“Dean!” Seketika si pemilik nama melirik ke arah sumber suara yang memanggilnya. Dean memindai para pengunjung di resto. Suasana masih sepi dan dia pastikan tidak mengenal satu pun dari para pengunjung yang ada. Lantas siapa yang tadi memanggil namanya, rasanya telinga dia masih cukup normal untuk menangkap suara yang ada. Dean juga bisa memastikan kalau panggilan itu bukan hanya sekedar halusinasinya saja. “Kenapa?” Naya mengusap lengan Dean yang terlihat masih mencari-cari kemungkinan salah satu pengunjung yang mungkin dia kenali yang memanggilnya tadi. “Tadi kamu dengar ada yang panggil namaku?” Naya mengarahkan matanya ke resto, dia menggeleng. “Mungkin salah dengar,” ujar Naya karena dia juga tidak menangkap ada seseorang yang menatap ke arah mereka. “Mungkin salah dengar, Sayang

