“Apa katamu-?!”
Siska memandang Kemal dengan tatapan tidak percaya. Setelah mendapatkan surat gugat cerai dan kopensasi dari Harla, bergegas menemui Kemal di kamar pria itu, pura-pura ingin bertandang ke Lotta untuk menanyakan bagaimana suasana pesta Aldo dan Dania. Begitu sampai, dia heran mengapa Lotta tidak ada, hanya ada Kemal yang wajahnya thunder cloud.
Dia bertanya ada apa, kemana Lotta. Kemal menjawab Lotta pulang ke Jakarta dijemput Martin. Dia menjadi senang, lantas mengajak kekasihnya untuk hura-hura, sebab semalam pria itu berjanji pasti berhasil membuat Lotta menambah limit black card dan merayu istri sang pria untuk duluan ke Jakarta.
Namun, Kemal menceritakan apa yang terjadi, membuat dia terkaget.
“Lotta mengambil mobilmu, semua kartumu dan hanya menyisakan satu kartu dan kasih uang dua ratus Dollar saja?”
Kemal hanya menghela napas.
Siska langsung merentakan sekali bahunya, tampak geram.
“Ish, tu orang!” dirutuki Lotta, “Bener-bener istri durhaka!”
Kemal kembali menghela napas, merasa Siska benar. Lotta kini istri durhaka.
“Udah ngga mau nambahin black card suami,” Siska melanjutkan, “Mobil dan isi dompet suami diambil! Kebangetan tu manusia!”
Suami Lotta meraih lengan Siska, dibawa perempuan itu duduk di sebelahnya. Ditatap kekasih seksi ini yang dirasa luar biasa menggoyang dia diranjang, bikin kecanduan dan melakukan apa pun agar sang kekasih menjadi istrinya dan melahirkan keturunan dia.
Siska menepuk p*** kanan Kemal, “Kamu gimana sih, Mal?” dipandang kesal pria itu, “Kamu itu suami, musti tegas dong ke Lotta. Sikap Lotta itu kurangajar ke Kamu.” Disalahkan suami Lotta ini, “Kenapa sih Kamu sekarang lunak ke dia? Biasanya selalu bisa membuat dia patuh ke Kamu.”
Kemal tidak menjawab, dari tadi dia memikirkan mengapa sang istri berubah tiga ratus delapan puluh derajat ke dia. Yang biasanya menurutin apa keinginan dia, sekarang tidak, Malah si istri mengambil semua fasilitas hidup enaknya.
“Kemal!” Siska kesal Kemal diam saja, kembali ditepuk p*** pria itu, “Kamu kok diem aja sih diinjak Lotta? Dia itu istri, ngga boleh menginjakmu yang suami.”
“Huh-!” terdengar helaan napas Kemal, “Kamu sudah tahu kalau semua yang ada padaku itu milik Lotta kan?” ditatap Siska.
“Hei, milik dia itu milik Kamu.” Sang kekasih menukas, “Apa Kamu lupa, kalau milik istri milik suami? Jadi jangan bilang semua yang dikamu milik dia. Ngga bisa itu, Mal.”
“Sudahlah-!” Kemal penat mendengar repetan Siska, “Aku mau mandi dulu, lantas kita ke Marina Bay.”
“Ke sana naik apa?” Siska memandang pria ini dengan kedua manik tampak sinis, “Mobilmu diambil istri durhaka kan?” diingatkan kalau mobil sudah dibawa Lotta ke Jakarta.
“Aku bisa nyewa mobil untuk Marina Bay.”
“Nyewa katamu?!” Siska terperanjat, “Aku ngga mau! Malu-maluin kita ke Marina Bay pake mobil sewaan. Berasa kayak orang miskin tauk!”
“Lantas harus gimana?”
“Kamu telpon dial ah, suruh antar mobilmu kemari. Itu kan mobilmu!”
Kemal terhenyak mendengar ini, lantas menghela napas.
“Ayo, Mal!” Siska mendesak Kemal menghubungi Lotta, “Dia pasti sudah sampai di Jakarta, Kamu bisa telpon dia!”
Kemal kembali menghela napas, merasa enggan menghubungi Lotta, sebab sang istri pasti masih bersama Martin dan Billy.
“Dia bersama Kak Martin dan Billy.”
“So what, Kemal?” Siska terheran dengan jawaban Kemal, “Kamu hubungin Lotta, bukan kontek Kak Martin atau Billy?”
Kemal sekali lagi menghela napas, tidak paham kah Siska, jika Lotta bersama Martin dan Billy, lantas dia telpon untuk memaksa sang istri mengirim kembali mobil itu, pasti istrinya marah dan bisa kejadian Martin yang bicara sama dia. Dia segan sama Martin. Meski bicara dengan suara tenang, tapi setiap perkataan mengena di otak warasnya.
Siska menjadi gregetan, segera mengambil ponsel Kemal dari atas meja, diakses alat tersebut ke nomor Lotta, tapi detik berikut dia terperangah.
“Maaf-!” terdengar suara operator server sim card Kemal, “Anda tidak bisa melakukan panggilan suara. Masa aktif kartu Anda sudah habis. Segera selesaikan tagihan kartu Anda.”
Kemal pun mendengar suara operator itu, kedua matanya terlihat tidak percaya. Mengapa Lotta belum membayar tagihan berlangganan kartunya? Padahal saat mereka sampai di Singapura, dia sudah memberitahu sang istri untuk membayar tagihan berlangganan kartunya di hari ini.
Karena Lotta memang tidak membayarnya. Dia tahu hari ini masa aktif berlangganan kartu milik sang suami selesai dan harus dibayar bulanannya, tapi sengaja dibiarkan. Apalagi di pesawat, dia mengecek berapa tagihan telpon sang suami, membuat dia meradang.
Lebih besar dari tagihan bulan kemarin dan langsung feeling pasti dipakai si suami untuk video mesra sama selingkuhan. Dia pun mengecek ke nomor siapa saja yang dihubungi suaminya, berharap mengenali nomor itu. Ternyata ada satu nomor yang paling banyak dihubungi pria itu, tapi tidak dikenali nomor siapa.
Martin pun menyarankan, Lotta tidak perlu mencaritahu nomor siapa, cukup di screenshot saja semua notifikasi pengecekan atas tagihan dan nomor terbanyak yang dihubungi Kemal.
Siska mengakhiri akses ke nomor Lotta, ditatap Kemal dengan wajah terheran-heran.
“Dia belum membayar tagihan telponmu?”
Kemal menghela napas, “Mungkin nanti sampai di Jakarta dia bayar.”
“Apa Kamu tidak bilang ke dia hari ini tanggal pembayaran?”
“Dua hari lalu sudah kubilang, kata dia iya dibayarnya.”
“Tapi nyatanya belum dia bayar.”
“Mungkin nanti saat dia sampai ke Jakarta.”
Siska mendengus, dia merasa aneh kenapa Lotta bisa melawan Kemal? Apa dipengaruhi Billy yang tidak suka sama Kemal?
“Dia kayak gini-“ Siska bicara lagi, “Jangan-jangan dipengaruhi Billy, sepupunya yang kemayu itu.” Diungkapkan isi pikirannya ke Kemal.
Kemal mengangkat bahu, “Mana kutahu itu.”
“Memang Kamu tidak pernah tanya Lotta ngobrol apa aja sama Billy selama ini?”
“Untuk apa kutanya? Mereka bersaudara, ngobrol apa bukan urusanku untuk tahu. Dia juga begitu, aku ngobrol apa sama ibuku dan adikku, ngga mau tahu.”
“Kamu terlalu lembek ke Lotta, Mal. Mustinya selalu tanya dia ngobrol apa sama Billy dan teman-teman dia.”
“Aku bukan laki-laki penggosip, Siska.”
“Ini bukan soal bergosip, suami itu wajib tahu istri itu ngobrol apa saja sama saudara istri dan teman-teman istri. Jadi kalau dia macem-macem, Kamu langsung larang istri berhubungan lagi sama itu orang.”
“Sudah, sudah!” Kemal mulai penat lagi otaknya, “Aku mau mandi dulu, sambil memikirkan gimana cara kita sampai ke Marina Bay. Aku ingin kita plesiran pake yacht Lotta.”
“Plesiran butuh uang, Mal!”
“Pakai uangmu dulu, Sayang.”
Siska terperanjat mendengar ini, dikeplak p*** Kemal.
“Pakai uangku?” kedua manik dia membesar, “Enak aja Kamu!” dia tidak setuju, “Hei, Aku ini kekasihmu yang segera memberimu anak, bukan mesin uangmu!” ditegaskan siapa dirinya, “Jadi ngga ada ya pakai uangku! Lagian Aku sudah resign dari perusahaan papaku demi kita bisa punya anak dan memaksa Lotta menjadi sapi perah kita.”
Siska memang sebelum ikut Kemal dan Lotta ke Singapura, sudah resign dari perusahaan milik ayah Siska, karena Kemal minta. Kemal mau Siska santai-santai saja agar mereka bisa punya anak dan menindas Lotta.
Hal ini yang bikin Kemal pusing kepala karena Lotta mengambil semua fasilitas hidup mewah itu dari dia. Bagaimana dia menopang Siska?
“Sayang-“ Kemal membuat mereka bertatapan, “Nanti Aku ketemu Lotta, kupaksa dia mengganti semua uangmu yang kupakai hari ini. Aku bilang terpaksa meminjam sama Kamu, agar bisa pulang ke Jakarta. Dia pasti kasih, karena paling tidak suka Aku berhutang.”
Siska menyilangkan kedua tangan ke d*** sambil mendengus kesal.
“Huh! Pokoknya ngga, Mal! Kamu sudah janji membiayai penuh hidupku yang segera memberimu anak!”
Mendengar ini Kemal nelangsa, karena memang itu janji dia dan ternyata Siska bukan Lotta yang mudah dikadalin.
***
Lotta dan Billy duduk berdampingan di sofa panjang ruang tengah lantai satu rumah mewah sang putri di Jakarta. Di seberang mereka, berbaris para art, tukang kebon dan penjaga rumah.
Dia begitu sampai di Ibukota Indonesia, langsung membawa Billy menggeledah isi lemari Kemal. Entah kenapa dia feeling suaminya pasti pernah membawa wanita selingkuhan ke rumah ini dan bercinta di ranjang kamar mereka.
Dari penggeledahan, dia menemukan di dinding lemari ada lemari lain dan dikunci dengan anak kunci manual. Dia langsung terhenyak, kapan suaminya membuat lemari itu? Pantas saja setahun terakhir sang suami tidak mau lagi dia menyiapkan pakaian, karena takut dia tahu lemari rahasia ini.
Gegas, dia geledah isi lemari itu dan menemukan dua album foto. Ketika dilihat, dia terperangah sebab semua foto menggambarkan aksi suami merasai keindahan tubuh selingkuhan, tapi wajah wanita itu tidak terlihat, karena dicrop, hanya focus ke aksi suaminya yang menjijikan itu. Bahkan ada foto rudal si suami setengah bagian berada di dalam hole a*** wanita tersebut. Lantas ada pula foto di mana rudal pria itu tengah digoyang erotis oase sang wanita.
Itu baru foto yang ditemukan. Ada mainan-mainan khusus foreplay, beberapa strip obat menguat pusaka pria, sampai g-string yang ada hiasan s****a sang suami yang mengering. Dia langsung lemas, tidak menyangka segila itu Kemal berasmara dengan wanita lain!
Billy yang bersamanya juga melihat semua barang menjijikan tersebut, lantas mengenali ranjang bercinta Kemal dan Siska, yaitu ranjang kamar Lotta. Membuat Lotta menyuruh dia membuang ranjang, bantal, dan guling. Dia tidak sudi tidur di ranjang bekas persetubuhan nista sang suami dengan pelakor. Bahkan dia membuang sprei, sarung bantal, sarung guling dan selimut, sebab sudah pernah menjadi alas percintaan tersebut.
Baru kemudian mengumpulkan semua art, tukang kebon, dan penjaga rumah. Langsung bertanya apakah ketika dia tidak di rumah tanpa Kemal, ada tamu yang datang untuk menginap atau hanya beberapa jam saja mampirnya. Para pekerja itu terhenyak, sebab baru kali ini nyonya besar bertanya itu, membuat mereka teringat Kemal membawa Siska ke rumah ini semisal sang nyonya pergi sendiri.
Namun mereka mengenal Siska bernama Cindy dan memakai wig serta kaca mata hitam jika dibawa Kemal ke rumah ini. Tidak ada yang menyadari wanita itu Siska sahabat si nyonya. Lantas mereka memilih diam agar tidak dipecat nyonya besar. Mereka tahu rumah ini milik Lotta.
Kini mereka menundukan kepala, merasa sangat bersalah karena merasa nyonya sudah tahu Kemal berselingkuh.
“Hallo-!” Lotta bersuara memecah kesunyian, “Kenapa semua diam, hmm?” dipandang satu persatu para pekerja yang digaji tepat setiap bulan oleh Martin dari kas perusahaan mendiang Daniel. “Jika diam, berarti yang saya tanyakan ke kalian memang ada.”
Para pekerja berbarengan terhenyak, mereka harus bagaimana sekarang?