”Ih, kenapa harus gua. Lu saja,” balas Obert dengan nada penuh penolakkan.
“Yah sudah Obby saja kalau begitu,” melempar tugas yang tidak seharusnya dilakukan ke Obby.
“Kampret! Gua lagi makan,” timpal Obby acuh tak acuh.
“Wkwkkwk, yah sudah, Yas. Lu sendiri saja. Karena tidak ada yang mau mengantar,” tawa Finn puas setelah sengaja meledek Yasti.
“Kambing lu semua. Gua sudah kayak bola saja dioper sana sini. Lagian, lu datang-datang ngapain sih ngatain gua sakit mata!” Yasti menghela napas lega. Karena Finn sadar dan bisa memecah suasana supaya tidak canggung lagi.
“Wkwkwkk, lagian lu seperti ikan kurang air, terus matanya kayak kebakaran jenggot,” tawanya puas setelah secara sadar dan sengaja mengejek Yasti.
“Pffttt," kekeh Ara menahannya. Finn memang lucu. Ara sudah berpikir, jika Finn menyadari ada sesuatu disini makanya dia seperti itu. Terlebih Yasti pasti tadi sudah memberi kode padanya.
“Eh, ada Ara lagi ketawa. Duhh, langsung deh diabetes gua,” Finn beralih pandangan ke Ara. Menatapnya hangat sembari tersenyum.
“Hahaha, mulai lebay,” balasnya pada Finn yang memang narsis dan berlebihan.
Louise hanya menatap Ara bingung dan tidak suka. Dia berpikir, jika sikap Ara itu aneh. Padahal jelas-jelas dia mengabaikan Louise, tapi bisa-bisanya tertawa seperti itu pada yang lainnya.
Walau terbesit sekilas dipikiran Louise kalau senyuman dan tawa Ara tadi terlihat sangat cantik dan manis dimatanya, tapi Louise yang terkejut dengan pikirannya sendiri langsung menghilangkan pikiran aneh itu dalam sekejap. Karena itu tidak seperti dirinya.
“Lama banget lu, Finn,” ucap Obby.
“Iyah, antri tadi,” balasnya pada Obby.
“Eh, iyah. Ini Ra, buat lu, jus semangka. Tadi gua lihat Obet sama Obby mendatangi kalian, jadi gua sekalian beli buat lu,” katanya sembari memberikan segelas jus semangka pada Ara.
“Makasih finn,” ucap Ara padanya.
“Ehem, ehem! Bilangnya sih kalian, tapi yang dibelikan Ara saja, gua tidak,” protes keras dari Yasti yang merasa dianak tirikan oleh Finn.
“Maaf Yas, lu minta Obet saja beliin. Dia pasti mau,” sembari terkekeh melihat kearah Obert yang langsung mengernyitkan dahi saat itu juga.
“Dih, enak saja,” menimpali perkataan Finn.
••••
Jam istirahat telah selesai, lalu mereka semua berkumpul lagi di lapangan sesuai dengan kelompok masing-masing.
Ternyata Finn, Obet dan teman baru mereka berada dalam satu kelompok, hanya Obby sendiri yang terpisah.
Setelah berkumpul dan diberi arahan oleh para pengurus osis, mereka bergegas melakukannya agar dapat selesai lebih cepat dan pulang.
“Haa, akhirnya kelar juga hari pertama. Sisa besok hari terakhir. Tapi, bukannya biasa umumnya tiga hari yah? Lalu kenapa ini hanya dua hari?” ucap Yasti pada Ara yang berada tepat disampingnya.
“Hem, mungkin disini berbeda. Lagian mana gua tahu, gua juga baru pertama sama seperti lu, gimana sih,” celetuk Ara pada sahabatnya, Yasti.
“Halo semuanya, terima kasih untuk kerjasama kalian hari ini. Orientasi hari pertama sudah selesai tanpa masalah berkat kalian semua. Lalu saya ingin menyampaikan, bahwa lusa kita akan berpergian ke pegunungan dan mengadakan camping selama tiga hari dua malam. Dimohon untuk kalian menyiapkan segala keperluan berkemah. Maaf baru menginfokan hal ini sekarang. Dikarenakan baru mendapat konfirmasi dari kepala sekolah dan kalian tidak perlu khawatir soal ijin orang tua. Karena kepala sekolah dan para guru sudah meminta ijin langsung pada orang tua kalian masing-masing. Saat kita pergi pada hari yang ditentukan nanti, tetap didampingi oleh para guru dan kepala sekolah. Karena Lusa kita akan berkemah, jadi untuk segala kegiatan besok akan diliburkan. Saya, Reas Navvaro, selaku Ketua Osis mengucapkan terima kasih atas kehadirannya hari ini,” jelas Reas pada para siswa yang sedang berbaris ditengah lapangan. Kemudian, setelah pengarahan selesai, Reas pun membubarkan barisan dan mempersilahkan mereka semua untuk kembali ke rumah masing-masing.
“Wah, kok mendadak begitu?! Mana bisa kita menyiapkan dalam sehari?” gerutu Yasti tentang kemah dadakan tersebut.
Sejujurnya, Ara tidak terlalu suka ide tentang berkemah, tapi mereka tetap harus ikut tanpa protes, kalau tidak ingin kehilangan poin.
