Abian, Ziva dan Fellysia pun sampai dihalaman rumah yang banyak tertanam bunga-bunga cantik.
Pengasuh Fellysia itu memang sangat suka dengan bunga, jadi tidak heran kalau halamannya penuh dengan bunga-bunga yang sangat cantik.
Mereka disambut dengan hangat oleh keluarga mbak pengasuh Fellysia.
"Ciaaaaa!!!" teriak seorang anak laki-laki berusia 5 tahun memanggil Fellysia dari depan rumah.
Anak laki-laki itu melambaikan tangan kepada Fellysia yang masih berada dalam mobil.
Ia adalah anak sulung mbak pengasuh. Sedangkan anak bungsu mbak pengasuh seumuran dengan Fellysia. Anak laki-laki yang tidak kalah menggemaskan dari Fellysia.
Abian keluar dari mobil disusul dengan Ziva yang menggendong Fellysia.
"Capek dijalan kak?" tanya mbak kepada Ziva yang baru saja sampai di depan rumah itu.
"Nggak mbak. Fellysia juga baik, nggak rewel sama sekali." jawab Ziva ramah, padahal belum pernah bertemu sama sekali.
"Duduk duduk, biar mbak buatkan minum." ucap mbak menyuruh Ziva dan Abian untuk duduk dikursi yang ada di teras rumah itu.
Mbak membawakan 2 gelas teh hangat untuk Ziva dan Abian, juga 1 gelas kopi untuk suami mbak.
"Baru ini mbak jumpa sama pacar abang." ucap mbak ditengah pembicaraan sambil meletakkan satu-persatu gelas ke atas meja dan sedikit dibantu Ziva karena segan.
Abian tersenyum malu mendengar ucapan mbak yang sebenarnya Abian pun inginkan.
"Maaf mbak.. Ziva bukan pacarnya Abian. Cuma teman kampus, kebetulan Abian minta tolong ke Ziva." ucap Ziva meluruskan pernyataan mbak.
"Loh..? Mbak kirain kamu pacar abang. Karena-"
"Fellysia.! Jangan gitu ya cantik.." ucap Abian menegur Fellysia yang sedang bermain mobil-mobilan dengan anak-anak mbak.
Padahal Fellysia tidak melakukan kesalahan apa pun, Abian hanya menjadikan Fellysia sebagai alasan untuk memotong pembicaraan mbak barusan.
Abian melihat arah mbak duduk dan mengkode mbak agar tidak melanjutkan pembicaraan tentang hal itu.
Mbak pun tertawa kecil melihat Abian yang malu-malu. Ia melanjutkan pembicaraan dengan topik lain.
Pembicaraan mereka pun berlanjut sampai waktu menunjukkan pukul 6 sore.
"Udah setengah 6 juga ya.. Abang sama Ziva izin pulang mbak." ucap Abian untuk pamit izin pulang sambil berdiri dari posisi duduknya dan hendak menyalim mbak dengan suaminya.
"Nginep sini aja dulu kak. Besok pagi pulang." ujar mbak.
"Maaf mbak.. Tugas kampus sama kerjaan Ziva udah nungguin dirumah mbak." ucap Ziva menolak karena memang tugas kampus dan kerjaannya masih banyak yang harus dikerjakan.
Abian menggendong Fellysia yang tadi sedang bermain mobil-mobilan.
Ia mencium pipi kanan kiri dan kening adiknya itu.
"Kamu disini yang baik ya. Jangan rewel-rewel. Kasian mbak nanti kesusahan ngurus kamu." ucap Abian setelah mencium Fellysia.
"Abang.. ninggalin kamu disini.. bukan berarti abang buang kamu. Abang mau kamu dapat yang terbaik untuk pertumbuhan kamu." ucap Abian dengan mata yang berkaca-kaca.
"Abang mau kamu jadi perempuan yang sehat, cantik, juga pintar. Mbak bakal ngurusin dan bantu kamu untuk jadi anak yang kuat seperti abang."
"Abang sayang.. sayang banget sama Fellysia. Abang bakal usahain untuk sering kesini, buat main sama Fellysia, Arif dan Abrar juga."
"Sehat-sehat ya.." ucap Abian setelah mencium adiknya yang sudah berada di gendongan mbak.
Saat Ziva hendak menyalim mbak, mbak malah memeluk Ziva dengan sebelah tangan dan mencium Ziva layaknya seorang ibu mertua yang berterima kasih kepada menantunya.
Sedikit terkejut.. Ziva membalas pelukan hangat dari mbak dengan senyum manis yang terpancar daru
.
