Gurat lelah jelas tercetak di wajah Bahtiar Gema. Matanya yang sayu cukup menjelaskan seberapa banyak beban yang di tanggungnya. Alara diam. Tidak meluncurkan tanya dan hanya membiarkan gesekan wajah Gema di dadanya. Akhir-akhir ini sikap manjanya kentara di perlihatkan. Atau memang Alara baru tahu jika Bahtiar Gema punya tabiat begini?
“Abang, kan bungsu.” Ucapan Gema menjawab pikiran Alara. “Manja sudah jadi makanan abang di rumah. Sehari-hari di perlakukan kayak bayi.”
“Memang iya, kan.”
“Sembarangan!”
Helaan napas Alara terdengar. Terkekeh sebentar dan menjawab, “Abang memang bayi. Kalau bukan, nggak mungkin ndusel-ndusel di d**a aku nyari sumber kehidupan.”
“Empuk, sih.” Dan berlanjut saja aktivitas yang semestinya memang terjadi.
Ini terbilang cukup lama dari keduanya tinggal bersama. Selama ini yang berlangsung hanyalah sentuhan kulit biasa semacam ciuman dan cumbuan. Baik Alara maupun Gema, sama-sama menikmati.
“Yang datang ke kantor siang tadi …” Gema menjeda dan memasukkan pucuk menegang milik Alara ke dalam mulutnya. “Bukan anak abang, kalau itu yang kamu dengar.”
Lenguhan Alara sangat seksi di rungu Gema. Membuatnya menyeringai dan kian gencar melancarkan permainannya.
“Aku dengar semuanya.”
“Bagusnya jangan peduli.”
“Aku kadang peka, kadang o’on soal penilaian orang.”
“Abang punya bukti kalau itu bohong.”
“Apa pun itu, aku harap Abang bisa lebih membuka diri.”
“Sudah. Ini.” Kaos polos Gema sudah lolos dari tubuhnya dan menampilkan otot liat yang merangsang mata Alara untuk bertraveling.
Dengkusan Alara tak terelakkan lagi. Menyebalkan adalah yang paling tepat untuk di sematkan pada Bahtiar Gema. Lelaki itu sukanya bertindak kelewat batas yang tidak tahu mengapa membuat Alara kian terperosok ke dalam pesonanya.
“Abang pengen sarapan pakai rica-rica ayam buat besok. Masakin, ya.”
“Beli saja lah di depan sana bang. Ribet banget masak.”
“Masakan kamu lebih enak ketimbang beli.”
“Abang ngidam?”
“Iya nih. Kamu, sih hamilnya ngajak-ngajak.”
“Yeu! Jangan-jangan benar lagi anaknya mbak itu hasil pembuahan dari abang.”
“Bukan!”
“Makin nyangkal, makin benar.”
“Terserah!”
“Dih, ngambek. Nggak asik.”
“Kamu nurunin kadar percintaan abang luruh.”
“Alah lebay kamu bang!”
Cibiran Alaran bermakna candaan. Semua ucapannya juga caranya mencairkan suasana agar tidak tegang. Alara tahu dan mungkin pura-pura buta pada semua kejadian yang menimpanya. Baginya, cukup dengan Gema di sisinya, semua itu akan teratasi. Meski ada luka yang akan tercetak dan sejauh ini, hanya rasa biasa yang Alara miliki.
“Wanita, Ra, di ciptakan dari tulang rusuk pria. Bukan dari kepalanya untuk jadi atasannya. Bukan pula dari kaki untuk dijadikan alasnya. Melainkan dari sisinya untuk jadi teman hidupnya. Dekat dengan lengan untuk dilindungi dan dekat dengan hati untu dicintai.” Gema diam. Mencium pelipis Alara dalam-dalam. “Pernah dengar nggak kata-kata itu? Dari Kang Bahar di Preman Pensiun.”
“Tumben Abang ngomongnya romantis.”
“Kelihatan nggak pantas, ya?” Alara setuju.
Meski begitu, siapa yang tidak luluh lantak hatinya di beri kalimat sedalam itu. Ini loh maknanya deeply banget untuk seorang Alara Senja yang hidupnya di penuhi luka dan kesakitan. Tidak sekadar kalimat terucap dengan omong kosong. Layaknya janji manis yang sedang di sematkan dan pembentukan sempurna menjadi satu.
Alara Senja hanyalah satu dari banyaknya perempuan di dunia yang lemah karena perasaannya sendiri. Diakui bukan perempuan kuat dengan pembawaan mendominasi di atas para lelaki yang Tangguh. Alara tetaplah satu dari jenis banyaknya perempuan di dunia yang lemah dan bodoh akan cinta.
“Kamu suka banget ngatain diri sendiri kayaknya. Bodoh dan lemah karena cinta nggak akan jadi masalah di kemudian hari. Itu artinya cinta punya hati. Kamu wajibnya bangga jadi manusia yang punya hati. Walaupun nggak pernah peka.”
“Ngejek, ya?” Gema menggeleng. Alara tatapi dalam-dalam netra Gema. Ada keseriusan yang sedang di jalankan. Mungkinkah? “Aku sudah lama jatuh cinta sama abang. Sampai capek hati kalau nggak aku ungkapin. Caranya saja yang salah.”
Gema tertawa. “Abang nggak suka ngebayangin sesuatu yang nggak pasti. Tapi kedatangan kamu ke ruangan abang sudah paling tepat untuk dikatakan pengambilan keputusan yang paling tepat. Tahu nggak? Abang juga manusia yang takut kehilangan. Abang pernah rasain namanya jatuh dan di buang secara tiba-tiba. Dan pas di temukan—sama kamu—ada banyak hal yang harus abang ambil.”
“Gombal.”
“Iya, kamu paling pintar kalai gombal. Cara kerja jantung abang jadi nggak santai. Nih, rasain lah.” Gema bawa telapak tangan Alara menuju dadanya. Merasai detakannya yang terbilang cepat.
Ah, Alara merasa ini salah. Apa iya?
Rasanya mustahil bisa secepat ini bagi Bahtiar Gema menerima kehadiran dirinya yang terbilang baru. Lelaki ini terkenal dengan kedekatan intim terhadap keluarganya. Jadi … Alara saja yang terlalu ge-er bisa menggeser posisi keluarga yang selalu di utamakannya.
“Jujur, Ra. Abang nggak tahu jalan hidup abang ke depannya bakal kayak apa. Abang cuma bisa bersyukur dalam tiap menitnya buat ngejalanin ini semua. Terlebih ada kamu di sisi abang yang kalau boleh berharap selamanya.”
“Bang …”
“Kamu yang dengerin abang. Bentar saja, Ra. Abang perlu bilang ini biar kamu ngerti. Pada masanya setiap orang bakal menemukan satu waktu di mana nggak ada lagi rasa malu buat ungkapin semuanya. Ya, abang akui masih ada sekat di antara kita. Jadi ayo kita singkirkan sekat itu.” Alara tidak memahami maksud ucapan Gema. Dahinya yang berkerut-kerut Gema pijati dengan lembut.
“Abang mau kamu jadi tempat paling nyaman buat abang cerita. Ini agak lucu tapi abang tahu sudah egois. Cerai bukan sesuatu yang abang sukai, Ra. Karena pernikahan memang sesakral itu di mata abang. Bahkan buat hidup abang. Tapi jodoh yang datangnya tepat atau tidak, memang kuasa Tuhan. Abang saja yang sombong. Percaya diri kalau dia yang abang pilih adalah jodoh paling tepat.
“Ternyata bukan.” Vokal Gema sedikit bergetar meski matanya tidak memancarkan sinar yang demikian. “Abang di hina dan di katai, diam. Abang di caci maki dan di banding-bandingkan dengan cowok lain, Abang juga diam. Tapi kalau sudah keluarga yang diangkat ke permukaan, sulit, Ra.”
Apa Alara bilang? Soal keluarga menjadi yang paling epic temanya. Semua orang punya porsinya masing-masing untuk menerimanya.
“Pendamping hidup artinya teman cerita. Tidak sekadar pasangan suami dan istri namun juga pendengar yang baik. Dan abang baru nemuin itu di diri kamu. Pasti telat banget atau malah terlalu cepat. Sebelum menyetujui, abang sudah punya riwayat kamu.”
“Abang mata-matain aku?”
“Bukan. Tapi abang mau ngikat kamu ke hubungan yang lebih serius. Abang nggak bakal lepasin kamu karena kamu satu tubuh dengan Abang. Jadi, Ra, terima saja ya.”
Kedengarannya agak memaksa, ya Bund! Tapi Lara juga tidak punya kesempatan untuk menolak. Di samping memang Lara butuh bantuan untuk batalnya perjodohan. Lara memang memiliki rasa terhadap Bahtiar Gema, kan? Mau di sangkal juga percuma.
Kalau di pikir-pikir lebih matang lagi. Nggak ada salahnya menerima ini. Semuanya akan sama-sama di untungkan. Terutama Lara bisa lepas dari jerat keluarganya yang cukup mencekik. Dan Gema pun bisa menghentikan todongan mamanya untuk cepat-cepat menikah lagi.
Kriteria keduanya pun cukup nyambung. Gema tidak menuntut pasangan yang sempurna selain menghargai kehadiran dirinya dan menganggap ada dirinya sebagai suami. Bukan seperti mantan istrinya yang memandang Gema selayaknya lelaki hidung belang di luaran sana.
Rumit. Jika membahas kehidupan rumah tangga Gema yang lampau. Nanti saja ketika sudah tepat waktunya, dengan lancar akan mengalir.
Sedang Lara pun sama. Bisa menyimpan perasaan untuk Gema sebegini gilanya cukup ajib untuk di acungi jempol. Bertahun-tahun menghindari semua ajakan serius menuju pelaminan. Sekali bertemu di pandangan pertama, Lara di buat jatuh cinta tanpa berkata-kata.
“Abang tadinya nggak paham soal konsep menemukan, Ra. Tapi setelah abang lihat kamu dan abang mempertimbangkan … ini nggak salah untuk di coba. Selebihnya kita usahakan.”
“Abang sukanya coba-coba berarti?”
“Bukan. Enggak gitu maksudnya. Kamu jangan menyimpulkan secara garis besarnya doang. Mencoba artinya saling membuka diri bukan hubungan suami istri kayak yang kamu pikir. Otak kamu matang banget, Ra. Heran Abang.”
“Yeuuu.”