“Oh jadi ini lelaki yang katanya mau nikahin kamu? Ini pengganti aku?!”
Indah berbalik bersamaan dengan lelaki yang memeluknya.
“Siapa?” tanya lelaki itu.
Nathan makin membelalakkan matanya. Setelah ia tegur, bukannya Indah melerai pelukannya, malah semakin erat.
“Nggak tahu.” Indah mengendikkan bahunya. Ia bersikap cuek. “Kita masuk yuk. Jangan bicara sama orang asing.”
Lelaki yang memeluk Indah tadi adalah adiknya, Indra. Adiknya itu baru saja pulang dari program study tour di luar kota selama tiga hari. Indra memang memiliki perawakan tinggi dan tegap. Bila bersama Indah, mereka lebih sering dianggap sebagai sepasang kekasih. Bukan kakak dan adik.
“Orang asing? Indah, kamu udah bosan kerja?” suara Nathan yang naik beberapa oktaf menarik perhatian Indra.
“Kenapa dia ngancam-ngancam gitu sih?” tanya Indra protes.
Indah menghela nafasnya. “Pak Boss mau apa lagi sih? Ini bukan lingkungan kerja dan juga bukan di jam kerja. Jadi aku tidak perlu berlaku sebagai bawahan Pak Boss kan? Lagian aku sama Bapak tidak punya urusan lain selain pekerjaan, jadi yah. Permisi.”
Indah sudah melangkah sambil menarik adiknya dari hadapan Nathan. Tapi Nathan tidak akan menyerah secepat itu.
“Siapa bilang kita tidak punya urusan pekerjaan? Widodo bilang, kamu belum memberi keputusan masalah mutasi kamu kan?”
Indah terdiam.
“Aku ke sini karena butuh jawaban kamu secepatnya. Kamu baca kan di bagian kamu sudah harus siap bekerja di Jakarta dua hari lagi?” sambung Nathan.
“Jakarta? Kakak dimutasi?” tanya Indra.
“Kakak?” Nathan kembali heran. Ia mengamati lelaki yang tadi ingin ia telan hidup-hidup karena memeluk Indah. “Kamu Indra?”
Nathan dulu pernah melihat Indra hanya dari foto yang ada di ponsel Indah, itu pun masih dengan seragam sekolah dasar. Dan sekarang adik satu-satunya Indah itu sudah tumbuh hampir setinggi dirinya.
Nathan tidak pernah bertemu langsung dengan keluarga Indah, karena memang keluarga Indah tidak bermukim di Jakarta, melainkan di Bandung.
Tapi alasan mengapa Indah ada di Surabaya itu lah yang Nathan tidak tahu. Ia bahkan juga baru tahu kalau Indah berkampung halaman di kota berikon buaya itu, tadi ketika ia menginterogasinya di pabrik.
“Indah?” seorang paruh baya keluar dari dalam rumah. “Siapa yang datang?”AEZ
Nathan beralih pada wanita berumur yang bila dilihat dari wajahnya, dari situlah Indaha mewarisi kecantikannya. Nathan yang terdidik selalu sopan kepada orang tua, langsung mengangguk hormat pada Sukma, Ibu Indah.
Tidak hanya itu, ia berjalan mendekat dan langsung menggapai tangan Sukma untuk dikecup bagian punggungnya.
Nathan juga memilih sebutan rekan kerja ketimbang Boss Indah. “Saya Nathan, Bu. Rekan kerja Indah.”
Sukma tersenyum ramah pada Nathan, sedangkan Indah hanya bisa melongo.
“Masuk dulu, Nak Nathan. Indah, ada tamu kok disuruh masuk sih?”
“Tapi dia gak mau singgah kok, Bu. Mau langsung pulang.”
“Siapa bilang? Aku mau masuk kok.”
Kening Indah berkerut. Dalam hati ia memaki dan mengumpati Nathan dengan luar biasa.
Sukma dan Nathan sudah masuk ke dalam rumah. Menyisakan Indah dan Indra di luar.
“Kayaknya aku pernah liat Abang itu deh, Kak. Di mana ya?”
“Ck. Jangan ngaco. Ini pertama kalinya kamu ketemu dia.”
Indah lalu menyusul masuk ke dalam rumah, meninggalkan Indra yang masih mencoba mengingat dimana ia pernah melihat Nathan, karena wajahnya terasa sangat familiar.
***
Nathan duduk di satu-satunya kursi yang ada di rumah itu. Ruang tamu yang ukurannya tiga kali lebih kecil dari kamar mandinya itu membuat ia terlihat sangat besar di ruangan itu.
Nathan mengedarkan pandangan ke beberapa foto yang terpajang di dinding yang catnya sudah berubah warna, bahkan di beberapa bagian sudah mulai terkelupas. Terlihat beberapa palfon rumah yang sudah bolong dimana-mana.
“Silakan diminum, Nak Nathan. Maaf di rumah Ibu hanya ada teh hangat. Tapi manis kok. Di luar tadi sempat hujan sebentar, kayaknya udah mau musim hujan. Minum-minuman anget bisa mencegah masuk angin.”
Nathan mengangguk. Baru akan menggapai cangkir teh yang isinya masih mengepulkan banyak asap, tapi suara Indah menahannya.
“Sejak kapan Pak Boss minum air sembarangan? Beliau selalu minum air dengan brand tertentu,Bu.”