.
.
Abian, Ziva dan Fellysia pun sampai dihalaman rumah yang banyak tertanam bunga-bunga cantik.
Pengasuh Fellysia itu memang sangat suka dengan bunga, jadi tidak heran kalau halamannya penuh dengan bunga-bunga yang sangat cantik.
Mereka disambut dengan hangat oleh keluarga mbak pengasuh Fellysia.
"Ciaaaaa!!!" teriak seorang anak laki-laki berusia 5 tahun memanggil Fellysia dari depan rumah.
Anak laki-laki itu melambaikan tangan kepada Fellysia yang masih berada dalam mobil.
Ia adalah anak sulung mbak pengasuh. Sedangkan anak bungsu mbak pengasuh seumuran dengan Fellysia. Anak laki-laki yang tidak kalah menggemaskan dari Fellysia.
Abian keluar dari mobil disusul dengan Ziva yang menggendong Fellysia.
"Capek dijalan kak?" tanya mbak kepada Ziva yang baru saja sampai di depan rumah itu.
"Nggak mbak. Fellysia juga baik, nggak rewel sama sekali." jawab Ziva ramah, padahal belum pernah bertemu sama sekali.
"Duduk duduk, biar mbak buatkan minum." ucap mbak menyuruh Ziva dan Abian untuk duduk dikursi yang ada di teras rumah itu.
Mbak membawakan 2 gelas teh hangat untuk Ziva dan Abian, juga 1 gelas kopi untuk suami mbak.
"Baru ini mbak jumpa sama pacar abang." ucap mbak ditengah pembicaraan sambil meletakkan satu-persatu gelas ke atas meja dan sedikit dibantu Ziva karena segan.
Abian tersenyum malu mendengar ucapan mbak yang sebenarnya Abian pun inginkan.
"Maaf mbak.. Ziva bukan pacarnya Abian. Cuma teman kampus, kebetulan Abian minta tolong ke Ziva." ucap Ziva meluruskan pernyataan mbak.
"Loh..? Mbak kirain kamu pacar abang. Karena-"
"Fellysia.! Jangan gitu ya cantik.." ucap Abian menegur Fellysia yang sedang bermain mobil-mobilan dengan anak-anak mbak.
Padahal Fellysia tidak melakukan kesalahan apa pun, Abian hanya menjadikan Fellysia sebagai alasan untuk memotong pembicaraan mbak barusan.
Abian melihat arah mbak duduk dan mengkode mbak agar tidak melanjutkan pembicaraan tentang hal itu.
Mbak pun tertawa kecil melihat Abian yang malu-malu. Ia melanjutkan pembicaraan dengan topik lain.
Pembicaraan mereka pun berlanjut sampai waktu menunjukkan pukul 6 sore.
"Udah setengah 6 juga ya.. Abang sama Ziva izin pulang mbak." ucap Abian untuk pamit izin pulang sambil berdiri dari posisi duduknya dan hendak menyalim mbak dengan suaminya.
"Nginep sini aja dulu kak. Besok pagi pulang." ujar mbak.
"Maaf mbak.. Tugas kampus sama kerjaan Ziva udah nungguin dirumah mbak." ucap Ziva menolak karena memang tugas kampus dan kerjaannya masih banyak yang harus dikerjakan.
Abian menggendong Fellysia yang tadi sedang bermain mobil-mobilan.
Ia mencium pipi kanan kiri dan kening adiknya itu.
"Kamu disini yang baik ya. Jangan rewel-rewel. Kasian mbak nanti kesusahan ngurus kamu." ucap Abian setelah mencium Fellysia.
"Abang.. ninggalin kamu disini.. bukan berarti abang buang kamu. Abang mau kamu dapat yang terbaik untuk pertumbuhan kamu." ucap Abian dengan mata yang berkaca-kaca.
"Abang mau kamu jadi perempuan yang sehat, cantik, juga pintar. Mbak bakal ngurusin dan bantu kamu untuk jadi anak yang kuat seperti abang."
"Abang sayang.. sayang banget sama Fellysia. Abang bakal usahain untuk sering kesini, buat main sama Fellysia, Arif dan Abrar juga."
"Sehat-sehat ya.." ucap Abian setelah mencium adiknya yang sudah berada di gendongan mbak.
Saat Ziva hendak menyalim mbak, mbak malah memeluk Ziva dengan sebelah tangan dan mencium Ziva layaknya seorang ibu mertua yang berterima kasih kepada menantunya.
