When We Meet

1438 Words
“Sebaiknya pakai baju apa?” sudah sepuluh kali Kubuka lemari tapi tidak juga menemukan pakaian yang pas untukku kenakan. Ah, bukankah aku tidak mempunyai teman lagi di masa lalu, untuk apa lagi ke sana?!   “Untuk apa lagi Moon kau datang ke sana?!”   “Iih, Tentu saja untuk Bin!” jawabku bermonolog dengan bayanganku sendiri.   “Kalau bertemu pun,  apa dia mau bicara padamu?!” kukerucutkan mulut, mendadak merasa lesu.   “Huftt ... Aku tidak tahu ...” kugelengkan kepala,  menghela napas panjang. Menutup cermin.   Rasa takut kini menghinggap, bagaimana kalau Bin menolakku? Tapi aku rindu ... aku ingin sekali saja melihat wajahnya.  Tanpa harus bicara, meski dia tidak ingin melihatku. Aku tetap ingin melihatnya walau  dari kejauhan. Kutengadahkan kepala.  Memutari sekeliling kamar. Pandanganku bergulir menuju sebuah kotak besar di atas lemari,  kenapa aku baru menyadari ada kotak sebesar itu. Kutarik kursi untuk mengambilnya.  Uwh, ini lumayan berat. Kutaruh kotak itu di lantai, membukanya.    Ini barang milik Moon dewasa. Ada laptop, smartphone,  buku catatan dan brankas. Dimulai dari laptop,  ah tidak sepertinya ini mati.  Begitu juga smart Phone nya.  Brankas? Harus memasukkan kode untuk membukanya. Apa kodenya? Ish,  kenapa aku tidak bisa mengingatnya. Kuketuk kepalaku dengan punggung telunjuk.   “Permisi Nyonya Moon!” seru seseorang dari balik pintu.    “Ya ada apa?”   “Ada Nona Candy datang.”   Aku berlari keluar kamar memboyong Candy untuk masuk. Mungkin dia tahu bagai mana cara menghidupkan barang-barang ini.   “Ha! Kamu datang di saat yang tepat!”   “Kenapa tante menyuruh Candy datang?”   “Sini.” kubawa Candy masuk kamar, memperlihatkan padanya barang-barang peninggalan Moon dewasa. Meminta petunjuknya bagai mana cara menggunakan semua benda itu.   “Laptop dan hand Phone ini habis batrainya,  harus di charge dulu.” Candy memasangkan charger yang berada di dalam box itu. “Jadi tante menyuruhku datang Cuma buat pasang charger?”   “Bukan!”   “terus?”   “Aku mau pergi.” Kataku sambil memasang anting-anting,  mengambil tas.  “Jika Tan mencariku bilang,  aku bersamamu.”   “Gak mau,  Candy tahu Tante mau bertemu siapa! Kalau ketahuan Nenek, dan Mama,  pasti nanti Candy yang habis di marahi seperti kemarin.”   “Please.” Kupegang kedua tangan Candy,  menatapnya berkaca-kaca. “Aku Cuma ingin melihatnya, benar ... Hanya ingin melihatnya.”   “Hemh, baiklah.” Jawab Candy cemberut.   ***   Kukenakan topi dan kacamata agar tidak ada yang mengenali.  Mengikuti Riu San yang sedang berbaris bersama pekerja  lain untuk breafing dengan panitia acara.   “Siapa yang baru saja data di belakang?” tanya panitia berwajah galak itu.   “Yang daftar jadi pelayan Kak.”   “Owh ya sudah,  pastikan makanannya tidak tertukar dan gak ada piring kotor berserakan ya? “   “Baik Kak.” Jawabku pelan.   Aku Berjaga di area taman, memantau tamu yang datang.  Pasti akan ada  banyak orang yang datang,  sebab acara ini bukan hanya reuni angkatan tahun kelulusanku saja,  ada angkatan tahun-tahun sebelumnya.   Benar saja,  selang beberapa menit kemudian teman-teman lamaku berdatangan.  