Mendengar jawaban Demian, amarah Zara langsung membubung ke ubun-ubun. Dadanya bahkan terasa sesak oleh amarah yang sekuat tenaga dia tahan. Bagaimana dia tidak ingin marah jika semua jawaban Demian seolah menganggapnya tidak memiliki perasaan? Mengapa Demian bersikap seperti itu? Mengapa suaminya itu tidak peka dengan hatinya yang kini hancur tak berbentuk akibat ulah dan perkataannya. Zara juga tidak mengerti mengapa Demian bisa dengan begitu santai menjelaskan keputusannya untuk berpoligami. Sepertinya apa yang dikatakan oleh suaminya itu adalah suatu hal yang mutlak benar.
"Kalau begitu, tidak perlu lagi kita bicara jika mas tidak mau menggagalkan pernikahan mas dengan wanita itu. Karena sekali lagi aku tidak setuju," jawab Zara dengan airmata yang kembali mengalir dari kedua mata beningnya. Zara sangat berharap ini adalah sebuah mimpi buruk semata, karena sesungguhnya selama ini dia sangat mencintai Demian. Sayang sekali, ini adalah sebuah kenyataan yang membuatnya tidak akan terbangun pada situasi yang dia inginkan.
"Baiklah kalau begitu," Demian di luar pintu kamar menjawab. "Ada baiknya kamu tenangkan dirimu dulu. Aku yakin kamu mengatakan ingin bercerai denganku hanya karena sedang emosi. Kamu sama sepertiku Zara, kamu mencintaiku. Kamu juga tidak akan mungkin memisahkan Cahaya dari papanya." Hening sesaat, lalu terdengar dengusan nafas. "Tidurlah dengan baik. Semoga besok kamu sudah mengikhlaskan keputusanku untuk menikahi Bella. Selamat malam sayang."
Terdengar langkah menjauhi pintu kamar bersamaan dengan Zara mengepalkan jemarinya. Demian benar-benar sudah dimasuki jin sehingga justru berpikir kalau Zara yang salah karena mengambil keputusan untuk cerai. Sedikit pun Demian sepertinya tidak merasa kalau keputusannya untuk berpoligami adalah salah.
Zara merasakan kepalanya pusing saat ini. Berbagai macam pikiran dan emosi berjejalan ingin masuk ke otaknya meskipun kapasitasnya sudah tidak muat lagi. Kejadian ini sepertinya akan membuatnya stress jika dia tidak cepat-cepat menguasai dirinya sendiri.
Zara menarik nafas panjang, berharap itu bisa membuat sesak dan pusing di kepalanya berkurang. Dan iya, meskipun tak banyak, dadanya terasa sedikit plong dan kepalanya sedikit enteng. Bentuk bulan purnama yang mengintip di tengah-tengah tirai yang antara helai kanan dan kiri tidak bertemu secara sempurna, menggelitik hatinya untuk menikmati. Zara pun beranjak dari duduk dan menuju tirai itu. Dia sibak tirai tersebut lalu ditatapnya bulan itu dengan penuh seksama.
Bayangan indah sewaktu dia dan Demian masih sepasang kekasih berkelebat dalam benaknya. Nostalgia yang sangat indah. Dan kehidupan setelah menikah pun tidak jauh berbeda. Justru lebih menyatukan cinta di antara mereka. Apalagi begitu Cahaya hadir ke dunia, cinta semakin memamerkan kuasanya. Maka tiba-tiba ini terjadi, Zara bukan saja sakit hati tapi juga syok.
***
"Sayang..." Demian meraba-raba ke sekitar tubuhnya yang terbaring di tempat tidur. Itu adalah kebiasaannya setiap malam dan menjelang subuh, mencari tubuh yang nyaman untuk dipeluk. Tapi karena yang dicarinya tidak ada, Demian pun refleks membuka mata. Setelah menatap sekeliling, dia menepuk keningnya. Bagaimana dia bisa lupa kalau semalam dia tidak tidur dengan Zara?
Ah, Zara... Mengapa wanita itu punya pikiran untuk berpisah darinya? Padahal dirinya sudah menegaskan berkali-kali bahwa dia masih mencintai istrinya tersebut. Demian tidak habis pikir kenapa Zara sulit untuk berbagi suami.
Demian menajamkan pendengarannya. Dia mendengar suara orang memasak di dapur. Dia tahu itu adalah Zara. Istrinya itu memang selalu menjalankan pekerjaan rumah dengan baik hingga tidak perlu membayar pembantu. Zara juga pintar memasak dan mengurus anak. Demian mengakui kalau Zara adalah paket komplit. Cantik, bisa memberikan keturunan, pintar memasak, dan istri yang berbakti. Karena itu dia tidak mau kehilangan istri seperti Zara.
