Asli Bund, salah. Salah banget.
Ngarepin keromantisan kok sama Bahtiar Gema. Di bucinin kagak di bikin dongkol sampai ubun-ubun iya.
Ini loh konteks ajakannya kencan. K-E-N-C-A-N. Di bacanya wajib pelan dan di resapi supaya merasuk ke dalam sanubari. Eja satu per satu, Hyung. Biar lidahnya syahdu.
Hilih kintil! Praktiknya nggak sama. Nggak sesuai ekspektasi Alara Senja yang kayak contohnya makan di restoran dengan suasana romantis. Diiringi pemain biola dan temaram lampu berhiaskan bunga-bunga mawar merah. Begitu baru benar. Atau yang lebih spesifik adalah satu restoran di booking cuma buat makan salad sayur dan wine merah dengan harga selangit. Ya, gitu tuh bayangan Lara.
“Bang … gendong.” Rengek Alara yang sudah engap dengan track jalur menuju ke puncak. Ini bukan jalur pendaki yang sebenar-benarnya kalau mau naik gunung. Murni memang ingin sampai ke puncak dengan rute yang Gema buat memutar.
Sayangnya nggak gitu, Beb. Enggak! Sudah mundur saja. Timbang gelinding kayak terenggiling. Kencan mereka unik banget. Jauh dari hingar binger kota yang bising.
Katanya, “sambil jalan-jalan, Ra. Kapan lagi bisa habisin waktu bareng kamu coba.”
Habisin waktu endasmu!
Ingin Alara sahuti demikian. Tapi ingat umur dan tata krama. Serius, napas Alara sudah tinggal setetes lagi dan pingsan di tempat.
“Memang belum pernah naik gunung, Ra? Abang kasih tahu istilahnya mau?”
“Karepmu Ma, Gema,” balas Alara gemas. Bahkan Alara memanggil nama Gema tanpa embel-embel dan Gema yang selow saja gitu.
Tubuhnya berada di belakang Gema yang memimpin jalan. Sejak tadi tangan Alara terus berpegangan pada ujung kaos Gema membuat si empunya terlihat lucu. Saking nggak tahannya Gema melihat aksi Lara yang terus memegang ujung kaosnya. Dengan kasar langsung meraih tangan Lara untuk di simpan dalam tangan besarnya.
“Honeymoon kita ke gunung saja kalau gitu.” Edan gaes edan. Muncungnya makin nggak punya akhlak dan sesuka hati saja menentukan pilihan. “Ada namanya navigator, leader, follower, chef, logistik, dan sweaper.”
Alara nggak tanya. Nggak juga mau dengar. Tapi Gema berceloteh ria seolah itu caranya memberinya Alara hiburan.
Demi kebaikan bersama, Alara dengarkan saja.
“Bentar lagi sampai. Vilanya enak kok, kamu bakal betah nanti. Tapi kita nge-camp ya di halaman depan apa mau di belakang? Hamparannya langsung kebun teh.” Gema betul-betul memberikan sisi nyaman untuk Alara agar perempuannya tidak lagi misuh-misuh. “Ke Bogor kalau cuma ke tempat yang bising buat apa, Ra. Ya kali kamu mau ketemu kembaran kamu di Kebun Raya Bogor.”
“Hm, bocah kayak aku manut saja—mulut abang lama-lama nggak punya etika. Minta banget di gerus kayaknya.”
Duh, kalau dalam kondisi normal maksudnya di kamar gitu atau lagi mesra-mesraan Gema semangat ’45 sekali buat di gerus sama Lara. Secara, bibir Alara Senja itu, ugh, menggiurkan. Bentuknya nggak tipis dan nggak tebal tapi pas sewaktu Gema gigiti bahkan sampai di hisap layaknya lintah menemukan mangsanya. Garis bibirnya juga seksi. Jadi tanpa ada pewarna di sana pun sudah sangat membikin Gema membayangkan yang iya-iya.
“Bocah yang pintar giling bocah maksudnya.”
Oh, pipi. Sejak kapan ada sengatan panas menempel di sana, ya? Rasa-rasanya udaranya dingin kok. Tapi kok kedua pipinya berhawa panas gitu.
“Katanya mau cerita soal gunung.” Alara alihkan topiknya agar pipinya tidak menjadi-jadi panasnya.
“Navigator itu sebagai penuntun dan penunjuk jalan. Jadi dia jelas di depan posisinya. Leader tahu dong. Dia kepala rombongan yang ngatur apa-apa saja yang mau di bawa dan siapa saja yang di bawa. Follower itu sebagai pengikut atau anggota rombongan. Chef tukang masak di sana.” Gema tertawa dengan tangan yang menggenggam telapak tangan Alara. “Kita sampai. Gimana? Suka, 'kan?”
Daebak!
Ternyata indah banget. Sejuk juga. Eksotis lagi dengan adanya kabut yang turun dan menutupi sebagian wilayah. Tapi tetap tidak mengurangi keindahannya. Alara terkagum-kagum sebelum akhirnya ia keluarkan ponselnya. Membidik kabut-kabut yang turun dengan sudut yang berbeda-beda. Terakhir …
“Abang ayo foto. Nanti di cetak buat aku tulisin kalau ini kencan pertama kita.”
Sangat sulit mengajak Gema berfoto. Dengan cepat ia katakan tujuannya agar si abang dudanya mengerti dan mau.
“Yang tadi belum selesai abang jelasih loh, Ra.” Tahu Alara. Gema hendak menolak. Dan anggukannya langsung di pahami Gema sembari berjalan memasuki gerbang vila. “Terus ada logistic. Dia punya tugas bawa bahan makanan buat di puncak. Nah yang terakhir sweaper. Ini yang paling abang suka. Dari dulu kalau ke gunung pasti lebih milih jalan di belakang. Istilahnya penyapu jalanan. Punya tugas awasin anggota kalau-kalau ada yang tertinggal dari rombongan. Dengan catatan, kalau muncaknya malam wajib dua orang sweapernya. Kalau siang cukup satu saja.”
“Abang sering ke gunung kalau gitu?” Gema balas mengangguk. “Dari zaman sekolah?”
“SMA.”
“Gabut apa gimana sih bang? Hobi kok ke gunung.” Gerutu Alara. Pasalnya, yang berbau dengan gunung akan sangat Alara hindari. Terlalu mistis dan misterius. Terlebih kala berita-berita pendaki yang hilang. Alara makin tidak mau saja bersahabat dengan gunung. Tidak kecuali dengan hari ini; terpaksa.
“Orang malesan kayak kamu mana paham dengan yang namanya memacu adrenalin, Ra.”
“Jantung kali bang di pacu.”
“Kan apa Abang bilang.”
Belum-belum Alara sudah merebahkan tubuhnya di sofa. Tidak peduli pada Gema yang menyuruhnya untuk berpindah tempat atau sekadar berganti baju.
“Begini lebih enak.”
“Jorok kamu.”
“Yang penting jadi nikah sama abang.”
“Kamu makin pintas balasnya.”
“Siapa dulu pawangnya.”
Dah lah kiceup. Gema bakal kehabisan kata-kata kalau terus menanggapi Lara. Perempuan ini sudah pintar membalas omongannya.
“Bang …” Gema menggumam. Duduk tepat di kaki Lara dan melepas sepatu yang perempuan itu kenakan. “Mau tanya.”
“Apa?”
“Janji dulu.”
“Janji apa?”
“Jangan marah.”
“Oke, apa.”
Bukan tanya yang langsung Lara suarakan. Melainkan gerakan matanya yang terus menatapi Gema dengan intens. Dan terjulur tangannya mengusapi rahang Gema. Terasa kasar namun Lara suka. Ada getaran lain kala bersentuhan dengan kulitnya.
“Anak yang baik berasal dari wanita yang baik pula. Abang nggak nyesal buat kenal sama aku dan tahu kondisi aku?”
Itu lagi.
Embusan napas Gema memberat. Topik ini sedikit berat baginya jika harus di bahas lagi. Karena cukup dengan Alara berada di sisinya maka semua keresahan usai. Tidak perlu melakukan apa pun atau mengusahakan menjadi sebaik yang selalu orang-orang katakan. Bagi Gema, Lara saja sudah cukup.
“Nggak ada alasan buat abang nyesal atau apa pun yang bakal kamu ajuin lagi ke depannya.”
“Abang nggak nuntut aku?”
“Buat apa?” Lara melihat kilat ketidaksukaan di manik kelam Gema. “Abang bukan orang suci yang benar-benar bersih. Sebelum ini, ada banyak dosa yang abang lakuin. Jadi, ketimbang menghujat masa lalu seseorang, baiknya kita sama-sama memperbaiki diri.” Ada jeda yang sengaja Gema lakukan sebelum melanjutkan jawabannya, “Abang pernah kehilangan dan nggak mau rasain itu lagi. Rasanya … kayak kamu tersayat di bagian tangan namun seluruh tubuh merasakan dampaknya.
“Lagi pula, Ra … yang Abang tahu, nggak semua yang nemenin kita dari awal bisa ada di tujuan yang sama—terakhir. Apa yang Abang alami ini—perceraian—abang anggap demikian. Dia yang pernah bersama Abang di awal nyatanya nggak bisa sama-sama sampai di garus finish. Di pertengahan jalan dia pergi. Dan itu pilihannya. Abang nggak bisa maksa apa lagi mempertahankan keinginan seseorang yang udah nggak mau tinggal. Tapi kamu, Abang nggak bisa lepasin gitu saja. Abang nggak bisa kasih izin ke kamu kalau mau pergi. Maaf, Ra.”
Kebingungan melanda Alara. Wajahnya penuh dengan tanda tanya untuk segera Gema beri penjelasan.
“Pernah di banggakan oleh orang yang paling kita cinta, bukan sesuatu yang apik kalau nyatanya buat di tinggalin.” Sama—batin Lara. “Abang pernah dicintai sebelum ditinggalkan.” Sama—masih Lara batin dalam hatinya. “Pernah menjadi satu-satunya sebelum tulisan ‘khianat’ terpampang jelas dalam wujud nyata kesakitan.”
Sama. Itu sama dan Lara hanya bisa diam.
Lara juga sama berusahanya seperti Bahtiar Gema untuk mengikhlaskan sesuatu yang begitu baiknya di jaga namun itu juga tidak semudah omongan orang. Banyak perlawanan dan gejolak hati yang selalu bertolak belakang meminta untuk kembali. Menumbuhkan harapan-harapan yang berujung pada kehancuran.
Berapa banyak waktu yang telah di lewati?
Sampai akhirnya menyerah dan di sini dengan susah payah harus melupakan.