Semoga mereka tidak mengenaliku. Kuturunkan ujung topi agar menutup separuh wajah. Ada Mariana,  Dinda dan Lala mereka semua musuhku ketika di SMU. Mereka kini berkumpul di table 10. Sedangkan Rara ... Bersama tiga teman lainnya duduk di table 5. Tidak tampak Bin di sana.  Apa mungkin dia tidak datang?   Kupeluk tray bersandar pada dinding. Apakah artinya ini aku harus berhenti mencari Bin? Mengapa kisah cintaku menyedihkan sekali.  Apa aku harus hidup bersama pria berwajah kanebo itu sepanjang usia? Kugigit ujung tray. Meratapi nasibku yang malang.   Maria mengangkat tangan,  sepertinya ingin memanggil waiters. Tapi tak ada satu pun yang datang.  Mungkin mereka sibuk melayani tamu yang lain.   Prok Prok Prok!   Sepertinya dia memanggilku,  kuarahkan telunjuk pada diriku sendiri bertanya apa yang dia maksud adalah aku. Mulutnya bergerak  mengatakan ‘Iya tanpa suara yang tidak terdengar. Kuhampiri table sepuluh sambil memegangi ujung topi,  semoga mereka tidak mengenaliku.   “Tolong, air mineral satu. Juga tambah  ice cube nya.” Aku mengangguk, bergegas mengambil pesanannya. Menaruhnya di meja bersama segelas ice cube. Menguping pembicaraan mereka.   “Haha,  iya deh yang sudah naik jabatan jadi Manager Produksi,  beruntungnya mendekati istri CEO.” Ujar Lala.   “Heh, naik jabatan itu bukan hanya modal menjilat.  Kalian pikir aku tidak punya skill yang mempuni.” Jawab Maria.   “Ah aku jadi iri,  coba kemarin aku minta tolong Moon agar Anandi bisa masuk perusahaan besar itu,  pasti suamiku terbebas dari PHK di kantornya sekarang.” Dinda menopang dagunya sambil mengaduk jus dengan strow. “Eh, Bagaimana keadaan Moon sekarang,  apa masih koma? Dia tidak kelihatan datang malam ini?”   Ternyata mereka sedang membicarakanku. Sejak kapan aku dekat dengan mereka? Sebaiknya aku berjaga di dekat sini saja biar bisa jelas menguping.   “Aku melihatnya di gala dinner beberapa hari yang lalu. Dia sudah siuman. Kasihan, selama dia koma berembus kabar suaminya kembali dekat dengan salah satu pemegang saham di Sun enterprise.”   “Benarkah? Kamu belum menjenguk Moon memangnya?”   “Aku telepon tapi sepertinya nomornya sudah tidak aktif. Mana mungkin aku datang ke rumahnya tiba-tiba, bertemu Pak Tan. Ah,  ya ampun coba saja yang menjadi simpanannya aku. Bukan wanita itu.”   “Heh, hati srigalamu belum  hilang juga. Sudah mendekati Moon untuk naik jabatan,  sekarang  berniat merebut Suaminya juga? Ya ampun!”   Aku mengerti sekarang,  kenapa teman-teman dekatku menjauhiku.  Ternyata Moon dewasa memiliki kehidupan yang berbeda,  dia mencintai  materi yang Tan berikan dan mudah dikelabui oleh orang-orang yang hanya  memanfaatkan kedudukanku saja.   Lalu Apa yang mendasari aku dan Tan bisa memutuskan bersama dalam ikatan pernikahan tanpa di landasi rasa cinta?!  Apa mungkin dia hanya memanfaatkanku?  Ya, pasti karena itu dia mau menikahiku. Ish ternyata pernikahanku kacau sekali.  Kenapa dia tidak minta berpisah jika dia menyukai wanita lain.  Toh aku juga tidak menyukainya.      “Eh lihat, siapa yang datang."    "Bukannya dia menetap di luar negri?”   “Mungkin sedang liburan ke sini.”   “Atau khusus datang ke reuni ini,  ingin menemui seseorang. Atau, jangan-jangan ada hubungannya dengan Moon yang sudah siuman?”   “Oh ya? bagaimana dia bisa tahu?”   Kuarahkan pandangan pada seseorang yang baru saja tiba memasuki taman. Suara langkahnya bersahutan  dengan detak jantungku yang kian berirama.  Seolah waktu berjalan pelan,  seperti  gerakan slow motion,  hanya ada pria itu dalam benakku melangkah dengan pasti. Angin berembus menyibak rambutnya yang beterbangan. Teringat rasa rinduku yang teramat, hanya bisa tersemat pada kedua bola mataku yang berkaca-kaca saat menatap.   Dia duduk bersama Rara di table 5, seharusnya aku juga berada di sana. Seandainya saja semua bisa kembali semula.  Seandainya saja  aku tidak pernah menjadi Moon dewasa. Mungkin saat ini aku bisa memandanginya dari dekat.  Menatap garis wajahnya yang semakin tegas.  Senyum ringannya yang selalu melekat, melipat lengannya yang lebih kokoh dari terakhir kali kulihat.   “Bin ini aku ...” Ucapku dalam hati.   Bagaimana dia bisa melihatku jika bersembunyi di belakang dekorasi bunga,  lagipula aku memang tidak mau terlihat! Aku menyibukkan diri dengan memunguti piring-piring kotor dan mengganti setiap hidangan di meja yang kosong. Menjauhi meja yang Bin tempati. Agar dia tidak menyadari keberadaanku. Lalu memilih kembali ke belakang,  hatiku bertambah ngilu setiap melihatnya. Kupegang dadaku yang sesak.   “Apa kamu baik-baik saja?” tepukan Riu mengejutkanku.   “Ah,  iya.”   “Nanti ... Mau pulang bersamaku?”   “Mmm,  ya.”   “Sedikit lagi acaranya selesai.” Riu melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul sembilan malam. “Sehabis pembagian dorprice, mereka pulang.”   ***   Akhirnya tamu-tamu mulai meninggalkan sekolah. Sambil membersihkan meja,  kuamati Bin sedang memakai jaketnya kembali. berpamitan pada orang-orang yang dia kenal.  Sepertinya, dia akan pulang. Aku ikuti dari belalang,  berlari  kecil mengejarnya. Tidak, aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Setelah begitu lama mencarinya, apa aku hanya diam saja? Tak rela kubiarkan dia pergi tanpa tahu apa yang sebetulnya terjadi di antara kami.   Bin berjalan menuju parkiran yang mulai sunyi, kulebarkan langkah, berlari hingga napasku tersengal-sengal. Melepaskan kaca mata dan topi yang menutupi wajahku. Rambutku terurai,  helaian itu tersapu angin membelai wajah.   “Noe Bin!” kuberanikan diri memanggil Bin.   Sejenak langkahnya terhenti, tidak juga menoleh. Ia Kembali berjalan pelan tanpa menghiraukan panggilanku.   “Aku minta maaf ...” Ucapku dengan napas yang masih tersengal.   Rupanya permintaan maafku tidak juga membuatnya berhenti berjalan. Seolah dia tidak ingin mendengarnya,  atau bahkan tidak ingin berjumpa denganku.   Kukepalkan tangan sambil memekik, “Jika kamu marah maki saja aku! Jangan mengacuhkanku seperti ini!”   Kutundukkan wajah saat tidak ada jawaban darinya,  meremas jemari menahan air mata  yang mengembang agar tidak terjatuh.   “Bin...  Aku mohon bicaralah padaku ...” Ucapku melirih.   Bin membalikkan tubuhnya,  mendekat padaku membuat tubuhku gemetar menatap dirinya yang begitu nyata. Bola matanya bergerak,  bibirnya berucap ...   “kita sudah lama berlalu, bukankah sudah selesai? sepertinya malam ini tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD