Bab 168

2322 Words

"Tidak!" Jenna tersentak bangun. Napasnya terengah-engah, jantungnya berdegup seperti genderang perang. Keringat dingin mengucur deras di punggungnya. Ia segera menyentuh wajahnya, merasakan pipinya yang basah oleh air mata. Ia masih di dalam kamar. Cahaya temaram masih menyinari ruangan. Tidak ada api, tidak ada ledakan, dan. .. tidak ada bayi. Itu hanya mimpi. Sebuah gambaran kejam yang dirajut oleh rasa bersalah dan kerinduan yang mendalam. Sebuah skenario seandainya yang tidak akan pernah terjadi karena bayinya sudah lama pergi, dan Dalton ada di depannya. Pria itu masih hidup, dia masih bernapas, masih bersamanya. "Hnnngghh...." Suara erangan itu kembali terdengar. Jenna menoleh ke arah Dalton yang masih terbaring di sampingnya. Pria itu tampak sangat gelisah. Wajahny

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD