemangat pagi ini, Sayang,” ucap Jace. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil. Di dalamnya terdapat sebuah kalung berlian bermata safir biru yang berkilau tajam.
“Jace... untukku?” Rose terkesiap, matanya berbinar penuh kemenangan. Ia melirik ke arah Noa yang sedang menyapu lantai di kejauhan.
“Tentu saja,” Jace memasangkan kalung itu di leher Rose.
Jace membisikkan sesuatu tepat di telinga Rose dengan nada yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. “Aku suka caramu berbohong semalam, Rose. Sangat meyakinkan di depan detektif. Tapi ingat, audit tetap berjalan minggu depan, dan aku butuh seseorang untuk disalahkan jika angka-angkanya tidak cocok. Jangan buat aku kecewa.”
Senyum Rose membeku. Kalung ini bukan tanda cinta, melainkan rantai pengikat. Jace baru saja menegaskan bahwa Rose adalah kambing hitam cadangannya jika skandal finansial mereka terbongkar.
Sementara itu, di gerbang belakang mansion yang biasanya digunakan untuk pengiriman logistik, seorang pria asing dengan jaket kulit kusam dan wajah yang kasar sedang berdebat dengan penjaga keamanan. Pria itu memegang sebuah foto lama yang sudah menguning—foto seorang wanita dengan wajah yang sangat berbeda sebelum sentuhan pisau bedah.
Noa, yang sedang membuang sampah bunga di area taman belakang, berhenti melangkah saat mendengar suara pria itu.
“Aku mencari Noa Valerius,” ucap pria itu. “Beri tahu Nyonya di dalam sana, kakaknya datang untuk menagih hutang nyawa yang ia tinggalkan di desa sepuluh tahun lalu.”
Penjaga gerbang mencoba mengusirnya, namun pria itu menunjukkan tato kecil di lengannya yang identik dengan tanda lahir yang pernah Noa lihat di punggung Rose saat membantunya berganti pakaian tempo hari.
Noa berdiri di balik semak-semak, jantungnya berdegup kencang. Ia baru saja menemukan variabel yang tidak pernah ada dalam rencana siapa pun.
Noa segera merogoh ponselnya dan memotret wajah pria asing itu secara diam-diam. Saat ia berbalik untuk kembali ke dalam, ia dikejutkan oleh kehadiran Jace yang ternyata sudah berdiri di belakangnya sejak tadi.
Jace menatap ke arah gerbang, lalu menatap Noa dengan tatapan yang sangat tajam, seolah-olah ia juga mengenali pria itu.
“Jangan pernah berpikir untuk memberikan informasi ini pada Eleanor, Noa,” bisik Jace sambil merampas ponsel Noa dengan gerakan kilat. “Atau kau akan tahu kenapa Rose yang dulu lebih memilih mati di dalam api daripada hidup bersamaku.”