Bab 10. Nyaman?

1286 Words
Entah apa yang sudah terjadi semalam. Adena benar benar pusing memikirkan hal yang tak sanggup ia cerna. Seperti, apakah Kenzo adalah orang yang semalam mengelus pipi serta kepalanya? Dan ... Kenapa Kenzo tiba tiba saja berbicara begitu pada Bunda? Yah, pokonya mengenai dua hal itu saja sudah sangat membuat Adena kelimpungan. Dan yang lebih parahnya lagi ... saat ini Adena bahkan sedang berada dalam satu mobil yang sama dengan Kenzo. Loh kenapa bisa? Jadi, begini ceritanya ... Tadi pagi ketika Bunda mengatakan mau tidur bareng calon istrinya, Adena sempat nge-freez. Namun hal itu tak berlangsung lama, karena ternyata selama Adena memaku itu, Kenzo sudah bangun dari tidurnya dan berdiri tegap tepat di belakang tubuh Adena. "Kamu ada kuliah 'kan hari ini? Bareng aja!" ucap Kenzo tanpa aba aba. Bunda yang mendengar penuturan kata alias ajakan tak langsung yang keluar dari mulut anaknya itu pun hanya bisa mengulum senyum. Sweet sekali. Akan tetapi, berbeda dengan Adena .. Ketika Adena mendengar celotehan amazing itu, tentu saja Adena langsung memutar kepalanya ke belakang dan dengan sangat terpaksa ia juga harus sedikit menengadahkan wajahnya meski dalam posisi yang masih sama. Ia penasaran dan ingin memastikan apakah yang barusan berbicara itu benar benar Kenzo, atau hanya roh halus yang menjelma sebagai Kenzo. Perawakan Kenzo memang sangat tinggi, 180 senti meter. Sementara Adena sendiri, ia memiliki postur tubuh yang mungil, yaitu 165 senti meter. Sangat jomplang, 'bukan? Karena itulah, Adena harus menguras tenaganya yang tersisa untuk melihat kebenaran itu. Mata Adena tak berkedip saat itu. Mulutnya bahkan mengatup sangat rapat, bahkan mungkin udara saja tak bisa menembus pertahanan itu. Lalu, yang tadinya hanya kepalanya saja yang berputar menengok ke belakang, kini mulai di ikuti oleh tubuhnya sedikit demi sedikit. Dan saat Adena berhasil membuat tubuhnya jadi mengahadap Kenzo sepenuhnya, ia mulai menyentuh lengan Kenzo dengan jari telunjuknya. Tak banyak, awalnya. Akan tetapi, karena dirinya tak merasakan kepuasan akan hal itu, Adena kini mulai berani mencubit lengan Kenzo. Pertamanya juga itu hanyalah sebuah cubitan ringan yang tak seberapa. Namun, lama lama ... Adena mulai mencubit lengan kekar itu dengan keras. Hingga ... "Aaarrrgh ... SAKIT!!" teriak Kenzo yang reflek langsung menyentil kening Adena. Dan akibat perbuatan Kenzo itu, Adena yang nyawa dan rohnya masih tertinggal di sofa, tentu saja langsung terhuyung ke belakang sampai menabrak Bunda. Lalu apakah Adena berteriak? Tidak. Adena malah hanya mengedipkan kedua matanya, lalu kembali menatap Kenzo dengan sangat kebingungan. "Ish kamu ini, Ken ...!" gerutu Bunda, yang memeluk kedua bahu Adena dari belakang. "Gimana kalo Adena terluka?" cerocos Bunda yang panik. Namun orang yang dicemaskan malah hanya menatap Bunda dengan tatapan kosong, lalu kembali beralih menatap Kenzo bergantian. "T-tante, ini beneran Pak Kenzo, apa ... makhluk goib sih?" celetuk Adena, menunjuk ke arah Kenzo dengan jari telunjuk yang sedikit lemas dan tertunduk ke bawah. Tentu saja, mau itu Bunda atau Kenzo yang tadinya sedang adu argumen pasal dirinya pun, langsung menatap Adena serempak. "M-makhluk apa?" ulang Kenzo, mengernyitkan dahinya. "Go-ib!" jawab Adena datar. Dan saat Kenzo sudah membuka mulutnya bersiap untuk mencak mencak, tiba tiba saja gelak tawa pun terdengar dari arah Bunda yang saat itu masih berada di posisi awal, yaitu belakang tubuh Adena. Sontak saja, Kenzo yang saat itu sudah akan mengeluarkan lava panasnya dari ubun ubun karena mendengar penuturan kata Adena, kini mulai kebingungan melihat sikap Bunda-nya itu. "Kenapa, Bun?" tanya Kenzo, penasaran. Ia bahkan harus sampai mengusap kasar tengkuknya karena tiba tiba saja bulu tengkuknya itu berdiri. Ngeri ketika mendengar tawa Bunda yang melengking bak Mbak Kun-Kun. Ditanya begitu, Bunda yang masih tak bisa menuntaskan tawanya pun hanya bisa menggelengkan kepala. "Aduh, pagi pagi begini ko Bunda malah udah dibikin ngakak sama tingkah kalian berdua sih?" ucap Bunda yang masih tergelak hebat. Tak sampai situ saja, beberapa kali bahkan Bunda terlihat mengusap ujung matanya yang berair akibat tawa yang tak bertepi itu. Entah itu adalah tawa bahagia atau tawa ledekan, yang jelas ... tawa itu membuat Kenzo menekuk wajah bantalnya. Bibirnya manyun, dan pipinya sedikit mengembung. Lucu sekali rasanya. Sungguh pemandangan yang sangat langka dan berharga sekaligus aneh. Akan tetapi, satu yang Adena akui dari sosok Kenzo. Yaitu, meski Kenzo berhati dingin di kampus, berwajah datar saat berinteraksi dengan semua orang, dan sangat kasar ketika berbicara dengannya, Adena masih tak percaya bahwa ia akan melihat Kenzo dengan wajah bantalnya. Dan ... jujurli, wajah bantal milik Kenzo saat ini sangatlah ganteng pari purna. 