Indah ingat sekali bagaimana tegasnya Nathan pada makanan dan minuman yang dikonsumsinya.
Nathan mendelik kesal, tapi hanya sekilas. Tidak ingin memperlihatkan kondisi hubungannya dengan Ibu Indah.
“Maaf ya, Nak Nathan. Ibu tidak tahu. Hmm … tunggu sebentar, Ibu minta Indra belikan di warung sebentar. Nak Nathan biasanya minum air apa?”
“Ibu,” seru Indah. Bukan ini yang ia inginkan ketika tadi mengucapkan kebiasaan Nathan.
“Tidak, Bu. Tidak perlu. Saya makan dan minum apa saja kok.”
Nathan langsung menenggak habis minuman yang masih tergolong panas itu. Ia menahan rasa terbakar di tenggorokannya, agar Ibu Indah mengenyahkan rasa tidak enak hatinya tadi. Nathan membenci Indah, bukan Ibunya. Yang ingin Nathan balas adalah Indah, bukan Ibu ataupun anggota keluarganya yang lain.
“Eh, gelasnya bocor ya?” sindir Indah lagi ketika melihat cangkir teh Nathan sudah tandas.
Sukma tersenyum. Ia paham bila yang putrinya pasti jujur, tapi Nathan memilih meminum apa yang ia sediakan karena rasa sopannya. Sukma menyukainya.
“Oh, iya tadi Ibu denger, katanya Indah mau dimutasi ke Jakarta ya?” i purtrinya.
“Nggak …”
Ucapan Indah tak bisa terselesaikan karena langsung dipotong oleh Nathan.
“Iya, benar Bu. Perusahaan baru membaca resume Indah lagi, dan ternyata pendidikan Indah sesuai untuk posisi kosong yang ada di kantor pusat.”
Sukma mengangguk. “Indah, gimana, Nak?” tanyanya. Baginya kenyamanan dan keamanan anaknya yang paling penting. Ia tentu akan merindukan putrinya kalau Indah memang benar pindah ke Jakarta, tapi kalau itu bisa memberikan masa depan yang lebih baik, ia akan tetap mendukung.
Sudah cukup Indah menggantikan perannya sebagai tulang punggung, putrinya itu juga butuh kebahagiaannya sendiri.
“Indah belum ambil keputusan, Bu. Indah gak bisa ninggalin Ibu sama Indra. Kalau Ibu sakit lagi gimana?”
“Ibu sakit apa?” tanya Nathan.
“Biasalah, Nak. Sakitnya orang tua. Cuma Indah aja yang melebih-lebihkan.”
“Tapi, Bu …”
“Ndah, Ibu mengharapkan yang terbaik untuk kamu. Kalau di Jakarta kamu bisa dapat kenyamanan dan bekerja sesuai dengan pendidikan kamu, kenapa tidak, Nak? Ibu akan baik-baik saja di sini.”
Indah sudah akan membantah tapi Sukma langsung memotongnya.
“Nak Nathan jangan pulang dulu ya. Makan malam di sini dulu. Masakan rumah biasa, tapi masalah rasa Ibu jamin tidak kalah enak dari yang di rumah makan kok. Nak Nathan mau kan?”
Indah membulatkan mata pada Nathan, tapi lelaki itu tidak melihatnya. Yang ada Nathan malah menganggukkan kepala pada Sukma.
***
Indah mengantarkan Nathan hingga ke tempat mobilnya terparkir. Tapi supirnya entah pergi ke mana, tadi juga ikut makan bersama, dan sekarang mungkin ke warung atau entahlah.
“Siap-siap. Lusa kita berangkat ke Jakarta!” titah Nathan. Suaranya terdengar dingin lagi, berbeda ketika bersama dengan keluarga Indah.
“Aku kayaknya gak bisa ninggalin Surabaya. Aku takut Ibu sakit dan Indra juga harus sekolah. Nanti gak ada yang jagain Ibu.”
Nathan mendengkus sinis. “Jadi kamu mau resign? Sudah bisa bayar penalty
Indah menelan ludahnya dengan susah payah. “Aku akan memohon sama Pak Widodo supaya membatalkan mutasi itu.”
“Memohon? Kamu lupa siapa atasan Widodo? Lagian dengan apa kamu akan membujuknya? Dengan tubuh kamu?”
Indah langsung mengangkat tangannya untuk ia layangkan ke wajah Nathan. Ia tidak tahan dengan penghinaan seperti itu. Akan tetapi Nathan menangkap tangan Indah.
“Lepasin!” berontak Indah.
“Jangan pikir karena kamu pernah menamparku satu kali, jadi kamu bisa melakukan itu untuk kedua kalinya. Aku yang memutuskan dan kamu harus mengikuti perintahku. Kecuali kamu sudah punya uang lebih dari seratus dua puluh juta, cash. Untuk membayar penalty.”
Nathan maju satu langkah, mengikis jarak di antara mereka. “Oh iya, jangan lupa. Tiap bulan kamu harus membayar rentenir kan? Aku heran kenapa kamu milih kerja di pabrik kalau kamu lebih mahir menjual tubuh kamu, seperti dulu kan? Bukannya cara itu lebih cepat, atau … gak ada yang mau nyentuh kamu karena kamu bekas banyak orang?”