Kenzo sebetulnya sangat sangsi dengan yang namanya perjodohan.
Kesannya ... 'kolot sekali.
Tapi, ia sendiri juga bingung, kenapa bisa untuk kali ini ia terima perjodohan itu tanpa tapi.
Haish, jangan singgung tentang Viona. jika pun ada atau tanpa Viona, Kenzo bisa saja menolaknya mentah mentah.
Toh Bunda apalagi Papah tak pernah memaksa. Yah Kenzo akui tentang yang satu itu.
Sekali lagi perlu diingatkan, paksaan memang tak ada, tapi ancaman uuuh jangan ditanya.
Bunda ahlinya.
Jadi, kemarin Kenzo dan Bunda memang sudah membahasnya di Apartmen Kenzo.
Dan jawabannya sudah jelas, Kenzo menyetujuinya.
Itulah kenapa Kenzo mengambil cuti dadakan dan berakhir di rumah Bunda.
*****
Di tengah percakapan yang menyenangkan antara Kenzo dan Papah, tiba tiba saja Bunda datang dengan seseorang yang tak ia kenal.
Awalnya.
"Ken, perkenalkan ... Ini Adena, calon istrimu!" ucap Bunda dengan senyuman yang penuh arti ..
Sontak Kenzo pun mau tak mau menoleh, dan ia langsung tercengang melihat siapa yang Bunda bawa.
Karena ternyata dijarak yang sangat dekat itu, Kenzo bisa yakin akan sesuatu. Karena sebab itulah, ia sempat terperangah ..
Pun untuk Adena sendiri.
"Loh .. "
"Loh!!"
Ucap Adena dan Kenzo secara serempak.
"Loh?" ulang Bunda, menatap Kenzo dan Adena bergantian. "kalian sudah saling kenal?" terka Bunda.
"Astaga Bunda, ini .." ucap Kenzo tercekat, wajahnya langsung berubah panik.
Kenzo bahkan harus mengusap wajahnya dengan kasar saat itu.
"Apa?" tanya Bunda dan Papah berbarengan. Penasaran.
"Sa-saya ..."
"Dia, salah satu mahasiswi di kampus tempat Kenzo mengajar, Bunda .. Pah!" potong Kenzo, lemas.
Mau itu Bunda atau Papah, mereka berdua sempat terkaget kaget juga oleh jawaban Kenzo itu..
Tapi reaksi itu tak bertahan lama, karena selang beberapa detik kemudian, Papah dan Bunda bertepuk tangan berbarengan.
Papah sendiri yang tadinya tengah duduk bahkan langsung berdiri, saking antusiasnya.
"Bagus dong, itu tandanya kalian benar benar berjodoh!" ucap Bunda, yang masih saja bertepuk tangan dengan riangnya.
"Ga bisa Bunda, aku ga bisa!" tolak Kenzo, tiba tiba.
"Loh ga bisa gitu dong, kita sudah sepakat semalam 'kan?" sahut Bunda, tak terima.
"Tapi .. ya Tuhan, Bunda .." ucap Kenzo tercekat, ia usap surainya dengan kasar. "Yang jadi masalahnya itu, ia ambil jurusan yang Kenzo ajar!" tunjuk Kenzo, protes.
"Itu lebih bagus!" kali ini yang menjawab adalah Papah.
"Pah??" tekan Kenzo, tak percaya.
"Bunda mu benar, Ken .. ini adalah suatu takdir. Kalian berjodoh." ujar Papah, tersenyum.
Sungguh demi apapun, Kenzo hanya bisa terdiam tanpa kata melihat Papah dan Bundanya yang sangat kompak mengerjainya.
Yah, Kenzo berpikir bahwa Papah dan Bunda sedang mengerjainya.
Sungguh persekongkolan yang sangat menyebalkan. Batin Kenzo.
.
.
Tak terasa, siang sudah berganti jadi malam.
Tepat pukul delapan malam, Kenzo terdiam di taman belakang Rumah.
Karena setelah acara perkenalan tadi, Kenzo lebih banyak terdiam. Begitupun dengan Adena sendiri.
Untuk Adena sendiri saat itu, ia merasa bingung. Andai saja dirinya tau bahwa orang yang akan dijodohkan dengannya adalah Dosennya sendiri ... Adena pasti akan menolak dari awal.
Memang tak ada yang salah dengan Kenzo. Sama sekali tidak.
Kenzo malah terlihat seperti sosok pangeran dalam dunia nyata baginya.
Namun, yang menjadi pikirannya saat ini adalah ... Hey, dia Dosen. Dan ... ada yang lebih parah dari itu.
Di Kampus, Kenzo terkenal sebagai Dosen yang ganteng, tajir, masa depan cerah, serta pintar .. namun, satu yang amat disayangkan dari Kenzo.
Apa itu?
Jawabannya adalah sikapnya yang susah ditebak.
Kenzo juga terkenal dengan sebutan D'kill alias Dosen Killer.
Belum lagi, raut wajah yang selalu dibuat datar dan sikapnya yang dingin menambah kesan horor ketika Kenzo mengajar.
Kalian tau rumah hantu yang sering ada di pameran?
Nah, seperti itulah suasana di dalam kelas saat Kenzo mengajar.
Sosoknya yang dingin dan tampan seakan menjadi daya tarik kita untuk memasuki dunianya. Tetapi ketika kita sudah masuk ke dalamnya, jangan berharap kalian bisa bernapas dengan tenang.
Sama halnya rumah hantu itu. Kita seperti selalu terhipnotis untuk memasuki rumah hantu itu, akan tetapi setelah kita berada di dalamnya, kejutan demi kejutan selalu datang menghampiri sampai jantung mau copot dan akhirnya histeris karena terlalu menakutkan.
Horor bukan? Seperti itulah dunia Kenzo.
Ah, sudahi perkenalannya, dan mari kita balik lagi ke topik.
Kenzo yang masih menikmati suasana malam dengan ditemani secangkir kopi dan roko, harus kembali terusik oleh kedatangan Adena ...
"Maaf, Pak!" seru Adena, menyadarkan Kenzo dari lamunannya.
"Ya?" jawab Kenzo, cuek.
"Ada yang mau saya obrolkan, P-Pak!" ujar Adena, gelagapan.
Siatuasi Adena saat itu, seperti ia yang sedang menghadap Dosen killer karena nilainya yang jeblok, dan bukan sedang menemui calon suaminya.
Lalu bagaimana reaksi Kenzo?
Tentu saja Kenzo hanya bisa menatap Adena sejemang setelah mendengar penuturan itu, lalu dengan cepat ia kembali menyesap roko yang berada di tangannya.
"Tentang? Duduklah .." ujar Kenzo dingin.
Mendengar itu, untuk beberapa detik Adena sempat menahan napasnya. Ia menerka, reaksi apa yang akan Dosennya itu perlihatkan.
Dan, benar seperti dugaannya. Dingin, beku dan membatu.
Namun seperti yang dikatakan tadi, itu hanya berlangsung beberapa detik saja, selebihnya ... Adena tentu saja menurut.
Ia akhirnya duduk di kursi sebelah Kenzo.
Dengan wajah yang tertunduk, Adena pun berkata ... "Maaf, jika Bapak tidak mau meneruskan perjodohan ini, saya .. "
"Kita teruskan saja, toh saya juga ga tau apa alasanmu yang sebenarnya hingga menyetujui perjodohan ini!" potong Kenzo, dingin.
Adena pun mengatupkan mulutnya. Ia semakin tak berani menatap Kenzo alias Dosennya itu.
Tangannya gemetar, bibirnya kelu. Semenakutkan itu suara Kenzo jika didengarkan saat malam.
Baritonnya yang berat, semakin menguatkan aura gelap dari dalam diri Kenzo.
"Masuklah, di luar dingin." ucap Kenzo tiba tiba.
Adena sempat bingung akan perkataan Kenzo barusan, karena Kenzo mengatakan itu dengan tatapan yang lurus ke depan.
Dengan kata lain, Kenzo tak menatap Adena sama sekali ketika berbicara.
Adena bahkan sedikit celingukan, ia mengedarkan pandangannya pada telinga Kenzo yang satunya lagi.
Takut jika memang Kenzo tak sedang berbicara padanya. Dalam benak Adena, siapa tau Kenzo sedang berbicara via telpon saat itu.
Tapi, kenyataannya tidak ada. Adena yakin sekali, tak ada sesuatu seperti ponsel atau earphon yang menempel di telinga itu.
Sungguh horor, bukan ?
Sangat.
Menyadari itu, Kenzo menoleh dan menatap Adena dengan raut wajah yang lagi lagi tak pernah bisa Adena tebak.
"Kenapa?" tanya Kenzo, heran.
"B-bapak bicara sama s-saya?" tanya Adena, gelagapan.
"Bukankah disini hanya ada kita berdua?" ucap Kenzo, dingin.
"A-ah iya." angguk Adena, malu.
"Masuklah, soal perjodohan ini sebaiknya kita bahas lain waktu!" ucap Kenzo lagi.
"Baik, Pak!" angguk Adena lagi, lalu pergi dari sana dengan perasaan yang tak menentu.
Untuk Kenzo sendiri, setelah perginya Adena, ia kembali menyesap rokonya entah untuk ke sekian kalinya.
Kali ini masalahnya bukan hanya tentang perjodohan saja, tapi juga berkaitan dengan tempat dimana ia bekerja.
Rumit sekali.
Kenzo jadi banyak banyak berpikir ... Sampai tak terasa malam pun semakin larut, Kenzo kembali dikagetkan dengan kedatangan Papah dan Bunda.
"Ken .. "
"Loh, Papah ... Bunda belum tidur?", ucap Kenzo kaget.
"Kami tak bisa tidur, Nak .. kami ... " ucap Papah tercekat, mata beliau melirik kearah Bunda sedetik. "Kami, mencemaskanmu!"
Mendengar itu, Kenzo sempat mengernyitkan dahinya.
Ayolah, siapa juga yang tak akan heran mendengar penuturan kata itu.
Secara, semua sudah diatur dan terkesan memang tak boleh menolak.
Lalu sekarang disaat Kenzo sedang sibuk berpikir, Bunda dan Papah malah bilang begitu ?
Kalaupun iya, kenapa tidak sedari awal? Kenapa baru bertanya sekarang disaat ia sudah dikenalkan dengan calonnya?
Itulah yang jadi pertanyaan Kenzo.
"Kenapa dengan Kenzo?" tanya Kenzo balik.
Bunda pun akhirnya mendekat dan meraih kedua tangan Kenzo.
Diusapnya halus tangan anaknya itu, lalu Bunda berkata ... "Orang tua Adena sangatlah berjasa bagi keluarga kita, Ken!"
Papah pun mengangguk, menyetujui. "kami sangat berharap padamu!" .. ucap Papah, menepuk pundak Kenzo pelan.
Diperlakukan begitu, Kenzo hanya bisa menghela napasnya panjang lalu menatap kedua orang tuanya itu bergantian.
Betul bukan? Tak ada harapan lagi baginya untuk menolak, terlebih jika itu sudah menyangkut harapan kedua orang tuanya.
'Apakah Engkau sangat membenciku, Tuhan. Kenapa Engkau mengutuk hidupku jadi begini?' Kenzo membatin dalam diamnya.