Demian beranjak dari baringnya. Dia melangkah meninggalkan kamar menuju dapur. Dari pintu dapur dia mendapati Zara begitu sibuk hingga tidak menyadari kehadirannya. Zara terlihat profesional dengan pekerjaannya.
"Sayang, masak apa hari ini?" tanya Demian sembari melingkarkan tangannya ke pinggang sang istri dari belakang. Zara terhenyak namun tidak menoleh. Wanita itu justru menunduk ke bawah dan menatap tangan Demian dengan sinis.
"Tolong lepaskan tanganmu ya, mas!"
Bukannya melepaskan, tangan Demian justru melingkar lebih erat. "Jangan galak-galak dong. Apapun yang akan terjadi, aku akan tetap mencintai kamu."
Zara mengencangkan rahangnya. Dia sudah kehabisan kesabaran. Akhirnya dia berbalik dan mendorong Demian. Demian terhenyak dengan mulut dan mata yang melebar.
"Kenapa kamu harus mendorongku Zara? Aku sedang bersikap manis kepadamu?"
Zara menyeringai. Ya Tuhan... karena sakit hati akan dimadu, dia menjadi wanita yang kasar. Padahal selama ini dia adalah wanita yang lembut. "Aku sudah bilang mas, tolong lepaskan aku. Apa mas tidak bisa lihat kalau aku sedang masak?"
Demian menatap dengan tatapan tidak tidak menyangka. "Aku tau kamu sedang masak, tapi aku hanya memelukmu dari belakang saja. Aku tidak mengganggumu. Lagian itu adalah hal biasa selama ini aku lakukan. Hanya karena aku akan menikah lagi kamu jadi berubah, Zara."
Zara tertawa kecil. Geli sekali dia mendengar ucapan Demian. Terkhusus hanya kata 'hanya'. Sepertinya Demian memang sudah kehilangan akal sehat sehingga tidak bisa berpikir jernih dan berpikir bahwa wanita itu tidak punya perasaan.
"Sudahlah mas, lebih baik sekarang mas pergi dari dapur, mandi dan bersiap-siap pergi ke kantor. Kehadiran mas di sini hanya menggangguku saja."
Zara melanjutkan apa yang sedang dilakukannya tadi dan tertunda karena Demian. Sebelum ini dia memang menyukai pelukan Demian, bahkan biasanya akan berakhir dengan kecupan panjang. Tapi tidak kali ini dan mungkin seterusnya. Zara tidak mau berdekatan dengan pria yang hatinya keras, tidak peka, dan merasa selalu benar.
Demian menggigit bibir bawahnya, menyadari bahwa Zara ternyata masih marah kepadanya. Dan sekarang dia merasa perlu menanyakan apa yang mengondol di dalam hati.
"Lalu soal kamu yang ingin berpisah dariku, apakah kamu akan tetap melakukannya?"
Zara mengambil pisaunya dan mulia mengiris daun bawah untuk sup yang sedang dimasaknya. "Hem," jawabnya mengiyakan dengan nada cuek.
Demian menghela nafas panjang. Dia tidak terima dengan keputusan Zara. Dia tidak mau kehilangan Zara dan baginya itu adalah keputusan yang salah. "Ayolah, Zara. Jangan sampai kamu melakukan itu!"
Zara meninggalkan irisan daun bawang dan mengaduk supnya. Lalu dia membalas tanpa menoleh pada Demian. "Aku tidak akan melakukan itu jika mas mengurungkan niat mas untuk menikah lagi. Karena itu mulai hari ini, jangan menyentuhku."
Demian berdecak menyesalkan keputusan Zara. "Kamu benar-benar keras kepala, Zara. Jika kamu benar-benar cerai dariku, bagaimana kamu hidup? Bukankah selama ini semua kebutuhanmu aku yang penuhi? Mencari pekerjaan itu susah, Zar. Apalagi kamu tidak sarjana."
Zara terdiam. Gerakan tangan yang memutarkan centong sup, terhenti. Pertanyaan yang tidak salah, karena dia berhenti kuliah karena Demian. Tapi dia tidak memandang hidup sesulit itu. Dia akan melakukan apapun untuk bertahan hidup meski tanpa Demian dan tanpa rasa gengsi.
Perlahan Zara menoleh dan menatap Demian lekat. "Mas, rezeki Tuhan itu banyak dan tersebar di muka bumi ini. Selama kita mau mencari, maka kita pasti akan mendapatkannya. Lagian janji Tuhan itu mutlak. Tuhan tidak akan menyia-nyiakan manusia yang mau berusaha. Jadi kenapa aku harus takut? Mas lupa bahwa ketika menikah dengan aku, mas hanya staf rendahan. Mas bisa menjadi manager karena ada rezeki istri dan anak disitu. Itu artinya, mas bisa menjadi manager karena rezekiku juga mas. Sekali lagi rezekiku."
Demian membeku.
Bersambung...