'Demi apa, gw bisa lihat wajah ganteng ini dari jarak yang sangat dekat?' batin Adena, ia pun menggelengkan kepalanya lalu menunduk dengan cepat. 'Semua orang di kampus pasti ga akan pernah percaya!' ucap Adena lagi, menelan salivanya dengan kesusahan. ***** Tak ada kejadian yang spesial lagi ketika mereka berdua ... ah, ralat. Bukan mereka berdua, melainkan tak ada yang spesial lagi untuk Adena ketika berada dalam satu mobil yang sama dengan Kenzo. Ia lebih banyak diam. Fokusnya masih tertuju pada baju yang ia kenakan. Sepanjang perjalanan, bahkan Adena hanya menatap baju oversize itu dengan raut wajah yang sangat sedih. Sesekali, Adena malah asik menggulung baju bagian bawahnya yang sangat longgar itu. Saking longgarnya, baju itu bahkan sangat tak cocok disebut sebagai kaos oversize. Lalu, sebutan apa yang pantas untuk baju yang Adena kenakan saat ini? 'Nyesel ga sih ke kampus pake tunik?' batin Adena yang masih sibuk menunduk. "Apa mau beli lagi?" celetuk Kenzo yang sekaligus menyadarkan renungan Adena mengenai bajunya itu. Dan saat Adena beralih menatap Kenzo dengan bibirnya yang manyun, ia bisa melihat se-cool apa calon suaminya itu. Bagaimana Kenzo mengemudi, terlihat sangat keren dua ratus kali lipat dibanding orang orang pada umumnya. Kenzo memang selalu berpakaian rapih ketika mengajar di kampus, tapi Adena baru sadar dan baru tahu jika Kenzo terlihat lebih dan lebih keren ketika hanya memakai kaos hitam polos. Tangannya yang putih namun kekar, menambah kesan WOW sekali di mata Adena saat ini. 'Adena, lihatlah urat urat di tangannya!' batin Adena yang lagi, entah untuk kesekian kalinya ia harus menelan salivanya dengan sangat kesusahan. Namun, baru saja ia akan menelan salivanya lagi, tiba tiba saja Kenzo balas menatap Adena. "Kenapa?" tanya Kenzo, ketus. Alisnya bahkan terangkat sebelah. Ditanya begitu, tentu saja Adena langsung memalingkan wajahnya, "G-ga .. Ada!" jawab Arena gelagapan. Namun, seperti tak puas dengan jawaban itu ... tiba tiba saja Kenzo menepikan mobilnya. "L-ooh ... ko berhent ..." ucap Adena tercekat. Bukan apa apa, ada alasan kenapa Adena tak bisa menuntaskan ucapannya itu. Jelas lah. Dan alasan itu adalah Kenzo. Entah sejak kapan, Kenzo ternyata sudah melepaskan sabuk pengamannya, lalu menatap Adena dengan tatapan yang meruncing. Dan melihat itu, Adena seketika langsung tertunduk. Ia seperti sedang di telanjangi oleh sorot mata Kenzo saat itu. "Nyaman bajunya?" tanya Kenzo datar. "Nya-man, Pak!" angguk Adena, pelan. Dan selanjutnya, hening. Adena sendiri sempat heran dibuatnya. Suasana hening saat ini, entah kenapa membuat jantung Adena berdegup kencang. Karena walau hening, anehnya dari posisi Adena menunduk saat ini, ia masih bisa melihat posisi tubuh Kenzo yang masih menghadapnya. Lalu, kenapa dia tak berbicara? Atau ... 'Tak bisakah mobil ini langsung jalan saja?' membatin. Adena sungguh benci dengan situasi seperti ini. Rasa rasanya ia sangat ingin pergi dari sana saat itu juga. Canggung bercampur takut, membuat Adena dengan terpaksa harus menahan pipisnya. Jika ada yang namanya demam panggung atau demam perjalanan, maka saat ini ... untuk pertama kalinya di dunia, Adena merasakan demam itu. Tapi kali ini, bukan dengan perjalanan mau pun panggung, melainkan demam Kenzo. Andai ada kantong doraemon, mungkin Adena sudah memesan pintu kemana saja. Dan belum sempat Adena menetralkan hati dan jantungnya, Kenzo sudah lebih berkata sesuatu ... "Lebih nyaman mana sama semalam?" .. tanya Kenzo lagi, namun kali ini nada suaranya sedikut berbeda. Kenzo mengatakannya dengan nada yang penuh penekanan. "S-se .. malam?" ulang Adena yang semakin tertunduk dengan tangan yang semakin meremas ujung bajunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD