32

1388 Words
Alara Senja tersenyum tidak jelas membaca sesuatu dari ponselnya. Itu adalah rangkaian kata yang Bahtiar Gema kirimkan di portal media sosialnya untuk selebihnya di tag ke akun milik Lara. Jangan di tanya seperti apa perasaan Lara sekarang ini. Menggambarkannya saja Lara tidak mampu. Apa lagi menjabarkannya. Tidak heran jika banyak wanita di luar sana yang mengejar Gema. Pria berstatus duda itu jelas-jelas mempunyai daya pikat tersendiri. Tak hanya lewat sentuhan yang memabukkan Lara sudah terperangkap dalam pesonanya. Dan kesulitan untuk mempertahankan kewarasannya. “Abang aku lapar.” Kepala Lara bersandar dengan nyamannya di bahu Gema. Sedang prianya dengan asik memainkan ponsel untuk setelahnya di tunjukkan kepada Lara. “Abang pengen makan ini.” Mata Lara membulat. Kok tumben, begitu pikirnya. “Nggak tahu. Kayaknya enak banget di makan malam-malam gini. Kamu mau apa?” Berpikir sebentar. Netra Lara fokus berselancar di timeline media sosialnya. “Seblak,” jawabnya. “Yang pedas, pakai cakar sama telur.” “Oke. Tadi ngobrol apa saja sama Jasmine.” “Banyak.” “Salah satunya.” “Random.” Gema kepo. Begitu maksudnya. Sayangnya Alara Senja dengan drama koreanya memang tidak terpisahkan. Jadi jangan marah kalau di abaikan begini. “Abang ada kendala di kantor.” Perginya Gema siang tadi dari rumahnya karena memang urusan pekerjaan yang mendesak. Klien kali ini tidak bisa Gema acuhkan mengingat dirinya adalah pengacara serta tangan kanannya untuk urusan bisnisnya bila bersangkutan dengan hukum. “Sama Pak Maha?” Alara pun tahu kalau yang Gema temui bukan sembarang orang. Tidak perlu mengorek perihal kehidupannya. Jelas, Maharaja Askara adalah seorang pengusaha berpengaruh di Indonesia dengan label putra kedua seorang pengusaha senior Aksara. Yang dalam kata lain, Maharaja adalah adik satu-satunya dari Ardika Aksara. “Kasusnya korupsi. Tapi alih-alih di katakan korupsi, istri pak Maha lebih ingin di ucapkan penggelapan dana.” “Nominalnya berapa?” “Nggak banyak. Sekitar 500 juta.” “Holkay.” “Maksudnya?” “Orang kaya alias tajir.” Gema tertawa. Menjawil pipi Lara yang gembil dengan gemas. “Bahasa kamu makin matang, Ra. Ternak bahasa gimana?” Embusan napas Lara terhela. Diirngi dengan dengkusan yang tak di tutupi. “Ternak tuh anak Bang—” “Yuk bikin yuk.” BENGEK, BUND! Gema Sukanya gercep alias gerak cepat. Telinganya nggak bisa dengar sedikit saja kata berbau m***m. Kalau tidak jatuhnya ke sofa berarti nariknya ke ranjang Lara? Kalau moodnya baik ya gasskeun. Kalau mood dalam keadaan buruk, misuh-misuh paling. “Serius!” “Abang duarius malahan, Ra.” Ya apa Namanya kalau bukan serius? Gema sudah melamarnya dan prosesi nikahan akan segera berlangsung. Jadi memang serius. “Jadi ini?” Layar milik Lara berganti dengan daftar Undang-Undang mengenai penggelapan dana. “Kenapa kayak gitu? Kalau pasal ini yang di pakai, kurungannya paling banter cuma empat tahun atau minimalnya setahun doang. Pasal 372 KUHP: Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum memiliki barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain, tetapi yang ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan diancam karena penggelapan, dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah.” “Masalahnya …” Gema menghela napas. “Ini mahasiswa, Sayang.” “Heh!?” Gema mengangguk. “Makanya abang pun bimbang. Ini mahasiswa yang kerja di perusahaan pak Maha. Cukup pelik karena masih berstatus pelajar meskipun umurnya cukup layak buat masuk ke jeruji besi.” Sulit. Dan bapak-bapak dengan jaket serta helm berlogo aplikasi online kenamaan datang bersuara. Ketegangan yang Gema dan Lara rajut mengendur sejenak. “Aku heran,” kata Lara melirik ke arah Gema yang menciumi aroma makanan pesanannya. “Sejak kapan abang suka kimchi?” Pasalnya, Gema doyan menghujat Lara kala sedang menikmati kimchi yang biasa di belinya. “Abang tiba-tiba pengen.” Berganti Lara yang diam. Otaknya berputar dan ingatannya melayang. “Abang …” Panggilnya lirih. “Aku baru ingat.” Was-was jika Gema tersedak dadakan. “Aku belum mens bulan ini. Mungkin nggak—” Apa Lara bilang? Belum juga tertelan itu cakar ayam melewati tenggorokannya. Gema sudah memasang wajah serius. “Benar, Yang?” Lara mengangguk. “Abang punya test pack. Ah enggak—kita ke dokter saja.” Lah? Kok gini? Wae? Bisa-bisanya semangat ’45 Bahtiar Gema membara bak terkena percikan api. *** Bayangkan! Ketika kalian menjalin hubungan dengan seseorang yang punya pengaruh tinggi. Bayangkan saja dulu. Baiklah. Apa-apa serba klik dengan satu tombol maka semuanya tersaji secepat kilat menyambar tanah; tersaji. Itu yang Alara Senja alami detik ini. Tercengang? Tentu. Siapa yang tidak kena serangan jantung dadakan? Sudah terlambat mens, di tambah Bahtiar Gema yang heboh membawa dokter pribadinya beserta pasukannya untuk menyambangi rumah. Sampai di baringkan di ranjang biasa untuk dirinya terlelap pun, Lara masih membulatkan matanya tak percaya. Rahangnya kebas maksimal. Dan saat perutnya di lumuri gel, barulah Lara sadar dari pikirannya yang berkelana. “Kecil. Kayak biji alpokat.” Ingatkan Lara untuk jangan menyentuh buah alpokat. Kasihan calon anaknya kena pisau. Kesakitan nanti. “Wah …” Vokal Gema mendayu-dayu indah di rungu Lara. Pria itu memancarkan binar bahagia di manik matanya yang cerah. “Kamu beneran hamil, loh, Yang.” Ya kali bohongan. Lara saja sudah was-was beberapa hari ini kenapa tidak kunjung tiba tamu bulanannya. Ternyata oh ternyata. Dialah biangnya; Bahtiar Gema. “Kamu …” Tatap Alara berang. Dan Gema membalas dengan cengerin. “Sial!” Tahu apa kalian tentang Alara Senja? Baik. Gema bagi ceritanya sedikit saja. Lara sangat lemah jika Gema sudah mengelusi rambutnya. Menurut penuturan yang Gema ingat, semasa kecil dulu, ayahnya paling sering mengelusi kepalanya. Pernah juga Lara utarakan menyoal sikapnya yang manja dan ingin mendapatkan pasangan yang mau Lara gelendotin sebagai tempatnya berkeluh kesah. Awalnya Gema merasa aneh. Namun setelah tahu bagaimana dan sekejam apa kehidupan yang Lara lewati, hal itu menjadikan dirinya pribadi yang mau lebih peduli. Bukan untuk pamer dan menjadi kriteria sosok yang Alara Senja hendaki. Melainkan Bahtiar Gema telah sadar. Bahwa Alara Senja amatlah berharga untuk kehidupannya. Bahwa Alara Senja takkan pernah sekali saja ingin Gema sia-siakan. Baginya, sudah cukup melihat penderitaan yang Lara pikul. Tidak ingin Gema beri kesusahan-kesusahan yang lainnya. Dan jika harus jujur, ini sudah Gema rencanakan. Abaikan tentang kemurkaan Alara. Gema tidak peduli. “Kalau ada apa-apa, kamu bisa hubungi saya.” Meida Namanya. Dokter keluarga Gema yang sekaligus kawan semasa di perguruan tinggi dulu. “Ini vitamin yang saya resepkan dan akan di kirim segera.” Baiknya juga begitu. Jadi tidak perlu Gema bersusah-susah menebus ke apotek. Setelahnya, Meida merasa tidak di butuhkan lagi dan hengkang usai memberi selamat untuk Alara. “Kamu bakal tahu kalau ini yang terbaik,” ucap Gema. Lara mendengus. “Abang nggak mau lepasin kamu, Ra. Dan kamu juga nggak bisa lepasin abang.” “Posesif!” “Biarin.” Gema menyebalkan. “Kamu berharga. Lebih dari apa pun kamu bernilai.” “Abang suka banget puitis kayak gini ke semua cewek, kah?” “Abang buruk banget kayaknya di mata kamu, Ra.” “Memang. Kan playboy!” Alara dan bibirnya selalu bekerja sama untuk menghujat Bahtiar Gema. Herannya, Gema tidak menunjukkan tanda-tanda amarah di raut wajahnya. “Abang nggak membiarkan kamu buat merasakan yang namanya sakit, Ra. Nggak akan Abang izinin.” Lara mendecih. “Kamu—mulai sekarang—harus punya standar dan batas yang cukup baik karena kamu memang layak untuk di hargai. Kamu sudah ngelakuin hal terbaik dan patut untuk dicintai.” “Hamil tuh bagian dari kebaikan ya, bang?” Pertanyaan Alara menarik sudut bibir Gema untuk melengkungkan senyumnya. “Hm, itu baik.” “Buat abang?” “Buat kita.” “Aku emosional banget, loh lihat muka abang.” “Ra …” Ragu-ragu Gema ingin mengatakan, “Kamu harus hati-hati kayaknya. Takutnya, babynya bakal plek-ketiplek kayak Abang alih-alih kamu muak sama muka Abang.” Alara meringis. Tidak mau mengakui apa yang Gema ucapkan. Namun melihat dari beberapa kasus yang beredar di masyarakat … tampaknya hal itu benar adanya. Serius, ada sensasi lain yang Lara rasakan kala memandang wajah Gema. Teduh dan menenangkan. Dan itu berlainan dengan mulutnya yang berkata emosional dengan menatap wajah sang kekasih. Sebenarnya—yang Lara rasakan ialah perasaan hampa dulu sewaktu mencintai Prabu namun di abaikan tanpa di balas perasaannya. Dan yang di alaminya sekarang meminta Gema untuk dirinya lalu di balas dengan limpahan cinta dan kasih sayang yang tiada tara … Lara merasa ini jalannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD