Di dalam kamar setelah menempelkan plester di jarinya. Sinta duduk di atas kasur sambil memandangi jarinya. Kenapa dia jadi kepikiran Raka? Lalu kenapa Raka bicara seperti itu tadi siang???
Sinta ingin mandi, badanya lengket karena memang belum sempat mandi tadi sore. Sinta menyingkap kaos rumah bergambar Teddy bear ke atas. Membuka baju berwarna pastel. Menyisakan Bra warna pink dan celana pendek di atas lutut. Baru saja dia hendak mengambil handuk. Tiba tiba saja...
Braaakkk, suara pintu di buka kasar. Raka menyelonong masuk tanpa permisi. Membuka pintu masuk, dan mendobrak pintu kamar tanpa permisi.
Sinta dan Raka saling pandang, lama. Sampai akhirnya Sinta berteriak dan melempar botol parfum dari kaca. Mengenai dahi tuan mudanya itu.
"Ahhhhhh brengs*k ngapin lu masuk?" jerit Sinta. Mukanya merah karena malu dan marah.
"Aduh, " jerit Raka kesakitan. Raka membalikan tumbuhnya dengan cepat. Sambil meringgis karena dahinya terluka oleh botol parfum yg di lempar Sinta.
"Ma maaf aku panik, karna kata bi Iyem kamu teluka" kata Raka membelakangi Sinta.
Sinta memakai handuk kimononya dengan cepat, menutupi bagian tubuh atasnya yg terbuka.
"Lu kan bisa ketok pintu dulu," sunggut Sinta.
"Aku kan sudah bilang, aku panik! Mana sempat aku berfikir sedang apa kamu dalam kamar" kata Raka.
"Siapa suru kamu panik, memang aku ini siapa mu" Sinta Sewot.
Raka berbalik menatap Sinta. Berjalan mendekat ke arah Sinta. "Lain kali jangan buat panik lagi," . "Aku pikir kamu ini kenapa napa tau" .
Sinta melihat Raka. Dan dahi Raka berdarah, Sinta sadar itu ulahnya.
"Haah kamu kok berdarah?" tanya Sinta.
"Ulahmu kan? " kata Raka tersenyum kecut.
"Sini aku obati," ucap Sinta merasa bersalah.
Raka lalu duduk di kasur Sinta. Sinta kembali mengeluarkan kotak P3K dari laci meja di samping kasurnya. Sinta mengeluarkan kapas dan alkohol. Membasuh luka Raka.
"Tahan ya ini pasti perih," ucap Sinta membersihkan luka Raka.
"Awww.... aaww aahhh, Sakit b**o" jerit Raka.
"Apaan siiih ini pelan pelan bawel," gerutu Sinta.
Dengan telaten Sinta mengobati Raka. Di perhatikan oleh Sinta, Raka bahagia. Iya karena memang itu impian Raka. Supaya gadis pujaan hatinya tidak sibuk menatap masra kakaknya.
"Katanya kamu luka?" tanya Raka.
Sinta memasang plestes kecil di atas alis Raka sebelah kiri. Dia menunjukan jari telunjuknya yg sudah di plester cokelat. "Kena pisau doank"
Raka meraih tangannya, dan berkata "Sakit gak"
"Gak papa udah di obatin juga" jawab Sinta
"Syukur deeh," kata Raka lega.
"Jadi? Sebenernya lu mau ngapain ke sini?" tanya Sinta serius
"Hanya ingin melihatmu" kata Raka serius sambil menatap Sinta.
Sinta melipat tangannya di depan d**a. "Dasar aneeh, biasa juga rese sejak kapan lu sok romantis anak setan???" sindir Sinta. Meniru logat tuan Andi ketika memarahi Raka.
Raka diam. Hanya terdiam memandang Sinta. Sinta yang terus di pandang oleh Raka jadi merasa bersalah. "Sorry bercanda". Tiba tiba saja Raka memegang tangan Sinta. Dia menuntun tangan Sinta dan di letakannya di dadanya.
Jantung Raka berdetak sangat kencang. Sinta merasa aneh. "Kamu tau kenapa jadi begin?" tanya Raka. Lebih aneh lagi karena Raka bicara formal padanya. Biasanya juga loe gue.
Sinta masih diam, dan melonggo binggung.
"Kamu pasti akan aku jadikan istriku," kata Raka. "Kamu harus jadi istriku" "Aku tau kamu mencintai ka Rama, tapi aku tidak akan mengalah begitu saja". "Selama ini aku sudah mengalah untuk semua hal, tp untuk cinta aku gak akan pernah mau kalah".
Sinta menarik tangannya dari d**a Raka. "Dasar bocah gemblung, kamu kerasukan setan apa siih" ucap Sinta.
"Aku tau kamu selalu diam diam perhatiin ka Rama".
"Perhatian bukan berati cinta Raka"
"Kalo begitu apa namanya? Menyiapkan makan untuk dia, air mandi, baju ganti, semua kamu lakukan untuk dia"
"Raka kamu lupa aku ini pembantu, aku di bayar untuk itu semua" jelas Sinta.
"Tapi ibumu dan bi Iyem bisa melakukannya kan?"
"Aku hanya membantu"
"Mulai sekarang aku larang kamu membantu"
"Ta... tapi kenap"
"Aku tidak suka melihat kamu dekat dekat kakakku"
"Raka cemburu" ledek ibu Sarah. Suara bu Sarah membuat Sinta dan Raka bangkit dari duduknya.
"Mamah"
"Nyonya..." kata Sinta menunduk menatap lantai.
"Kok mamah ada di sini? Ngapain" tanya Raka.
"Kamu yg ngapain berduaan di kamar cewek, di tungguin suruh makan juga " kat Sarah sambil menjewer kuping putranya.
"Aduuuhhh duuh aw aw aw, ampun mah sakit sakit " jerit Raka.
"Disuruh makan malah ngapelin anak orang, " ledek Sarah pada Raka dan Sinta.
"Ta...pi mah, Raka gak ngapa ngapain kok, ini juga udah mau balik"
"Banyak ya alesan, Sinta sayang, kamu kunci pintu ya soalnya tante takut, anak tante yg nakal ini pasti nanti nylonong masuk kamar kamu lagi. Sarah memang memanggil dirinya tante pada Sinta. Tapi Sinta memanggilnya dengan sebutan Nyonya mengikuti sang bunda.
Sarah melepaskan tangannya dari kuping Raka, setelah mereka keluar dari pavilliun.
"Sinta, kalo Raka nakal, kamu bilang aja ke saya ya, saya akan pukul dia sampe bonyok" kata Sarah.
"Nakal apa sih mah? Aku kan cuma mo liat Sinta aja, mo pastiin kalo dia gak kenapa napa" kata Raka.
"Ahhhh diem kamu, mama gak percaya" kata Sarah.
"Iii...iya nyonya" kata Sinta.
Sarah menarik tangan Raka. Mengajak Raka kembali ke meja makan untuk bergabung bersama Ayah dan Kakanya makan malam bersama.
Sinta memang selalu bersikap manis pada siapapun. Apalagi pada Raka, anak bungsunya. Baginya menebar Cinta dan senyum membuat dia lebih bahagia dan awet muda tentunya.
Keesokan Harinya...
Hari ini hari Minggu, Tuan Andi dan Nyonya Sarah pergi ke pesta pernikahan putri sahabatnya. Raka pergi bersama teman temannya bermain basket. Sementar Ibu Yani dan Bi Iyem sedang mencuci gorden dan sprei di belakang. Sinta bertugas membersihkan kamar.
Rama masih berkutat dengan buku di meja belajarnya. Meskipun aktif di dunia olahraga Rama tak pernah sekalipun meninggalkan tugas tugasnya di sekolah. Tidak seperti Raka yg suka sekali bolos untuk main basket. Dan sasaran Raka menyontek tugas sudah pasti di Sinta.
Ketika Raka sedang asyik menulis di buku, ada seseorang yg mengetuk pintu kamarnya.
Tok tok tok...
Rama berhenti menulis dan berdiri meraih kenop pintu. Membukanya
Rama melihat Sinta dengan sapu, pengki dan Alat penyedot debu.
"Maaf ka, saya mau bebersih kamar" ucap Sinta malu malu sambil tersenyum.
"Hmmm, tumben Sinta yg bersih bersih, yg lain emang kemana Sin?" tanya Rama.
"Ibu sama bibi ada di belakang lagi cuci gorden ka"
"Ohh... iya udah masuk Sin"
Rama mempersilakan Sinta masuk. Kemudian kembali menutup pintu. Dia duduk kembali di depan meja belajarnya. Berkutat dengan buku dan komputernya.
Sinta langsung menyapu lantai, membersihkannya dengan penyedot debu serta melepas sprei dan mengantinya dengan yang baru. Tanpa di sadari sudut mata Rama meliriknya terus. Sinta selesai dengan pekerjaannya.
"Maaf ka, Sinta udah beres, kira kira ada gak yg harus sinta lakuin lagi?" tanya Sinta pada Rama.
"Hmmmm, apa ya Sin?" tanya Rama mengamati pekerjaan Sinta.
"Keren ihhh kerjaan kamu rapi, cepet banget lagi" puji Rama.
"Makasih ka," jawab Sinta.
"Oh iya Sin, bisa tolong buatin aku jus sama camilan, buat temen main komputer" pinta Rama.
"Jus? Kaka mau jus apa?"
"Seadanya di kulkas aja Sin, aku gak mau kamu repot" kata Rama.
Sinta menurut dan keluar dari kama Rama menuju dapur. Sinta bahagia sekali, melihat tuan mudanya yg baik dan ramah memuji pekerjaannya. Dia menghayal andai Rama jd kekasihnya, seperti kisah pewayangan jawa, Ramayana dan Dewi Sinta. Nabun sayang Sinta hanya anak pembantu.
Dia lalu menunduk kecewa. Kenapa takdir begitu jahat padanya.
Bersambung...