Sedikit terkejut.. Ziva membalas pelukan hangat dari mbak dengan senyum manis yang terpancar daru
Abian, Ziva dan Fellysia pun sampai dihalaman rumah yang banyak tertanam bunga-bunga cantik.
Pengasuh Fellysia itu memang sangat suka dengan bunga, jadi tidak heran kalau halamannya penuh dengan bunga-bunga yang sangat cantik.
Mereka disambut dengan hangat oleh keluarga mbak pengasuh Fellysia.
"Ciaaaaa!!!" teriak seorang anak laki-laki berusia 5 tahun memanggil Fellysia dari depan rumah.
Anak laki-laki itu melambaikan tangan kepada Fellysia yang masih berada dalam mobil.
Ia adalah anak sulung mbak pengasuh. Sedangkan anak bungsu mbak pengasuh seumuran dengan Fellysia. Anak laki-laki yang tidak kalah menggemaskan dari Fellysia.
Abian keluar dari mobil disusul dengan Ziva yang menggendong Fellysia.
"Capek dijalan kak?" tanya mbak kepada Ziva yang baru saja sampai di depan rumah itu.
"Nggak mbak. Fellysia juga baik, nggak rewel sama sekali." jawab Ziva ramah, padahal belum pernah bertemu sama sekali.
"Duduk duduk, biar mbak buatkan minum." ucap mbak menyuruh Ziva dan Abian untuk duduk dikursi yang ada di teras rumah itu.
Mbak membawakan 2 gelas teh hangat untuk Ziva dan Abian, juga 1 gelas kopi untuk suami mbak.
"Baru ini mbak jumpa sama pacar abang." ucap mbak ditengah pembicaraan sambil meletakkan satu-persatu gelas ke atas meja dan sedikit dibantu Ziva karena segan.
Abian tersenyum malu mendengar ucapan mbak yang sebenarnya Abian pun inginkan.
"Maaf mbak.. Ziva bukan pacarnya Abian. Cuma teman kampus, kebetulan Abian minta tolong ke Ziva." ucap Ziva meluruskan pernyataan mbak.
"Loh..? Mbak kirain kamu pacar abang. Karena-"
"Fellysia.! Jangan gitu ya cantik.." ucap Abian menegur Fellysia yang sedang bermain mobil-mobilan dengan anak-anak mbak.
Padahal Fellysia tidak melakukan kesalahan apa pun, Abian hanya menjadikan Fellysia sebagai alasan untuk memotong pembicaraan mbak barusan.
Abian melihat arah mbak duduk dan mengkode mbak agar tidak melanjutkan pembicaraan tentang hal itu.
Mbak pun tertawa kecil melihat Abian yang malu-malu. Ia melanjutkan pembicaraan dengan topik lain.
Pembicaraan mereka pun berlanjut sampai waktu menunjukkan pukul 6 sore.
"Udah setengah 6 juga ya.. Abang sama Ziva izin pulang mbak." ucap Abian untuk pamit izin pulang sambil berdiri dari posisi duduknya dan hendak menyalim mbak dengan suaminya.
"Nginep sini aja dulu kak. Besok pagi pulang." ujar mbak.
"Maaf mbak.. Tugas kampus sama kerjaan Ziva udah nungguin dirumah mbak." ucap Ziva menolak karena memang tugas kampus dan kerjaannya masih banyak yang harus dikerjakan.
Abian menggendong Fellysia yang tadi sedang bermain mobil-mobilan.
Ia mencium pipi kanan kiri dan kening adiknya itu.
"Kamu disini yang baik ya. Jangan rewel-rewel. Kasian mbak nanti kesusahan ngurus kamu." ucap Abian setelah mencium Fellysia.
"Abang.. ninggalin kamu disini.. bukan berarti abang buang kamu. Abang mau kamu dapat yang terbaik untuk pertumbuhan kamu." ucap Abian dengan mata yang berkaca-kaca.
"Abang mau kamu jadi perempuan yang sehat, cantik, juga pintar. Mbak bakal ngurusin dan bantu kamu untuk jadi anak yang kuat seperti abang."
"Abang sayang.. sayang banget sama Fellysia. Abang bakal usahain untuk sering kesini, buat main sama Fellysia, Arif dan Abrar juga."
"Sehat-sehat ya.." ucap Abian setelah mencium adiknya yang sudah berada di gendongan mbak.
Saat Ziva hendak menyalim mbak, mbak malah memeluk Ziva dengan sebelah tangan dan mencium Ziva layaknya seorang ibu mertua yang berterima kasih kepada menantunya.
Sedikit terkejut.. Ziva membalas pelukan hangat dari mbak dengan senyum manis yang terpancar daru