Di sekolah ini ada juga sistem poin. Jika poin kurang dari yang ditentukan, maka para siswa atau siswi akan dikeluarkan dari sekolah ini. Kebijakan sekolah ini memang sangat ketat. Maka dari itu, selama masa sekolah semua murid harus bersikap baik dan menambah poin masing-masing dari segala kegiatan yang disediakan oleh sekolah.
Sekolah menerapkan aturan seperti ini agar para muridnya berusaha dengan baik, giat dan tidak bermalas-malasan dalam segala hal yang menyangkut pendidikan mereka di sekolah.
Sebenarnya baik, tapi kalau untuk hal seperti ini Ara tidak terlalu menyukainya.
Karena berkemah itu merepotkan sekali. Bukannya tidak suka, tapi rasanya tidak nyaman. Karena pasti akan tidur dalam satu tenda atau satu ruangan dengan orang yang tidak dikenal dan harus berbaur dengan semuanya. Walau tujuannya mungkin baik, tapi tetap saja tidak nyaman.
Itu semua karena Ara memiliki alasannya tersendiri, kenapa dia tidak dapat berbaur dengan yang lain.
“Yah sudah, Yas. Kita siapkan mulai hari ini saja, gimana? Lagian besok libur,” ucap Ara pada Yasti. Mengajaknya mempersiapkan keperluan dan kebutuhan untuk berkemah lusa nanti.
“Kesal gue, Ra!” gerutu Yasti.
“Kita tidak punya pilihan lain, Yas. Pengurangan poinnya cukup besar kalau tidak ikut," bujuknya pada Yasti.
Karena Ara tidak suka juga hal seperti ini dan terpaksa mengikutinya. Poin akan berkurang sebanyak sepuluh poin jika tidak mengikuti kegiatan kemah tersebut. Sementara, poin awal para murid baru yaitu lima belas poin. Jika mereka hanya tersisa lima poin, akan diberi peringatan pertama dan terakhir. Jika poin dibawah tiga, maka mereka akan langsung dikeluarkan tanpa pemberitahuan apa pun dan itu sebuah keputusan mutlak pihak sekolah.
“Ok, kalau begitu. Tapi kita pulang dulu ya. Gue mau mandi soalnya. Parah sekali ini, gua terlihat sangat kumel. Kok bisa lu tetap terlihat cantik seperti itu, Ra. Iri deh gue. Hiks," ucap Yasti saat melihat Ara masih terlihat segar dan cantik.
“Cantik kepala lu peyang! Gua juga kumel tahu, memang lu tidak lihat? Atau mau coba cium ketiak gua? Siapa tahu saja ada bau kecut asam, terus lu suka kan, hahaha,” balas Ara sembari meledek dan menyodorkan ketiaknya pada Yasti.
“Kambing lu, Ra. Tega sekali minta gua nyi . . . ,” belum Yasti selesai ngomong tiba-tiba Reas menghampiri Ara dan Yasti.
“Hai, kenapa belum pulang? Bagaimana tadi?” sapa Reas ramah pada Ara dan Yasti.
“Tskk!” decak Yasti tidak suka. Karena masih kesal jika mengingat kejadian sebelumnya. Itu karena Yasti adalah anak yang sedikit pendendam.
Melihat Yasti ketus tanpa memperdulikan Reass, Ara menyenggol sedikit lengannya. Setelah itu, barulah Yasti membalas sapaan Reas.
“Ha..haha.. Seru kok, Kak,” tawa canggungnya Ara yang tidak bisa ditutupi.
Menurut pendapat Ara ini tidaklah seru dan lebih terasa seperti di Neraka. Dari pagi sampai siang mereka hanya diminta untuk bersih-bersih, lalu olahraga tidak jelas dan kegiatan lainnya yang menguras tenaga.
“Sepertinya tidak. Wajah kalian tidak bisa berbohong. Maaf yah atas perlakuan Anggota Osis yang lain,” ucap Reas sekali lagi beserta permintaan maafnya.
“Tidak apa-apa, Kak. Sudah berlalu juga. Kami tidak mengambil hati lebih dari ini. Kejadian seperti ini bisa saja terjadi kok,” senyum ramah Ara pada Reas
“Baiklah, terima kasih yah," balas Reas ramah.
“Sama-sama, Kak,” ucap Ara.
“Tidak usah diambil hati, Kak. Dia orangnya memang seperti itu, hehehe. Tapi, anaknya baik kok,” ucap Ara sekali lagi saat melihat Reas menatap Yasti cemas. Karena terlihat jika Yasti masih merasa tidak adil atas perlakuan yang dia terima tadi.
“Oh, baik," Reas tidak lagi ingin memperpanjang soal Yasti. Karena ada yang lebih penting saat ini. Untuk tujuan itulah dia menghampiri keduanya.
"Lalu, boleh minta nomor telepon kamu tidak?” ucap Reas tiba-tiba. Niatnya mendekati mereka berdua tadi memang untuk meminta nomor ponsel Ara. Karena Reas tertarik dan menyukainya.
Ara yang tidak tahu harus merespon bagaimana hanya diam. Karena Reas yang meminta nomornya, sekaligus memberikan ponselnya pada Ara.
Sejenak Ara ragu untuk memberikan nomornya dan tidak tahu bagaimana cara menolaknya, tapi untunglah ada mereka, teman-teman yang lainnya, yang datang menghampiri. Lalu sengaja mengalihkan pandangannya kearah Finn yang memanggilnya cukup kencang.