Setelah itu mereka mendorong tiga keranjang belanjaan ke meja kasir dan menunggu antrian untuk membayar total belanjaan.
"Totalnya 7.657.000 buk.." ucap pegawai kasir swalayan itu.
"Kartu debit bisa kak?" tanya Abian yang berada di sebelahnya Ziva sambil menggendong Fellysia.
"Bisa pak." ucap pegawai kasir.
"Pakai debit aja yang.. kartunya ada dibelakang KTPku." ucap Abian sambil menunjuk kearah KTPnya.
Ziva melirik Abian kesal. Ziva tak salah dengar. Abian memang memanggilnya yang,, yang berarti 'sayang'.
Kalau ini bukan di tempat umum, mungkin Ziva sudah mengeluarkan suatu kata yang setiap ia sebut malah terlihat seksi dan candu untuk di dengar.
Selesai membayar dan meletakkan plastik belanjaan ke bagasi belakang, Abian mengembalikan keranjang pada tempatnya.
Sedangkan Fellysia yang sudah berada dalam mobil dipangku oleh Ziva, tak lama Abian kembali.
Abian pun menginjak gas mobil untuk pulang kerumah.
Mereka bertiga pun sampai di parkiran apartemen.
Karena terlalu capek berbelanja dari jam 10 sampai jam 2 siang, Ziva dan Fellysia tertidur dengan sangat pulas sedari tadi.
Abian tidak langsung membangunkan Ziva. Bukan untuk berniat jahat, tapi sedang memperhatikan wajah tenang Ziva yang sedang tertidur pulas.
Karena merasa kasihan tidur dengan posisi duduk seperti itu, Abian membangunkan Ziva dengan menepuk-nepuk kecil lengan Ziva.
"Bangun va.. kita udah sampai.. kamu lanjuti tidurnya di kasur sana. Nanti badan kamu sakit semua." ucap Abian kepada Ziva yang masih di awang-awang.
Abian hendak mengambil Fellysia yang sedang tertidur dari pangkuan Ziva agar Ziva bisa keluar.
"Fellysia biar sama aku aja..Kamu bawa aja plastik belanjaan." ucap Ziva sambil mengangkat pelan-pelan Fellysia yang masih tertidur agar tidak terbangun.
Menaiki tangga ke lantai 3 kamar mereka. Abian membukakan pintu menggunakan sandi rumahnya.
Setelah masuk ke dalam rumah, Ziva meletakkan Fellysia yang masih tertidur pulas ke tempat tidur Abian, karena box tempat tidur Fellysia terlalu tinggi, takut Fellysia terbangun.
Ziva meletakkan bantal di kanan kiri Fellysia. Agar tidak terjatuh kesamping.
Lalu Ziva menyusul Abian yang sedang merapikan belanjaan di dapurnya.
Ziva melihat struk belanjaan yang ada di meja dapur.
"Waaaahh ternyata belanjaanku yang lebih banyak.." ucap Ziva dengan suara kecil.
"Kamu bisa masak?" tanya Ziva kepada Abian yang sedang sibuk mengeluarkan sayur-sayuran tadi.
"Ha.. oh.. masak mie aku bisa."
"Mau sakit lambung?" ucap Ziva sambil berdiri menyender pada dinding yang berada disebelah meja dapur.
"Jadi gimana? Emang kamu mau masakin buat aku?" tanya Abian.
"Ng-nggak akan. Jadi kalau kamu makan mie, Fellysia makan mie juga?"
"Ya mungkin." jawan Abian.
"Kamu gila ya. Anak bayi dikasi mie." ucap Ziva sambil melempar sayur bayam ke arah Abian dan Abian pun menangkapnya.
"Jadi gimana lagi. Aku nggak bisa masak, disini aku juga cuma kenal kamu tapi nggak mau masakkan untuk kami." jelas Abian.
Ziva tak menjawab ucapan Abian. Ia mengambil plastik belanjaan miliknya lalu pulang ke apartemennya yang ada di seberang pintu apartemen Abian.
Abian hanya melihat Ziva yang keluar dari pintu apartemennya.
"Nggak mungkin sakit hati karena ku bilang kayak tadi kan?"
"bodoh bodoh bodoh." ucapnya sambil memukul-mukulkan brokoli ke jidatnya.
Sementara itu Ziva yang sudah berada dirumah, menaruh plastik yang berisi perawatan badannya itu ke kamar.
Lalu ia menuju dapurnya dengan sisa satu plastik lagi yang berisi kebutuhan dapurnya.
Meletakkan plastik itu ke meja dan mengeluarkan isinya.
Sejam kemudian, ada bunyi suara seseorang mengetik kata sandi pintu apartemen Abian. Abian pun heran siapa yang membuka sandi pintu apartemennya.
Karena baru kemarin ia menempati apartemen itu dan tidak ada yang tahu sandi pintunya selain Abian.
Abian pun mendatangi asal suara itu. Ternyata itu Ziva yang sedang membawa sebuah piring nasi di tangan kanan dan capcay ayam di tangan kirinya.
"S-sorry.." ucap Ziva yang kepergok Abian masuk ke dalam apartemennya.
Abian tersenyum tipis dan heran melihat Ziva yang tiba-tiba masuk ke dalam rumahnya.
"Ucapan terima kasih.. karna menghabiskan uangmu untuk belanjaanku.." ucap Ziva yang masih berdiri di depan pintu sambil menyodorkan kedua piring di tangannya.
Abian pun menghampiri Ziva, mengambil kedua piring yang ada di tangan Ziva.
"Sama-sama." ucap Abian sambil jalan menuju dapur dengan nasi dan sayur capcay tadi.
"O-oke.." jawab Ziva.
Ziva membuka pintu apartemen Abian.
"Mau kemana?" ucap Abian yang berada di dapur.
"Mau pulang.. Mau masak bubur Fellysia.." ucap Ziva masih dengan posisi tangan memegang gagang pintu.
"Disini aja.. kan ada bahannya juga.." ucap Abian sambil berjalan ke arah Ziva.
"Nggak usah.. kalau Fellysia bangun, telepon aku." ucap Ziva lalu keluar dari apartemen Abian.
Ziva pun kembali memasakkan bubur untuk Fellysia makan siang. Selesai masak bubur, Ziva melanjutkan pekerjaannya yang sebelumnya sudah di tagih oleh editornya.
Sementara itu, Abian yang sedang usil lagi membangunkan Fellysia.
"Fellysia.. bangun yuk. Biar kak Ziva kesini lagi.." ucap Abian membangunkan adiknya yang sedang enak tidur.
Ia mencolek-colek pipi adiknya juga mencium-cium adiknya agar Fellysia terbangun dari tidurnya yang enak.
"Fellysiaaa... Bangun yuk yuk yuk.."
Kasian.. mau bertemu Ziva saja harus menyusahkan Fellysia.
Fellysia yang merasa kesal pun terbangun sambil menangis sekencang-kencangnya. Tapi itu malah membuat Abian tertawa gembira.
Dasar, Abian..
"Uuuuu anak pintar.. maaf ya sayang." ucap Abian mengaku salah karna sudah mengganggu adiknya yang sedang enak tidur.
Abian mencoba menenangkan Fellysia yang menangis itu, tapi ia tak kunjung tenang.
Malahan suara tangisannya makin kuat..
Abian yang kebingungan langsung keluar, lalu menekan bel apartemen Ziva.
Tak lama Ziva keluar.. masih dengan menggunakan kaca mata anti radiasinya yang sering ia gunakan ketika bekerja.
Ziva pun langsung meraih Fellysia yang sedang menangis sangat kuat dari gendongan Abian..
Benar saja.. Fellysia langsung tenang saat berada di pelukan Ziva.
Abian yang melihat Fellysia berhenti menangis, mengacungkan jempol untuk Fellysia.
"Mmm anak pintar.. Fellysia tadi kenapa nangis? Ada yang ganggu Fellysia lagi bubuk ya..?" ucap Ziva sambil mencium Fellysia.
"Kita ambil buburnya dulu ya.. untuk makan Fellysia.. biar Fellysia makin kuat!!" ucap Ziva.
Setelah itu Ziva masuk lagi ke dalam apartemennya, mengambil bubur yang ia letakkan di tempat penghangat makanan.
Abian masih setia menunggu Ziva dan Fellysia di depan pintu. Sebenarnya Abian tadi ingin ikut masuk tapi dilarang Ziva.
Setelahnya, mereka kembali ke dalam apartemen Abian. Ia mengambil kursi makan Fellysia yang baru saja mereka beli tadi.
"Ini letak dimana?" tanya Abian yang masih memegang kursi makan Fellysia.
"Di balkon aja." ucap Ziva sambil berjalan menuju balkon.
Karna tadi Fellysia menangis, Ziva ingin lebih menenangkan Fellysia dengan pemandangan dari balkonnya.
"Kamu udah makan?" tanya Abian yang datang membawa nasi dan sayur tadi.
Ziva hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Makan sa-"
"Nggak usah.. aku belum lapar.. kamu aja yang makan." ucap Ziva yang sedang menyulangi Fellysia.