“Wualah, bude ketemu juga sama cah ganteng juragan kopi Gayo ya. Siapa namanya?” Maryam mengulurkan tangan pada Dean. Senyum masih bertahan di bibir wanita setengah abad yang berdiri di samping suaminya. Saat itu pula Dean gelagapan bingung harus menanggapi apa kalimat Maryam. Dia bingung … hanya menyambut uluran tangan Maryam tanpa menyebutkan namanya. Kenapa juga Naya harus kembali mengakui sebuah kebohongan dengan begitu mudah tanpa ada beban sedikit pun. Sementara Dean kini bingung harus mengakui dirinya sebagai siapa. “Rellyn Garen Ottmar bude.” “Wualah angel tenan. Bude yo susah ini manggilnya siapa,” sahut Maryam saat mendengar nama yang disebutkan Naya sementara Dean hanya berdiri terpaku. “Panggil Abang saja,” putus Naya dengan melirik Dean yang sekarang tampak begitu canggun

